POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Melisa


__ADS_3

Lagi-lagi Xela terbangun di tempat yang membosankan itu. Ia mengira kekasihnya masih bersamanya. Nyatanya sekarang ia tidur sendirian di peluk selimut yang hangat. Keadaannya pun masih berantakan. Tetapi ia heran kenapa baju-baju yang berserakan sudah tak ada lagi sementara dirinya masih dalam keadaan tanpa apapun.


"Siapa yang mengemasi semuanya? Apa kak Al. Atau ... Aaa ..." Xela berteriak sendiri membayangkan begitu banyak maid yang masuk dan mengemasi bekas mereka. Sungguh memalukan.


Xela menutup matanya, tetapi sedetik kemudian ia sadar. Tidak boleh berpenampilan memalukan seperti ini, segera ia hendak bangkit dan membersihkan diri.


"Auuu." Xela kesakitan di bagian sensitifnya ketika kakinya bergerak belum juga menyentuh lantai.


"Inikah akibat dari itu? Nggak nyangka perih banget." gumamnya sendirian sampai menyerah memutuskan untuk rebahan saja. Ia pun menoleh ke atas nakas setelah sekian lamanya tidak melirik ke sana. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, secarik kertas di atas kotak, tangan mulusnya pun segera meraihnya.


'Jangan lupa makan ya, sayang. Tunggu aku kembali.'


Xela sudah tau siapa yang menulis pesan itu. Pastilah Alfarel orangnya. Siapa lagi yang memiliki kuasa penuh disini untuk melakukan apapun kalau bukan dia. Tidak mungkin para maidnya kan?


"Lumayan keliatan enak banget." Xela membuka kotak tersebut dan itu adalah daging ayam bayar yang dilengkapi nasi putih.


"Bukan lumayan enak, ini sangat enak dan gurih." Xela mengagumi rasa yang belum pernah ada itu.


<~>


Disebuah ruangan yang sangat gelap, bukan kerena tidak ada lampu. Tetapi karena dinding ruangan tersebut di cat dengan warna hitam. Hanya cahaya lampu di atas plafon dan lampu yang berasal dari sebuah perangkat elektronik yang menyala saja yang menandakan ruangan tersebut masih ada kehidupan.


Pria tampan dengan jubah hitam legam tengah asyik menyeruput kopi panas sembari menatap layar laptop, dimana ia leluasa mengawasi kekasihnya dari jarak jauh. Dan laptop satunya lagi sedang melacak pergerakan titik merah yang ada di berbagai tempat dari setiap ruangan mansion miliknya. Tidak lupa matanya juga menatap ke layar lebar, layar proyektor di sisi kanannya hanya berjarak 5 meter. Menampakkan kegiatan orang-orangnya di laboratorium produksi senjata pribadinya.


'Tap tap tap'


Dari kejauhan Alfarel bisa mendengar langkah kaki yang berjalan menghampirinya.


Penciumannya pun tajam, ia menunjukkan senyuman smirknya lalu berkata tanpa menoleh.

__ADS_1


"Apa yang bisa di laporkan hari ini?" tanyanya


"Maaf Tuan, saya menemukan wanita yang mengaku korban Marco. Namanya Melisa ingin bekerja sama menghancurkan Marco."


Alfarel tanpa berkata-kata langsung merebut map biru dari tangan anak buahnya sekaligus melihat data Melisa.


Sosok Melisa adalah wanita berambut panjang dan pirang, mata sipit, wajah tirus, yang lebih penting adalah tubuhnya yang sangat ideal dimulai dari tinggi badan dan melakukan tubuh yang begitu sempurna bak polisi wanita, selain itu kulit putih mulusnya pun tidak kalah menarik.


"Bawa dia kemari!" titah Alfarel.


"Baik, saya akan mengundangnya terlebih dahulu.


🍁🍁🍁


Tak menunggu 12 jam akhirnya perempuan bernama Melisa langsung diantarkan ke ruangan gelap khas Alfarel. Perempuan itu tanpa rasa canggung memasuki ruangan tersebut, sedikit melirik dengan tatapan datarnya. Bisa di tebak ia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Setelah pakaian serba hitamnya itu langsung menarik perhatian Alfarel.


"Gue Melisa!" Melisa menyodorkan tangannya tetapi tak kunjung di balas Alfarel. Sadar diri! Melisa menarik tangannya kembali lalu duduk berhadapan dengan Alfarel, tak lupa mengambil posisi duduk ternyaman di kursi putar.


Alfarel belum membuka suara, ia tampil begitu misterius mengenakan kacamata hitamnya. Lima detik kemudian.


'Klek'


Alfarel menodongkan ke wajah cantik Melisa, tanpa di duga Melisa juga bergerak cepat mengeluarkan pisau lipat andalan dan meletakkannya dekat pada leher Alfarel. Aneh, mereka melayangkan tatapan datar, gerakan mereka sama. Gesitnya pun juga sama.


"Lumayan, dia cukup gesit untuk di ajak bertarung." batin Alfarel lalu menunjukkan senyuman smirknya, senyumannya dibalas oleh Melisa tetapi senjata mereka belum kunjung di turunkan.


"Selain Tampan dia memiliki mimik yang serius. Gak heran upayanya selalu berhasil." Melisa mengagumi Alfarel dalam hatinya.


Mereka menarik kembali senjatanya secara bersamaan.

__ADS_1


"Luar biasa, gue gak nyangka Lo segesit itu." Alfarel memujinya.


"Hmp, saya bukan cewek lemah yang bisa di perdaya dan di celakai." Melisa menyombongkan diri.


"Lantas kalau sesempurna itu kenapa tidak bergerak sendirian untuk membunuhnya?" Yang Alfarel maksud adalah membunuh Marco. Alfarel memutar pistolnya, benda itu bagaikan mainan baginya. Ia tidak takut bahaya andai pistol tersebut mengenai tubuhnya.


"Hmp. Apakah anda sendiri bisa mengalahkannya? Bukankah anda adalah orang yang sangat hebat! Tentu saja, kalau orang sehebat Anda belum bisa mengalahkannya apalagi saya?!" jawab Melisa sungguh-sungguh. Mendengarnya, bukan hanya bangga tetapi Alfarel merasa perempuan ini cukup pintar meskipun mengetahui pengakuannya bahwa dirinya lebih hebat dan Melisa berada di bawahnya.


"Lo mengakuinya. Gue lebih hebat dari Lo." Ucap Al, tangannya mulai bergerak melepas kacamata hitamnya lalu meletakkannya di atas meja. Perempuan mana yang tidak terpana dengan pesonanya jika ia menunjukan wajah full ORI tanpa tertutup sehelai masker wajah atau separuh kacamata hitam.


"Deg deg an gue. Dia lebih tampan daripada di fotonya." batin Melisa yang tiba-tiba nge freez akibat menatap Alfarel. Nge freez tidak berlangsung lama, karena ia harus pandai membawa diri dan mengontrol perasaannya. Ia merasa tidak boleh menjadi perempuan bodoh yang bisanya pakai perasaan sampai sakit hati langsung lumpuh jiwa.


"Ya, saya cuma kalah resep racun. saya cuma kalah senjata. saya gak bisa buat senjata sendiri dan tidak memiliki resep racun. Beda dengan anda yang bisa memulihkan dan melumpuhkan lawan." Alfarel semakin tersanjung dengan perkataan wanita cantik itu. Sangat cantik, dari matanya yang menggunakan eyeliner memancarkan ketegasan dari wajah cantiknya.


"Lantas kelebihan Lo apa?" Alfarel seolah meremehkan perempuan cantik itu.


"Bisa bertarung dengan baik, lebih baik lagi kalau senjatanya mendukung pasti akan mendukung keberhasilan." Melisa tersenyum sombong.


"Kalau terkena racun di badan Lo apakah Lo tetap bisa sehebat yang Lo gambarkan?" selidik Alfarel.


"HM tidak, pengalaman terkena racun belum pernah karena kegesitan saya bisa menghindari racun senjata." jawab Melisa.


"Hmp Lo cuma bisa menghindar racun senjata bagaimana kalau kena terlebih lagi kalau terkena racun makanan. Lo ga bisa menghindar." remeh Al.


"Maka dari itu saya meminta bekerja sama dengan Anda. Kita dapat bekerjasama, anda memberi resep kekebalan itu kepada saya dan saya akan membantu anda menangkap Marco." Melisa meyakinkan.


'Prakk!'


Alfarel bangkit sembari memukul meja, lalu gerakan gesitnya mengambil tali di dalam sakunya lalu mengikat tali tersebut di leher Melisa.

__ADS_1


__ADS_2