
Alfarel tersenyum puas lalu menjawab pertanyaan adiknya dengan senang hati.
"Enak ya? kakak mu ini sudah memasak dengan susah payah. Apakah kamu menyukainya, harus ya!? kamu habiskan supnya dan kakak tunggu disini."
Landry tidak bisa berkutik karena mengira Al sudah memasaknya dengan susah payah, mungkin supnya asam karena kelebihan asam jawa. Akhirnya Landry memakan semuanya, meskipun asam, ia berusaha menahan ekspresinya agar Alfarel senang untuk menghargai usaha tulus kakaknya.
"Rasain lo Lan, selamat mengawali hari-harimu dengan bolak-balik ke toilet. Siapa suruh datang-datang udah minta perhatian Xela. Xela hanya boleh kalau di suruh gue, gak ada orang lainpun yang boleh suruh dia atau di perhatiin sama dia." batin Al sembari memandangi Landry yang makan dan berusaha tersenyum.
Xela kesal ketika ia sangat bersemangat memasak untuk Landry yang baru saja datang, diusir begitu saja dari dapur. Terpaksa ia harus pergi dari sana dan mencari pekerjaan lain, ia berjalan ke belakang menuju kolam renang, siapa tahu ada gelas Al yang tertinggal disana, Al memang begitu kebiasaan meninggalkan sesuatu ditempat yang salah.
Xela tidak menyangka disana ia bertemu Mira. Mira menatapnya dengan sinis lalu menghampirinya dengan gaya yang sombong, kedua tangannya dilipatkan didada, lalu berdiri di hadapan Xela melihat penampilan gadis itu.
"Tidak ada yang istimewa, memang cocok jadi pembanti sih." ucap Mira sambil mengelilingi Xela, Xela diam saja, ia tahu Mira mengkritik penampilannya, memang penampilannya tidak begitu ia perhatikan, ia tampil seadanya dengan kaos biasa, karena tujuannya disini untuk bekerja bukan menghadiri orang penting. Lagipula ia masih SMA, masih banyak yang ia pikirkan dan bukan hanya masalah penampilan.
"Sejak kapan lo bekerja disini?"
"Belum begitu lama."
"Oh, sayang sekali sebentar lagi lo out dari sini. Gue udah denger kok yang Al ceritain. Lo kerjanya nggak becus, gue baru percaya setelah gue lihat sendiri." kata Mira sinis.
"Maaf." Xela sangat terluka, padahal selama ini apa yang kurang, ia sudah berusaha bekerja dengan baik. Tapi ia berpikir harus keluar dari tempat ini, Ia tidak mau lama-lama disini. Kemarin saat ia mau pergi, kenapa Al melarangnya?
"Maaf? gue gak akan maafin lo. Tapi gue pengen lo segera keluar dari rumah ini baru gue tenang dan mau maafin lo."
__ADS_1
Mira merasa Xela adalah saingannya, mungkin kalau ia lama-lama disini, hubungan Alfarel dengannya akan kacau. Ia tidak mau Alfarel dekat-dekat dengan Xela.
Xela terluka, karena ia tidak ingin terus dilukai Mira dengan kata-kata, ia memilih pergi namun tidak berhasil, Mira menyuruhnya kembali.
"Mau kemana lo, sini lo denger gue dulu."
Xela terpaksa harus kembali kepada perempuan itu, ia tidak tahu apa yang akan perempuan itu bicarakan yang jelas Xela sangat malas.
"Andai dia tahu aku tidak ingin cari masalah dengannya. Aku jadi ingin pergi secepatnya dari rumah ini." batin Xela melangkah terpaksa.
"Lo disini asistennya Alfarel, kan?"
"Iya."
"Gue pacar Al, karna itu lo juga harus nurutin kemauan gue." ucapnya dengan sombong sambil mendorong Xela sampai gadis itu tidak bisa menahan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh ke dalam kolam.
Mira tertawa kecil melihat kemalangan Xela. "Oh maaf ya, nggak sengaja." katanya.
Xela yang bisa berenang akhirnya bisa mencapai tepian, tetapi perempuan jahat itu tidak senang, ia merasa geram melihat Xela tidak berhasil tenggelam lalu dengan jahatnya Mira menekan kepala Xela kembali agar gadis itu tenggelam.
"Lo ga bisa tenggelam, sini gue bantu biar sukses." Sambil terus menerus menekan kepala Xela. Xela hampir kehabisan nafas, ini saatnya ia berjuang melawan Mira, kepalanya telah ditekan ke dalam air bersama rambutnya dalam genggaman Mira sehingga sulit untuk Xela lepas dan berenang ke arah lain, satu-satunya cara adalah menarik tangan perempuan itu agar ikut tenggelam juga.
Perempuan itu berteriak ketika ia juga mendapati dirinya tercebur ke kolam karena di tarik oleh Xela. Mira ternyata tidak bisa berenang, Xela yang sudah dari tadi menahan nafas kini berbalik ke tepi, tidak dengan Mira yang hampir tenggelam ditengah kolam. Xela dikejutkan oleh sosok Al yang nyebur ke kolam dan menyelamatkan Mira sementara itu sepasang tangan memberikan handuk kepada Xela, itu Landry.
__ADS_1
Alfarel yang membawa tubuh Mira ke tepi kolam dengan bersusah payah terlihat panik, Xela melihat semua itu. Al memgangkat tubuh Mira dengan hati-hati lalu membelai dengan lembut kedua pipi wanita yang menyebabkan masalah, akhirnya dia pingsan sendiri disana.
"Mir sadar Mir." Alfarel menepuk pipi Mira bahkan beberapa kali menekan dada perempuan itu, karena tak membuahkan hasil, Alfarel beralih menatap Xela yang sedang mengumpulkan nafas lalu memarahinya.
"Apa yang kamu lakukan pada Mira, hah? Aku menyuruhmu untuk mencari pekerjaan lain bukan berarti pekerjaanmu melukai orang lain." Al terlihat sangat murka.
"Maaf tapi bukan aku ..." Jawaban Xela di potong.
"Bukan aku katamu? Jelas aku sudah melihat kamu berenang ke tepian dan membiarkan Mira tenggelam ditengah. Jangan menggunakan alasan bahwa kamu juga basah kuyup. Mira tidak mungkin berada di tengah sana kalau bukan kamu yang mendorongnya, lalu kamu nyebur juga ke kolam untuk menghilangkan jejak kejahatanmu, begitu kan?" Alfarel sangat marah.
"Bang dengar dulu penjelasan Xela." Landry turut ikut campur karena ia merasa Xela tidak salah.
"Jangan ikut campur Landry!" Al kemudian beralih menatap Xela.
"Aku tidak salah, dia yang mendorongku." kata Xela terus terang mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak mungkin." jawab Al tegas, padahal ia tidak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa dan siapa yang duluan memulai.
Xela tidak bisa menjelaskan lagi, meskipun ia benar ia tetap di anggap salah, begitulah orang yang benar selalu dikalahkan oleh yang tidak benar, orang baik selalu dikalahkan orang jahat. Tetapi nanti, tunggu kejahatan terdeteksi maka yang baik akan menang dan yang salah paham akan sadar, itulah yang ada didalam pikiran Xela.
Gadis yang boleh dikatakan mengagumi majikannya dalam diam hanya menahan hati yang sakit melihat Alfarel memberi nafas buatan kepada Mira yang habis tenggelam, lihatlah Xela mulut mereka bertemu pemandangan yang membuatmu cemburu.
"Aku lihat kamu begitu mencintainya. Kamu memarahiku karena mengira tenggelamnya dia akulah penyebabnya. Padahal dia yang duluan mendorongku kemudian menekan kepalaku didalam air sampai aku hampir tak bisa bernapas. Terpaksa aku menarik tangannya supaya dia terjatuh dan akupun terbebas, tapi memang benar ini juga salahku. Aku yang membuatnya tenggelam, tetapi dia penyebabnya." batin Xela berseru oleh rasa cemburu melihat pemandangan didepan, sampai akhirnya Xela lega setelah Mira terbatuk.
__ADS_1