POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Diawasi


__ADS_3

Gesha dan Veoni seakan tidak terima Xela berbaring, mereka mengembalikan posisi Xela agar duduk kembali.


"Xela kita sekarang teman, jadi apapun yang terjadi kami berhak tahu." kata Gesha.


"Hmm, tidak ada masalah yang serius kalian tenang aja." Xela tersenyum kepada kedua teman barunya, ia tidak ingin kedua temannya tahu tentang Alfarel.


"Iya Ges, tadi yang chat cowoknya. Jangan di kepoin, kasihan." ucap Veoni yang tadi sudah melihat isi pesan.


Xela hanya tersenyum, jika ia menjelaskan kalau Alfarel bukan pacarnya, tetapi majikannya. Pasti ia harus menceritakan panjang lagi.


"Oh iya, Xela kamu tahu tentang asrama ini sebelum kamu kesini?" tanya Gesha mengalihkan pembicaraan.


"Apa?" Xela tidak pernah tahu, tidak menolak untuk di ceritakan.


"Asrama ini gratis, tidak ada bayaran perbulan ataupun pertahun. Jumlah anaknya juga sedikit, kemarin sebelum kamu datang cuma kami berlima disini, Veoni, aku dan tiga cewek yang tinggal di lantai atas, si Sasha, Eirin, dan Luna. Mereka bertiga maunya yang serba mewah gak heran penampilan mereka hits banget, tapi mereka sombong." jelas Gesha.


"Oh iya, pemilik Asrama ini baik banget loh, sayangnya syarat untuk masuk di asrama ini adalah anak-anak yang lari dari rumah, hmm seperti anak broken home dan ..." Gesha menutup mulut Veoni yang menjelaskan, lalu ia menempali.


"Iya, saking baiknya kita yang tinggal disini tidak harus membayar, asalkan kita sekolah. Terus kalau untuk cari uang buat kebutuhan pribadi, kita di cariin pekerjaan. Kami berdua bekerja di sebuah restoran dan mereka bertiga yang tinggal di lantai atas bekerja di toko pakaian, nggak heran model pakaiannya bagus-bagus." jelas Gesha.


Xela masih penasaran dengan penjelasan Veoni tadi, mengapa Gesha menghentikannya, apakah ada yang disembunyikan.


"Berarti semua yang tinggal disini Punya latar belakang yang sama?" Gesha dan Veoni saling pandang satu sama lain mendengar pertanyaan Xela lalu kemudian keduanya mengangguk.


"Bisa dikatakan begitu Xela." Xela mengangguk paham, pantas saja tiga gadis bernama Eirin, Sasha, dan Luna sifatnya sombong.


Jadi asrama ini gratis, pantas saja Alfarel memasukkannya di asrama ini, selain itu Xela baru tahu ternyata banyak gadis yang lelaki itu tolong sebelumnya, bukan hanya dia. Jadi Alfarel selama ini pasti hanya simpati padanya, bukan suka padanya!


...****************...


Landry menghentikan sepeda motornya ketika sampai di asrama dimana Xela tinggal, segera ia menemui Ibu Yumi di ruangannya, Ia sudah hafal tempat ini karena sebelumnya pernah ke sini.


"Selamat pagi bu, Landry mau ketemu sama Xela. Tepatnya ijin ajak Xela keluar."


Ibu Yumi terdiam sejenak, ia tampak berpikir tapi kemudian ia mengangguk setuju, sebab ia mengenali Landry adalah adiknya Alfarel.


"Baiklah, jaga Xela ya. Jangan lupa kembali ke asrama jangan sampai kemalaman."

__ADS_1


...****************...


TOK TOK TOK


Suara ketukan pintu mengejutkan Xela, padahal ia baru saja menyusun pakaiannya di almari, dia sedanng sendirian di kamar. Ternyata saat pintu ia bukakan, ibu Yumi sudah ada disana menunggunya.


"Selamat pagi bu." sapa Xela.


"Xela, kamu siap-siap, ganti bajumu. Ada yang menunggumu di depan." Selepas mengatakannya Ibu Yumi segera pergi, Xela tidak mengerti kenapa ia di suruh siap-siap, mengapa? bahkan Xela belum sempat menjawab ya atau bertanya sedikit saja.


Xela yang dasarnya penurut, sekarang sudah siap menuruni anak tangga, ia sejenak menghela nafas sebelum kakinya melangkah.


Sesampainya di bawah, Xela mendapati Landry sudah menunggu dihalaman depan melambaikan tangannya dari luar sana, Xela bisa melihatnya dari jendela berukuran besar di samping pintu utama.


Xela segera berlari menghampiri lelaki itu, tetapi tidak disangka setelah sampai disana, Landry langsung memeluknya. Xela segera melepas pelukan Landry, ia masih tidak nyaman takut tiga orang yang sama memergokinya lagi.


"Biarkan aku memelukmu sebentar. Aku pacarmu." Landry bersikeras.


"Tapi Lan, bukan gitu. Aku takut ada yang liatin." Xela mendorong tubuh Landry, nampaknya lelaki itu kecewa, namun ia hanya bisa tersenyum menerima.


"Aku pacarmu Xela, entah apa artinya aku dihatimu. Kau seperti tidak mencintaiku." Batin Landry.


"Iya, tidak masalah." Xela menjadi canggung.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku sudah minta ijin."


"Oh jadi aku di suruh bersiap-siap untuk menemui kamu?"


Landry menngangguk.


"Kita kemana?"


"Kita ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi." jawab Landry dengan menggandeng tangan Xela menyuruhnya naik di motor sport merahnya.


"Jadi iri. Baru aja di di tinggalin sebentar di kamar, eh udah pergi aja." tutur Gesha pada Veona


Ternyata Gesha dan Veoni mengintip dari kamar atas, kamar atas memiliki jendela yang lebar, namun godennya kadang di tutup, kadang juga terbuka sesuai dengan pemilik kamar. Veona hanya mengangguk sembari membenarkan mengepang rambut keritingnya sementara Gesha memandang motor yang di tumpangi Xela sudah menjauh dari asrama.

__ADS_1


"Udah Ges. Kita siap-siap aja nanti malam kerja, kita juga pergi kok nggak berdiam diri aja disini."


jawab Veoni yang tak mau ambil pusing, ia sangat senang bekerja, menurutnya bekerja bisa membantunya untuk mendapatkan uang setelah itu menabung, sementara Gesha anaknya senang ngapain aja sama seperti remaja hits di luar sana, senang nongkrong, senang memasak, bahkan juga bekerja. Karena tanpa bekerja menurutnya ia akan menjadi pribadi yang manja.


"Ya udah deh. Btw Xela pergi kemana ya?" kata Gesha sembari menoleh ke arah Veoni.


"Nggak tau tapi tadi itu pacarnya kan. Mungkin aja ke tempat romantis." sahut Veoni masih mengepang rambutnya berdiri di depan cermin, Gesha hanya menaikkan kedua bahunya lalu berjalan menuju ranjang dan rebahan disana.


...****************...


"Pegangan nanti jatoh!" di tengah jalan raya Landry yang sedang mengemudi mengingatkan Xela.


"Makanya bawa motornya pelan-pelan." Xela tidak mau nurut.


"Lokasinya agak jauh, nanti keburu sore terus kita nggak sampe. Buruan Pegangan kita ngebut." segera Landry menambah kecepatan mengemudi sehingga Xela terpaksa melingkari kedua tangannya di pinggang Landry. Lelaki itu tersenyum dengan wajah yang bersinar, betapa bahagianya ia hari ini.


Mereka melewati hamparan sawah yang luas, Xela hanya bisa menikmati pemandangan ini tanpa banyak bicara, ia tersenyum sepanjang perjalanan, tanpa sadar Landry melihatnya dari kaca spion.


"Manis! dia sangat manis jika tersenyum. Sisi manis yang ku miliki." Batin Landry bangga.


"Kamu senang Xel?" tanya Landry ketika mereka sedang berkendara di tengah hutan pinus yang lebat.


"Iya Lan. Aku sangat menyukai pemandangan alam."


Landry sudah mengurangi kecepatan motornya, tetapi Xela masih mengencangkan lingkaran tangan dipinggangnya, lelaki itu tersenyum lagi.


"Teruslah begini Xel, aku senang, kau memberi sebuah aliran energi yang bisa membuatku tenang."


...****************...


"Dafi, segera siapkan mobil. Gue mau pergi ke suatu tempat, dan lo harus ikut."


Di ruang kerja lelaki tampan sedang duduk disebuah sofa dengan kaki kanan di tumpukan di atas kaki kiri, seperti seorang tuan muda umumnya, lelaki memberi perintah setelah melihat gerakan hijau melalui maps di smartphonenya.


"Mau kemana bang, tumben?" tanya Dafi yang baru saja sampai didepan lelaki itu, mengantar kopi panas.


"Jangan banyak tanya, sana cepat." tanpa menoleh pada Dafi ia tetap bisa memberi perintah dengan tatapan tertuju pada titik hijau di layar Smartphonenya. Bukan Alfarel namanya, kalau memberi perintah mendadak begini, bahkan kopi panas yang baru saja di siapkan mungkin akan dibiarkan dan di tinggalkan begitu saja kemudian tiba-tiba di buang kelak kalau sudah dingin.

__ADS_1


"Kemana pun lo, apalagi membawa Xela. Lo gak akan bisa macam-macam, gue akan pantau lo. Gak akan biarin lo bebas. Dan Xela, kamu bisa pergi kemanapun, tapi tidak akan bisa menghindari pengawasanku." Al menyerigai penuh kemenangan.


__ADS_2