POSSESIF XELALFAREL

POSSESIF XELALFAREL
Jangan Pergi!


__ADS_3

"Potong tangannya!" titah Alfarel kepada anak buahnya sedangkan wanita yang menjadi target sedang terikat oleh tali di atas kursi. Ruangan ini begitu pengap sehingga aroma gudang pun menggambarkannya.


Alfarel benar-benar pergi mencari dan menemui orang-orang yang terlibat menyiksa Xela, termasuk perempuan yang terikat tali itu.


"Ampun tuan jangan lakukan itu. Aku benar-benar minta maaf, tuan boleh meminta apapun dariku asal jangan memotong tanganku. aku masih bisa bekerja untuk tuan jika berkenan!" perempuan itu mencoba bernegosiasi dengan Alfarel. Alfarel tidak sedikitpun melirik perempuan itu, suara permohonan itu di abaikan sejak awal.


"Tunggu apa lagi, cepat lakukan!" Alfarel berteriak, kini dia bukanlah Alfarel yang dulu lagi, sifatnya berkali lipat lebih dingin bahkan sudah kejam berani bermain nyawa.


"Tuan tolong dengarkan aku. aku menyesal melakukannya, aku akan meminta maaf kepada nyonya Xela." katanya lagi ketika benda tajam tinggal beberapa centi dari permukaan kulitnya.


"Percuma, kata-kata permohonanmu terabaikan, beginilah rasanya ketika kau mengabaikan teriakan wanitaku yang menderita di tanganmu. sekarang giliranmu yang menderita!" Alfarel tersenyum melihat pemandangan mengerikan, kedua tangan wanita itu di potong, siapa suruh ia dulu menjadi pelayan yang menyiksa Xela.


Wanita itu tidak bisa menahan sakitnya kehilangan dua tangan, selepas ia berteriak lalu pingsan, darahnya sudah mengalir dengan deras mungkin saja ia akan mati dan Alfarel mengabaikannya tanpa rasa bersalah.


"Sekarang dendamku sebagian kecil sudah terbalas. Kalian bersiaplah, temani aku ke klub. Aku butuh hiburan sejenak merayakan kemenangan satu ini." ucap Alfarel masih tersenyum puas memandang wanita yang telah kehilangan kedua tangannya, ia telah menjadi manusia yang tak berperasaan demi wanita tercintanya.


🍁🍁🍁


Alfarel melangkah dengan hati-hati ketika tiba di kediaman utamanya, lebih-lebih saat memasuki kamar Xela. Ia ingin melihat keadaan gadisnya dan membayangkan gadisnya sedang tidur pulas, tidak dalam keadaan tertekan. Dengan hati-hati ia menghentakkan pantofel nya hampir tak berbunyi, membuka pintu kamar Xela dan yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah matanya berhasil menyusuri seluruh ruangan dimana Xela ditinggalkan, bukannya melihat Xela tertidur pulas, malah gadis itu rupanya sudah siap menunggu kedatangannya, helaan nafas berat pun harus ia terima.


"Kak Al kemana saja, kenapa kau jahat meninggalkan ku dengan mereka, beruntung mereka tidak menyiksaku karena aku terus berhati-hati dan menjaga jarak." Xela melayangkan pandangannya kepada beberapa pelayan dan anak buah Alfarel yang ada di kamar itu, mereka tampak pucat dan menunduk ketakutan melihat Al telah kembali.

__ADS_1


Tidak mau mempertimbangkan kinerja anak buahnya terlalu cepat, Alfarel memberi isyarat agar puluhan orang itu meninggalkan mereka berdua saja disana. Senyuman merekah Xela diiringi air matanya yang entah dari sejak kapan menetes sampai kini wajahnya kelihatan bengkak sangat menampar Alfarel secara tidak langsung.


"Akhirnya kak Al mengusir mereka. Jangan meninggalkan ku lagi, aku tidak mau dikendalikan oleh mereka." Xela memeluk Al yang mematung saja masih di depan pintu.


"Saya sudah kembali, sekarang kamu istirahat." setelah menghela nafas untuk ke sekian kalinya, Alfarel membalas pelukan Xela, mengelus rambut gadisnya dengan penuh kasih sayang.


"Tidak mau. kak Al harus disini." Pintanya tanpa melepas pelukan. Ia takut di tinggalkan lagi oleh Al.


Alfarel tahu Xela tidak akan bergerak selain memeluk dirinya seperti anggrek yang menempel pada inangnya, Ia pun menggendong gadisnya menuju kasur king size yang masih rapi, Alfarel menduga pasti Xela sama sekali tidak merebahkan tubuhnya disini.


"Aku tidak akan melepaskan kak Al. Jangan pergi!" Xela berbicara dengan nada yang melemah, mungkin ia kelelahan, matanya sudah sangat bengkak.


"Tidak lagi." balas Al singkat. Ia membaringkan Xela di kasur tetapi Xela nampaknya cerewet tidak mau berbaring di bantal akan tetapi memilih pangkuan Alfarel. Dengan begini Alfarel tidak akan pergi sesukanya lagi.


"Tidurlah, tadi kamu tidak tidur!" Alfarel merelakan pangkuannya untuk gadis lemah yang terus memanggil namanya.


"Aku menunggu kak Al. Tadi kak Al kemana? apakah meninggalkanku lagi seperti kemarin? Apakah kak Al ingin melihatku tersiksa lagi? katakan alasannya sekarang agar aku membuat keputusan. Asal kak Al pergi dengan bahagia aku akan mengakhiri penderitaanku dan tidak mencari mu."


ucapan yang sangat lirih, seakan Xela berada di posisi normal membuat Alfarel tersentuh. Apa maksud perkataan itu?


"Kenapa berkata seperti itu, apa maksudnya?" Alfarel berharap Xela menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Katakanlah kak Al tidak akan meninggalkanku." Kata Xela sembari tersenyum dengan wajah bengkaknya samar-samar terlihat pucat.


"Tidak sayang." Alfarel mengecup keningnya sesegera mungkin meyakinkan gadisnya bahwa ia bisa di percaya.


"Benarkah? Setelah aku bangun kalau kak Al tidak ada di sini berarti aku tidak akan mencarimu dan kak Al jangan mencariku." Sekali lagi Xela tersenyum dengan nada lirih.


Alfarel merasakan ucapan yang begitu dalam sekaligus memegang perkataan Xela sebagai ancaman.


'CUP'


Alfarel sangat merindukan Xela, sudah lama mereka dipisahkan oleh musuh, sudah lama pula mereka tidak tertawa bersama. Lewat ciuman hangat dari bibir mereka yang menyatu saling mengungkapkan kerinduan.


"Saya tidak meninggalkan mu Xela. Saya harus membalas perbuatan mereka yang telah membuatmu menderita selama terpisah dari saya." Batin Alfarel. Ciuman itu terus berlanjut sampai Alfarel tidak menyadari, tidak ada balasan lum*tan dari Xela. Ia memeluk gadisnya dalam pangkuannya dengan posesif, tidak menyisakan jeda dalam mengeksplor wajah, bibir bahkan leher jenjang Xela. Menyisakan kismark disana. Terakhir, beberapa detik menandai leher jenjang Xela barulah ia sadar gadisnya tidak bereaksi.


Beruntung. Mungkin. Xela tertidur karena kelelahan, membuat Alfarel kembali meletakan kepala gadisnya di atas pangkuannya lalu merapikan rambut Xela yang berantakan selain itu mengambil tisu basah dan mengelap wajah Xela yang tadinya dibasahi oleh air mata.


"Kau kelelahan menunggu. Maafkan saya!" Sekali lagi Alfarel ******* bibir gadisnya yang sedang terlelap dengan penuh penuh perasaan tangannya pun tidak berhenti mengelus rambut panjang nan cantik itu.


🍁🍁🍁


"Aku tidak kalah. Tidak akan dan tidak pernah, sampai jumpa di lain hari Alfarel, tunggu aku menjadikanmu mayat maka tidak akan ada sainganku, hahahaha!"

__ADS_1


Sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan medis dan beberapa dokter dan perawat sedang mengobati luka bakar yang parah pada tubuh seorang lelaki yang kekar, siapa lagi lelaki itu kalau bukan Marco. Dialah yang berhasil kabur dari kastil yang di ledakan dan ternyata ledakan tersebut tidak membuatnya koma. Sungguh ia sangat kuat, kulit luarnya saja yang terluka tidak ada organ dalam pun yang terpengaruh, oleh sebab itulah senyumannya bukan hiburan semata baginya tetapi kemenangan oleh kekebalan tubuhnya.


Bagaimana Alfarel melawannya nanti, apakah persaingan mereka hanya untuk merebutkan Xela saja? atau hanya keserakahan Marco semata untuk menghancurkan musuhnya?


__ADS_2