
'Ceklek'
Suara pintu terbuka dari arah ruang utama membuat Xela yang berada di ruang televisi menghampiri sumber suara. Ia tahu jika itu adalah Alfarel.
"Kak Al. Terima kasih." Xela berlari dengan riang ke arah Alfarel sambil memegang lengan Alfarel. Betapa bahagianya Xela kali ini karena ia berhasil merasakan lezatnya pizza yang Alfarel berikan padanya.
"Hah atas apa?"
Tanya Alfarel sambil menyingkirkan tangan Xela dari lengannya. "Atas pizza nya."
"Al, ternyata kamu sangat merawat sekitar rumahmu semuanya terlihat indah." tiba-tiba saja seorang perempuan cantik, berkulit putih, tinggi semampai dan terlihat tampil menarik dan pokoknya seperti seorang putri di mata Xela.
Siapa dia apa dia perempuan yang aku lihat di balik lemari kak Al. Tapi mukanya beda jauh. batin Xela mengagumi perempuan yang kini menautkan tangannya pada lengan Alfarel.
"Lho Al ini siapa. Apa ini.Alika? perasaan Alika tinggi deh, ini siapa Al?" Tanya Mira kepada Alfarel, namun Alfarel terdiam seperti memendam sesuatu.
Alika, siapa lagi Alika? Cewek ini berarti dia mengatakan kalau aku pendek. Xela sambil memerhatikan penampilannya sendiri. Memang ia pendek tidak setinggi perempuan yang menggandeng tangan Alfarel
"Al apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mira ketika Alfarel tidak mengindahkan perkataannya.
"Maaf Mir sebaiknya jajan tanyakan hal itu. Ini Xela, asisten baru ku yang aku ceritain. " Selepas perkataan Alfarel yang menyatakan tentang Xela, Xela memerhatikan perempuan tadi terlihat tidak suka padanya.
" Oh ternyata ini dia. Namamu Xela, Kan? kenalin aku Mira pacarnya Alfarel. Tolong ambilkan minum dong haus." Ucap Mira mengandung perintah kepada Xela, Mira juga merasakan ada hal yang aneh, mengapa Alfarel tidak menjawabnya ketika ia bertanya tentang Alika. Xela pun segera melakukan apa yang Mira minta, lagipula Alfarel hanya diam saja mungkin ia membiarkan agar pacarnya yang bicara. Mungkin Alfarel sedang bengong alias berhenti ngomong. Xela melangkah ke dapur dengan meremas jemarinya, air mata yang terbendung serasa panas, entah mengapa ia tidak menyukai perempuan asing yang duduk di sisi Alfarel.
Dia pacarnya kak Al? kenapa kak Al ada pacar. Aku kira selama ini kak Al jomblo berkarat karena ke angkuhannya, rupanya dia punya pacar yang cantik, sayangnya pacarnya seperti tidak ramah sama sekali. Ah, sudahlah! kenapa aku jadi kalut memikirkan mereka. Bukankah mereka juga sangat cocok, angkuh sama angkuh. batin Xela sepanjang perjalanan menuju dapur untuk mengambil minuman, wajah cemberut nya memancarkan ia sedang marah saat ini.
Entah marah karena apa lah Xela juga tidak mengerti. "Eh kenapa bibir manyun gitu baru ngerasa obatnya pahit ya?" canda Dafi ketika Xela datang dengan wajah manyun.
"Iya pahit juga obat nya bahkan butuh obat lagi nih, jantung ku berdebar dan serba salah." Ucap Xela lurus sambil ia menuangkan air putih di dua gelas kemudian berlalu pergi. Dafi menoleh ketika mendengar perkataan Xela,
"Lho udah ngilang aja. Aneh sekali efek obat demamnya malah bikin dia ketagihan pahit nya obat." gumam Dafi salah mengartikan ucapan Xela. Yang Xela maksudkan adalah suasana hatinya yang tidak baik dan tidak bisa terobati.
Xela datang membawa dua gelas air mineral untuk Mira dan Alfarel. Ia tahu langkahnya dan gerak geriknya selalu di perhatikan Mira, perempuan yang duduk di sisi Alfarel. "Ini, silakan di minum." Xela menyodorkan air mineral dengan sopan, kemudian berbalik hendak pergi meninggalkan dua manusia itu.
__ADS_1
"Tunggu!" ucapan yang jelas dari perempuan tadi terdengar, langkah kaki Xela pun terhenti, ia kembali menghadap kepada mereka yang sudah ia belakangi.
"Kamu bisa nggak sih melayani dengan baik, seharusnya kamu tahu selera orang kota. Harusnya kamu sediakan jus atau minuman lain juga kek dan juga snack. Gimana sih!"
omel Mira langsung kepada Xela yang hanya bisa sedikit menundukkan kepalanya, ia takut Alfarel memarahinya karena protes dari pacarnya.
"Maaf kan tadi minta nya minuman tapi gak bilang minuman apa. Jadi aku hanya ambil air putih." Jawab Xela polos.
" Aduh nggak peka banget sih jadi asisten orang kota. Udah aku muanya jus." Tutur Mira, jelas bisa Xela kenali perempuan itu sangat cerewet.
"Tunggu!" ketika Xela kembali melangkah suara Alfarel lagi lagi menghentikan langkah kakinya. "Tidak usah Xela. Jangan buat jus."Kata Alfarel memberikan larangan kepada Xela sehingga Mira tampak heran.
"Lho kenapa Al kamu tega liat aku kehausan?"
"Biarkan Dafi yang membuatnya." Alfarel beranjak menarik tangan Xela agar ikut bersamanya.
"Eh mau kemana Al?"
"Tunggulah disini Mir. Aku ada urusan sama Xela."
"Tapi Al urusan apa aku harus tau dong."
"Aku bilang kamu tunggu disini!"
kali ini nada tinggi menghantam Indra pendengaran Mira, ini menandakan kemarahan Alfarel sehingga Mira mundur.
"Eh ini kenapa kasian pacarnya kak Al." ujar Xela mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Mereka berhenti disudut ruangan. Alfarel menempelkan telapak tangannya pada dahi Xela, ia masih dapat merasakan suhu badan Xela yang panas.
"Bisa-bisanya kau keluar dengan keadaan belum sembuh."
"Udah mendingan kok."
" Mendingan? kalau sakit lagi gimana?"
__ADS_1
"Nggak mungkinlah ini aja udah bisa jalan." "Nggak ada pokoknya sekarang kembali ke kamarmu dan jangan keluar kalau belum sembuh."
"Aku udah sembuh kok. Nih ..." Xela memutar tubuhnya dengan sempurna menguji apakah ia lekas merasa pusing atau tidak.
"Dasar idiot! "gumam Alfarel, namun masih bisa didengar oleh Xela. "Sekarang kembali ke kamarmu!" nada tinggi yang di gunakan Alfarel membuat Xela terperanjat dan berhenti dari aksi gilanya memutar kan badannya.
"Bilang aja kalau nggak mau di ganggu. Tenang aja bos aku udah dewasa nggak mungkin aku ganggu orang pacaran."
"Kau ini menyebalkan, sekarang kembali ke kamarmu atau kau akan ku kurung lagi di kamar mandi." ancaman itu terdengar mengilukan bagi Xela, masa iya baru saja pulih dari sakitnya, eh malah mau di kurung. Xela pun kembali ke kamarnya dengan muka yang cemberut.
"Makin hari makin menyebalkan saja!" sunggut Alfarel lalu berbalik ke ruang tamu. Di ruang tamu Mira terlihat sudah beranjak dan membetulkan pakaiannya.
"Lho Mir duduk dulu Mir." Alfarel mencegah Mira yang ternyata sudah mau pulang. "Udah lah Al kamu sekarang berubah nggak kaya' dulu lagi. Mending hubungan kita cukup sampai disini aja deh. Urus aja itu perempuan baru kamu."
Tentu Mira cemburu karena kepedulian Alfarel terhadap Xela, perempuan yang baru ia kenal. "Mir aku cuma suruh dia kerja di belakang dan biarkan Dafi yang membuat jus nya."
"Nye Nye Nye. Kau nggak cocok bucin, cocoknya jadi ... Huh bahkan aku tidak bisa berpikir dia cocok di bidang apa. Gini gini ku pikir dia nggak punya pacar, eh pacarnya malah cantik." Xela mengintip dari batas ruang televisi ke ruang tamu, entah mengapa Xela terusik hidupnya karena sepasang kekasih itu. Alfarel dan pacarnya terlihat sedang berdebat, Pacarnya sepertinya ingin pergi, namun tidak jadi ia berhasil duduk kembali karena Alfarel. Xela memandang mereka dengan tidak suka, entah mengapa hatinya mulai sakit ketika melihat Alfarel mengacak pucuk kepala Mira. Rasanya tidak rela melihat Alfarel bersama perempuan itu.
Kenapa rasanya sakit sekali, apa mungkin aku cemburu? kenapa ? padahal selama ini kak Al hanyalah orang yang menyebalkan, tidak ada hal yang menarik. Xela terus memerhatikan Alfarel dan Mira di ruang tamu, kepalanya selalu dibalik dinding mengintip dua insan yang sedang duduk berdekatan. Xela sembunyi lagi sambil mengelus dadanya, ada perasaan yang aneh disana.
Tidak ... tidak ini biasa saja.
Xela menggelengkan kepalanya merasakannya gejolak didalam hatinya, ia dipastikan cemburu dengan apa yang dilihatnya.
Sekali lagi Xela mengintip namun kali ini pemandangan ke ruang tamu dihalau oleh kedua kaki yang sudah berdiri di hadapannya. Xela mendongakkan kepalanya, ternyata orangnya adalah Alfarel sendiri. Sontak Xela langsung mencari alasan, ia melihat beberapa semut berjalan di lantai, ia pun bertindak seolah seperti anak kecil yang bermain dengan semut. "Kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan disini. Kau mengintip kami. Sekarang jawab, apa alasannya, terlihat sangat bodoh membuat alasan seperti itu, kau bukanlah perempuan pecinta semut!" hardik Alfarel, Xela benar-benar terciduk dengan perbuatannya.
"Ayo cepat!"
"A - Aku cemburu." Entah sengaja atau tidak sengaja Xela mengucapkan kata itu, ia kemudian berlari pergi setelah mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Alfarel.
bersambung ...
Hehe ... selamat menunggu next episode, terimakasih atas dukungannya yang selalu readers berikan, semoga readers selalu sehat ya
__ADS_1