POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Putus


__ADS_3

“Al, kamu kenapa? Kamu terlihat sedih. Aku membawakan kopi panas untukmu, tadi Dafi mengatakan kopinya tumpah jadi aku menggantinya."


Mira mendatangi Al, lelaki itu terdiam sejenak lalu mengambil kopi panas yang di buatkan oleh Mira. Sepertinya lelaki itu tidak berniat sefikitpun untuk menceritakan apa yang terjadi pada Mira. Satu lagi, sepertinya Landry belum memberi tahu Mira tentang perselisihan antara mereka berdua.


"Tadi kamu marahan sama Landry ya? sepertinya aku mengdengarnya dari lantai atas. Tapi tidak begitu jelas karena aku menggunakan headset." Mira bertanya memastikan, tanpa sedikitpun kecurigaan. Alfarel menyeruput kopinya sebentar kemudian menjawab pertanyaan Mira.


"Iya, dia pergi. Dia tidak tinggal disini lagi." Jawab Al singkat, Mira melebarkan senyuman nya.


"Mungkin dia ingin terus bertemu Xela, pacarnya. Wajar, lebih baik mereka tinggal berdua." ucap Mira yang tidak tahu sama sekali kalau Xela sebenarnya tinggal di asrama. Mira memeluk Alfarel penuh sayang, ia sangat bahagia mengetahui orang-orang yang menghambat hubungan mereka telah keluar dari rumah ini.


"Aku patut bahagia, Xela sudah tidak disini. Tidak jadi beban lagi, tepatnya tidak jadi penghambat hubunganku dengan Al." dalam senyum penuh kemenangan pelukan Mira di paksa terlepas, Alfarel melepaskan pelukannya, lelaki itu tampak kacau seperti ada masalah membuat Mira mulai curiga.


"Al, kenapa kamu sepertinya punya masalah berat gitu?"


"Tidak, tidak ada apa-apa." dustanya.


"Bohong! aku mengenalmu sudah lama. Kamu tetap ingin berbohong, katakan padaku Al kalau kamu ada masalah. Aku takut kalau masalah itu menyangkut namaku." Ucapnya sambil menggandeng tangan Al.


Al tampak berpikir sambil melirik kopi didalam gelas sudah sisa setengah.


"Baiklah karena kamu meminta aku memberitahu mu. Ku harap ini waktu yang tepat." Alfarel akhirnya memutuskan lalu mengiring Mira untuk duduk di teras depan.


"Al sepertinya masalahmu sangat serius." Mira menduga.


"Benar." jawab Alfarel lalu menghela nafas berat.

__ADS_1


"Semoga ini keputusan yang baik. Dan keputusan ini tidak membuatku menyesal. Kita memang kenal lama Mir, tapi sekarang situasinya berbeda. Sepertinya aku mencintai cewek lain. Aku lebih suka memeluk cewek itu daripada memelukmu karena aku merasa pelukan mu berbeda, mungkin karena perasaanku yang memudar." Batin Alfarel sebelum ia mengutarakan kalimat beratnya.


"Sebelumnya aku minta maaf Mir." Alfarel dengan wajah serius membuat Mira kaget dan juga panik, Mira seperti merasakan perubahan pada diri Alfarel.


"Kenapa Al? Kamu harusnya tidak minta maaf kepadaku. Aku tahu mungkin karena kemarin saat kamu aku paksa untuk menceritakan masalahmu, dan sekarang kamu meminta maaf lalu memutuskan untuk menceritakan nya kan?" Mira berusaha menyingkirkan perasaan buruk bahwa Alfarel meminta maaf karena ada kabar yang buruk.


"Iya karena itu, tapi selain itu aku minta maaf. Kita udahan sampai disini, Kita putus." Mira mengangakan mulutnya lebar, apa ia tidak salah dengar? Alfarel minta putus, ini sulit di terima.


"Kenapa Al. Kenapa kita harus putus, aku udah nyaman sama kamu Al. Aku tidak pernah bermaksud meninggalkan mu meskipun aku tahu kamu sibuk di luar sana jarang ada waktu untukku. Aku berusaha mengerti kamu. Aku merasa sudah menjadi pacar yang baik untukmu." Mira langsung menangis, Alfarel yang tidak tega segera memeluknya berharap Mira mengerti.


"Maafkan aku, kita masih bisa menjadi teman. Terima kasih sudah menjadi pacar yang baik yang mau mengerti aku. Aku minta maaf karena aku mengecewakan mu." Alfarel sebenarnya kasihan pada Mira, namun di sisi lain Xela adalah perempuan rasanya harus ia jaga.


"Alasanmu karena perempuan lain kan Al? kamu sudah berubah sejak aku tinggal di rumah ini aku merasakan semuanya."


Mira mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku Mir." Alfarel mengendorkan pelukannya kemudian duduk sedikit menjauh.


"Baiklah aku tidak apa-apa. Kalau aku paksakan untuk tetap bertahan percuma. Aku sadar tidak selamanya kita bisa bersama tapi jujur aku masih mencintai kamu. Al katakan siapa perempuan yang kamu cintai?"


"Perempuan yang hadir di hidupku dan mengubah perasaanku." jawab Al, ini semakin membuat Mira terluka. Bayangkan saja sakitnya, berharap seseorang yang di cintainya tidak berubah tetapi ada saja orang baru yang datang mengubahnya.


"Apakah dia, asistenmu Xela itu?" Tanya Mira lagi, ingin tahu siapa perempuan yang berhasil merebut lelaki itu darinya. Alfarel hanya mengangguk mengiyakan Xela lah orangnya.


Mira segera pergi setelah mengetahui secara terang, Alfarel benar-benar mencintai perempuan yang selama ini ia jadikan sebagai saingan cintanya, tidak salah! sekarang ia kalah.

__ADS_1


"Perempuan itu, si kampungan bisa-bisanya merebut Al dariku. Pandai sekali dia memikat." Batin Mira berlari menuju lantai atas, Alfarel hanya menatap kepergian perempuan itu dengan muka datar kemudian ia membuka smartphonenya lalu mengirim pesan singkat kepada ibu Yumi.


*Alfarel : Bu Yumi jangan lupa pantau Xela, jangan sampai terjadi sesuatu padanya lagi. Dan kalau ada orang lain yang mau menjenguknya, segera laporkan pada saya. Saya tidak mengijinkan siapapun mendekatinya.


Bu Yumi : Aman tuan, saya pastikan Xela baik-baik saja. Saya pastikan hanya tuan yang bisa menemuinya*.


Alfarel menghela nafas lagi setelah beberapa saat melihat Mira menuruni anak tangga membawa koper besar. Sepertinya ia akan pergi, Alfarel pura-pura melamun, ia malas menghampiri mantan kekasihnya yang baru saja ia Putuskan tadi. Mungkin tidak ada lagi perasaannya untuk seorang gadis cantik bernama Mira itu, semuanya telah berubah. Manusia bisa berubah kapanpun banyak faktor yang memengaruhi.


"Al aku pamit." Alfarel mengakhiri aksi pura-pura melamun setelah Mira berhenti tepat di hadapannya lalu ia berdiri. Mira kembali lagi memeluknya, kali ini Al membiarkan gadis itu memeluknya, sepuasnya.


"Aku masih mencintaimu Al. Tapi aku merelakanmu sesegera mungkin, karena aku ingin melihatmu bahagia. Bukankah ini bentuk mencintai yang sebenarnya? hiks ... hiks ..." Pelukannya di balas Alfarel, ini adalah pelukan perpisahan antara mereka.


"Terima kasih Mira, kamu sangat pengertian. Aku berharap kamu lebih bahagia di luar sana." Pelukan mereka pun selesai, Mira mengusap air matanya.


"Mungkin dengan perginya aku dari rumah ini. Aku bisa melupakanmu dan membiarkanmu bahagia."


"Sebenarnya aku tidak mengusir mu tapi kamu yang susah siap-siap pergi. Aku hanya bisa membiarkanmu dengan keputusanmu sendiri."


"Baiklah Al. Apakah aku boleh, jika nanti aku kangen sama kamu, aku main ke sini?"


Alfarel mengangguk pelan mengiyakan, Mira tersenyum untuk yang terakhir lalu pamit pergi.


Alfarel menatapnya dengan tatapan sayu.


"Kau mantan terbaik. Maafkan aku memiliki keputusan sepihak dan menyakitimu." Batin Alfarel dalam pandangannya atas kepergian Mira.

__ADS_1


"Hemp, aku tidak bisa Melepaskan mu Al tapi aku harus membuat diriku kuat dengan sikapmu agar nanti aku bisa merebut mu kembali. Lihat saja nanti Xela, ku pastikan kau selalu makan hati." Mira berjalan pelan disertai senyuman sinis dan membatin licik.


__ADS_2