POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Possesif Alfarel


__ADS_3

Xela mengingat kembali masa lampau yang pernah ia lalui. Tiba-tiba bulir bening mengalir membasahi pipinya.


Di kampung, aku selalu disakiti kak Fiana, di kost aku merasa tidak tenang nggak bisa bayar kost. Disekolah aku selalu di buli. Tapi saat Bulian itu tidak terjadi lagi padaku kenapa ada lagi masalah baru. Kak Al tega mengurung mu didalam kamar mandi. Aku lapar, bagaimana aku keluar. Xela mencoba memutar gagang pintu siapa tahu Alfarel tadi berubah pikiran dan tidak jadi mengunci nya dari luar.


Ternyata semua hanya harapan yang semu dan tidak terjadi seperti yang diharapkannya. Alfarel benar-benar tidak punya hati, bagaimana bisa ia tidak berpikir Xela belum makan, mungkin ia mengira Xela membawa uang jajannya yang selalu diberikan dalam jumlah banyak dan makan di luar sana, nyatanya yang tersebut di lupakan Xela di rumah.


Tentang kejadian tadi siang, antara Landry dan Xela saling menyuapi, itupun hanya semangkok bakso yang tidak mungkin bisa mengenyangkan. Waktu semakin berlalu dan tibalah waktunya sore hari menyongsong, namun posisi dan kondisi Xela tetap sama, gadis itu sedari tadi hanya bisa menahan lapar dan bunyi perut memberontak minta diisi. Air matanya terus mengalir meratapi nasibnya, semakin lama Xela merasakan Ulu hatinya yang sakit, mungkin sakit maag yang dideritanya kali ini kambuh.


Matanya nampak sayu melihat sekelilingnya, beruntung ada bagian lantai yang kering di sebelah sudut. Xela memutuskan untuk berbaring disana.


Aku kuat. Aku bisa, semoga setelah berbaring sebentar disini sakitnya segera membaik.


Xela pun mulai berbaring dan menjadikan tas nya sebagai bantal. Ia menjalani semuanya dengan sabar, pikirnya mungkin ini derita hidup yang membuatnya tegar menghadapi rintangan ke depannya yang mungkin lebih berat lagi.


Yah lantainya dingin banget. Xela merasa semakin sakit berbaring tanpa alas. Akhirnya ide terbaiknya muncul, ia mengeluarkan semua bukunya yang kebetulan jumlahnya banyak lalu menatanya dengan rapi dilantai yang kering sehingga membentuk seperti hamparan karpet. Xela berbaring dengan sedih yang tentu tidak pernah luput karena merasa nasibnya yang begitu keras.


Kehidupan memang keras, dimanapun berdiam diri, dimana pun tunggal pasti banyak masalah,dan masalah itu tidak menyenangkan semuanya menyakitkan jiwa dan raga. Semangat Xela setidaknya kamu hanya kelaparan, untung bunglon itu tidak berbuat lebih aneh dari ini.


Air mata Xela terus mengalir, memang ia berusaha menyemangati dirinya sendiri, namun perlu diketahui. Ketika diliputi masalah terkadang rasa sedih dan sakit itu lebih kuat sehingga tangisan memenangkan segalanya.

__ADS_1


Alfarel sampai di perumahan yang cukup indah, keberadaannya jauh dari kota, tepatnya di tengah hutan dikelilingi pepohonan yang sangat besar. Alfarel berdiri didepan gerbang, jemarinya menari dilayar smartphonenya, kemudian tangannya bergerak membunyikan klakson motor yang ia kendarai.


‘Tiittt Tiittt’


Tidak lama menunggu, seseorang berjalan dari kejauhan didalam pagar. Sosok laki-laki yang tidak asing, itu. Adalah Landry. Alfarel sengaja menemui Landry karna ada keperluan, perasaannya bercampur aduk ketika Landry masih berjalan dari kejauhan menghampirinya. Ini adalah rumah pertama yang di tempati Landry, dinding cokelat emas dan banyaknya tanaman sayuran didepan teras yang masih di budidaya. Alfarel teringat akan masa kecilnya dulu, dimana ia, Landry dan Alika saling kejar-kejaran di halaman luas didalam pagar dan kedua orangtuanya saling tersenyum bahagia. Kini semuanya tinggal kenangan, kedua perempuan yang mereka sayangi di keluarganya telah tiada, ibunya telah meninggal saat Alfarel masih duduk di kelas 1 SMA, sementara Alika yang merupakan adik nya tercinta meninggal karena seseorang yang bejat. Ayahnya sekarang sibuk bekerja tidak pernah pulang untuk menemui dua bersaudara itu, bahkan ayahnya tidak mengetahui kepergian Alika. Komunikasi antara Alfarel maupun Landry dengan sang Ayah bahkan seperti hilang, ayahnya menghilang dari kehidupan mereka.


Landry sudah membuka gerbang sambil wajah datarnya menengok pada Alfarel dengan tatapan malas.Alfarel melihat tatapan tidak suka dari adiknya. Tentu saja ia tahu, selama ini mereka tinggal berpisah dan tidak pernah tegur sapa. Suatu ketika bertemu mereka tidak pernah akur.


“Ada apa kemari kak. Kalau ada yang mau di omongin sekarang aja setelah itu boleh pergi.” Ketus Landry.


“Apa hak Lo khusus, ini juga rumah gue.”


“Jadi ceritanya mau ambil semuanya, silakan. Gue angkat kaki dari sini.” Ucap Landry penuh emosi. Alfarel tersenyum getir sembari mengacak rambut Landry terapi secepatnya tangan Alfarel di tepis, dua laki-laki netra biru itu saling beradu mata. Tatapan yang sama sinis terpancar dari wajah keduanya. Mereka menyudahi adu mata dan Alfarel berbahan ke arah teras, mereka duduk di sebuah kursi yang sudah ada disana.


“Ada apa antara kamu dan Xela? Apa yang kalian lakukan disekolah? Berpacaran? Apa benar kamu dan Xela berpacaran?” Tanya Alfarel to the point. Tentunya Landry kaget, apa yang di pikirkan nya ternyata salah, rupanya bukan karena warisan, tetapi karena Xela.


“Oh jadi kakak sulungku ku, seorang Alfarel datang kemari hanya untuk membahas tentang ini.” Landry terkekeh, sangat lucu menurutnya jauh-jauh datang hanya menanyakan hal yang tidak berguna.


“Sekarang jawab pertanyaan gue adek lucnut Lo berani mengejek?”

__ADS_1


“Haha Lo lucu kak. Bahas yang lain kek, itukan urusanku dan Xela disekolah Ngapain sok ikut campur, kalau kami berpacaran itu urusan kami berdua. Memang Lo siapa kak?” Ucapan Landry sedikit mengejek. Alfarel ingin sekali rasanya menghantam wajah tampan adiknya itu, namun karena ia selalu mengingat Alika, keinginan itu di urungkannya.


“Landry itu urusan gue Xela berada di bawah pelindung gue sekarang.”


“Bukannya hanya sebatas asisten.”


“Itu awalnya. Dan sekarang gue berhak larang Lo dekati Xela. Gue gak mau Lo dekat sama Xela.”


“Trus, kalau gue dekati terus dan dianya juga suka sama gue, bagaimana? Bilang aja Lo juga suka sama Xela.” Tutur Landry .


“Landry gue gak mau Lo lalai menjaga Xela, apalagi bawa dia ke pergaulan Lo yang gak jelas setiap hari ngumpul bareng teman-teman Lo buat balapan. Bukankan karna balapan dulu Lo lalai jaga Alika. Lo ingat semuanya, gue gak rela kehilangan orang yang gue cintai lagi.” Alfarel marah sambil tangannya mulai beraksi, ia menarik kerah baju Landry, Landry juga tidak mau kalah, tentunya ia membalas, namun Alfarel tidak menyadari ucapannya yang di artikan jika ia menyayangi Xela dan tidak ingin kehilangan Xela. Landry tersenyum getir mendengar pernyataan itu, ia memang sangat mengenali Alfarel yang sangat posesif.


“ Lo terlalu posesif kak. Ya udah kalau gitu gue ngalah terserah Lo jaga Xela semau Lo. Tapi ingat ini, Xela pasti gak akan tahan dengan sikap Lo. Hanya Alika aja yang bisa hadapi Lo.” Alfarel melepaskan tangannya dari kerah baju Landry yang sudah kusut karena ditariknya begitu juga sebaliknya yang dilakukan Landry.


bersambung ...


~


Hallo readers tercinta, Author up lagi nih.

__ADS_1


Pesan hari ini, jangan terlalu gregetan ya wkwkwk ... ini memang nasibnya Xela masih malang. Ingatlah kebahagiaan itu berawal dari penderitaan, jangan takut di liputi masalah karena jika kita terus berharap pertolongan Tuhan, maka masalah itu mendapatkan solusi seiring berjalannya waktu.


Selamat pagi dan salam hangat, sehat selalu ya untuk readers tercinta ❤️


__ADS_2