
Landry merangkul Xela didepan matanya membuat lelaki itu mengepalkan tangannya lalu menarik kerah baju Landry sehingga rangkulan Landry berhasil terlepas, Xela sangat kaget dengan pemandangan itu sebab setelahnya Alfarel memukul Landry sampai sudut bibir Landry berdarah.
"Stop!" Xela melerai keduanya, saat Alfarel akan melayangkan pukulan yang kedua, Xela menghalanginya sehingga Alfarel berhenti sampai disitu, Alfarel menahan kepalan tangannya di udara, ia tahu yang ada dihadapannya adalah perempuan. Begini jika perkelahian antara pria di halangi oleh seorang wanita.
"Landry, perlu gue ingetin agar masuk dengan sopan, hah?" Al memberi peringatan.
"Gue yang harusnya ingetin lo bang, jangan bersikap tidak sopan sama Xela, pacar gue." Mendengar kata pacar, Al merasa hatinya diremas seketika.
"Dia asisten gue, terserah gue. Gue yang kasi upah kerja buat dia." jawab Alfarel membela dirinya sendiri, ia ingin menarik Xela dari Landry.
"Oh asisten? Gue tau dia asisten lo bang. Tapi lo harusnya bersikap sewajarnya. Lo hargai dia sebagai perempuan, sikap lo tadi sumpah itu pelecehan bang." Landry berbicara dengan nada keras meskipun ia sekarang masih menahan sakit perut yang ia tak tahu penyebabnya adalah dari sup yang ia santap.
"Pelecehan? Lo bilang abang lo melakukan pelecehan. Sial! gue yang selama bertahun-tahun sudah sering di kejar para cewe cantik gak pernah sedikitpun gue berpikir untuk mengambil keuntungan. Pantaskah gue di katai melecehkan Xela?" Alfarel tentu tidak bisa terima, ia tidak melakukan apa-apa selain menginterogasi Xela agar gadis itu mengaku jika ia mencintainya.
Disaat pertengkaran, Mira datang dengan panik melihat Alfarel marah, Mira segera memeluk Alfarel bermaksud menenangkan kekasihnya itu.
"Lo lihat Bang, itu Mira pacar lo. Lo gak kasihan sama dia, lo harusnya memiliki apa yang lo miliki. Tentang asisten ya tetap asisten. Gue gak mau lo rampas pacar gue seenaknya."
Landry benar-benar marah, nafasnya sudah sangat memburu, hari ini ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Alfarel memperlakukan Xela.
"Udah Lan, cukup. Kamu salah paham, aku baik-baik saja Landry." Xela menenangkan Landry dengan mengatakan dirinya tidak apa-apa, tetapi lelaki yang mencintainya tidak mudah mempercayai ucapannya yang mungkin saja lain di hati.
__ADS_1
"Sudahlah Xela. Kamu tidak baik-baik saat ini. Kamu bisa mengatakan kalau kamu sedang baik-baik saja tapi hatimu sangat sakit, kamu hanya menahannya untuk membela orang yang salah." jawab Landry kepada Xela sembari tatapan matanya menyoroti Alfarel.
"Bagaimana kau bisa tahu? Aku sakit hati karena aku merasa telah menggantung semuanya, perasaan ini. Aku diam-diam mengagumi Kak Al, tetapi aku harus tersakiti oleh hal baru, termasuk kedatangan kak Mira. Aku ingin melupakannya, sudahlah ... Xela lupakan semua. Landry lebih baik, dia sangat baik." batin Xela yang kini bungkam mendengar jawaban Landry barusan
"Ayo pergi." Landry membawa Xela pergi dari tempat kerja Al, tempat perkelahian barusan.
"Sayang sebenarnya ini ada apa?" Mira segera bertanya setelah melihat sudut bibir Landry terluka, karena itu ia bahkan sampai memeriksa seluruh bagian wajah pria di depannya, takut pria yang dicintainya itu juga terluka.
"Hanya salah paham."
"Salah paham bagaimana. Apa kamu terluka, aku takut kamu terluka seperti dia, aku nggak mau wajahmu memar ataupun berdarah." Sembari mengusap pipi Alfarel dan terus memeriksa wajahnya.
"Xela, gue bakal pantau dia. Dia boleh di tangan lo sekarang Lan, tapi gue gak akan membiarkan lo sepenuhnya memiliki Xela. Gue gak akan percaya lo. Sejak kejadian yang menimpa Alika rasanya gue pengen musnahin lo saat itu juga, tapi gue masih punya hati dan rasa kemanusiaan. Dan seenaknya lo mengatakan gue melakukan pelecehan kepada Xela, gadis seperti dia yang pengen gue lindungi. Benar-benar sial. Sepertinya gue harus benar-benar membuat lo hancur tak berkeping, tidak peduli kita sedarah, kau bukan saudaraku."
Batin Alfarel, ia sangat disakiti oleh perkataan Landry adik kandungnya sendiri. Alfarel sedari tadi terus memandang ke satu arah dengan tatapan kosong. Mira yang sedari tadi mengamati kekasihnya itu merasa kuatir, ia belum tahu bahwa hati seorang Alfarel.
"Sayang jangan ngelamun dong, coba bilang kalo nau sesuatu biar aku bisa bantu ambil atau bantu apapun yang kamu mau." Mira mengungkapkan kekuatirannya, berharap Alfarel mau bicara padanya dan berbagi cerita padanya.
"Sudahlah Mir. Aku ingin sendiri, tinggalkan aku sekarang!" Mira tidak menyangka bahwa kalimat perintah itu harus ia terima, Alfarel mengusirnya sekarang? Apakah lelaki itu tidak mau dihibur?
"Tapi, bukannya aku ini pacarmu? Aku seharusnya bisa menjadi tempat curhat untukmu Al. Aku siap terima dan simpan apapun yang kamu bicarakan."
__ADS_1
"Sayang sekali selama ini aku tidak pernah sepenuhnya mempercayai seorang, satupun!"
Jawaban terdengar menyakitkan mempengaruhi perasaan Mira, Mira tidak percaya. Begitu asing kah dirinya untuk Alfarel, gadis itu menangis sambil melontarkan kalimatnya.
"Aku pacarmu bukan? Kalau kamu menganggapku pacarmu pasti kamu bisa mempercayaiku, mengatakan, menjelaskan, dan berbagi cerita agar kamu tidak merasa berat. Apakah aku orang asing bagimu?" Gadis itu menatap mata pria yang dicintainya, berharap pria itu melihatnya, melihat air matanya. Namun pria yang dicintainya malah membuang muka, seakan enggan memandangnya.
"Jangan salah. Tidak semua masalah bisa di ceritakan pada siapapun, termasuk pacar. Kau tahu alasannya?" Mira menggeleng.
"Mudah percaya kepada seorang kekasih sama saja memulai sebuah pengkhianatan. Kekasih atau pacar belum tentu jodoh, sehingga sering terjadi pengkhianatan ketika keduanya bukan jodoh. Yang berkhianat akan menggunakan kelemahan kekasihnya, kelemahan yang termasuk masalah yang telah diceritakan sebelumnya untuk memanfaatkan kekasihnya agar keduanya tidak pernah berpisah." Al menjelaskan.
"Bukankah itu hal yang baik?" Jawab Mira antusias, ia memang sangat mencintai pria di hadapannya ini.
"Bagus bagimu. Aku tidak ingin bicara untuk masalah pribadi kepada siapapun termasuk pacar." Jawab Al tidak ingin bicara kepada Mira maksudnya. Karena Alfarel tahu masalahnya adalah kelemahannya, ketika ia dengan bodoh menceritakan semuanya kepada Mira, kekasihnya ia harus mempertimbangkannya. Pertimbangannya apakah hubungannya dengan Mira dapat bertahan hingga ke pelaminan?
Jika tidak sampai ke pelaminan lebih baik jangan mudah menceritakan, karena ini akan menjadi awal untuk berkhianat bagi pihak yang egois, memanfaatkan dan mencari untung.
"Kenapa Al? Aku bisa menjaga rahasia." Mira terus ngotot agar Alfarel bercerita kepadanya.
"Ku bilang tidak! Pergi sekarang sebelum kau terluka."
Emosi Al telah meledak, terpaksa Mira harus meninggakannya sendirian, tentunya dengan air mata yang mengiringi langkah tersakitnya.
__ADS_1