
*Apa yang dikatakan Xela kemarin adalah tentang perasaan yang sesungguhnya, dia cemburu? Apa itu benar, dia cemburu saat mengintip ku bersama Mira saat itu*.
kalimat itu terngiang di telinga Alfarel yang sedang mamandang luasnya perkotaan dari kaca sebuah apartemen lantai atas, tepatnya di lantai 4. Ini dalah waktu dimana kuliahnya telah usai.
"Al ini kopinya, kopi Good Day sesuai dengan suasana siang ini, hehe." Seorang perempuan cantik yang tidak lain adalah Mira menghampiri Alfarel dengan membawa dua buah gelas berisi kopi panas yang siap untuk dinikmati di waktu siang menjelang sore. Sekali lagi Mira adalah sosok perempuan yang sangat mengenali Alfarel, mulai dari honbynya yang menjadi kebiasaannya setiap siang menikmati segelas kopi panas, sebelumnya Mira membawa dua gelas kopi karena ia sendiri juga meminum kopi agar bisa mengimbangi hobby Alfarel dan ingin selalu di dekatnya. Siapa sih yang tidak mau selalu dekat dengan laki-laki tampan netra biru seperti Alfarel, ditambah lagi tubuh tinggi ideal dan body keren abis idaman kaum hawa. Alfarel menyambut gelas berisi minuman hangat itu dengan senyuman penuh arti, mereka pun sama-sama memundurkan langkah kakinya ke belakang mencapai sofa cokelat yang terletak tidak jauh dibelakang mereka, hanya satu meter saja jaraknya.
"Terima kasih Mira, kamu tidak pernah berubah. Kamu selalu seperti Mira yang dulu. Aku kira selama dua tahun ini kamu ngilang dari hidup aku, kamu akan berubah."
"Nggak Al. Aku selalu mengingat mu dan aku tidak pernah melupakan mu, karena itulah aku kembali." Ujar Mira. Mereka pun menikmati siang hari dengan segelas kopi Good Day sambil memandang keindahan kota dari ketinggian apartemen. Memang sih kopi Good Day seharusnya di minum pada pagi hari untuk menghangatkan tubuh bagian dalam, tetapi apa boleh buat jika meminum kopi di siang hari itu adalah sebuah hobby.
Di sofa panjang berwarna cokelat muda, sepertinya Mira dan Alfarel menikmati waktu berdua di apartemen selepas pulang dari kampus. Alfarel berbaring tampan di pangkuan Mira yang sedia mengelus rambutnya seperti interaksi kekasih pada umumnya.
"Mir apa saja yang sudah kamu lakukan selama dua tahun ini kamu di kota lain, dan selama itu tidak berada di samping ku?" Alfarel mulai membuka pembicara, ia sangat ingin tahu apa yang telah dilakukan perempuan disampingnya yang kini masih merupakan kekasihnya.
__ADS_1
"Alfarel sayang, aku di luar sana memang fokus dengan kuliah ku." Mira merasa ada yang berubah dari Alfarel, Alfarel sepertinya posesif daripada Alfarel yang dulu.
"Lalu apakah selama dua tahun kamu berada disana kamu memiliki kekasih lain selain aku?" Raut muka Mira yang awalnya berseri penuh keceriaan, seketika muram karena pertanyaan tiba-tiba dari Alfarel, sepertinya Mira menyembunyikan sesuatu. "Kok kamu nanya gitu sih Al, kamu kan tahu sendiri kalau aku kembali karena aku merindukan mu selama dua tahun ini."
"Ya, aku sempat ragu. Barangkali kamu kembali kepadaku karena di tinggalkan seseorang." Ujar Alfarel, laki-laki itu dengan santai dengan wajah tidak berdosa, tanpa tahu jika perkataan nya barusan menusuk hati Mira.
"Kok kamu jadi berubah gini sih Al, kamu nggak mempercayai ku. Kamu berubah dari Al yang dulu, dimana kah Al yang dulu, kenapa Al yang sekarang penuh kecurigaan?" Hardik Mira sontak berdiri dihadapan Alfarel dengan mata yang berkaca kaca. Alfarel melirik sekilas kepada Mira, kesedihan terpampang jelas diwajah Mira, meskipun demikian hatinya tetap tenang menghadapi kekasihnya yang berada dihadapannya.
"Aku hanya mengira saja. Maaf kalau perkataanku kurang berkenan." Alfarel meminta maaf atas perkataannya. Alfarel mulai mengambil tas bersiap untuk pergi. " Al kamu mau kemana?"
"Tunggu Al. Aku lihat kamu sudah berubah. Kamu yang dulu selalu ada untuk aku tapi kenapa sekarang kamu sepertinya tidak peduli lagi dengan ku. Aku pengen kamu lama disini Al kalau nggak aku akan pergi lagi." Ancam Mira ketika Alfarel menarik gagang pintu menuju keluar. Langkah Alfarel terhenti, Mata netra biru Alfarel memandang Mira yang penuh dengan kesedihan. Al merasa iba, tentu ia tidak ingin Mira pergi lagi, tetapi resah menyelimuti pikirannya, ia sempat menyimpan dalam dalam ucapan Xela beberapa hari lalu ketika Xela mengatakan setelah sembuh akan pergi dari rumahnya. Ada rasa tidak rela melepaskan perempuan itu begitu saja padahal di pikir-pikir Xela bukan Siapa - Siapanya, Xela hanyalah seorang perempuan yang ia bantu dari kesulitan hidupnya. Tidak disangka kehadiran Xela sangat merubahnya, kehadiran seorang
Xela membuat Alfarel melenyapkan kesedihannya akan kepergian Alika yang bisa dikatakan tragis. Karena kehadiran Xela merubahnya dari pola kehidupannya yang tidak baik, awalnya ketika pikirannya kacau oleh ingatan tentang Alika, Alfarel selalu mengakhiri kesedihan dan kekacauan hatinya dengan meminum minuman keras agar efek mabuknya bisa dengan cepat membawanya ke alam mimpi. Namun suatu keajaiban yang besar setelah kehadiran Xela, pikiran Alfarel terbuka lebar tentang dunia sosial dan dunia kesehatan, Alfarel menyadari kehidupan yang dijalani sebelumnya sangatlah salah, minuman keras bisa saja membawanya kepada pengaruh buruk, sementara ia masih mengingat nasihat sang ibu supaya ia menjadi seorang anak sulung teladan dan hidupnya harus membawa pengaruh yang baik.
__ADS_1
" Al kau mendengar kan aku?" Tanya Mira pagi ketika Alfarel lama sekali terdiam, layangan pikiran Alfarel terbuyarkan oleh perkataan Mira. "Maafkan aku Mir, aku tidak bisa berlama-lama disini. Sekarang situasinya sudah berbeda kita sekarang anak kuliahan yang memiliki banyak tugas, tidak seperti SMA dulu kita memiliki banyak waktu luang." Papar Alfarel yang sudah mantap dengan langkah selanjutnya ingin kembali ke rumahnya.
"Al kan bisa kerjakan disini aja tugas mu nggak apa-apa kok."
" Maaf Mir. Mungkin lain kali saja aku kemari dalam waktu lama, sekarang aku ingin pulang dan benar-benar ingin menghabiskan waktuku di rumah untuk mengerjakan semua tugas yang sebagian ada dirumah dan belum selesai." Mira sedikit kecewa dengan ucapan Alfarel, mau tidak mau ia melepaskan kepulangan Alfarel meskipun ia tidak menginginkannya.
Aku yakin Al, alasan mu pulang bukan karena tugas mu yang banyak. Aku mengenal kamu adalah siswa yang cerdas dan bisa menghadapi tugas kampus dengan mudah. Pasti gara-gara perempuan itu, asisten baru mu. Aku tidak akan membiarkan kamu terlalu dekat dengannya Al. Kamu milikku.
batin Mira dengan kemurungan yang menyelimuti mukanya.
Alfarel menyetir mobilnya melintasi jalan raya dengan pikiran tentang Xela di benaknya, Alfarel tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, bisa dikatakan ia di permainkan oleh perasaannya. Ia mencintai Mira, namun masih merasa ragu dengan kemunculannya yang tiba-tiba sejak hilang kabar selama dua tahun. Alfarel juga merasa ingin selalu Xela berada di sisinya dan di dalam perlindungannya sejak ia mengetahui jika gadis yang boleh dikatakan sedikit lugu itu ternyata di jebak. Alfarel memandang nya seperti memandang Alika, ia tidak mau kehilangan Xela seperti ia kehilangan Alika yang di sebabkan oleh satu hal, yaitu hanya karena laki-laki yang tidak bertanggung jawab, Alfarel tidak ingin Xela terjerumus, oleh sebab itu laki-laki tampan itu tidak akan membiarkan Xela berhenti menjadi asistennya.
*Apa kabar perempuan bego itu dirumah, entah mengapa aku merasa kuatir, takut ia pergi. Tidak aku tidak akan membiarkannya.
__ADS_1
bersambung* ...