
"Aku tidak yakin." Xela segera mengambil kesempatan untuk melepaskan diri saat Alfarel melonggarkan pelukannya.
"Apa yang membuatmu tidak yakin?" Alfarel bertanya lagi.
"Kau memang lelaki yang suka mempermainkan perempuan. Aku yakin kata Landry benar, lalu kau pasti kengancamnya untuk memutuskan hubungan kami kan. Baiklah mulai sekarang kita jangan bertemu lagi, aku tidak mau hidup di bawah aturan. Aku menemui Landry ya hakku, jangan merampas hak ku. Aku mau hidup menurut keinginan ku sendiri, jangan atur hidupku."
Xela yang masih berdiri teguh dengan kewaspadaannya menegaskan keinginannya.
"Tapi apa salahnya kalau mengenal saya mulai sekarang. Kamu pikirkan dulu apakah dulu saat kamu tinggal di rumahku, pernah kamu mendapat perlakuan tidak baik dariku?"tanya Alfarel meminta pertimbangan gadis yang dicintainya.
"Pernah, permintaan mu dan perintahmu membuatku menderita." masih dengan tangisan.
"Selain itu, pernahkah saya melakukan hal yang kiranya merusakmu? saya bukan tipe lelaki perusak wanita." Alfarel menegaskan. Xelapun berpikir keras memutar memorinya ketika dulu ia tinggal di rumah Al. Al tidak pernah melakukan hal yang merugikannya termasuk memanfaatkan tubuhnya. Barulah ia sadar Al sebenarnya bukan tipe lelaki seperti itu. Tapi disisi lain Xela juga berpikir laki-laki bisa berubah kapanpun, bisa saja kemarin baik dan sekarang pasti tidak sama seperti yang kemarin, maklum dinamika kehidupan tidak selalu menghadirkan keuntungan setiap hari berganti.
"Perintah saya sangat keras saat itu karena saat itu saya masih ingin mengenalmu, dan sekarang saya sudah mengenalmu. Semakin saya mengenalmu semakin saya tidak ingin kehilanganmu. Kamu harus mengerti saat kamu pergi bersama Landry setelah itu kalian berpacaran. Saya selalu mengawasi tanpa kalian sadari, saya takut sesuatu terjadi padamu. Tapi S
saya sadat tidak bisa membuatmu mempercayai saya, terserah pendapatmu saja. Yang penting setelah ini saya maupun kamu jangan pernah bertemu lagi."
Xela menahan dongkol setelah mendengar perkataan putus asa Alfarel. Sebenarnya tadi penjelasan Al sudah jelas dan ia percaya, tetapi ia memilih berdusta hanya untuk memastikan bagaimana Alfarel memperjuangkan agar ia percaya. Ingin menyesal tapi egonya lebih besar, Xela membiarkan Alfarel meninggalkannya di taman. Alfarel melangkah tanpa menoleh padanya, mulai detik itu juga Xela merasa patah hati, ingin ia mengejar langkah lelaki itu tetapi ia sadar sudah terlanjur menyakiti hati Al.
"Maafkan aku kak Al. Aku mencintaimu tapi aku takut kalau cinta ini menjadikan aku hancur lagi. Aku masih meragukanmu. Maafkan aku."
GUURR
__ADS_1
Suara guntur menggelegar, awan hitam segera berubah menjadi hujan yang turun dengan deras. Xela berdiri diam di tempatnya sementara matanya melirik Al yang berhenti sejenak. Xela tersenyum berpikir apakah Alfarel kuatir padanya lalu berlari padanya untuk menjemput nya?
"Aku tahu kak Al kepikiran tentangku, kak Al tidak akan membiarkanku dibawah hujan sendirian." Batin Xela mulai semangat lagi berharap Al datang kepadanya.
Pikiran Xela ternyata hanya harapan belaka, nyatanya Alfarel berdiri disana seperti menahan sakit kemudian lelaki itu terjatuh ke tanah, Xela panik segera berlari menghampiri Alfarel.
Xela segera meraih kepalanya lalu meletakkan dipangkuannya melindungi agar wajah lelaki itu tidak ditimpa oleh derasnya hujan.
"Kak Al Kenapa? kak bangun kak." Alfarel terlihat lemas dipangkuannya lalu memeluknya masih dengan posisi berbaring di pangkuan.
"Aku dingin." Alfarel menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Xela.
"Kak ayo bangun, kita berada tidak jauh dari asrama."
"Aku harus bagaimana, kenapa tiba-tiba kak Al mengalami masalah seperti ini. Apakah sebelumya dia sakit?" batin Xela serba salah lalu menyentuh dahi Alfarel yang terasa panas.
"Kak Dafi, iya kak Dafi. Berikan hpnya, aku akan telepon kak Dafi." Xela meminta smartphone Alfarel tetapi tidak ada respon lelaki itu, Xela segera memeriksa keadaan lelaki yang berbaring di pangkuannya, entah mengapa situasinya sangat aneh, Al segera tidak sadarkan diri.
"Aduh bagaimana ini, orang-orang disini juga udah gak ada. Bagaimana ini." dalam keadaan terdesak, Xela mendapati smarphone Alfarel ternyata jatuh dari sakunya sekarang terletak di tanah. Dengan segera Xela mengambilnya lalu menghubungi Dafi, beruntung layar smarphone tidak terkunci sehingga Xela bisa mencari pertolongan.
TUUT TUUT TUUT
"Halo bang." terdengar respon di seberang sana.
__ADS_1
"Hallo, cepat datang ke taman di belakang asrama ALKA, kak Al sekarang pingsan, ini kami di tengah hujan." Xela memohon agar Dafi segera datang, sebenarnya ia bisa saja minta pertolongan temannya tetapi ia tidak tega meninggalkan lelaki itu dibawah derasnya hujan, satu lagi karena smartphone miliknya hilang, jadi ia tidak bisa menghubungi mereka dari jarak jauh.
"Baik, tunggu disana saya akan datang secepatnya."
Usai menelepon Xela melindungi Al dari derasnya hujan, wajah tampan dan lemah itu sangat memprihatinkan. Jantung Xela semakin berdegup kencang saat menatap wajahnya, ada perasaan yang berbeda mendorongnya untuk terus menatap wajah itu.
"Kak Al, apa yang terjadi. Apakah ini karena aku, apakah aku penyebabnya? kalau benar aku penyebabnya mungkin aku tidak bisa memaafkan dirimu sendiri." Xela menangis dan menyesal.
Andai tadi ia tidak berdusta, andai tadi ia menjawab kalau ia percaya kepada lelaki itu pasti mereka tidak berakhir dibawah derasnya hujan di takuti suara halilintar serta kilatan putih di atas yang sangat menyeramkan. Xela menangis ketakutan, akhirnya memeluk Al, membuat wajah mereka bertemu. Meskipun Al tidak sadarkan diri, Xela bisa merasakan panas diwajahnya. Oh tidak, tepatnya bibir, bibir mereka bertemu namun Xela membiarkannya.
"Kak Al, andai kak Al sadar pasti kita tidak akan berada di tengah hujan deras ini. Aku takut, aku takut akan tersambar oleh petir itu dari pada kak Al. Aku menyesalinya." Xela menenggelamkan wajahnya ketakutan. Sampai akhirnya suara mesin mobil terdengar semakin mendekat, Xela masih tidak ingin mendonggakan kepalanya sampai akhirnya suara Dafi menyadarkan nya.
"Ayo Xela, aku akan membawakan bang Al, kamu segera masuk." Xela cepat-cepat masuk agar Al juga cepat dibawa pulang. Di dalam mobil Xela masih dalam keadaan memangku Al dengan meletakkan telapak tangannya di atas dahi Al, dahi itu terasa panas.
"Aku akan ikut pulang ke rumah kak Al." ucap Xela kepada Dafi yang sedang menyetir.
"Baiklah." Dafi menuruti saja yang penting ia berhati-hati menyetir agar cepat sampai.
"Apa yang terjadi sebelumnya non?" Dafi bertanya sedikit setelah melihat kondisi Alfarel.
"Tidak tahu, tadi kami berada di taman tiba-tiba hujan deras turun, lalu kak Al terlihat kesakitan kemudian tidak sadarkan diri." jawab Xela singkat.
"Sebelumnya bang Al tidak pernah mengalami hal seperti ini."
__ADS_1
Xela kaget, apakah ini gara-gara dia?