POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Mengancam Putus


__ADS_3

Xela sudah siap-siap dengan barang bawaannya. Hari ini ia akan pulang ke tempat asalnya.


“Huff ... Chesy belum menghubungiku dari kemarin. Bagaimana ya kabar mama.” Guman Xela melirik layar smartphonenya.


CEKLEK


Pintu kamar Xela dibuka secara tiba-tiba, kerjaan siapa lagi kalau bukan Alfarel. Lelaki itu masuk tanpa permisi lalu duduk di sofa berhadapan dengan ranjang dimana Xela duduk.


“Kamu akan jalan hari ini?” Tanya Alfarel dengan muka datar, mereka dari kemarin jarang berkomunikasi apalagi Alfarel juga sibuk ke kampus dan sibuk dengan tugas kuliahnya, sementara Xela dilarang Alfarel ke sekolah.


“Saya antar.”


“Nggak!”


“Kenapa?”


“Bisa gak sih kak Al biarkan aku bebas buat pulang sendiri. Kak Al udah buat surat ijin juga buat aku nggak bisa masuk beberapa hari ini.” Xela kesal atas kesewenangan Alfarel.


“Saya tidak mau kamu bertemu Landry. Kamu mendapat belajar di rumah aja, jadi lebih mudah dan aman.”


“Apa, belajar privat, maksudnya?” Xela bingung, apakah Alfarel benar-benar mengatur seluruh hidupnya sampai ia harus belajar privat?


“Kamu belajar normal sama dengan pelajaran di sekolah umum, kamu belajar mata pelajaran apa saja sesuai jadwal tapi kamu di dampingi guru privat setiap hari secara bergantian. Guru privat dari mata pelajaran yang berbeda.”


“Privat, aku nggak setuju. Aku mau sekolah normal.” Xela jelas tidak mau ia ingin melihat dunia luar, masa setiap hari kerjaannya di rumah saja.


“Tidak setuju privat? Saya tahu kamu ingin bertemu lelaki lain di luar sana, kamu kamu kau bertemu Landry lagi, saya tidak setuju.” Alfarel menekankan sehingga Xela hanya bisa menghela nafas, sedih tentunya juga.


“Terserah, ku pastikan aku tidak akan belajar.” Xela menyahut dengan kesal memasang muka masam sembari menarik kopernya.


“Saya tidak peduli kalau kamu tidak mau belajar artinya kamu tidak mau melanjutkan masa depanmu.” Sembari menahan tangan Xela yang menarik koper lalu mengambil alih koper itu.


“Habisnya kak Al seenaknya mengatur.” Xela masih tidak bisa menerima.


“Demi kebaikanmu.” Al menarik koper Xela.


“Kebaikan? Itu pengekangan!” jawab Xela sinis.


“Saya akan mengantarmu, berapa lama di sana?”


“Mungkin sekitar satu minggu.” Jawab Xela.

__ADS_1


“Saya akan membawa pakaian secukupnya.” Xela membuatkan matanya, apa yang laki-laki itu pikirkan.


“HAH! Nggak, jangan aku gak bisa kalau kak Al ikut.” Xela menghalangi dari depan agar langkah Alfarel berhenti.


“Kenapa? Sekalian ketemu calon mertua, memangnya salah?”


“Jangan. Nanti apa kata orang?”


“Terserah kata orang, abaikan saja.”


“Nggak kak. Kan kita masih pacaran kalau aku bawa kak Al pulang, akan menjadi buah bibir orang, kecuali-" Xela tidak bisa melanjutkan omongannya.


“Kecuali calon suami, begitu?”


DEG


Benar, apa yang dikatakan Alfarel benar, kalau anak gadis lajang yang pulang membawa laki-laki itu artinya mereka sudah siap menikah.


Xela mendonggakan kepalanya karena perbedaan tinggi badannya dengan Alfarel, ia menunjukkan matanya yang besar.


“Iya.” Jawab Xela lirih. Alfarel malah tersenyum meskipun Xela terlihat sedih dengan beban pikirannya.


“HAH!” Xela merasa merinding mendengarnya apalagi senyuman nakal yang di lempar Alfarel padanya.


"Gila! Mana mungkin aku bisa menerimanya. Membayangkan kegiatan setelah menikah saja aku belum siap, aku masih mau sekolah.” Batin Xela menjerit.


“Kenapa, lebih baik kan?” Tanya Al sedikit mencondongkan badannya agar wajahnya dekat dengan Xela.


“Aku nggak bisa. Terlalu cepat lagian masih kelas 2 SMA.”


“Tidak masalah bagi saya yang akan jadi pemimpin dan kepala keluarganya.” Jawab Al dengan santai dan berlalu pergi begitu saja tidak peduli dengan muka Xela yang merah.


"Apa kak Al sudah gila? Aku masih muda belum ada persiapan sama sekali. Bisa-bisanya dia bicara begitu. Pokoknya dia nggak boleh ikut aku pulang.” Batin Xela cepat-cepat mengejar Alfarel lalu menarik lengan lelaki itu.


“Kak Al Pokoknya jangan ikut aku pulang. Kalau gak mau dengerin aku, kita putus!” Ucap Xela tentu dengan dada yang berdebar, ia mengancam pacarnya. Padahal baru kemarin mereka pacaran.


Alfarel menoleh menatap kekasihnya yang terlihat menantang, mudahnya gadis itu mengatakan putus sementara kemarin ia sudah berjuang mengungkapkan perasaannya.


“Putus? Kamu mengancam saya. Kamu tidak tahu saya.” Alfarel menunjukkan senyum sinisnya lalu mencolek dagu Xela, Alfarel tidak peduli dan tetap saja melangkah.


“Kak Al aku tidak mau kak Al ikut. Tolong beri kesempatan kali ini saja. Nanti kalau aku sudah siap dengan pikiran yang matang, aku ijinkan Kak Al ikut.”

__ADS_1


“Saya tetap pada keputusan sendiri. Ayo jalan.” Ucapnya tanpa menoleh kepada Xela. Xela ingin rasanya menangis karena Al tidak mau mendengarnya, habislah nanti ia menjadi buah bibir para Ibu-ibu tukang gosip apabila sampai didesanya bersama Alfarel.


"Kak Al keras kepala banget nekad lagi. Kenapa masih saja mau ikut.” batin Xela sangat gelisah.


DRRTTT.


Ditengah perjalanan smartphone Xela berdering, Xela melihat layar ternyata Chesy meneleponnya. Sudah lumayan lama tidak mendapat kabar, Xela segera mengangkat teleponnya, Alfarel juga menghentikan mobilnya di tepi jalan agar dapat fokus mendengar obrolan Xela, Mr. Possesif ternyata mulai kepo.


“Hallo Chesy, bagaimana keadaan mama?” Xela tidak sabar mau tahu keadaan ibunya.


(“Kak kabar baik mama sudah sembuh, sekarang mama lagi ke sawah.”)


Jawab Chesy dari seberang.


“Syukurlah, kakak senang sebentar lagi kakak ...” mulut Xela di bekap Alfarel, lalu pacarnya itu berbisik ke telinganya.


“Bilang saja kamu masih di sekolah.” Bisik Alfarel, Xela menggelengkan kepalanya tidak mau menuruti, lagipula apa maksudnya.


“Kalau nggak, sini saya saja yang ngomong.” Xela terancam sampai akhirnya ia terpaksa mengangguk.


(“Hallo Kak kenapa diam?”) terdengar suara Chesy bertanya.


“Iya Kakak sekarang lagi di sekolah.” Jawab Xela sesuai perintah Alfarel.


(“Oh iya kak, mama bilang kalau Kakak lagi sibuk sekolah. Kakak gak perlu pulang dulu, lagian mama sudah sembuh. Mama bilang akan tunggu kakak setelah lulus SMA.”)


Xela agak lega mendengarnya, ini artinya Alfarel tidak jadi mengantarnya pulang dan bayangan buruknya tentang ibu-ibu tukang gosip tidak terjadi. Xela menoleh ke arah Alfarel yang tersenyum, mungkin tadi maksud Al memintanya mengatakan ia masih di sekolah agar adiknya tidak tahu bahwa ia sedang di jalan.


“Iya dek. Tapi sebenarnya kakak kangen sama mama.”


(“Mama juga kangen kakak. Tapi nanti kami akan video call sama kakak biar gak kangen lagi.”)


“Iya Sy.”


(“Udah dulu ya kak, kakak kan mau belajar.”)


Belum juga Xela menjawab adiknya, Alfarel merebut smartphonenya lalu mematikannya.


“Kak Al Kenapa sih.” Xela semakin kesal dari tadi karena perlakuannya.


“Ini yang kamu mau kan? Tidak jadi pulang agar saya tidak ikut.” Al memutar balik mobilnya tidak peduli Xela marah.

__ADS_1


__ADS_2