
Tatapan keempat mata berakhir, Xela melakukan perebutan mendadak tas punggungnya yang ada di bahu Alfarel. Aksinya berhasil, Alfarel terbelalak kaget ketika Xela sudah mencapai ambang pintu.
Lagi-lagi Alfarel mencegah kepergian Xela dengan menarik Xela kedalam sampai Xela jatuh terpental. Alfarel tidak peduli saking sibuknya mencegah kepergian Xela dengan mengunci pintu lalu mencabut kuncinya.
"Kenapa kau melarang ku keluar dari rumah ini? bukankah pada akhirnya sama saja, kau akan mengeluarkan aku dari rumah ini. Tuan Alfarel yang terhormat, tidak perlu mencegah ku untuk pergi, lagipula aku bertindak benar, aku harus keluar dari rumah ini sebelum di usir."
"Dafi ambilkan kotak yang berisi gembok dan juga kuncinya."
Bukannya mengindahkan ucapan Xela yang kini masih duduk di lantai, belum bisa bangkit karena tubuhnya yang sedikit terhempas kesakitan.
"Kau tidak akan bisa pergi malam ini. Kau merepotkan sekali, seperti seekor kucing yang mencuri dan ingin lari begitu saja."
ucap laki-laki itu sekali lagi menampakan senyum miris nya kepada Xela, kemudian membawa sebuah kotak berisi gembok ke arah jendela. Laki-laki itu sangat bertindak berlebihan, ternyata ia menggembok semua jendela tentunya agar Xela tidak kabur.
Melihat aksi berlebihan Alfarel, Xela hanya bisa berdiam duduk di lantai tempatnya terjatuh sambil merenungi nasibnya.
Apa yang harus aku lakukan? dia keterlaluan sekali. Aku ingin pergi, aku harus minta bantuan Landry.
Xela baru teringat akan smartphonenya, lalu mengambilnya dari saku celana, gadis itu tampak sedang mencari nama Landry di kontaknya.
Sayangnya, sebelum berhasil ia menghubungi Landry, smartphonenya langsung saja di rebut Alfarel.
"Kenapa lagi sih, hah? Bisakah sedikit tidak usah mencampuri urusanku? kembalikan!"
Xela berjuang merebut kembali smartphonenya di tangan Alfarel, tapi sayangnya usahanya selalu gagal.
"Kau ingin meminta bantuan Landry untuk keluar? kau tidak akan pernah bisa aku tidak akan membiarkannya, mengerti!"
__ADS_1
tegas Alfarel dengan muka geram.
'PRAKK'
Alfarel membanting smartphone milik Xela ke lantai sehingga mengeluarkan suatu bunyi yang sangat keras, Xela menganga lebar melihat smartphonenya seketika itu terlempar jauh.
Xela tidak menyangka, segitu egoisnya Alfarel yang ingin berkuasa segalanya atas diri Xela.
Berapa hancurnya hati Xela sekarang, smartphonenya bisa dipastikan sudah rusak karena hempasan ke lantai begitu kuat, Xela memandang nanar semua yang terjadi, ia memerhatikan smartphonenya dengan sedih, belum sempat juga ia menghubungi keluarganya yang berada jauh darinya, padahal rindu telah menggebu sejak lama ingin menghubungi keluarganya. Namun disaat ada harapan bisa berkomunikasi dengan keluarga lagi dan menjelaskan mengapa ia hilang kabar selama ini, harapan itu musnah oleh kenyataan yang ia terima.
Bulir bening telah mengalir dari pelupuk mata gadis yang sedari tadi duduk terpaku di lantai dingin, suasana hatinya sangat kacau, ia begitu hancur.
*Mengapa ini terjadi, ternyata aku selama ini mengagumi dan mencintai orang yang salah, aku bahkan tersesat bekerja dengan orang yang salah dia begitu kejam. Andai dia tahu bagaimana rasanya tidak menghubungi keluarga tercinta, apa dia tidak punya hati? dia tidak mengerti aku merindukan mama, mama pasti kuatir disana.
Maafkan Xela ma, waktu kita berkomunikasi, waktu aku mau menjelaskan sama mama, semuanya tertunda. Aku sekarang seperti sendiri ma, sendiri di kota. Aku mengikat kaki dan tanganku sendiri untuk tinggal bersama orang yang salah, orang yang jahat dan berkuasa*.
Namun harapan Xela hanyalah seperti sebuah harapan yang semu, smartphone itu sudah retak parah, tidak bisa menyala lagi.
Xela hanya bisa pasrah dengan keadaan, ia terkurung di rumah mewah bagaikan neraka itu.
Xela menangis terisak memandang smartphone yang baru saja diberikan Landry tadi sore, yang merupakan satu-satunya harapan untuk bisa menghubungi keluarganya sudah tidak dapat digunakan lagi. Ada rasa menyesal di dalam diri gadis itu, andai saja tadi ia menahan niatnya terlebih dahulu untuk menghubungi Landry, yaitu setelah Alfarel tidak di hadapannya, pasti semuanya tidak akan berakhir hancur seperti ini.
"Kau menangisi hp mu karena tidak bisa menghubungi orang yang kau cintai itu? Dengar baik-baik, kau masih SMA dan saya tidak akan membiarkan mu berpacaran selain fokus dengan sekolah mu. Bukankah kau pergi jauh-jauh ke kota untuk memperjuangkan pendidikan mu?"
Pertanyaan Alfarel memang benar didengar Xela, memang benar Xela selama ini jauh-jauh ke kota, memperjuangkan kehidupannya di kota hanya untuk memperjuangkan pendidikan, ia memiliki konflik dengan kakak sulungnya sampai saat ini, oleh sebab itu Xela ingin membuktikan dirinya bisa berjuang dalam pendidikan dan bisa menjadi orang suatu saat nanti tanpa campur tangan dari keluarganya.
Selama 16 tahun ia menjadi beban keluarga, kemampuannya selalu diremehkan oleh kakak sulungnya karena menurutnya Xela adalah pribadi yang pemalas.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu jahat Tuan Alfarel, aku tau semua yang kau katakan benar aku jauh-jauh ke kota untuk memperjuangkan pendidikan. Tapi apa salahnya aku pacaran dengan Landry, apa salahnya aku menghubunginya ketika aku sudah tidak bisa lagi bekerja disini. Aku tidak mau lagi bekerja dengan orang jahat sepertimu."
Ucap Xela dengan nada tinggi dan terdengar suaranya bergetar berusaha melawan majikan kejamnya.
"Saya tidak akan jahat, Saya tidak akan seperti ini kalau kamu mendengarkan apa kataku."
tutur Alfarel dengan senyum mirisnya.
"Saya, apa kau sadar kau hanya majikan yang jahat dan berkuasa semaunya atas diri orang lain. Aku punya hak, aku punya hak kak, mau aku punya pacar atau apa, aku berhak untuk itu." Xela mengucapkannya penuh dengan penekanan.
"Kau tidak mengerti Xela betapa bahaya kota R yang luas ini. Aku berhak mengatur mu kerena aku menjadi pelindung dan penanggung jawab mu di kota ini."
Tegas Alfarel tidak mau kalah, ia meninggikan suaranya dan sedikit kata-katanya seperti bentakan.
Namun Xela saat ini berusaha membela diri, ia menatap Alfarel penuh kebencian.
"Ya aku sadar di kota besar ini bahaya sampai aku masuk ke rumah seperti neraka ini. Aku memiliki majikan yang kejam. Asal kau tahu, saat ini aku sangat hancur kau menghancurkan hp ini dan memusnahkan harapan ku ..."
"Untuk menghubungi pacar kebanggaan mu?"
potong Alfarel.
"Kau salah tuan yang terhormat. Kau bukan pelindung ataupun penanggungjawab ku penghancur harapan ku saat ini kau memusnahkan harapanku untuk menghubungi keluargaku yang belum sempat aku beri kabar selama ini dan hiks ... hiks ..."
Xela tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena air mata yang dan kesedihan mengalahkan keberaniannya untuk berkata, ia begitu sedih membayangkan betapa sedihnya wajah seorang ibu yang tidak pernah diberi kabar oleh seorang anak. Ibu akan merasa kehilangan tentunya.
Xela berlari begitu saja dari hadapan Alfarel, terpakasa ia harus kembali menunju kamar yang bagaikan penjara, dimana ia pernah di kurung disana dan berdiam diri disana disaat masalah menghampirinya, tempat yang paling tertutup untuknya menghabiskan waktu untuk menangis meratapi nasibnya.
__ADS_1
bersambung ...