
Setelah Mira memuntahkan air dari mulutnya dan terbatuk, perempuan itu langsung memeluk Alfarel dengan erat sambil menangis.
"Huhu ..., Al dia mendorongku, dia mau membunuhku. Mengapa kamu biarkan asisten jahat seperti dia bekerja disini." perempuan itu berusaha membuat Al membenci Xela.
Xela menatap nanar adegan depannya, apalagi saat Alfarel juga membalas pelukan Mira.
"Landry aku tidak memulainya, dia yang duluan." Xela menahan air matanya.
"Aku tahu Xela, kamu orang baik. Ayo kita masuk saja biarkan mereka berdua disini."
Xela mengangguk setuju dengan Landry, ia dituntun Landry masuk sementara Alfarel melihat mereka berdua, entah mengapa hatinya panas melihat kedua tangan Landry menyentuh bahu Xela, karena itu ia melampiaskan kemarahannya dengan melepas pelukan Mira secara kasar.
"Al kok kamu kasar, memangnya aku tidak boleh memelukmu?" Protes Mira mendapatkan perlakuan demikian.
"Maaf, bukan maksudku begitu. Kita harus masuk dan kamu harus mengganti pakaianmu." kata Alfarel, mereka pun masuk menyusul Xela dan Landry.
"Sayang dia jahat." ucap Mira selama mereka melangkah memasuki pintu.
"Apa yang dia lakukan, apa dia mendorongmu?"
"Tadi aku berada didekat kolam, tiba-tiba dia datang kemudian dia mengatakan kepadaku. Kamu miliknya, apakah benar? Lalu dia mengatakan aku tidak pantas disini, aku hanya pacarmu tapi belum tentu kamu mencintaiku karna kamu mencintainya, hiks hiks." Entah bagaimana caranya Mira dengan mudahnya mengeluarkan air mata yang deras itu berusaha mendapatkan perhatian Alfarel, Ia tidak tahu malu sudah merekayasa kejadian dan memutar balik fakta.
Alfarel terlihat marah, jelas Mira sangat senang. Mungkin nanti ia akan memarahi Xela kemudian mengusir Xela dari rumah itu.
Xela telah mengganti pakaiannya, di teras rumah ia bersama Landry yang menemaninya, Xela melamun mungkin karena ia sangat terluka akan masalah hari ini.
"Xela bisakah kamu menceritakan kejadian yang sebenarnya? Bukan maksudku tidak percaya tetapi aku ingin membantumu, si pihakmu." Landry menggengam tangan dingin Xela agar gadis itu mau menoleh padanya lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
Xela sebagai cewek yang berperasaan kini mulai menangis, Landry memeluknya karena tidak tega.
"Ini bukan salahmu. Tapi kalau kamu tidak mau mengatakannya, setidaknya kamu memberitahuku apakah benar Mira yang memulainya?" Xela mengangguk atas pertanyaan itu.
"Aku yang dia dorong ke kolam, sebenarnya aku masih bisa berenang tetapi dia menekan kepalaku saat aku tiba di tepian, itu membuatku hampir kehabisan nafas." Xela menceritakannya dengan sesegukan, Landry yang kasihan tetap memberikan pelukannya kepada Xela dan merelakan bajunya dibasahi air mata Xela yang mengalir deras.
Saat keduanya berpelukan, mereka tidak mengetahui sama sekali, dari dalam Alfarel melihat mereka lewat jendela. Alfarel mengeraskan rahangnya dan menggepal kedua tangannya seakan terbakar oleh sesuatu, dihatinya yaitu perasaannya.
Xela kemudian melanjutkan perkataannya.
"Karena itu aku yang hampir kehabisan nafas terpaksa harus mencengkram tangannya lalu menariknya ke kolam agar ..."
"Aduh Xela, maaf sepertinya aku harus ke toilet. Tunggu aku disini, jangan kemana-mana." Landry merasakan perutnya sangat sakit mungkin ini karena sup itu, ia merasa bersalah kepada Xela tetapi ia saat ini harus ke toilet dulu.
Xela mengangguk, ia tidak masalah dan bisa memaklumi. Akhirnya ia melamun lagi di teras mengingat kejadian sebelumnya, bagaimana bisa ia dikatakan sepenuhnya salah?
Alfarel membawanya ke ruang kerja miliknya lalu menutup pintu, wajah tegas Alfarel membuat Xela takut, apa yang Alfarel lakukan padanya? Xela menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Alfarel, kemudian ia pun mundur beberapa langkah bermaksud menjaga jaraknya dari Alfarel. Menjaga jarak? Sepertinya tidak berhasil, Alfarel malah semakin dekat padanya lalu tangannya meraih dagu Xela bermaksud menegakkan wajahnya membuat gadis itu menengadah.
Alfarel menatapnya dengan tajam, Xela seakan merasakan ia mungkin ingin ditelan hidup-hidup.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Mira, hah?"
Xela tidak mengerti sehingga ia hanya menggelengkan kepalanya lalu menundukkan kepalanya lagi. Tetapi Alfarel tidak akan membiarkannya menundukkan kepalanya, segera jemari kerasnya menegakkan dagu gadis itu.
"Sekali lagi saya bertanya, apa yang kamu bicarakan dengan Mira?"
Xela tidak ingin menjawab tetapi dagunya di cengram lebih kasar oleh Alfarel sehingga ia rasa harus bicara.
__ADS_1
"Tidak ada bicara apa-apa. Aku hanya tidak sengaja mendorongnya." Alfarel kesal mendengar jawaban yang tidak sesuai itu, ia membutuhkan jawaban Xela mengakui bahwa gadis itu menyukainya.
"Tidak ada bicara apa-apa? Apa kamu tahu saya sudah mendengar semuanya dari Mira."
"Mungkin semuanya yang dikatakannya itu benar, aku yang salah." Xela memilih mengatakan ketidakbenaran itu karena tidak ingin memperpanjang masalah, lagi pula jika ia menjelaskannya tidak berguna, Al tidak akan mempercayainya.
Al melepas cengraman kasarnya, ia tersenyum tipis lalu menatap wajah gadis dihadapannya dalam-dalam, Xela merasakan Alfarel menatapnya, yang perlu ia lakukan adalah menyembunyikan matanya agar tidak sempat mamandang wajah pria tampan itu, kalau tidak jantungnya akan berdetak lebih hebat dari yang sekarang.
"Kamu menyukai saya?" Tanya Alfarel setelah ia menatap gadis itu dalam-dalam lalu membenenarkan wajah Xela agar tepat menatap wajahnya, pria itu bertindak dengan membuat wajah mereka semakin dekat kira-kira 10 centimeter jaraknya.
Xela mundur sedikit agar jarak antara mereka agak jauh dan ia dapat bernafas lega.
"Kenapa kamu menjauh? Apa benar kamu menyukai saya?" tanya Alfrel lagi, ia terus maju agar jarak mereka semakin dekat.
"Bagaimana ini. Aku harus menjawabnya bagaimana, aku tidak yakin kalau aku menyukainya, tapi aku pernah merasakan cemburu melihatnya sedang bersama Mira." batin Xela ragu.
"Ti-tidak." jawab Xela berdusta. Al lagi-lagi mengeraskan rahangnya, ia ingin Xela menjawab sesuai yang ia inginkan, jawaban singkat yaitu kata Iya saja, begitupun sulit. Al semakin memajukan langkahnya begitu juga Xela bertindak sebaliknya, semakin memundurkan langkahnya.
Sampai akhirnya Xela tidak bisa melangkah lagi karena ia telah dihentikan oleh dinding putih dibelakangnya. Alfarel dengan mudah menguncinya disana lalu lanjut menginterogasi Xela dengan pertanyaan yang sama.
"Akui saja kamu menyukaiku bukan?"
Xela tidak mau menjawab, Al pun semakin mendesaknya dengan menguncinya di dinding, bahkan kali ini tidak ada jarak lagi, hanya wajah yang beradu 5 cm.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Al terbuka lebar, seseorang disana memergoki mereka. Dia Landry, Landry segera menghampiri mereka lalu memisahkan Xela dari Al. Al kesal mengapa Landry datang disaat yang tidak tepat, ia belum mendapatkan jawaban apapun dari Xela.
"Apa yang bang Al lakukan kepada pacarku?" Landry menarik Xela ke dalam rangkulannya tidak rela Alfarel dekat tanpa jarak dengan pacarnya.
__ADS_1