
Alfarel berpikir keras sedang telinganya fokus mendengar suara-suara jarum mematikan itu telah mengepungnya. Alfarel kemudian berputar bagai gasing bergerak fokus di satu titik dan tampak ribuan jarum pendek dipantulkan ke arah asal dalam hitungan dua detik, terjatuh lah beberapa orang dari atas beruntung gerakan lincah Alfarel berhasil
menghindari sehingga tidak tertimpa tubuh manusia-manusia tidak jelas asalnya itu, UPS! tepatnya tidak jelas persembunyiannya sebelumya.
Alfarel yang mungkin terasa agak pusing mencoba menekan kepalanya.
"Produk baru orang-orangku tidak begitu mengecewakan. Lihat saja Marco siapa yang akan menang." Alfarel menampakkan senyum tanpa rasa takut, toh ia telah menumbangkan beberapa orang yang merupakan pelaku dari pihak musuh yang hendak membunuhnya. Alfarel memeriksa mereka semua ternyata sudah kaku tidak bernyawa. Lebih baik ia membiarkannya disana untuk sementara, ia harus mencari Marco yang kemungkinan masih berkeliaran di sekitar Mansion.
🍁🍁🍁
'KRAK'
Bunyi botol kaca berisi cairan bening berbuih didalamnya pecah hanya akibat satu kali kepalan tangan seorang pria yang gagah, tangannya di penuhi tato. Siapa lagi dirinya, bisa kalian tebak tokoh antagonis yang mulai muncul menciptakan tumbangnya umat manusia dari pihak musuh.
"Cari tahu sekarang juga rahasia pemulihan Alfarel!" titah Marco kepada beberapa orang yang kembali dengan keadaan utuh sementara yang lainnya tidak bisa menghindari serangan balik senjatanya sendiri yang dilakukan oleh Alfarel.
"Tuan pertahanan mereka sangat kuat. Ini adalah tugas yang sulit." salah seorang dari anak buahnya keberatan karena itu Marco menodongkan pistol mengancamnya.
"Mau mati sekarang atau nanti?"
Melihat pistol di depan mata ia pun mundur lalu memimpin pasukan untuk pergi melaksanakan tugasnya.
"Semoga mereka berguna. Sepertinya aku harus menghadapi Alfarel sendirian. Sialan sudah banyak yang mati bagaimana mereka bertindak gegabah." Marco mondar mandir merasa sedikit kacau telah kehilangan anak buahnya dalam jumlah yang banyak.
🍁🍁🍁
Alfarel tidak berhenti memeriksa setiap sudut melalui cctv dan bersyukur keadaan sudah aman ternyata aksinya menjatuhkan beberapa orang tadi berhasil membuat mereka kabur. Alfarel tidak menemukan seorang Marco yang ia cari.
Kini Alfarel tinggal mengawasi anak buahnya yang membersihkan mansionnya dari mayat-mayat tidak di undang itu.
__ADS_1
Merasa aman dan tenang, Alfarel tiba-tiba mengingat Xela. Tadi sebelum pergi dari Kamar Xela ia telah mempersiapkan beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga Xela agar tidak ada yang masuk dan melibatkan Xela, mencelakainya. Tentu saja itu sangat tidak boleh.
"Apa yang sedang dia lakukan?" Alfarel pun beranjak menuju ruangan gadisnya. Setibanya di sana ia melihat Xela duduk bersandar dan masih terjaga, setelah kedatangannya wajah Xela menjadi marah. Alfarel memberi isyarat agar anak buahnya semua keluar meninggalkan mereka berdua tidak lupa ia memeriksa sudut ruangan lalu mengunci pintu setelah merasakan keadaan aman-aman saja.
Dengan muka tidak bersalah, Alfarel menghampiri Xela sembari tersenyum lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur king size di sisi Xela. Alfarel melingkarkan kedua tangannya di pinggang Xela yang saat itu Xela masih dalam keadaan duduk bersandar. "Pergi kemana? kenapa mereka datang ke sini. Aku risi tau!"
Xela melepaskan tangan Alfarel yang melingkar di pinggangnya dengan kasar.
"Hanya pergi sebentar." jawabnya ringan tanpa memperhitungkan waktu yang telah ia habiskan di luar sana, maksudnya di luar kamar Xela.
"Sebentar apa? sudah lebih dari 12 jam." Xela kesal.
"Kamu merindukan saya?" Alfarel beralih berbaring dipangkuan Xela menggoda si pemarah itu lagi.
"Apa-apaan." gerutu Xela masih mempertahankan wajah suramnya.
"Ish!" Xela menepis tangan modus yang menempel di keningnya. Ia masih dikuasai perasaan marah karena Alfarel meninggalkannya lagi dengan mengutus penjaga-penjaga berwajah tidak ramah bahkan dipercayakan masuk ke dalam kamarnya. Bagaimana kalau di antara mereka menyimpan niat jahat? tentu sangat mengerikan!
"Kamu menjadi sangat galak. Siapa yang mengajarimu?" Alfarel tidak menyerah juga, tangan nakalnya masih saja mencari kesempatan untuk mencubit pipi, hidung dan bibir Xela yang pada akhirnya berakhir perih di tepis. Yah dia kan lelaki kuat mana mungkin selebai itu merasa jera hanya karena tangannya yang mulai memerah sering di tepis dan di pukuli Xela dalam satu jam hari ini.
"Tolong pergi saja, aku mau istirahat. Sendiri!" Xela berusaha menyingkirkan kepala Alfarel dari pangkuannya, ya begitulah kalau perempuan sedang marah, orang kesayangannya pun bisa ia lepaskan untuk sesaat walaupun nanti menyesal.
"Akan saya tunjukkan bagaimana menghilangkan sisi galakmu sayang!" Alfarel beranjak kemudian menyerang balik ke arah Xela sehingga dalam sekejap mata Xela sudah pada posisi dibawahnya. Wajah Alfarel dengan senyuman penuh kemenangan itu menatap Xela yang berada di bawahnya.
Xela menelan salivanya, gugupnya ia dalam keadaan seperti ini pasti Alfarel mengetahui kegugupannya.
"Apa yang kak Al lakukan?" tanya Xela gugup ingin sekali lagi menghindari wajah tampan sialan itu sampai harus mengalihkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, namun pria diatasnya tidak membiarkannya memandang ke arah lain wajahnya segera menghalang pandangan Xela.
"You are very beautiful my girl!"
__ADS_1
'DEG'
Pujian semacam ini akan membuat wanita tersanjung? tentu saja jika pelakunya adalah orang yang tepat. Xela tersanjung tetapi masih ada sisa kemarahan dihatinya ia tidak boleh luluh sekarang juga. Sekuat tenaga ia mendorong Alfarel berharap lelaki itu mengalah, namun apa yang ia dapat. Zonk! kali ini benar-benar Alfarel mengunci pergerakannya.
"Saya tau kamu sudah sembuh. Sekarang kamu harus jawab jujur kenapa saya tidak boleh ikut pulang ke kampung halaman mu?"
Rupanya Alfarel baru mengungkapkan kemarahannya yang kemarin, ia menyembunyikannya saat itu karena menjaga kondisi dan perasaan Xela yang sedang sakit.
"Apa dia tidak mengerti juga tradisi perempuan lajang yang masih belum sukses bahkan belum menamatkan pendidikan pulang kampung bawa cowok. Jadi bahan omongan masyarakat banyak." batin Xela tentu saja tidak dapat berbicara secara langsung, saat ini statusnya masih marah ckckck.
"Nah sebelumnya aku mau tanya kenapa kak Al pergi lalu penjaga-penjaga yang begitu banyak harus berada di kelilingku?"
"Saya ada kesibukan lain yang harus di selesaikan, mengerti?"
Xela menggelengkan kepalanya lalu menarik sedikit senyuman sebelum membuka mulutnya untuk berkata lagi.
"Justru karena kesibukan kak Al, aku mau pulang sendiri. Lebih baik kak Al mengurus urusan sendiri dan aku akan pulang sendiri?"
Tidak mau kalah, Alfarel tersenyum bahkan di sertai dengan tawaan remeh.
"Apa? kamu bisa menjamin perkataanmu seolah tidak membutuhkan saya? Kemarin kamu melarang saya pergi meninggalkanmu, dan kamu sendiri boleh, begitu adilnya?"
Tak di sangka kalimat tersebut menghujam hati Xela, kemudian Alfarel bangkit lalu merapikan jas cokelat yang ia kenakan. Melihat Alfarel nyaris pergi, Xela menyesal.
"Dia marah?" batin Xela Terperanjat, ia segera bangkit meraih tangan pria itu.
"Bukan begitu, aku perlu menjelaskannya. Jangan salah paham!"
giliran, sekarang Alfarel yang menolak jamahan lingkaran jemari di lengannya, lalu melangkah keluar untuk menenangkan diri.
__ADS_1