
"Cucuku tersayang...
Ketika kamu membaca surat ini, itu berarti nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini, maafkan nenek karena tidak memberi tahukan mengenai penyakit nenek...
Tapi percayalah Nak... nenek sangat menyayangi kamu...
itu ada gelang peninggalan leluhur nenek, tolong kamu pakai, mudah-mudahan dapat berguna buat kamu Nak...
Dan maafkan nenek karena sudah menikahkan kamu dengan nak Reza, tapi asal kamu tahu Nak.... Reza itu pria yang sangat baik dan sangat sayang dengan kamu, Reza adalah pria yang rela mendonorkan darahnya saat tidak ada orang lain yang bisa mendonorkan darah buat kamu, jadi tolong kamu hargai hubungan kalian...
Jangan terlalu bersedih atas kepergian nenek... teruslah belajar dan hiduplah bahagia Nak...
Jika kelak ayah kamu ingin menikah lagi, tolong restui Dia, karena nenek tahu, jika AYah kamu sudah terlalu lama kesepian, dan Bilang sama Ayah kamu, " Jangan terlalu menyalahkan dirinya atas kepergian nenek... Nenek sudah bahagia di sini...
Dari
Nenek yang selalu mencintai dan menyayangimu...
-
-
Ayu membaca surat dari sang nenek dengan bercucuran air mata sambil terus memeluk box kayu pemberian ibu Siti.
Ayu melihat gelang leluhur dari neneknya,
"Ini sangat cantik...!". Gumam Ayu sambil menggenggam benda itu.
Reza yang baru datang dan memasuki rumah, hanya bisa terdiam beberapa saat karena melihat istrinya kecilnya menunduk dan meneteskan air mata. Reza belum tahu, kenapa sang istri menangis?.
"Sayang... kamu kenapa?". Tanya Reza duduk di samping Ayu sambil merangkul bahu istrinya.
Ayu tidak menjawab pertanyaan Reza, Dia hanya menyandarkan kepalanya pada dada Reza untuk mencari ketenangan.
Reza melihat box yang ada di pangkuan Ayu, dan sekilas melirik kertas yang ada di dalam box itu. Reza memberanikan diri untuk mengambil kertas itu.
"Sayang... kamu jangan terlalu sedih... kan ada Mas di sini!". Reza berusaha menghibur Ayu, setelah faham kenapa istrinya sampai sedih seperti saat ini.
"Sayang... ayo kita siap-siap, sebentar lagi pak Supri akan datang menjemput kita!". Reza mencoba mengajak istrinya untuk bersiap-siap, setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, Dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul Sebelas lewat Lima belas.
__ADS_1
Sementara Reza harus boarding sebelum jam Empat Belas, dan Reza tahu, jika siang begini jalanan menuju Bandara Sultan Hasanuddin sangat macet.
Mendengar ucapan Reza, membuat Ayu baru tersadar jika siang ini dirinya dan Reza akan kembali ke Jakarta.
Ayu buruh-buruh menghapus air matanya.
"Mas... Aku siap-siap dulu ya... maaf sudah merepotkan!!!". Ucap Ayu merasa bersalah kepada Reza.
Ayu mengira, jika gara-gara dirinya yang terlalu lama dengan benda peninggalan sang nenek, hingga membuat Reza buru-buru, di tambah lagi Reza harus menenangkan Ayu yang terlihat sangat sedih.
"Sudah Mas!".
Ucap Ayu menghampiri Reza yang sibuk dengan handphone di tangannya.
Kini Ayu sudah selesai membereskan pakaian yang ingin di bawah karena memang Ayu hanya membawah sebuah koper kecil.
"Oh ... Ayo... Ayah ada di mana?". Tanya Reza karena dari tadi Dia tidak melihat Ichal.
"Tadi Sih....Ayah bilang mau ke bawah kolom rumah!". Jawab Ayu melihat suaminya yang berdiri dan melihat ke arah dapur.
"Mas... Pakaian Mas Reza tidak mau di bawah semua?". Tanya Ayu bingung setelah melihat pakaian Reza belum di kasih masuk semua ke dalam koper.
"Tolong di masukin semua ya sayang... Mas mau cari ayah dulu!". ucap Reza berbalik sebentar melihat Ayu, kemudian keluar kamar.
"Mas... eh... Ayah ... kami sudah mau berangkat ke bandara, sebentar lagi pak Supri akan jemput!". Ucap Reza sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Reza hanya bingung dan belum terbiasa memanggil sahabatnya dengan panggilan Ayah.
"kenapa kamu salah tingkah Za?, santai saja... walaupun kamu sudah menjadi menantu saya, kita akan tetap menjadi sahabat seperti dulu, bahkan hubungan kita harus semakin akrab sekarang!". Ichal menghampiri Reza yang bertingkah aneh siang hari ini.
Ichal berjalan menaiki tangga sambil merangkul Reza, sahabat sekaligus menantunya.
Mendengar Ayah dan suaminya bercanda, Ayu keluar dari kamar sambil menarik koper Reza dan juga koper kecilnya.
"Ayo duduk sini dulu Nak...!". Ajak Ichal setelah melihat Ayu keluar dari kamarnya.
"Iya Yah...!". Ayu menghampiri Ichal setelah Reza mengambil koper yang di bawah oleh istrinya itu.
"Nak... kamu harus dengar apa kata suami kamu... jadilah istri yang penurut...Dan Untuk nak Reza... tolong jaga putri saya dengan baik, tuntun Dia dengan sabar, belajarlah saling memahami satu sama lain!". Ichal memberikan nasehat kepada Ayu dan Reza dengan mata berkaca-kaca.
Walaupun Ichal gagal dalam membina sebuah hubungan dengan Ibu Ayu, tapi Ichal berharap anaknya bisa hidup menua bersama pasangannya sampai ajal memisahkan mereka berdua.
__ADS_1
"Iya ayah... Reza janji akan menjaga dan menyayangi Ayu dengan sepenuh hati!". Jawab Reza. Sementara Ayu hanya Diam saja, Ayu tidak tahu apa yang harus dia jawab..
Ayu merasa pernikahan yang dia lakukan beberapa hari yang lalu di rumah sakit, seperti hanya sebuah mimpi, karena setelah pernikahan itu, Ayu dan Reza hanya bertingkah biasa-biasa saja, yang membedakan hanya, setiap tidur ada Reza yang menemani Ayu tidur di dalam kamar, walaupun Reza hanya tidur dilantai dan Ayu tidur di atas ranjang.
Dan pikiran Ayu, Dia selalu beranggapan jika Reza hanya menganggap dirinya sebagai adik dan pernikahan yang mereka langsungkan di depan nenek, hanya untuk memenuhi keinginan terakhir nenek.
Ayu tidak pernah berpikir, jika Reza benar-benar mencintai dan menganggap hubungan mereka serius.
"Mas Reza... maaf terlambat...!". Pak Supri menghampiri Reza dan Ichal.
"Iya Pak... tidak apa-apa!". Jawab Reza
"Ayah tidak ikut ke Bandara?". Tanya Ayu dan Reza bersamaan.
"Ayah ikut Nak... biar ayah bisa menemani pak Supri nanti saat dia pulang!". Jawab Ichal berusaha tersenyum.
Sebenarnya Ichal ingin ikut ke bandara agar masih bisa berlama-lama melihat dan berbincang-bincang dengan Putrinya.
Jika boleh jujur, Ichal masih sangat merindukan putri kecilnya itu, Tapi sebagai seorang ayah, kewajibannya sudah selesai dengan Ayu, sekarang Ichal hanya bisa mendoakan dan memercayakan Ayu kepada Reza sebagai suaminya.
Sepanjang perjalanan Ichal terus bercerita kepada Ayu, tentang kisah sang nenek dan kakeknya yang menikah karena di jodohkan oleh mendiang kakek Ichal, tapi walaupun Ibu Siti di jodohkan dengan Ayahnya, Ibu Siti hidup bahagia dan melahirkan dua putra yaitu Ichal dan Om Abdu, sampai ajal yang memisahkan mereka sang nenek tidak pernah terlihat bertengkar dengan sang kakek.
Besar harapan Ichal, agar kelak putrinya juga bisa menjalani pernikahan yang bahagia bersama Reza.
Reza yang mendengarkan cerita Ichal, sesekali melihat kebelakang dan ikut menyahut, jika Ichal bertanya.
Ya... saat ini Reza duduk di samping Pak Supri, Reza sengaja membiarkan Ichal duduk di berdua dengan Ayu di kursih tengah, agar Ichal bisa leluasa bersama Putrinya.
"Oh ya... Ayah kapan kembali ke Papua?". Tanya Ayu tiba-tiba memotong pembicaraan Ichal, karena sejak nenek Ayu meninggal, Ichal belum pernah menyinggung soal kepulangan Dirinya ke tempat kerja.
"eh....mungkin ayah tinggal-tinggal dulu nak di kampung, karena sekarang kan Om kamu juga sudah pergi ke Kalimantan kerja, jadi Ayah ingin tinggal mengurus sawah dan ladang peninggalan nenek kamu!". Jawab Ichal sambil tersenyum menjelaskan rencananya kepada Ayu.
Ayu hanya bisa membalasnya senyuman Ichal dengan menganggukkan kepala, walaupun Ayu tidak yakin, jika ayahnya bisa bertahan di kampung, karena seingat Ayu, Ayahnya itu tidak pernah bisa tinggal lama-lama di kampung, dengan berbagai alasan.
"Kalau begitu... sebaiknya ayah kerja saja di perusahaan bersama pak Supri, kan lumayan dari pada ayah hanya tinggal di rumah sendirian jika belum waktunya untuk kerja sawah!". Reza mengutarakan pendapatnya, berharap agar Sang mentua bisa punya pekerjaan tetap di kampung.
"Terimah kasih Nak... tapi beneran tidak usah, Ayah hanya ingin tinggal dan mengurus peninggalan nenek kamu dengan baik!". Dengan lembut Ichal menolak tawaran Reza.
*** BERSAMBUNG ***
__ADS_1