
Alfarel memalingkan wajahnya lalu menghela nafas.
"Baik baik saja." Alfarel berkata tanpa menatap lawan bicaranya.
"Al jangan bohong, aku tahu kamu sedang berbohong. Kalian sedang tidak baik-baik saja kan?" Mira seakan memaksa agar Alfarel menjelaskan, sedikit tersenyum sinis ketika tahu membaca raut wajah lelaki itu.
"Mira aku yang duluan bertanya, kamu kemana saja dulu selama dua tahun, kamu menghilang begitu saja. Kamu tahu aku mencarimu saat itu?" Alfarel mengubah suasana sehingga raut wajah Mira sedikit berubah menjadi suram.
"Mengapa dia menanyakan ini. Apakah dia tahu kalau aku bersama lelaki lain di luar negeri?" batin Mira merasa tegang.
"Jawab Mir karena saat itu aku sangat terpukul." Al menuntut jawaban.
"A-aku sedang liburan di luar negeri. Maaf ya Itu dadakan karena di ajak temen-temen, kamu tahu kan temen perempuan aku banyak banget." Ucapnya dengan nada bersahabat dan sebaik mungkin, namun tidak seiras dengan wajahnya yang penuh dengan kekuatiran.
"Ohh Baiklah. Itu saja, kamu tidak tahu tentang Alika, kan?"
"Alika?"tanya Mira dengan wajah pucat.
"Iya." jawab Al dingin.
"Oh iya ingat, adik kamu yang bawel itu kan? aku ingat saat kita asik-asiknya dulu pas awal pacaran terus ke bioskop tiba-tiba dia nyusul kamu. Dia selalu merebut kamu dari aku. Tapi sekarang gimana kabarnya?" tanya Mira, benarkah wanita itu tidak tahu apa-apa tentang Alika.
"Iya sekarang dia sudah tidak ada lagi." Mira memasang wajah pucat pasi, ia terlihat gelisah di depan Alfarel.
"Ke-kemana?" tanya Mira dengan nada terbata.
__ADS_1
"Dia sudah meninggal. Aku menceritakan ini karena sebelumnya tidak pernah menceritakan padamu, dan kamu saat itu tidak bertanya sama sekali tentang Alika." jawab Al dengan wajah sedihnya, ia mengingat sosok adik tersayangnya yang telah tiada itu, rasanya ingin menangis tetapi sadar diri bahwa lelaki itu harus kuat.
"Maaf Al. Aku selama ini mengira dia bersekolah di luar kota ataupun luar negeri." Mira sekarang mulai berkeringat.
"Ya, aku menyesal setelah aku kehilangan dia dua tahun yang lalu itu karena aku mencarimu. Kamu tahu betapa sakitnya kehilangan orang tersayang dua sekaligus. Tapi ternyata kamu kembali, saat kamu kembali aku masih menginginkanmu tapi setelah itu aku berubah pikiran. Kamu tahu ini karena Xela."
Mira mengusap pipinya, bukan karena apa. Air matanya mengalir mendengar pengakuan Alfarel.
"Iya aku tahu, orang yang kamu bilang asisten mu adalah orang yang kamu sukai." masih mengusap air mata yang terus menetes.
"Kamu juga harus tahu Xela adalah seseorang yang mirip dengan Alika. Aku menyukainya dan ingin melindunginya."
Mira menangis seketika, hatinya sakit mendengar pengakuan Alfarel, mungkin ia mengira pertemuan ini akan menceritakan hal yang menyenangkan.
"Aku mengerti kamu menyayanginya, aku pun baru menyadarinya sekarang kalau dia mirip dengan Alika."
"Sudahlah Mir lagipula kenapa kamu menangis. Ini sudah berlalu, maafkan aku."
"Harusnya aku yang meminta maaf, aku yang menyebabkannya bukan? karena kamu mencariku jadi kamu sampai kehilangan Alika."
Alfarel menghela nafas berat, ia menaruh sedikit kecurigaan, mengapa Mira tidak menanyakan bagaimana kejadiannya Alika bisa tiada, apakah Mira tahu penyebab Alika meninggal?
"Sudahlah Mir. Aku hanya memberi tahu kalau Xela, orang yang aku cintai itu mirip dengan Alika."
"Mengapa kamu tidak menjadikannya adikmu saja?"
__ADS_1
"Iya aku menjadikan dia adikku, tapi ada perasaan yang membuatku menginginkannya, entah itu cinta atau hanya sekedar simpati."
Huh sungguh jawaban yang mengecewakan, Alfarel tidak tahu perasaannya sendiri?
"Baiklah, aku mencoba mengerti. Aku tidak bisa mengubah perasaanmu karena sebenarnya aku sangat mencintai. Tetapi dewasa ini mencintai itu hanya cukup melihat seseorang yang dicintai itu bahagia." ucap Mira dengan senyuman ikhlas. Alfarel merasakannya, ia berpikir pasti perempuan di depannya ini sangat baik sampai ia tidak ragu membalas senyumannya.
...****************...
Malam yang sepi dan juga gelap di area hutan, Xela masih sanggup melangkah sembari membawa koper hitamnya. Gadis yang tidak kenal rasa takut sekarang berjalan dengan bantuan flash smartphonenya.
"Kira-kira kapan sampai ke tengah kota ya? mudah-mudahan jam 10 deh biar kota sepi aku bisa jalan dengan aman." gumam Xela yang berjalan sendirian. Gadis itu tidak ragu melangkah meskipun di sekitarnya hanya ada pepohonan yang lebat.
Tiba-tiba ia melihat cahaya dari kejauhan, lampu motor yang jumlahnya lebih dari dua, sepertinya mereka geng motor. Sebelum Xela berjalan ia tidak berpikir pada bahaya yang satu ini. Kan kita tidak tahu hati orang, begitu juga dengan Xela ia tidak tahu apakah pengemudi motor yang melaju dari kejauhan itu orang baik atau orang jahat.
"Mampus aku, kenapa aku gak kepikiran sama jalan yang bisa saja dilewati geng motor atau bahkan penjahat. Aku terlalu berpikir pendek. Tapi kalau aku naik kendaraan umum uangnya gak akan cukup nanti buat cari kos." Batin Xela berusaha menyelinap di dekat tong sampah, sayang sekali motor yang melaju dengan suara kencangnya di rem mendadak tepat di dekatnya.
Xela menoleh melihat seseorang yang membuka helm, diikuti juga oleh motor lain dari belakang yang berhenti dibelakang motor pertama.
Xela gemetaran terutama saat ia tahu setelah orang itu membuka helm, ia adalah lelaki berambut gondrong, entah dari mana asalnya. Xela akhirnya memilih untuk berlari membawa kopernya.
"Hahaha, cewe dari mana ini. Ketakutan? tapi jalan sendirian itu artinya menantang kita. Ayo kejar." kata salah satu dari mereka yang mulai melajukan motornya mengejar langkah Xela yang lambat.
Mereka benar-benar orang jahat yang tidak Xela inginkan.
"Aku memang gadis yang bodoh bisa-bisanya aku memutuskan untuk berjalan di tempat sepi seperti ini. Matilah aku, seseorang tolonglah aku." Batin Xela dengan teriakan kecil ketakutan apalagi di belakangnya para anak motor yang tidak bisa dilihat jelas wajahnya mengejar langkahnya dengan motor mahal kebanggaan mereka, tentunya langkah Xela kalah karena motor itu. Xela terjatuh tidak bisa berlari lagi, bahkan kakinya terluka dan berdarah.
__ADS_1
"Tolong jangan ganggu aku. Aku hanya pejalan kaki yang tidak ada apa-apa. " kata Xela seolah berkata kepada para perampok.
"Hahaha, oh aduh aduh jang ganggu yang ini sa punya jang ganggu." salah satu lelaki turun dari motornya lalu melantunkan lirik lagu untuk Xela di iringi tawaan para pengikutnya di belakang. Para manusia jahat itu sangat senang menemui seorang gadis bodoh yang berjalan didalam kegelapan, sementara gadis bodoh itu menangis memelas saat semua lelaki mendekatinya sambil tertawa.