
Xela terus menggeser layar smartphone milik Alfarel sampai ia menemukan foto yang pernah ia lihat sebelumnya.
“foto ini bukannya aku pernah melihatnya.” Xela berusaha mengingat foto gadis cantik yang di rangkul oleh Alfarel sampai ia berhasil kembali lagi pada ingatan saat ia masih menjadi asisten Alfarel dulu. Ya, foto yang sama pernah ia lihat di pintu lemari pakaian Alfarel, gadis cantik di dalam foto itu mirip dengannya.
“Kak Al ini siapa?” Xela menunjukkan foto tersebut kepada Alfarel membuat lelaki itu menginjak rem secara mendadak. Hampir saja kepala Xela terbentur kalau Al tidak menahan tubuhnya dari depan.
DEG
Xela sangat terkejut sampai smartphone yang ia pegang terjatuh dari tangannya. Alfarel terlihat sangat marah. Foto itu adalah foto Alika, ia menyesal menyerahkan smartphonenya kepada Xela pada akhirnya ia terpaksa mengingat kembali dendam yang ia simpan untuk seseorang yang tidak pernah muncul di muka bumi.
“Kak Al Kenapa nge-rem mendadak.” Xela mengambil smartphone yang jatuh tetapi Alfarel merebut smartphone itu dari tangannya.
"Aneh, kenapa kak Al kayak marah banget. Reaksinya juga mengejutkan padahal aku cuma bertanya.” Batin Xela merasa ada yang menjanggal mungkin karena selama ini ia belum tahu tentang Alika sama sekali.
“Kak Al.” Lirih Xela membuat Alfarel mengela nafas panjang lalu kembali melajukan mobilnya.
“Alika, adik saya.” Xela sangat kaget mendengar pernyataan itu, ia baru tahu kebenarannya.
“Adik?” Xela sekali lagi melirik foto tersebut memang benar ia menemukan kemiripan wajah mereka.
“Dia mirip denganmu, kan?” Xela terkejut, dulu ia berpikir juga begitu tetapi meragukannya.
"Tunggu. Ini bukan berarti kak Al menyukaiku karena aku mirip adiknya.” Batin Xela.
__ADS_1
“Iya.” Xela mengiyakan saja.
“Pertama saya bertemu kamu, saya merasa ada luka yang membesar. Kamu sangat mirip dengan Alika jadi membuat saya ingin marah sekaligus menginginkanmu. Marah karena kamu seolah menggantikan Alika, namun saya juga menginginkanmu untuk melindungimu dari laki-laki kurang ajar di luar sana. Perasaan yang membingungkan membuat saya memperlakukan mu seperti mengekangmu,” Alfarel menjelaskan. Xela akhirnya mengerti, dulu ketika awal kenal dengan Alfarel, lelaki itu memperlakukannya seenak jidatnya.
“Dan semakin lama saya semakin merasa menyayangimu sama seperti menyayangi Alika. Saya tidak mau nasibmu sama seperti nasib Alika. Saya ingin melindungimu, meskipun saya sadar kamu tidak bisa menggantikan posisi Alika. Tetapi perasaan yang muncul secara tiba-tiba membuat kita menjadi kekasih. Tentang Alika, tolong jangan membahasnya, itu semakin membuat saya sakit.” Ungkap Al dengan muka sedihnya, Xela merasa kasihan.
“Tapi ketika Kak Al melihatku apakah tidak membuat kak Al mengingatnya lagi?”
“Melihatmu membuat saya perlahan pulih, sejak kamu hadir di hidup saya. Saya mulai mampu melupakan kejadian menyakitkan itu, tetapi tidak melupakan untuk balas dendam kepada orang yang membuat Alika meninggal, dia harus di hukum.” Al membanting setir membuat Xela merasa sedikit kuatir.
Sebenarnya Xela ingin bertanya bagaimana nasib Alika sehingga membuatnya terpuruk, tetapi ia mengurungkan niatnya takut mengungkitnya sehingga menyakiti Al apalagi setelah melihat Alfarel membanting setir
“Kak Al maaf.” Xela menundukkan kepalanya. Al menghela nafas kasar kemudian menyadarkan Kepala Xela dibahunya lagi sembari membelai rambut panjangnya yang di gerai.
“Aku minta maaf kak. Dulu aku salah paham karena ingat omongan Landry.” Xela menyesali kejadian yang sudah berlalu.
“Sudahlah jangan mengingat laki-laki brengsek itu lagi. Pokoknya saya tidak mau kamu dekat dengan Landry lagi.” Alfarel mengingatkannya bahkan berulang kali. Xela mengangguk menuruti saja tanpa tahu apa penyebabnya.
"Meskipun aku serasa menjadi adik pengganti tapi aku tetap senang. Belum ada satupun orang didalam hidupku yang pernah hadir seperti kak Al bermaksud melindungi. Semoga hubungan ini selalu bertahan dan aku berharap kak Al menjadi takdir ku sampai menua.” Batin Xela sambil memeluk Alfarel.
Sekarang mobil mereka telah memasuki hutan lebat melaju di ketinggian. Pemandangan alam yang sangat indah dengan pohon lebat membuat Xela sangat antusias. Ia kembali ke tempat duduknya menikmati pemandangan lewat jendela.
“Kak Al tahu, pemandangan alam dengan pohon yang sangat lebat membuat hati menjadi damai. Kita akan merasakan seperti di kirim ke tanah surga.” Ucap Xela, senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
Alfarel juga menikmati pemandangan alam di tengah hutan sambil mengemudi, ia merasakan hal yang sama yaitu merasa damai.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di lokasi, Xela melihat tiga mobil berhenti di area luas kemudian lima orang sudah keluar dari masing-masing mobil yang di tumpanginya. Sekarang giliran mereka berdua yang baru saja tiba.
Saat Xela keluar ia di kejutkan dengan seorang perempuan yang langsung memeluk Alfarel.
“Alfarel, akhirnya aku bisa camping bareng kamu.” Ya perempuan itu adalah Cika yang ia lupakan, perempuan yang memanggil Alfarel ketika mereka di perjalanan tadi. Xela menahan rasa cemburunya hanya memasang muka masam. Dan ternyata selain itu Ghea berdiri tidak jauh darinya, Ghea memandangnya penuh dengan kebencian begitu juga dengan Xela.
“Cika, lo apa-apaan.” Alfarel melepas pelukan Cika lalu ia segera menghampiri Xela.
“Al aku kangen. Apa salahnya.” Cika menahan dongkol melihat Al mengabaikannya untuk menghampiri Xela, ia segera menyusul.
“Lo!” Cika amat terkejut ketika ia berdiri di hadapan Xela dan Alfarel. Al langsung menunjukkan kemesraannya mencium kening Xela di depan mata Cika.
“Al kenapa lo sama cewek ini, dia kampungan tapi lo malah milih dia dari pada gue.” Cika marah tidak terima kekalahan sampai menggunakan kata “Lo" dan “Gue”, Cika tidak segan melayangkan tangannya untuk memukul Xela, beruntung Rico datang di waktu yang tepat menariknya mundur ke belakang.
"Kenapa Ada Ghea disini. Kenapa kak Al nggak bilang kalau ada pengkhianat ini.” kata Xela dalam hati, ia mengingat kejadian dimana ia di jebak oleh Ghea yang pernah menjadi sahabatnya dulu, sahabat palsu.
“Kak Al Kenapa nggak bilang siapa aja yang ikut camping. Kalau aku tahu lebih baik kita jangan ikut.” Xela menatap Alfarel dengan marah, tetapi lelaki itu tetap tenang malah merangkulnya sehingga jarak mereka lebih dekat. Alfarel menunjukkan kemesraannya, bukankah seharusnya Xela senang ia di perlakuan demikian membuktikan dirinya di anggap.
“Jangan marah sayang. Mereka tidak akan merebut milikmu dan tidak akan melukaimu selama ada saya.” Xela akhirnya melingkar kedua tangannya di tubuh Al seakan di sana merupakan benteng perlindungan baginya dan berusaha melupakan tentang Ghea di masa lalunya.
“Al, hargai gue. Jangan pamer kemesraan sebelum cewe gue dateng.” Ario menegur sahabatnya.
__ADS_1
“Gue pengen kasi tahu lo semua. Jangan pernah ganggu cewek gue, baik lo Ario, ataupun Rico atau juga dua cewek itu. Tugas Rey dan Rico jaga cewe lu masing-masing.” Ucap Al dengan dingin lalu menatap Cika dan Ghea dengan tajam, ia harus menjaga Xela agar tidak dilukai oleh dua perempuan itu karena Ghea pernah menjebak Xela dam menginginkannya, juga Cika yang menyukainya sejak lama.