POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Kedatangan Mira


__ADS_3

Alfarel juga masuk ke dalam kamarnya, menatap foto Alika di balik lemari pakaiannya.


"Tidak. Tidak boleh, aku tidak akan melepaskan Xela dia satu-satunya perempuan yang mirip dengan Alika." gumam Alfrel, ada konflik di dalam hatinya ketika mengingat Xela pasti Mira juga muncul. Mereka berdua seakan sangat penting baginya dan tidak bisa ia lepaskan.


"Dafi, menurutmu apakah aku terlihat menyukai Xela?" tanya Alfarel secara mendadak kepada Dafi yang sedang menikmati hamburger sambil menonton televisi di ruang tamu. Dafi terkejut melihat ada sesuatu yang tidak beres sepertinya terjadi pada Alfrel. Belum pernah Dafi melihat Alfarel sampai berlari menghampirinya.


"Hah? bukannya bang Al terlihat menyukai Mira? Tapi menurutku bang Al posesif kepada Xela." jawab Dafi jujur. Mendapat jawaban seperti itu alfarel segera berlari menuju cermin lalu melihat wajahnya sendiri di sana dan berdialog dengan bayangannya sendiri.


"Posesif? Alfarel posesif. Benar-benar ini sepertinya aku telah menyukainya. Tetapi mengapa, bukankah aku menyukai Mira. Cukup Al, cukup! kamu posesif bukan berarti kamu menyukainya. Ini adalah bentuk simpati kepada gadis malang itu." Alfarel menghela nafas, usai berbicara pada bayangannya di depan cermin. Pria tampan itu sepertinya sedang tertekan oleh perasaan, bahkan rasa bersalahnya mulai muncul ketika ia teringat dirinya telah merusak smartphone Xela. Bagaimana dengan gadis itu sekarang, ia pasti sangat sakit hati.


Untuk menebus kesalahannya, siang ini Al Farel baru saja membeli smartphone baru untuk Xela, sebagai ganti dari smartphone yang telah dirusak olehnya. Alfarel mengetuk pintu kamar yang didiami oleh Xela, hendak memberi Smartphone baru yang masih berkotak itu.


"Xela buka pintunya!"


"Xela ..." Alfarel memanggil perempuan itu dari balik pintu.


Xela tahu, ia memandangi pintu dengan tatapan kosong, mata yang sembab dan hati yg terasa remuk.


"Dia mengetuk pintu? Apa lagi yang dia mau?" gumam Xela dengan wajah sinis.


"Xela." Alfarel terus mengetuk pintu kamar Xela dari luar, dimana ia berhenti ketika sebuah tangan menyentuh bahunya. Al melirik perempuan yang dicintainya itu membawa sebuah koper, seperti yang pernah ia bicarakan pada Dafi, Mira akan tinggal bersama mereka dan juga Landry akan di hubungi kemari.


"Hai Al." Mira menyapa Al.


"Mira." ucapnya sedikit terkejut.


"Yes, it's me. Aku akan tinggal disini bersamamu." Mira spontan memeluk Alfarel dengan erat, sementara Alfarel hanya diam membeku sembari tangan kanannya memegang paper bag.


Tanpa sengaja Xela yang tadi tidak memiliki niat untuk membuka pintu, sekarang membuka pintu disaat yang tidak tepat. Ia melihat sepasang manusia itu berpelukan, apa mereka kekasih?

__ADS_1


Mira menyadari kehadiran Xela, lalu ia segera melepas pelukannya dari Al.


"Al dia siapa?" Mira membuat Al membalikkan badannya melihat Xela berdiri mematung tepat di belakangnya.


"Ohh, maaf aku bukan bermaksud mengganggu, aku akan kembali bekerja." Xela meninggalkan kedua insan itu segera.


"Oh ini si Xel. Xel yang pernah kamu sebut itu Al?" tebak Mira dengan yakin dan Al mengangguk mengatakan itu benar.


"Tapi kamu gak ada hubungan sama dia kan?"


"Tidak." jawab Al datar.


"Tapi aku merasa tidak yakin." Mira mendengus.


"Baiklah aku akan mengantarmu ke kamar." Al memegang tangan Mira bermaksud menuntun perempuan itu.


"Terima kasih banyak sayang. Oh iya omong-omong, asistenmu yang tadi bukannya kamarnya bersebelahan denganku? dan kenapa kalau udah ada aku tidak sebaiknya kamu menyiapkan tempat tinggal untuknya di luar sana?"


Alfarel ingin marah ketika ucapan Mira mengandung kalimat yang mengatur, bukankah tinggal dan tidaknya Xela di rumah ini ia yang mengatur, Xela asistennya ya terserah dia dong menempatkan asistennya dimana.


"Dia bekerja pekerjaan rumah disini. Aku tidak mungkin membuatnya tinggal di luar."


"Apa hubugannya? sebaiknya dia tinggal di luar bukan didalam rumah ini. Aku takut ia akan merebutmu dariku." kata Mira dengan manja meraih pergelangan tangan Al lalu menyandarkan kepalanya disana.


"Ini hakku, sebaiknya kamu istirahat." Al melepaskan pelukan Mira dari lengannya, kemudian meninggalkan Mira disana sendirian.


Disisi lain, Xela telah melihat semuanya. Kedua orang itu sepertinya sangat mesra, hati Xela menjadi tersayat entah karena apa, ia melihat sendiri tadi bagaimana Mira memeluk Alfarel, lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar. Ops, apa yang dilakukan mereka disana? Xela membayangkan mereka sedang bermesraan, lalu berciuman.


Xela tanpa sadar terbawa alur pikirannya yang mempengaruhi perasaannya sampai ia mencincang daging dengan kencang saat ini. Ya, ia sedang ingin memasak, melakukan tugasnya sebagai asisten yang baik.

__ADS_1


"OMG Xela, kamu terlalu bersemangat mencincang daging. Eh bukan bersemangat, sepertinya kamu melampiaskan sesuatu." tebak Dafi, Dafi melangkah mendekati Xela membawa sebuah paper bag.


Xela dari tadi hanya diam, ia mengamati pergerakan Dafi menghampirinya.


"Ini smartphone baru, dari bos. Eh dari bang Al maksudnya. Dia menitipkannya padaku karena kekasihnya datang." kata Dafi. Ia mengalihkan paper bag itu ke tangan Xela, lalu pergi begitu saja.


Kekasihnya? kata itu berhasil membuat Xela merasakan sesak, ia tidak mengerti. Sepertinya ia cemburu.


Saat makan malam berlangsung dengan tegang, Mira duduk bersebelahan dengan Al, dan Dafi duduk bersebelahan dengan Xela.


Al terus saja memadang Xela yang ada di hadapannya, Xela yang fokus makan, dan tidak ingin membiarkan hatinya sakit oleh kehadiran Mira, mencoba untuk menata hatinya. Ia memaklumi yang duduk berhadapan dengannya adalah kekasih orang dan juga majikannya, ia tidak boleh cemburu. Bukankah tidak pantas cemburu hanya untuk orang yang belum kita miliki?


Xela tersedak ketika mengalihkan pandangannya ke depan, ternyata Al menatapnya sedari tadi. Al tampak sigap mengambilkan air lalu memberikannya kepada Xela.


Mira yang melihat kekasihnya begitu perhatian kepada Xela tentu merasa cemburu dan tidak senang.


Mira sengaja seolah tersedak dan mengelus-elus dadanya mengharap perhatian Alfarel. Alfarel memberi isyarat pada Dafi untuk mengambil air dan diberikan pada Mira. Mira tidak berhasil membuat Alfarel perhatian padanya, ia terpaksa harus meminum air yang di berikan Dafi


"Al kamu nggak ambilin aku minum, kenapa menyuruh Dafi?" tanya Mira dengan rasa kecewa.


"Aku sedang mengunyah, kalau aku yang melakukannya sama juga membuatku tersedak saat menelan." jawab Al santai.


"Tapi kamu lebih memperhatikan asistenmu. Kamu tidak memperhatikan aku." kata Mira iri.


"Itu karena kamu hanya pura-pura. Kamu kira aku tidak tahu?" balas Alfarel.


Mira terkejut, bagaimana Alfarel bisa tahu kalau dia pura-pura melakukannya?


"Kamu percaya padaku Al. Baiklah, aku permisi rasanya sudah kenyang." Mata Mira berkaca-kaca, ia hendak meninggalkan tempat duduknya, namun sebelum ia melangkah, Al menahan tangannya, tidak membiarkannya pergi.

__ADS_1


__ADS_2