
Di sebuah apartemen Landry bersama teman akrabnya, Deva sedang merayakan malam minggu dengan minum alkohol, semuanya terlihat sangat bahagia terutama Landry. Lelaki itu seakan lupa diri meminum dua plastik alkohol sebanyak dua liter.
"Lan kapan lo berenti, gue gak mau lo ngomongin apartemen gue ya, awas lo."
Deva memperingati Landry yang terus saja menuang alkohol (arak) ke dalam gelas.
"Gak, gue gak akan mabuk. Tapi gue pengen mati mendadak biar gak di mati sia-sia di tangan orang." Landry sudah meracau tidak jelas. Deva hanya bisa memaklumi sahabatnya itu, memakluminya karena memang Landry sedang dalam masalah.
"Lan, sampai kapan lo nyiksa diri begini hanya gara-gara abang lo." Devan menegur.
"Abang? mana abang gue. Gak ada yang selama ini gue bilang abang gue itu cuma abang palsu, gue gak punya abang." jawab Landry dengan suara mabuknya, ia tidak berhenti juga meminum arak meskipun rasanya pahit.
"Lo jangan gitu Lan, bagaimanapun dia abang lu. Gue kenal kalian sejak masih kecil dulu, akur bahagia dan Alika ..." ucapan Devan terhenti ketika ia menyebutkan nama Alika membuat Landry dengan senyuman getirnya berkata.
"Iya Alika, lu juga ingat Alika. Sejak Alika pergi kami jadi hancur, keakraban dan persaudaraan udah gak ada lagi. Hancur." Landry menuangkan arak lagi ke dalam gelasnya lalu meminumya dengan nikmat, memang benar jika seseorang telah mabuk oleh alkohol rasanya ingin terus meninumnya.
"Kalian terlalu mudah untuk bercerai tidak mengerti persaudaraan yang sesungguhnya. Lo harus tahu saudara itu harus bersatu, tar lo nyesel loh kalau di antara kalian kehilangan satu sama lain."
"Hahaha, gue gak peduli. Kalau Alfarel si brengsek itu duluan mati, gue terima syukur gak akan nyesel gue. Kalau gue yang duluan mati, gue juga bersyukur karena gak liat orang-orang yang ngehancurin hidup gue di dunia ini." Landry tertawa dengan kondisi yang tidak bisa di kendalikan, seperti orang gila. Kepala pusing dan pengaruh alkohol itu membuatnya terasa melayang di udara, bukan mengingat bumi lagi.
"Udah lah, Lan. Cape gue, arak juga udah habis dua liter karena lo. Lebih baik gue anterin lo pulang ke apartemen lo, besok lo sekolah. Dasar anak SMA." Deva ingin menarik tangan Landry hendak mengantarnya pulang tetapi tubuhnya yang berat membuat Deva kesulitan bahkan si lelaki mabuk itu sudah tidak bisa mengimbangi badannya lagi.
__ADS_1
"Gue masih pengen minum Dev. Lo ngeledek gue ya? mentang-mentang lu udah kerja. Gue bakalan sukses dari lo setelah ini Va."
"Iya iya, lelaki pemabuk pasti sukses minum alkohol mulu." ucap Deva kesal temannya itu hanya bisa tersenyum sembari meracau.
"Va kapan ada balapan lagi. Infoin gue ya, butuh duit nih buat seru-seruan mungkin ke diskotik ntar guenya kalau udah dapat duit biar lebih seru denger musik tanpa dengar bacotan lu." Landry berkata sambil memejamkan matanya.
"Gila lu, gak usah deh. Lo gak usah ikut balapan lagi, lebih baik lu jangan pegang duit daripada lo main perempuan di luar sana. Mabuk disini aja biar aman menurut gue." Deva masih berusaha mengangkat tubuh berat Landry tapi hasilnya ya tetap nihil, bayangin aja betapa beratnya tubuh orang yang sedang mabuk.
"Hahaha, gue boleh mabuk disini. Sekalian deh putar musik yang keras biar gue gak mual." Landry membuat Deva kesal tetapi Deva tetap berpikir Landry sahabatnya jadi mau tidak mau mestinya ia sabar.
"Lan udah deh, apartemen ini khusus buat para mahasiswa yang sibuk. Kalau gue nyalain musik besar volumenya kasian tetangga yang lain lagi belajar."
"Ya udah gue pengen muntah. Hueekk ... huek ..."
Tanpa pikir panjang Deva panik karena Landry akan mengeluarkan sisa-sisa yang sangat bau dan kotor tentunya, ia menyeret Landry menuju kamar mandi seperti adegan psikopat menyeret korbannya.
"Gue kenapa Va, hueekk. Rasanya gue naik wanana, kepala gue pusing banget. Kita naik wahana ya Va. Tolong peluk gue, gue gak mau jatuh dari wanana tar gue mati disana ngerepotin orang." Landry bicara ngawur akibat mabuk parah.
"Parah lo jangan bacot, ini badan lo berat banget. Gue antar lo ke kamar mandi deh." Deva masih menyeret tubuh besar itu dan akhirnya sampai di kamar mandi, Landry muntah disana sementara Devan keluar tidak kuasa mencium bau alkohol di tambah bau muntah yang tidak sedap.
"Parah banget kalau punya temen kek gini. Ngerepotin tapi kalau mabuk di luar juga tambah ngerepotin." Deva berlari ke dapur untuk mengambil air putih untuk memberi minum sahabatnya yang mabuk itu.
__ADS_1
Sekembalinya Deva dari dapur, ia harus membersihkan kotoran Landry di lantai kamar mandi, sementara itu sahabatnya tertidur disana. Menjijikan, padahal itu kamar mandi, bisa-bisanya lelaki itu tidur pulas disana.
"Astaga Lan, lo ngerepotin gue lagi. Jangan tidur disini kotor woii." Tegur Deva sembari menepuk pipinya.
"Biarkan, disini nyaman, dingin. Badan gue panas banget sumpah gue pengen disini." ucap Landry masih dengan mata terpejam.
"Lan tapi ini kamar mandi, jorok tau. Kalau gue bab di sini lo sanggup cium baunya?" percuma Deva berkata banyak pada akhirnya orang mabuk ya tetaplah orang mabuk yang mudah untuk tidak sadarkan diri, Landry tidak meresponnya lagi. Mau tak mau ia meninggalkan sahabatnya disana.
"Parah lo Lan, harusnya lo jaga kesehatan. Penyakitan baru tahu rasa." umpat Deva sebelum pergi akibat putus asa.
...****************...
"Udah lama nunggu ya Al?"
Di restoran mewah yang para pengunjungnya pasti dompetnya tebal, Al duduk di sebuah kursi dengan kaki menyilang sembari menunggu seseorang. Seseorang yang tidak asing dan pernah menemaninya selama hampir 6 tahun. Siapa lagi kalau bukan Mira.
"Tidak." jawab Al sembari melirik jam tangannya yang menunjukan pukul tujuh malam.
"Aku tahu kamu menemuiku karena suatu hal yang penting kan? aku boleh tahu apa itu?" kata Mira, ia terlihat sangat cantik malam ini dengan dress putih dan rambut panjang bergelombang yang di gerai, riasan wajahnya pun terlihat pas, jadi terkesan natural padahal sedikit riasan.
Al menatap Mira sejenak, menatap manisnya senyuman mantan kekasihnya itu sebelum ia menyeruput kopi panas di depannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang terlalu penting, tapi aku ingin bertanya kepadamu lebih banyak." ucap Alfarel menggantung setelah ia menyeruput kopinya.
"Hmm, boleh. Oh iya bagaimana dengan gadis yang kamu cintai, apa kamu dengannya baik-baik saja. Aku rasa kamu dan dia tidak baik-baik saja makanya kamu mengajakku ketemuan." Mira mengalihkan pembicaraannya.