POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Mimpi Ajaib membawa kilas balik


__ADS_3

Xela membuka matanya, tubuhnya terasa lebih ringan dan segar, matanya juga terasa tidak perih seperti sebelumnya.


"Mmhh damai sekali!" gumamnya dengan menggeliat, saat pandangannya diedarkan barulah menyadari tempatnya sekarang. Ia berada di tengah ruangan yang di penuhi kabut, dinding pun tidak bisa dilihatnya namun tangannya yang meraba spray yang begitu lembut disisinya membuat ia bersyukur hari ini merasa agak tenang. Lantas ia berjalan dengan percaya diri menembus kabut putih, aneh lagi setelah melewati kabut tebal itu ia di transisikan pada pemandangan lain. Pemandangan tentang masa lalunya dimana Ghea menjebaknya. Xela menutup telinganya melihat dirinya sendiri ia saksikan sangat menyedihkan, lalu beralih lagi pada pemandangan selanjutnya dimana Alfarel menolongnya, lalu dirinya yang pernah di lemparkan sejumlah uang oleh Alfarel, saat itu ia sangat patah hati tidak bisa menahan tangisnya. Beralih lagi pada adegan selanjutnya menunjukan perjalanan hidupnya disisi Alfarel sampai ia tercengang sendiri.


"Sejauh ini kah aku? kenapa dulu hanya sekedar hubungan dengan majikan malah akhirnya menjadi sepasang kekasih. Sungguh di luar dugaan."


Di dalam penglihatan banyak yang membuat Xela terombang ambing oleh kejadian yang berbeda tentunya menyakiti hatinya dimana Alfarel memarahinya ketika ia tanpa sengaja membuka lemari Alfarel dan melihat foto Alfarel bersama Alika, sangat mirip dengannya.


Adegan terus berlanjut sampai memperlihatkan masa-masa mereka terjebak di kastil, berada dibawah kekuasaan Marco, saat itu ia kehilangan Alfarel lalu hidupnya menjadi kacau.


"Benarkah? Setelah aku bangun kalau kak Al tidak ada di sini berarti aku tidak akan mencarimu dan kak Al jangan mencariku."


Kalimatnya itu membuat Xela menangis lagi, walaupun ia melihat dirinya masih dalam pangkuan Alfarel lalu kilas balik membawanya sampai di situ saja.


"Aku mengucapkan kalimat yang benar, mungkin sekarang aku sedang bermimpi. Kal Al, jika aku bangun tidak mendapatimu disisiku, aku bukanlah siapa-siapa lagi yang berarti bagimu. Dari awal sebenernya aku bukan siapa-siapa, mungkin aku yang terlalu mengejar cintamu. Harusnya aku sadar diri bahwa diriku hanyalah seorang siswi SMA yang menempuh pendidikan jauh dan relasi dengan mu adalah kau sebagai majikan. Mengapa aku mengambil langkah sejauh ini?" Xela frustasi karena menurutnya kisah ini berjalan di luar kendalinya.


"Pokoknya aku tidak boleh bergantung padanya lagi. Aku harus bisa menyesuaikan diriku dengan prinsip ku, hidup mandiri dan membuktikan kepada kak Fiana kalau aku bisa memiliki hidupku sendiri, sukses dengan hasil kerja kerasku sendiri."


Xela mengingat janjinya kepada sang kakak yang pernah meremehkannya, kalau saja Fiana tahu kehidupannya saat ini bergantung pada seorang lelaki, habislah ia oleh kata-kata tajam sang kakak.


.


🍁🍁🍁


"Aduh terasa berat sekali." sunggut Xela dalam hati sembari menggosok matanya yang terasa perih.

__ADS_1


Tangannya yang bergerak untuk mengusap matanya tiba-tiba saja di hentikan oleh seseorang yang menumbangkan tangannya ke sisi lain lalu tubuhnya di tarik ke dalam alam sebuah pelukan hangat.


'DEG'


"Aku hanya ingat sebelumya aku tidur di pangkuannya." Xela perlahan membuka matanya walau berat, begitu pandangan samar memperlihatkan wajah tampan yang selalu ia panggil namanya tidur di sampingnya dengan memeluknya. Xela tersenyum lalu membalas pelukan itu lebih erat dan posesif, membenamkan wajahnya di dada Al. Tidak peduli lagi Al terbangun oleh ulahnya atau tidak yang penting dirinya merasa bahagia Alfarel ada disisinya.


Omong kosong! bukankah di dalam mimpinya ia bermaksud ingin mengakhiri kisahnya? Begitu sulit dan rumit hingga perasaannya kembali membawa dirinya pada kenyataan bahwa ia mencintai Alfarel.


"Terima kasih tidak meninggalkan ku." gumamnya seketika ada balasan dan reaksi.


"Hmm!" Respon Al sembari mengusap rambut Xela, mereka masih dalam posisi berpelukan.


Xela meski merasa bahagia namun ia merasa tidak enak badan, kepalanya begitu sakit, matanya berat, dan rasanya ia ingin diberi pelukan seperti ini agar tidak terlalu dingin. Respon Alfarel yang singkat membuatnya mendongak memastikan apakah pria itu masih memejamkan matanya. Begitu mendongakkan kepalanya, Alfarel menangkup kedua pipinya lau memberi kecupan singkat di kening, pipi, dan juga bibirnya. Disana Alfarel baru menyadari suhu tubuh Xela panas.


"Demam! ini pasti gara-gara kemarin." duga Al dalam benaknya, ia pun hendak bangkit ingin mengompres Xela akan tetapi tubuhnya di kunci terlebih dahulu oleh gadis itu.


"Apa saja yang kamu lakukan kemarin?"


"Menunggu kak Al yang tidak datang-datang, kak Al kemana?"


Pertanyaan hampir sama itu membuat Alfarel diam.


"Kak Al pergi kemana, kenapa tidak mengajakku?"


"Hanya pergi untuk menyelesaikan urusan. Sudahlah jangan dibahas."

__ADS_1


"Aku kira ketika aku bangun, kak Al sudah tidak ada disini lalu aku tidak akan mencari kak Al lagi." Xela mulai berkata lirih.


"Kenapa kalau memangnya saya tidak ada disini?"


"Aku akan pergi."


"Mustahil, pergi kemana disini banyak yang menjagamu." Al menatap wajah gadisnya yang sendu, lalu meraih dagu Xela agar gadisnya menatap ke arahnya.


"Aku bisa saja pergi melalui jalur lain. Untuk apa aku dijaga seharian oleh orang-orang yang tidak ku kenal, sangat tidak nyaman. Lebih baik aku pergi melanjutkan hidupku atau pergi sejauh mungkin hingga tak terlihat lagi."


Kata yang begitu mendalam, Alfarel melihat sorot wajah Xela, gadis ini berkata serius tidak seperti kemarin lagi. Benar katanya beberapa hari yang lalu bahwa dirinya tidak gila, hanya saja tekanan terlalu kuat membuat sikapnya di luar kendali.


Alfarel paham perkataan Xela, ia memilih diam lalu kembali memeluk gadisnya. Salahnya juga kenapa dia meninggalkan Xela dengan orang-orangnya yang baru di mata Xela, tentunya Xela tidak terbiasa dengan mereka. Sikapnya yang posesif membuat Xela hanya memiliki dirinya sendiri sebagai orang terdekat, tidak ada lagi orang terdekat Xela selain dirinya.


Tak lama, orang-orangnya pun datang membawa nampan berisi makanan, dan sebuah baskom berisi air untuk mengompres Xela.


"Tuan!" seorang wanita menyodorkannya dengan sopan. Setelah Alfarel memerintahkan mereka agar meletakkannya di atas nakas lalu pergi, Ia sendiri yang bergerak untuk merawat Xela. Beruntung Xela tidak protes lagi ketika Alfarel memindahkan kepalanya ke atas bantal, dari kemarin sebenarnya Xela menggunakan lengan Alfarel sebagai bantalnya.


Dengan telaten dan hati-hati Alfarel meletakan kain kompres di kepala Xela, ternyata gadis itu ketiduran, lalu bagaimana dengan bubur yang selagi panas itu, apakah harus Alfarel membangunkannya lagi untuk makan bubur?


Memikirkan hal itu terbesit sebuah ide di otak Alfarel, pria tampan itu tersenyum lebar.


"Mungkin dengan caraku dia bisa memakan bubur meskipun keadaannya sedang tidur."


Lalu Alfarel mengambil bubur itu, malah ia memasukan kedalam mulutnya sendiri, gilanya setelah itu ia mencium bibir Xela. Ternyata begini caranya Alfarel.

__ADS_1


Alhasil ia melihat Xela meneguk bubur yang ia salurkan melalui ciumannya dan lagi-lagi tersenyum senang.


"Setelah ini kamu pasti sembuh." Gumam Alfarel sembari memberi kecupan sayang di kening gadisnya.


__ADS_2