
Landry membawa Xela pergi menuju balkon, mereka pun duduk di kursi yang terpisah. Xela masih mengingat pertanyaan yang sama.
"Apakah kamu menyukaiku?"
Mengingat itu sebenarnya Xela ingin sekali mengatakan iya, tetapi ia terlalu pengecut. Bukankah ia sudah punya Landry dan Alfarel sudah punya Mira? itulah yang menjadi pertimbangan sampai gadis itu secara refleks menutup wajahnya lalu menggelengkan kepalanya.
"Xela kamu tidak apa-apa, apa tadi dia mencoba menyakitimu." Sembari menyentuh bahu Xela membuat Xela terkejut, lalu menatap Landry dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada." lalu tersenyum palsu, mungkin ia mengira Landry tidak bisa melihatnya.
"Lalu kenapa? Apa yang dia lakukan padamu di sana, dia melecehkanmu? Aku tidak terima itu." Landry mengepal kedua tangannya, Xela melihat sudut bibir Landry yang sudah mengering lukanya. Karena ia tadi terlalu memikirkan perkara tentang Al sampai lupa bahwa Landry terluka.
"Tidak Landry, dia hanya mengintrogasiku karena aku membuat Mira jatuh, itu saja tidak ada yang lain. Seharusnya kamu tadi tidak datang, oh iya lukamu!"
Mendengar penjelasan pacarnya, Landry mengoreksi kata-katanya "harusnya kamu tidak datang." Ya ada kemiripan dengan kata-kata Alfarel membuatnya patah hati. Bukankah tadi, tepat di depan matanya, Alfarel hampir menciumnya, itu pemandangan yang ia tangkap. Apa jangan-jangan Xela ada hubungan dengan Alfarel.
"Tidak perlu. Kau mengecewakanku, bahkan luka dibibirku cepat mengering sementara luka hatiku sedang ditoreh." Landry mengalihkan pandangannya pada sebuah menara ditengah kota. Xela terhenyak mendengar kata luka hati, apakah ia melukai hati Landry? ia merasa tidak pernah melakukannya.
"Maksud kamu Lan? sejak kapan aku mengecewakanmu?"
"Baru saja dengan kata-katamu persis seperti kata-kata bang Al. Sebenarnya apakah kamu punya hubungan dengan bang Al?" Landry mulai menaruh kecurigaan.
"Aku disini hanya bekerja sambil bersekolah. Aku tidak ada hubungan dengan kak Al. Kok kamu nanyanya gitu?" Xela melihat sekilas Landry tersenyum getir, ia tahu Landry tidak mempercayainya, padahal disini ia bekerja untuk bertahan hidup di kota orang dengan menerima tawaran pekerjaan dari Alfarel malah membuatnya terus terkena masalah, akankah secepatnya ia pergi dari sini.
"Tapi tadi jelas aku memergoki bang Al hampir saja menciummu dan kamu masih mengatakan tidak apa-apa." Landry marah langsung bangkit pergi meninggalkan Xela. Xela hanya bisa memutar lehernya melihat kepergiannya, apa yang harus dia jelaskan kepada Landry kalau memang lelaki itu sulit untuk percaya. Lebih baik lepaskan saja dan biarkan dia pergi.
...----------------...
__ADS_1
Makan malam di liputi suasana dingin, semuanya hanya fokus pada dentingan sendok masing-masing, sesekali melirik sesama yang duduk di dekatnya hanya dengan tatapan permusuhan, itu yang Xela lihat ketika dirinya melirik sekitarnya.
Dentingan sendok sangat keras mengejutkan semuanya, tetapi tidak ada yang berani komen karena pelakunya adalah Alfarel, ia menghempas sendok di piring kosong itu dengan kasar, tatapan datarnya langsung tertuju pada Xela.
"Xela, setelah ini temui saya di ruang kerja saya." usai mengatakannya, pria itu langsung meninggalkan ruang makan, bahkan belum menerima kata setuju dari Xela. Hah kata setuju? tidak mungkin, kan Xela harus nurut sama bos nya Alfarel.
Landry dan Mira di saat yang sama melirik Xela dengan tatapan marah, Xela dengan tidak enak hati hanya menundukkan kepalanya.
"Udah suasana dingin, malah tatapan semuanya serba dingin padaku. Jadi serasa tegang semuanya." Xela hampir tidak bisa menelan makanan yang ia kunyah.
"Xela, benar-benar. Kamu sepertinya punya hubungan sama kak Al." batin Landry, ia ingin marah tetapi di pikir-pikir nanti ia sendiri yang sakit hati, percuma pacaran kalau pacar di bawah kuasa orang lain.
"Xela lagi Xela lagi yang Al panggil, apa mereka ada hubungan? Gue berharap lo keluar aja dari sini secepatnya, semoga lo di panggil Alfarel dengan tujuan mengusir lo segera." batin Mira menatap Xela penuh kebencian, ada rasa cemburu saat Alfarel memanggil Xela, sementara hubungannya dengan Alfarel bisa di katakan merenggang sejak kemarahan Alfarel kemarin.
Xela melangkah lamban menuju ruang kerja Alfarel, ia sudah takut meskipun belum tahu apa yang akan Alfarel bicarakan padanya sampai menyuruh ke ruang kerjanya malam-malam begini, jujur Xela merasa tidak nyaman.
TOK TOK TOK!
"Masuk!" terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.
Alfarel sudah duduk di sana, malam ini ia memakai piyama putih sehingga ketampanan semakin tegas.
Xela di persilahlan duduk menghadap Alfarel, telah tersedia kursi yang dibatasi oleh meja di hadapannya sehingga memberi jarak antara dirinya dan Alfarel. Xela menyembunyikan tangannya di bawah meja, ia sedikit gugup menghadap Al.
"Tidak banyak yang ingin ku bicarakan."
Alfarel kemudian melempar amplop putih tebal ke atas meja.
__ADS_1
"Ini apa?" tanya Xela tanpa menyentuhnya.
"Makanya lihat dulu!" Alfarel mengingatkan sehingga Xela menahan malu atas ulahnya sendiri, gadis cantik itu membukanya dengan tangan gemetar apalagi Alfarel menatapnya dengan lekat, ia semakin gugup.
Xela melihat mungkin puluhan lembar kertas berwarna merah disana, apakah ini gajinya? padahal ini belum waktunya untuk menerima gaji, apa maksudnya?
"Uang?" Xela tertegun.
"Bukti bahwa hari ini, hari terakhir kamu bekerja disini." ucap Al dingin.
"Terakhir? malam ini juga. Apa aku juga harus keluar malam ini, ini berita yang menyenangkan kalau aku keluar dari sini aku dapat pergi dan memulai kehidupan dengan bebas, lalu melupakan wajah tampan kak Al yang menyakitkan." Xela terdiam sibuk dengan segala pikirannya.
"Oh, baiklah!" ucap Xela tabah dengan wajah yang tertunduk membuat lelaki yang duduk di depannya mengamati gelagatnya. Entah mengapa Xela sedih, meskipun selama ini ia bekerja untuk Alfarel selalu ada saja masalah yang membuatnya ingin pergi dari sini, tetapi selalu dicegah.
Namun sekarang, ia benar-benar harus pergi majikannya telah menghentikannya dari pekerjaannya.
"Setelah kau tidak bekerja disini, kau akan bekerja kemana dan tinggal di mana?"
Xela mendongakkan kepalanya sejenak berpikir, sebenarnyq ia tidak tahu harus tinggal dimana. Mungkin mencari kos lagi.
"Hm, mungkin aku akan mencari kos lagi. Oh iya terima kasih banyak untuk gaji terakhir ini, maafkan aku kalau selama aku bekerja disini aku selalu tidak becus, dan selalu salah. Mungkin gaji ini terlalu besar, aku ingin mengambilnya beberapa saja karena ini tidak sesuai dengan pekerjaanku."
Xela hendak mencabut beberapa Lembar uang dari dalam amplopnya tetapi Al menghentikannya sampai tangan mereka berdua tidak sengaja mendarat secara bersamaan di atas amplop.
"Gaji, bukan kamu yang menentukan tetapi aku yang bosnya. Sekarang kamu boleh pergi untuk istirahat dan besok saya akan mengantarmu ke asrama. Tempat itu sudah saya tentukan, jadi kamu tidak usah tinggal di kos."
Alfarel kembali menarik tangannya lalu melipatnya di dadanya.
__ADS_1
Xela terkejut dengan ucapan Al, mengapa Al merencanakannya tanpa persetujuannya. Xela hendak membuka mulut untuk bicara tetapi Al segera mencegahnya.
"Jangan membantah. Ini keputusanku." Tentu Xela hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, ia mengira akan lepas dari seorang Alfarel yang tidak lelah mengatur hidupnya.