
“Xel kenapa sih?”
Tanya Landry ketika mereka sampai di depan tangga menuju lantai atas, kebetulan disana sepi.
Xela memerhatikan sekitar, keringat di wajahnya membuat gadis itu ngos-ngosan, namun lain halnya dengan Landry yang tidak merasakan apa-apa, walaupun diajak Xela berlari meninggalkan kantin, Landry tidak lelah sedikitpun.
“Itu tadi ada ibu Yolanda mau nyamperin kita. Kan aku malas kalau ibu Yolanda banyak tanya."
“Tanya apa memangnya?”
“Nanyain kita lah, kan tadi kamu pas pegang tanganku “
Landry terkekeh mendengar ucapan Xela. Memang ibu Yolanda di sekolahnya terkenal sebagai guru yang memiliki rasa penasaran tingkat tinggi, kalau bertanya pasti harus sampai akar-akarnya.
Apalagi kalau mengetahui sepasang siswa sedang bermesraan, ia akan merasa terusik. Pasalnya ini sekolah, toh bukan tempat untuk berpacaran.
“Maaf aku nggak tau. Kalaupun tadi aku tahu, aku bisa jawab semuanya.”
“Hah, maksudnya jawab apa?”
“Jawab kalau kita memang berpacaran, kalau marah tinggal traktir makanan yang dia mau.”
Jawab Landry dengan santai.
“Cuma pura-pura.”
Ketus Xela, tiba-tiba Landry membekap mulut Xela dengan tangannya sehingga Xela memberontak.
“Mmhhh ...”
Ada apa ini. Kenapa Landry bekap mulut gue. Perasaan nggak ada kata yang salah. Ini orang sembarangan.
Sungut Xela dalam hati, ia terkejut dengan aksi Landry terhadapnya.
“Pura-pura ... Iya sayang tadi aku pura-pura marah sama kamu, aku senang kalau kamu marah, karena itu artinya kamu sayang sama aku."
Kata-kata bucin tiba-tiba terucap dari mulut Landry disertai langkah Ghea yang tiba-tiba melintas dari hadapan mereka. Barulah Xela mengerti ternyata ini adalah sandiwara yang telah Landry lakukan, Landry segera menarik tangannya yang membekap mulut Xela kemudian ia merangkul Xela seraya tersenyum.
Ghea berjalan mengikuti langkah Xela dan Landry, yang ia lihat dalam jarak dekat yaitu gerakan Landry yang memegang pipi Xela, ia sedikit berpaling tidak mau melihat aksi selanjutnya. Lalu ia menoleh lagi memerhatikan Landry tersenyum bahagia sambil merangkul Xela.
__ADS_1
“Hm ... Pacaran di luar sekolah jangan di sini!”
Sinis Ghea menghentikan langkahnya sengaja ingin berdebat dengan Xela dan Landry.
“Memangnya kenapa? Nggak suka? Pergi aja nggak usah liatin kita.” Sahu Landry tidak kalah sinis.
“Oh, sok-sok an rupanya. Lo kira gue nggak tau kalau lo berdua Cuma pura-pura pacaran?”
Ucap Ghea sinis, sambil meletakkan smartphonenya di kantong baju seragam SMA nya.
“Ngawur lo Ghea. Kita ini benaran pacaran. Ya kan sayang?”
ucap Landry sambil mengeratkan rangkulannya.
“Iya. Mungkin dia nggak percaya karna nggak terima kita pacaran, ya kan sayang?”
ucap Xela sembari menggandeng lengan Landry.
“Ya karna dia mau menjadi ratu kebuli yang menjadikan mu korbannya “ sambung Landry.
Kali ini Xela merasa aktingnya bersama Landry cukup bagus sehingga menciptakan kekesalan di wajah Ghea.
Sepeninggalan Ghea, Landry melepaskan rangkulannya dari Xela. Xela melihat ada kemarahan di wajah Landry, saat itu bertepatan dengan smartphone Landry yang berdering.
Landry pun mengangkat telepon entah dari siapa, dan jtu hanya berlangsung sebentar saja, Landry kemudian melirik layar smartphonenya dengan ekspresi yang darar.
“Lan, ada apa?”
Pertanyaan Xela membuat wajah datar Landry, wajah yang tidak enak di pandang itu teralihkan padanya.
“Aku ada urusan, aku akan pergi sekarang “
Xela belum sempat bertanya lagi saat Landry pergi begitu saja tidak memberi tahu nya akan pergi kemana
Aneh, kemana dia? Apa memang begini sifatnya yang sudah jadi kebiasaan.
Batin Xela, akhirnya ia mengingat kembali gelagat Landry. Memang begitulah Landry, ia akan pergi begitu saja bagaimanapun keadaannya. Bahkan pernah beberapa hari yang lalu ia menghilang dari dalam kelas selama pelajaran berlangsung karena ingin pergi balapan, ia sangat cerdik menyelinap pergi.
\*\*\*
__ADS_1
Alfarel memutarnya gelas yang berisi ampas kopi kental yang tertinggal didalam sana. Itulah kebiasaan Alfarel, meskipun siang begini, panas matahari terik bersinar malah membuat laki-laki itu menikmati kopi panas. Memang aneh, seharusnya di siang hari yang panas minumnya yang segar, eh Alfarel malah minumnya yang panas.
Mungkin sangat cocok dengan pribadinya yang keras dan prinsipnya yang juga keras, ia akan membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Oleh sebab itu jika cuaca panas ia akan membalas gerahnya bodi sesuatu yang panas juga wkwkwk ...
“Bang Al kok tumben pulangnya awal. Hm ... Jangan-jangan nungguin Xela pulang ya?”
Ucap Dafi sengaja ingin menggoda Alfael. Mereka sedang berada di teras depan, saat itu Dafi sedang mengelap kaca yang letaknya di sisi pintu utama, kebetulan letaknya juga di teras, tempat Alfarel bersantai. Dafi sesekali memerhatikan Alfarel yang selalu melirik ke arah pintu gerbang.
“Sembarangan kalau ngomong. Ya terserah saya. Saya juga pulang ke rumah saya sendiri” Sahutnya jutek tanpa menoleh ke arah lawan bicara.
Aduh salah ngomong lagi, memang anak cerdas mah bebas mau duluan pulang pas jam kuliah masih berlangsung, ada tugas pun mungkin tinggal minta kasi tahu teman. Selama Xela tinggal disini Bang Al selalu awal pulang, apa ini nggak menggambat prestasinya ya. Ah udahlah ngapain juga kepo kehidupan bos yang lebih bermutu.
Dafi bermonolog sendiri didalam hati di imbangi langkah tangannya mengelap kaca
Bagaimana gue membuat Landry kembali kesini. Rasanya berat sekali, apakah gue harus membiarkan Landry tunggal disini dan Xela juga disini. Nggak, nggak gue gak bisa biarin mereka dekat. Gue harus milih, Xela atau Landry. Kalau Xela disini gue serasa punya adek cewek sekaligus semangat hidup, tapi kalau Landry disini dan Xela juga ada disini, rasanya gsk tenang. Huftt ... Ternyata menjadi kakak tertua tidak semudah mengurus rumah tangga. Apalagi punya adik laki-laki kepala batu.
Alfarel berpikir penuh pertimbangan, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Laki-laki itu merasa frustasi dengan posisi kehidupannya.
Tidak lama ia berpikir dan membuat nya stres, dari kejauhan mata yang memandang ke pintu gerbang, muncullah dari sana sosok Xela yang membuatnya semangat. Ia tersenyum tipis lalu beranjak dari kursi melangkah masuk kedalam rumah untuk menyimpan gelasnya.
Xela yang sudah sampai di rumah yang ia tinggali, alias rumah milik Alfarel, mendapati suasana rumah yang sepi.
Untunglah mungkin si bunglon itu belum datang. Ah mana mungkin datang jam segini, jni saja masih jam dua siang.
Batin Xela berharap tidak ada Alfarel di rumah, ia memerhatikan jam tangannya. Entah mengapa ia merasa senang jika tidak ada sosok Alfarel dari pandangan matanya.
Gadis itu melangkah masuk dengan tergesa-gesa karena merasa haus. Cuaca panas di tambah lagi disekolah tadi lari tidak jelas membuatnya kehausan.
Saat akan memasuki dapur untuk minum, ia berpapasan dengan Alfarel malah bahunya bersentuhan dengan lengan panjang Alfarel.
Apa?! Dia sudah di rumah. Bukankah seharusnya dia datang sekitar jam empat sore.
Xela begitu terkejut ketika berpapasan dengan Alfarel, mendapati Alfarel sudah asa dirumah.
Karena merasa lengannya yang kuat bertabrakan dengan bahu Xela yang badannya rendah, langkah Alfarel terhenti mengkhawatirkan takutnya Xela akan terjatuh, namun ternyata tidak. Tetapi Alfarel menemukan keanehan yang ia rasakan setelah berpapasan.
bersambung ...
__ADS_1