POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Marah


__ADS_3

"Benar sih Valid banget. Kalau gak jadi pulang biar kak gak kena masalah. Tapi tetap saja aku rindu mama.” Batin Xela yang memilih diam, percuma kesal dengan Alfarel, dia tidak pernah berhenti terus membuatnya semakin kesal.


“Gak seru tau sepanjang perjalanan gak ngobrol.” Alfarel menyendiri Xela yang diam bahkan tidak mau menoleh ke arahnya malah melihat pemandangan di luar jendela.


“Sayang, ayolah ngomong!” Alfarel menggodanya.


“Aku gak setuju belajarnya privat. Aku jauh-jauh ke kota ini untuk bersekolah, merasakan bagaimana kehidupan SMA di kota ini. Tapi kenapa kak Al mengubahnya. Aku sudah berusaha menata masa depan ku sendiri tapi sejak ketemu kak Al semuanya berubah. Semua hakku rasanya di ambil.”


Gadis itu ternyata masih memikirkan perihal belajar privat, ia sangat tidak setuju belajar privat. Mungkinkah pengekangan Alfarel keterlaluan.


Alfarel masih terlihat tenang, sebenarnya tidak tenang amat. Hanya menutupi amarahnya karena tidak mau Xela bertemu Landry.


“Lalu kamu akan ketemu Landry terus kalau ke sekolah?” dengan nada dingin tanpa menoleh.


Xela menatap Al dengan marah, ia hanya ingin bersekolah seperti biasa tetapi Alfarel yang possesif cemburu berlebihan.


“Kak Al yang cemburu berlebihan.” Xela akhirnya mengungkapkan unek-uneknya.


“Cemburu? Kamu tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi saya.” Maksud Alfarel adalah posisinya dengan kondisi takut kehilangan orang yang ia sayang lagi.


“Kak Al juga tidak tahu Keadaan aku yang sangat berusaha dari dulu Kak. Aku ke kota ini juga berkat usahaku. Tapi kak Al merampas hak ku untuk bebas menentukan pendidikan.”


...****************...


Setelah mobil kembali berhenti di depan rumah Al, Xela segera membuka pintu berlari masuk sementara Alfarel masih tenang di dalam mobil melihat kepergiannya. Sepertinya Xela benar-benar marah padanya.


”Asal kamu tahu aku melakukan semua ini Xela. Aku tidak mau kehilangan mu seperti aku telah kehilangan Alika. Kejadian semalam juga cukup membuatku sakit, hampir saja aku kehilanganmu.” Alfarel ternyata tidak lupa dengan Kejadian malam itu, malam jadian yang kacau oleh kehadiran Landry secara tiba-tiba.


Xela berada di kamarnya telah mengunci pintu agar Al tidak dapat masuk, ia bersembunyi dibawah selimut berdiam diri disana karena banyak pikiran.


“Seharusnya aku pulang ke kampung, seharusnya aku sekarang ada bersama mama dan Chesy. Kapan aku akan pulang?” Xela menangis di dalam selimut menahan rindu sekaligus tekanan yang diberikan oleh Al, perihal belajar privat. Ia tidak mau terpuruk seperti putri Rapunzel di rumah ini.

__ADS_1


“Aku mencintainya tapi kenapa dia membuatku tertekan.” Xela diam-diam membuka smartphonenya lalu melihat foto Alfarel di galerinya, foto itu sudah ada sejak lama.


“Ganteng, aku memang punya pacar ganteng sekarang.” Gumam Xela dengan rasa kagum tetapi disertai dengan tangisan.


TOK TOK


Pintu kamar di ketuk, Xela tahu itu pasti Alfarel. Ia menutup telinganya agar tidak mendengar suara ketukan pintu lagi.


“Gak akan ku buka bahkan kau duduk di depan pintu itu sampai masuk angin aku tidak peduli.” Xela bergumam membayangkan Alfarel duduk bersandar di depan pintu menunggunya tidak kunjung keluar.


Sangat lama Xela mendengar ketukan pintu dan suara Alfarel memanggilnya.


“Xela.”


Xela masih tetap berada di dalam selimut sampai suara ketukan pintu tidak terdengar lagi. Xela tidak menyangka setelahnya selimut yang ia gunakan tiba-tiba di bukakan. Matanya terbelalak setelah melihat Alfarel berdiri di samping ranjang menatap mata merahnya habis menangis.


"Bagaimana dia bisa masuk, tidak ada suara dan tanda-tanda lagi. Padahal pintu aku kunci.” Batin Xela kesal.


Kembali lagi selimut itu ia tarik untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya, Alfarel juga tidak mau mengalah, ia menyita selimut Xela lalu membuangnya ke lantai.


“Kamu marah bukan mengantuk.” Alfarel membopong tubuh Xela dan membawanya keluar.


“Kak Al lepasin, mau kemana. Udah masuk gak permisi sekarang berbuat seenaknya !” Xela protes. Di tangga sempat berpapasan dengan Dafi tetapi Dafi segera pergi karena memberi isyarat.


“Temani saya.” Alfarel membawanya ke sebuah ruangan dan ruangan itu ternyata ruang kerja Alfarel.


“Aku nggak mau, kak Dafi tolong!” Xela memberontak, namun apalah daya ia tidak bisa lepas dari Al.


Alfarel membawanya duduk di bangku kerjanya dan Xela di letakkan di pangkuannya seperti memangku bayi. Alfarel menyalakan laptopnya sebelumnya ia memasang usb.


“Aku mau turun.” Xela sebenarnya merasa nyaman di perlakuan seperti bayi tetapi ia terlalu munafik sehingga pura-pura menolak namun Al tetap mempertahankan posisinya dengan possesif.

__ADS_1


“Sudahlah kamu cukup melihat sesuatu di laptop ini. Kamu pasti terkejut.” Al memiringkan bibirnya lalu membuka file gambar. Parah! Xela terkejut bercampur malu melihat potret mereka berdua di malam itu, malam spesial Al mengungkapkan perasaannya.


“Kenapa ada fotonya? Aku malu.” Xela menutup matanya tidak mau melihat. Alfarel tersenyum terus menggeser gambar yang berbagai macam gaya.


_“Kenapa rasanya geli sendiri kalau melihat foto itu. Berciuman! Iya rasanya itu bukan aku.”_ Batin Xela.


“Betapa cantiknya kamu malam itu sayang!” Al mendekatkan wajahnya dengan Xela sementara gadis itu masih menutup matanya. Xela merasakan nafas Al di mengarah ke hidungnya, bisa di tebak Al akan menciumnya.


PLAK


Xela mau tidak mau melayangkan seluruh telapak tangannya di wajah Al, siapa suruh dia ingin mengambil kesempatan. Dan Al, ia hanya mengelus wajahnya hasil tamparan Xela.


“Jangan macam-macam.” Xela berani menatap Alfarel dengan marah.


“Apa!?” Alfarel menatap Xela dengan senyum sinis. Menurut Xela wajah tampan dengan senyuman sinis itu seakan ingin menyatakan perang.


“Turunkan aku.” Xela bersiap untuk bangkit dari pangkuan Al, dari posisi berbaringnya. Al tidak membiarkannya lolos begitu saja, segera ia memberi ciuman dengan tepat di bibir merah muda kekasihnya tidak peduli pemberontakan Xela selanjutnya.


“Mmph.” Xela menolak tetapi tetap saja Al bisa menakhlukannya dengan ciuman.


Keduanya mulai berpangut dan rileks, Xela terbawa permainan Alfarel.


“Sudah tidak marah lagi?” Al melepaskan pangutannya ternyata ini adalah caranya untuk meluluhan Xela, gadis itu sangat malu melihat Alfarel melempar senyuman paling manis untuknya, saking merasa malu ia membenamkan wajahnya di dada Al.


“Tidak masalah, saya membuktikan kamu tidak marah lagi karena tadi kamu membalas ciumanku.” Alfarel berbisik di telinga Xela.


“Parah! Kak Al jahat.” Xela merengek dengan suara manja saking malunya.


"Bisa-bisanya aku membalas ciumannya. Tidak! Sepertinya aku sudah gila, tapi ciuman kak Al membuatku tidak bisa menolak.” Batin Xela lagi.


“Masih marah? Perlu penetralan lagi?” tanya Al yang di maksudkan penetralan adalah ciuman yang bisa menakhlukan.

__ADS_1


“Nggak.” Xela menggelengkan kepalanya, ia masih menenggelamkan wajahnya di dada Alfarel.


Tiba-tiba pintu ruang kerja Al dibuka dari luar.


__ADS_2