
"Kata-katanya membuatku menjadi pria penakut, andai kamu mengerti bagaimana batin saya Xela yang tiap saat harus memikirkan keselamatan kita. Saya yakin Marco masih membuat siasat baru. Saya tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menangkapnya tanpa pimpinan saya." sembari berbaring berhadapan dengan Xela disisi disisinya, Alfarel mengucapkan kalimat itu tanpa lawan bicara. Xela belum bangun pun Alfarel tidak mengharapkan Xela menggubris perkataannya.
"Mama ... ma ..." Xela memanggil mamanya padahal matanya masih terpejam, Alfarel pun lantas mengerutkan keningnya lalu menyentuh pipi gadisnya yang hangat itu.
"Sayang, buka matamu!" Alfarel sedikit berbisik dengan perasaan bersalah ia terpaksa membangunkan gadisnya.
Xela pun membuka matanya menampakkan mata bengkak dan wajah pucat, lalu ia menangis Secara tiba-tiba. Al memaklumi perasaan Xela saat ini pasti sangat sedih apalagi sudah sangat lama rencana pulang kampung tertunda dan sekarang Xela tidak pernah sama sekali menghubungi keluarganya.
"Aku merindukan mama. Andai mama ada disini." Xela lanjut menangis lagi entah sampai kapan tangisnya akan berhenti, jelas rasa rindunya sudah menggunung.
"Sstt sudah, jangan sedih terus. Kamu harus sehat setelah itu kita pergi ke kampung halaman mu dan ketemu mama." bujuk Alfarel.
"Kita? aku mau pulang sendiri kak." jawab Xela dengan wajah manyunnya. Wajah Alfarel langsung berubah datar mendengar kata Xela, ia tersinggung ternyata berguna dirinya selama ini berada di sisi Xela. Mengapa Xela dari dulu bersikeras melarangnya ikut pulang ke kampung halamannya, ia merasa tak dianggap keberadaanya sebagai pacar. Apakah dirinya masih dianggap sebagai bos atau majikan seperti sediakala?
Alfarel melonggarkan dekapannya pada Xela dan cukup membuat gadis itu terusik lagi.
"Aku nggak mau kak Al pergi, aku lapar ingin makan berdua." pinta Xela tak merasakan apapun yang terjadi dan tidak sadar Alfarel sedang menahan kecewa atas perkataannya tadi. Salut juga dengan Alfarel yang tetap menampilkan senyumannya lalu mengangguk setelah itu meminta para maid melalui smartphone nya untuk menyiapkan makanan mereka sesuai keinginan Xela.
Tidak lama kemudian makanan datang, Alfarel membantu Xela duduk karena kondisinya Xela sangat pusing jadi ia duduk bersandar. Saking spesialnya makanan mereka kali ini adalah bubur ayam atas permintaan Xela, gadis itu pun terlihat bersemangat hendak mengambil satu mangkuk bubur namun di cegah Alfarel.
"Jangan terlalu banyak gerak kamu masih sakit, biar saya yang nyiapin." Alfarel dengan tulus menyendoki bubur lalu meniupnya, adegan itu di lihat Xela dengan seksama, setelah Alfarel selesai meniupi bubur tersebut Xela spontan membuka mulutnya bersiap untuk menerima suapan, namun siapa sangka yang terjadi Alfarel malah memakan bubur itu , sia sialah Xela yang menunggu, dengan kecewa Xela memicingkan mata dan detik berikutnya tanpa ia duga gerakan Alfarel yang tidak dapat di hentikan secara tiba-tiba menciuminya dan sesuatu yang terasa hangat dan manis tersalurkan melalui Indra mengecap Xela, gadis itu terbelalak ternyata Alfarel menyuapinya bukan memakai sendok tetapi memakai mulutnya. Alfarel pun mempertahankan aksinya sehingga imbasnya Xela merasakan perutnya di gelitik oleh ratusan kupu-kupu akibat aksi Alfarel dan wait! ada lagi tiga orang maid yang tadi mengantarkan bubur tersebut masih berdiri dengan patuh menunggu perintah tetapi setelah melihat aksi majikannya, mereka bergegas keluar dengan pipi merah merona melihat pemandangan impian.
'BRUK'
Bunyi pintu yang tidak sengaja di tutup oleh ketiga maid itu membuat Xela terkejut, tetapi tidak dengan Alfarel yang masih menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
'Kriukkk!'
Bunyi gemuruh di perut Xela menghentikan aktivitas Alfarel, Xela merasa malu bisa-bisanya perutnya bunyi disaat yang tidak tepat, sementara Alfarel hanya memandangnya dengan gampang menampakkan senyum kecilnya.
"Kenapa harus bunyi disaat yang salah kan aku jadi malu. Malah ini untuk yang pertama kalinya lagi." Batin Xela dengan wajah yang tersipu malu.
"Kamu sangat kelaparan, jadi harus makan lebih banyak." Alfarel menanggapi lalu meniup bubur itu kembali, Xela yang melihatnya langsung terbayang kejadian sebelumnya, jujur tadi ia merasa malu menyadari tiga maid yang melihat mereka berciuman.
"Mau di suap seperti yang tadi?" tanya Alfarel dengan liriknya tampannya yang berkesan sedikit nakal menggoda Xela.
"Nggak." respon Xela dengan cepat dan refleks kepalanya juga menggeleng akhirnya ...
"Aduh!" Xela meringis merasakan sendiri akibatnya nyeri di kepalanya akibat goncangan dari gelengan tadi.
Tangan Alfarel pun secara refleks menopang diatas kepala Xela lalu wajah mereka berada dalam posisi yang lebih dekat .
Dada Xela berdebar, bisa-bisanya berdebar dalam keadaan dia masih sakit seharusnya seluruh organ beserta perasaannya ikut lesu dan sakit.
"Malu." jawab Xela dengan menundukkan kepala tidak mau melihat tatapan nakal Alfarel padanya, tumben pria itu terus memamerkan senyumannya dan berusaha membuat Xela melihatnya kalau begini Xela jadi ingin Alfarel meninggalkan dirinya sekarang juga.
"Asal kamu tahu kemarin kamu tidak bangun dan saya berusaha membuatmu tetap makan dengan cara tadi." bisik Alfarel tetap menggoda Xela dengan mendekatkan wajah mereka sesekali menyapu permukaan bibir mereka sehingga sentuhan itu semakin membuat Xela gugup dan Alfarel merasa senang mengetahui gadisnya cukup pemalu.
"Sudahlah jangan menggodaku. Kepalaku sangat pusing!" Xela segera menutup matanya tidak mau terus memandang wajah tampan sialan itu, lucu! padahal mereka sudah sangat lama saling mengenal namun Xela merasa malu kali ini, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta kembali terulang wkwkwk.
"Okay, beristirahatlah saya akan keluar sebentar."
__ADS_1
dalam keadaan mata Xela yang masih tertutup, ucapakan Alfarel membuatnya lebih lega. Akhirnya pria itu berhenti menunjukkan pesonanya, bisa beku dirinya bila terus di goda Alfarel.
"Syukurlah." lirih Xela dalam hati tanpa menyahut Alfarel yang kini sudah berlalu, sekarang ia melanjutkan makan bubur sendiri.
Beralih pada Alfarel yang baru saja keluar dari kamar Xela, ada sesuatu yang mungkin terjadi sehingga para anak buahnya sudah berjejer di depan pintu menunggunya.
"Tuan, kami menunggu anda. Keadaan sedang gawat Tuan, Marco telah membuat masalah besar. Banyak penjaga yang tumbang dan kaku tak bernyawa lagi. Kami berhasil menghentikan beberapa orang penyusup yang di pimpin Marco dan mendapatkan sebuah jarum suntik berisi cairan hijau. Kemungkinan ini adalah senjata baru mereka untuk menyerang."
Salah satu anak buahnya melapor secara detail, Alfarel yang mendengarnya tidak banyak berkata, bereaksi kaget ataupun geram. Ia melangkah dengan kaki panjangnya menuju ruangan yang berisi pakaian pelindung lalu mengenakannya. Alfarel kini turun tangan menghadapi penyusup yang berani masuk di mansionnya. Mana mansionnya besar lagi. Tetap mereka harus waspada.
"Marco, Lo selalu muncul saat gue gak nyariin Lo. Perse**n!" batinnya melangkah dengan pistol listrik yang berisi peluru listrik yang bisa menyentrum sebesar 300.000 volt.
'SHUT!'
Tiba-tiba saja salah satu anak buahnya yang berada di belakang tumbang, Alfarel segera memeriksa, di bagian leher anak buahnya terdapat jarum berukuran 1 cm.
"Kita harus berpencar dan berhati-hati, mereka akan mudah membunuh kita satu persatu kalau bergerombol!" Tidak ada lagi yang membantah semua anak buahnya langsung bubar tinggallah ia sendiri di tempat, dan .... telinga Alfarel tiba-tiba saja berdengung, ada sesuatu yang sedang mengarah padanya dari arah selatan.
"Dari suaranya, benda ini sangat kecil. Sial!"
Alfarel menolak tubuhnya ke samping timur lalu mengeluarkan sebuah kain putih berukuran sedang dipegangnya lalu diarahkan ke arah selatan tepat di posisi dirinya semula.
'SLUP'
Sebuah jarum serupa menembus kain putih yang cukup tebal itu, tercetak noda hijau di sana. Sungguh taktik Marco kali ini sulit di atasi.
__ADS_1
Alfarel tercengang, namun sekali lagi telinganya berdenging sangat kencang, ia memejamkan matanya kembali. Petaka mulai datang, ia bisa merasakan dari dengungan telinganya yang luar biasa, ia mendengar dan merasakan suara sesuatu yang sama yaitu tembakan jarum tadi telah mengepungnya dari berbagai sisi, kening Alfarel basah oleh keringat dalam waktu tidak sampai 1 menit dan
.....