POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Komentar


__ADS_3

"Apaan sih cepat banget dimatiin. Sumpah dia benar-benar ngerjain gue."


Xela mendengus kesal, karena tidak ingin membuang waktu, Xela pun segera pergi untuk memasak.


Tangannya memegang ekor ikan sambil di gantung dan diperhatikannya.


Hemm enaknya sih di goreng, tapi bos cerewet itu mau yang pakai kuah. Uh nasib mau liat resep di hp, malah hp nggak ada lagi.


Xela bersunggut dalam hati karena bingung memasak apabila tidak di rumah sendiri. Gadis itu takut kalau-kalau masakannya tidak enak.


"Ah bodoamat, ini udah hampir malam."


Xela berusaha menghaluskan bumbu ikan semampunya, ia pun memasak setelahnya.


Andaikan saja Dafi ada dirumah, kemungkinan Xela tidak akan disuruh untuk memasak.


Beberapa lama kemudian ...


Setelah Xela selesai memasak ...


Terdengarlah suara membuka pintu, Xela bisa memastikan itu pasti bos nya yang datang, orang yang pernah ia katakan tidak punya akhlak.


Xela menghampirinya dengan pelan-pelan. Ia ingin meminta ijin untuk pulang.


Alfarel yang semula berjalan lurus menengok kearah Xela yang menghampirinya.


"Sudah memasak?"


"Mm ... sudah."


Jawab Xela juga singkat, ngapain jawab dengan kalimat panjang kalau yang menyapa kalimatnya singkat.


"Oke, aku mandi dulu."


Alfarel hendak berlalu meninggalkan Xela, namun Xela lebih cepat bergerak menghadang di hadapan Alfarel agar Alfarel berhenti dan tidak bisa lewat.


"Maaf kak aku mau pulang, boleh?"


"Nggak, tunggu aku mengantarkan mu nanti, sekaligus kamu makan malam disini juga."


"Tapi, ini aku belum mandi jadi bagaimana?"


"Ow belum mandi, dari sejak kapan? Tadi pagi?"


Xela mendadak kesal dengan pertanyaan Alfarel, lagi-lagi Alfarel sengaja membuatnya marah.


"Gimana sih, harusnya tahu dong kalau aku belum mandi sore, bukan tentang mandi pagi. Lo selalu aja ya bikin gue marah."


Xela menjawab dengan marah.


"Heh! Ingat posisi kamu disini tidak boleh marah kecuali aku. Aku bos nya, paham? Kalau kamu masih berani, gaji taruhannya."


Dengan senyum sinis nya, Alfarel menegakkan jari telunjuknya didepan Xela.

__ADS_1


"Lalu aku nggak mandi? "


"Masuklah ke kamar sebelah sana yang kamu masuki pertama kali. Mandi disana, dan sudah ada baju disana. Jangan banyak tanya lagi."


Setelah memberi tahu Xela, Alfarel segera menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Gila emang ada baju ganti, nggak percaya deh. Bos macam apaan ini.


Xela mendesis sambil kakinya melangkah menuju kamar yang pertama ia bersihkan dan ia masuki.


Memang disana ada sebuah lemari berukuran besar, namun Xela tidak pernah membukanya. Ia hanya membersihkan bagian luar saja, tidak mau tahu apa isi dari lemari ataupun laci.


Sekali lagi sebelum ia membuka lemari, matanya tertuju pada foto seorang gadis yang tersentuh di diatas nakas.


Siapa gadis itu, pikirnya. Ia sampai sekarang belom mengetahui tentang gadis itu, jangankan tentang gadis yabg hanya ada didalam bingkai foto, tentang Alfarel saja Xela belum mengetahuinya.


Lemari berukuran besar dan mewah itu sangat membuat Xela ragu, apakah ia harus membukanya atau tidak.


Ia takut kalau ternyata Alfarel memasang jebakan disana, bisa saja lemari besar itu jenuh oleh lepas yang akan menghujani tubuhnya dan membuatnya bersin, atau banyak bola kecil yang akan menimpanya sehingga ia kerepotan kembali mengemasi bola tersebut yang sudah bertebaran di dalam ruangan nan luas itu.


"Buka nggak buka nggak buka nggak .Kalau dibuka mana tahu apa yang aku pikirkan benar, kalau nggak gimana ya, pasti aku nggak akan mandi."


Xela bingung di hadapan lemari yang berukuran tinggi dan besar.


Lama berpikir akhirnya gadis itu membuka lemari, matanya terpejam membayangkan kejadian yang disangka di dalam angan. Tetapi rasanya ia sudah membuka lebar pintu lemari namun tidak ada kapas ataupun bola kecil menghujaninya seperti yang ia pikirkan tadi.


Perlahan matanya ia buka untuk melihat isi lemari. Isi lemari itu ternyata dipenuhi oleh pakaian.


Xela menyesal telah berprasangka yang tidak-tidak.


\*\*\*


Xela sudah menuju ruang makan karena sudah ada Alfarel memanggilnya tadi.


"Xela cepat. Aku masih ada urusan lain."


Terdengar suara Alfarel memanggilnya ke sekian kalinya.


"Ya, sebentar lagi."


Xela menjawab disertai langkah kaki yang di percepatan menuju ruang makan.


"Kau lama sekali. Apa kau menggunakan make up disana sampai habis? "


Pertanyaan yang tidak masuk akal terlontarkan lagi dari mulut Alfarel.


Hati siapa yang tidak kesal coba, memang saat berada didalam kamar Xela melihat make up di meja ruas sangat banyak dan berjejer, tetapi tidak satupun yang ia sentuh.


"Maaf ya kak, aku nggak pakai make up."


Ketika Xela sudah mengutarakan kalimatnya, barulah Alfarel menoleh memerhatikan Xela.


Alfarel termangu setelah melihat penampilan Xela, ia membayangkan yang duduk dihadapannya adalah Alika.

__ADS_1


"Kak kenapa?"


Tanya Xela merasa tidak enak, pasalnya Alfarel tiba-tiba tersenyum.


Alfarel yang terbuyarkan angannya tersadar oleh pertanyaan Xela.


Bodoh. Hanya angan, Xela sangat cocok menggunakan pakaian Alika.


"Hm ... bagus kan aku pakai baju ini. Makasih ya udah sediain baju."


"Eh geer amat. Itu minjam, besok kembalikan."


Xela berhasil patah hati mendengar ucapan Alfarel.


Alfarel mulai membuka tudung saji yang ada di hadapannya, meja putar yang di tempati makanan dengan bentuk lingkaran dilihatnya dengan seksama layaknya seorang detektif yang sedang menyelidiki hasik masakan.


Alfarel mencicipi sayur mentimun yang terlihat aneh.


"Ini terlalu matang, teksturya seperti bubur. Kau salah memasak, seharusnya ini untuk lansia bukan untukku."


Alfarel mulai berkomentar karena mentimun hasil masakan Xela terlalu matang dan lunak.


"Kau harus belajar memasak lagi. Rasanya lumayan, tetapi aku tidak suka dengan teksturya, gigiku masih kuat dan masih ingin selalu mengunyah sedangkan mentimun ini seharusnya dimasukkan ke dalam mulut lalu langsung ditelan tanpa kunyah."


Xela merasa malu, komentar Alfarel terlalu panjang lebar. Ia malu walaupun komentar Alfarel menggunakan nada yang netral, ia tidak marah, hanya saja keliatan sekali seorang Alfarel sangat cerewet.


"Bukannya sayur semakin matang semakin enak?"


Tanya Xela memberanikan diri.


"Kau memang idiot. Apa jurusanmu di SMA?"


tanya Alfarel sambil melirik ke lawan bicaranya.


"IPA."


"Nah, seharusnya kau tahu bagaimana cara memasak sayuran dengan benar, terlalu matang ada unsurnya yang hilang."


Jawaban Alfarel seolah menjadi teka-teki. Apa yang sebenarnya hilang, apa itu kulitnya yang ia kupas atau bijinya yang ia buang tadi?


Xela masih bingung. Ayo apa yang hilang coba?


"Coba aku yang makan."


Xela meminta agar ia memakannya.


"Enak kok."


Xela memuji masakannya sendiri.


"Ambillah, habiskan kalau perlu."


Ucap Alfarel ditengah Xela memakan sayuran ke sekian sendok.

__ADS_1


bersambung ...


tunggu episode 23 yahh ...


__ADS_2