
Alfarel tersenyum penuh arti sembari mengelus pucuk kepala Xela, sepertinya mereka berdamai lagi.
“Ya Dafi memberitahumu makanya kamu tahu.” Alfarel menebak dengan tepat.
“Kak yang benar kak Mira itu bukan pacarnya kak Al?” lebih baik Xela bertanya daripada harus penasaran, mumpung mereka lagi hangat-hangatnya.
“Iya. Sekarang kamu makan, nanti makanannya keburu dingin.” Alfarel bukan hanya menyuruhnya makan saja tetapi juga menyuapinya.
“Nanti malam kita akan ke suatu tempat.” Ucap Al disela ia menyuapi Xela
“Ke mana?” Perkataan Al memancing Xela untuk penasaran.
“Kamu akan tahu sendiri nanti malam.”
“Yah.” Xela kecewa tidak mendapatkan jawaban.
...****************...
Chesy menumbuk ramuan pada menggunakan lesung, sementara ibu yang berbaring tidak berdaya di ranjang keras terbuat dari kayu dengan kasur tipis sebagai alasnya.
Rumah itu sangat kecil, bahkan tepatnya hanya sebuah gubuk yang berukuran 6×6 meter, gubuk yang hanya memiliki satu ruang kamar terkesan sederhana.
"Sy, kapan Xela akan pulang? Mama pengen bertemu." Ibu bertanya kepada Chesy yang sedang menumbuk daun untuk dijadikan ramuan tradisional. Sudah lama ibu mengidap penyakit yang tidak di ketahui akibat terlalu bekerja keras.
"Kak Xela akan pulang secepatnya ma. Chesy udah bilang. Mama istirahat dulu ya jangan kepikiran terus sama kak Xela."
__ADS_1
"Mama tetap kepikiran, bagaimanapun Xela pergi karena Mama. Mama tidak pernah mendukungnya, entah bagaimana kehidupannya di kota sekarang. Mama selalu berharap kakakmu baik-baik saja. Mama juga mau minta maaf, selama ini Mama hanya bisa membiayainya sampai lulus SMP saja. Dan kamu agak beruntung dari Xela, kamu diperhatikan Fiona sementara Xela bersekolah di kota, beruntung mendapatkan beasiswa."
"Iya ma. Aku yakin kak Xela kakak yang kuat kok, dia di fitnah dan di jelek-jelekkan di kampung tapi dia tetap kuat. Kak Xela kita kuat ma, sekarang kak Xela sedang berjuang untuk sukses."
Selain itu Chesy berusaha menghibur ibunya agar sang ibu tersenyum dan tidak stres memikirkan penyakitnya.
“Mama makan ya!” Chesy menyuapi ibunya penuh kasih sayang, ia adalah adik yang penurut lagi penyayang. Hubungan Xela dan Chesy bisa di katakan sedang tidak baik karena Xela merasa Fiona lebih sayang kepada adik bungsunya sementara ia selalu di remehkan dalam proses perjuangannya.
“Ma Chesy setelah lulus SMP mau jaga Mama di rumah aja ya, Chesy mau berkebun dengan disini sama mama.” Chesy sejak kecil terbiasa tinggal bersama sang ibu, tidak disangka pengaruhnya sampai ia beranjak remaja. Chesy juga masih sangat polos, pergaulannya tidak bebas karena sebelum ia bertindak semuanya tergantung pada ijin sang ibu.
“Terserah Chesy, Mama juga tidak bisa tinggal sendirian. Setidaknya kalau ada kamu ibu tidak kesepian.” Kata Ibu.
“Tapi ma, Kak Fi minta Chesy melanjutkan SMA kemudian kuliah, Chesy tidak bisa apalagi kalau nanti kuliah pasti jarang ketemu Mama.” Chesy menangis di hadapan ibunya mengungkapkan rasa tidak berdaya di bawah kuasa sang kakak.
“Iya Ma, Kak Xela orang yang hebat. Aku ingat ketika Kak Xela masih SMP. Seharian sampai lupa makan hanya untuk membaca buku saja makanya kak Fiona sering memarahi kak Xela mengatakan kegiatan kak Xela tidak berguna, padahal membaca buku itu banyak faedahnya. Kira-kira nanti kak Xela jadi apa ya Ma?”
Ibu tersenyum sejenak sebelum suara lembutnya keluar.
“Ibu membayangkan Xela menjadi seorang pembawa berita. Dulu ketika mama mengandung kakakmu, mama sering menonton berita. Mama sangat senang menonton berita bahkan kalau tidak menonton berita, mama selalu membaca surat kabar.” Ibu memberikan pendapat yang masih merupakan asumsinya saja.
“Terus ma kalau aku? Dulu saat aku masih dalam kandungan apa yang suka mama lakukan.” Chesy mulai penasaran bagaimana dulu saat dirinya di kandung Ibu, karena ia percaya hobi seorang ibu saat mengandung anaknya akan berpengaruh ketika anaknya tumbuh dan berkembang setelah lalir.
“Dulu, ibu suka bekerja. Bekerja apa saja Ibu bisa dan sekarang terbukti, Ibu mendapatkan anak bungsu yang rajin dan senang bekerja.” Ibu mengelus rambut panjang Chesy, gadis kecil itu juga merasa sangat senang sudah sering ia mendapat pujian karena rajin.
...****************...
__ADS_1
Gedung yang tinggi sangat indah di lihat dari pemandangan kota apalagi jika masuk ke dalam. Xela dengan balutan gaun biru muda terlihat sangat cantik, Al telah memilih gaun itu.
Xela kesulitan melangkahkan kakinya karena tidak terbiasa menggunakan gaun sementara Al menggunakan setelah jas berwarna biru juga. Keduanya sangat serasi.
“Kak kenapa aku harus pakai gaun kaya gini, aku nggak terbiasa.” Xela bergerak tidak nyaman dengan balutan gaun yang panjangnya hampir mengenai tumitnya.
“Biasakan, untuk malam ini saja Xela. Ayo kita akan naik keatas.” Alfarel meminta Xela berpegangan di lengannya, gadis itu menganga lebar melihat ketinggian gedung dominan berdinding kaca.
Saat menaiki lift, Xela sangat takut tangannya terasa dingin tetapi Alfarel menggenggam nya.
“Aku takut kak. Ini memang bukan pertama kali naik lift tapi aku masih saja takut.” Alfarel tidak menjawabnya tetapi cukup dengan tindakan merangkul Xela.
Setelah tiba di lantai atas yang ternyata lantai 7, Al membawa Xela keluar menginjakkan kaki mereka di zona ekstrem. Dikatakan begitu karena lantai transparan yang terbuat dari kaca membuat pengunjungnya bisa melihat lantai 6 yang berisi ribuan bunga, sungguh pemandangan yang cantik tetapi cukup menguji nyali.
“Kak Aku takut.” Xela melihat ke bawah dengan ngeri membayangkan bagaimana jika jatuh ke bawah sana.
“Sudahlah tempat ini aman, kamu fokuskan pandangan ke depan saja.” Pinta Alfarel yang terlihat santai dalam melangkah, ia sudah terbiasa lain halnya dengan Xela yang sulit untuk melangkah bahkan tangannya sedari tadi terus bertaut dan semakin erat memegang lengan Al.
“Selain itu aku juga malu kak. Lihat semuanya disini, ceweknya cantik dan cowoknya ganteng.” Xela insecure padahal ia tidak tahu dirinya sangat cantik.
“Kamu sangat cantik Xel, percaya dirilah. Semua orang disini terlihat ganteng ataupun cantik karena mereka merayakan hari spesial bersama pasangannya.” Al kemudian memilih salah satu meja yang letaknya dekat dengan dinding kaca yang mengarah pada pemandangan kota.
Xela terkejut ketika tiba di dekat dinding kaca yang besar, pemandangan kota, gedung-gedung tinggi bahkan jalanan yang padat oleh kendaraan terlihat dari sana. Jantungnya tidak berhenti berdebar dan tangannya tidak pernah lepas dari lengan Alfarel, sungguh ia berada di tempat yang menguji nyali.
“Baguslah maksudku kemari untuk membuatnya tidak bisa lepas dari ku akhirnya berhasil.” Batin Al tersenyum tidak memikirkan ketakutan yang dirasakan Xela.
__ADS_1