POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Camping 1


__ADS_3

Xela menjadi tenang setelah mendengar ucapan Alfarel, rasanya ia memiliki ironman, tatapan benci Ghea dan Cika sekarang tidak menjadi masalah untuknya.


“Iya gue tau Al, lo takut banget sih cewek lo di ganggu.” Jawab Ario


“Iya Al, kita tau juga kali.” Sambung Rico yang di angguki oleh Rey. Rey setuju.


“Udah deh gak penting juga hal kek gitu, mending kita lanjutin perjalanan.” Ghea mencoba membuat suasana agar berbeda.


“Gue setuju sama Ghea.” Ucap Cika sambil melempar senyuman penuh kebencian kepada Xela.


Semuanya bergegas melanjutkan perjalanan, mereka membawa tas masing-masing. Al menggenggam tangan Xela seakan takut kalau kekasihnya hilang padahal mereka jalan berdampingan.


“Kamu jangan takut, sama mereka. Kalau kamu tidak bisa berbaur dengan mereka, pacarmu selalu ada. Xela tersenyum lebar merasa bangga, kekasihnya tahu bagaimana membuat suasana hatinya semakin baik.


“Terima kasih kak. Aku nggak mau mereka.” Ungkap Xela, bagaimanapun ia masih tidak bisa melupakan saat Ghea menjebak nya dan Xela tidak suka Cika mendekati Al.


Mereka berhenti di tengah hutan yang lapang namun tidak begitu luas, disana cocok untuk mendirikan tenda. Jumlah tenda yang didirikan hanya lima tenda, Ario memasang tandanya sembari memantau teman-temannya. Ia mendapati Ghea dan Xela sedang membantu masing-masing kekasihnya, membuat Ario memiringkan sudut bibirnya.


"Bagus Al, lebih baik lo habisin waktu bersama cewek lo daripada ntar di ganggu cewe lain.” Batin Ario kemudian melanjutkan memasang tenda.


Xela membongkar tas besar yang ringan ia bawa, isinya selimut, pakaian mereka dan beberapa makanan ringan saja sementara ia mencari tenda satunya lagi sampai ia juga memeriksa tas Alfarel juga ternyata sama, tidak ada.


"Masa iya Cuma kak Al yang pakai tenda, jangan-jangan aku di suruh tidur sama mereka.” Batin Xela melirik Cika dan Ghea yang sedang memasang tenda, seketika wajahnya menjadi cemberut. Ia tidak mau satu tenda dengan Cika ataupun Ghea.


“Sayang apa yang kamu pikirkan?” tanya Alfarel yang melihat kekasihnya berdiri diam saja.


“Kak Al aku nggak mau satu tenda sama mereka berdua.” Ucap Xela dengan cemberut.

__ADS_1


“Siapa bilang? Kita akan tidur di tenda yang kita pasang ini.”


“Hah satu tenda?” tanya Xela kaget.


“Ya, saya tidak mau ada apa-apa terjadi padamu.” Xela terharu lagi mendengarnya lantas ia segera berlari kecil ke arah Al lalu memeluk lelaki itu. Semua mata tertuju pada mereka dan Ario melihat adegan itu dengan menggelengkan kepalanya.


“Makasih sayang,” Ucap Xela dengan manja, Al hanya tersenyum penuh arti membiarkan kekasihnya memeluk dirinya sampai puas.


“Masih siang jangan mesra-mesraan dulu, pasang tenda biar punya tempat.” Ledek Ario disertai tawaan Rico dan Rey, kecuali Cika dan Ghea yang muram tidak senang dengan pemandangan romantis Xela dan Alfarel.


Xela menjadi tertipu jadi terpaksa melepas pelukannya, akan tetapi Alfarel semakin menjadi ia tidak melepaskan Xela, Alfarel memeluk kekasihnya dengan erat sampai mengabaikan tendanya yang belum tegak.


“Kak Al udah, aku jadi malu.” Ucap Xela mendapat pelukan mesra Alfarel.


“Ngapain malu, jangan hiraukan kata mereka.” Ucap Alfarel menguatkan kekasihnya agar lebih mempercayai nya.


"Xela, cewek kampungan itu. Awas aja lo, gue tahu lo pasti pakai jampi-jampi buat pacarin Al. Makanya Al mau sama Lo, gue bakal bikin perhitungan sama lo.” Batin Cika tidak tenang.


Tidak terasa sore semakin dekat, semuanya sudah selesai mendirikan tenda, lalu berkumpul. Ario memimpin mereka di bantu oleh Al.


“Jadi kita semua bakal ngumpulin ranting kayu buat api unggul, kita mencari tapi jangan terlalu jauh dari lokasi.” Ario mengumumkan.


“Waktunya hanya dua puluh menit jangan berlama-lama dan di mulai dari sekarang.” Semua orang berpencar, Ario memisahkan diri, Rey dan Ghea berdua begitu juga dengan pasangan Alfarel dan Xela lalu Cika dan Rico. Semuanya wajib melindungi cewenya.


Xela sangat bersemangat bahkan mendapat ranting kayu lebih banyak sampai Alfarel merasa kuatir.


“Jangan membawanya terlalu banyak nanti kamu lelah.” Alfarel mengingatkannya tetapi Xela tetap semangat tidak mengindahkan perkataan lelaki itu yang penting ia bahagia.

__ADS_1


"Aku merasa sedang berada di kampung saja, pasti aku mencari kayu kering seperti ini. Aku jadi merindukan masa kecil bersama Chesi,” ternyata Xela sedang memikirkan masa-masa di kampung halamannya, sebenarnya ia sudah pandai mencari ranting kayu ataupun kayu kering yang hendak di jadikan kayu bakar.


Alfarel kesal perkataannya tidak di indahnya oleh kekasihnya, sampai menghalangi langkah Xela lalu merebut kayu yang didapat Xela, ia kuatir karena Xela membawa ranting kayu dalam jumlah yang banyak. Ia tidak tahu Xela sudah terbiasa dengan hal itu.


“Kak Al Kenapa, jangan ambilin punyaku dong.” Alfarel menatapnya tajam tetapi Xela tidak takut.


“Kamu jangan membawanya terlalu banyak nanti cape,” Alfarel mengkhawatirkannya.


“Nggak sama sekali kak. Aku sudah terbiasa ini pekerjaanku di kampung dulu.” Ucap Xela yang merebut kembali ranting kayu yang ada di tangan Alfarel.


“Seharusnya kita gak perlu rame-rame cari kayu kering seperti ini, ada pekerja yang nampaknya sudah profesional.” Ledek Cika yang tiba-tiba datang tanpa di undang, Xela menatap perempuan itu tapi tidak berniat untuk merespon ucapannya. Al juga mengabaikannya lalu membawa Xela pergi, kasihan sekali dengan nasib Cika diabaikan, tidak ada artinya omongannya tadi di utarakan.


“Main pergi aja, gue akan emosi sampe meledak.” Gumam Cika disertai rasa kesalnya.


“Awas aja Lo cewek kampung, saat lo gak ada gue bakalan membuat Alfarel jadi milik gue.” Gumamnya lagi.


“Cika lo kemana aja, pake ninggalin.” Teriak Rico dari kejauhan membawa kayu yang banyak, Cika tidak membantunya sama sekali.


“Maaf tadi gue cari tempat buat pipis, nggak mungkin ngajakin elo.” Katanya sembari melangkah perlahan menghampiri Rico.


“Lo gak ganggu Xela sama Alfarel kan?” Tanya Rico ketika mereka sudah dekat.


“Ganggu? Nggak kok.” Jawabnya dengan nada angkuh.


“Gue tau lo suka banget sama Al, tapi Al udah punya pacar.” Kata Rico lagi, mereka melangkah bersama untuk kembali ke tenda.


“Gue tau tapi gue rasa mereka nggak cocok Ric.”

__ADS_1


“Cocok atau nggak itu tidak menurut kita untuk menilai tapi urusan mereka yang menjalaninya.” Kata Rico.


“Tapi gue yakin mereka tidak cocok mungkin hubungannya nggak lama.” Ucap Cika penuh keyakinan karena ia merasa berhak untuk mendapatkan Alfarel.


__ADS_2