Pria Misterius Menggelisahkan

Pria Misterius Menggelisahkan
Tidur Dalam Dekapan Ayah


__ADS_3

Ichal bangkit dari tempat duduknya, setelah mendengar suster menyebut nama nenek Ayu.


"Iya Suster... saya anaknya!".


"Itu pak... ibu anda tiba-tiba drop lagi...!". Ucap suster memberi tahukan kondisi nenek Ayu saat ini.


"Ko bisa Suster, Bukankah ibu saya tadi sudah baik-baik saja?". Tanya Ichal merasa tidak percaya dengan apa yang suster sampaikan padanya.


"Maaf Pak... untuk sementara hanya itu yang bisa kami sampaikan, dan sekarang ibu anda sedang di tangani oleh dokter!". suster itu mencoba menjelaskan sebelum meninggalkan Ichal.


"Apakah saya boleh melihat kondisi ibu saya suster?". tanya Ichal setelah melihat suster yang memberi informasi ingin masuk keruangan.


"Untuk saat ini, belum bisa Pak, karena dokter sedang memantau kondisi ibu anda, nanti kalau ada perkembangan, akan saya infokan kembali!". jawab suster cantik itu sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan ICU dan menutup pintu.


Setelah mendengar informasi tentang kondisi nenek Ayu, Ichal kembali duduk. Saat ini Ichal tidak tau harus berbuat apa?, kondisi ibunya semakin memburuk, adik kandung tidak ada di kampung, ditambah Dia belum mendapatkan cara untuk memenuhi keinginan ibunya.


Rasanya Ichal ingin berteriak dengan sekencang-kencangnya, tapi Ichal masih waras, Dia masih ingat kalau sekarang dia sedang berada di rumah sakit.


Setelah merasa tenang sedikit, Ichal berjalan meninggalkan ruangan ICU, Dia menuju kamar pasien, dimana putri nya sedang tidur saat ini.


Ichal masuk karena memang pintu ruangan perawatan tidak terkunci.


"Ayah... mau tidur disini juga?". tanya Ayu setelah senang setelah melihat ayahnya masuk.


"Tidak nak... ayah ingin melihat kamu saja!". jawab ayah dengan suara terdengar seperti ada beban berat di dalam dirinya.


Ayu memperbaiki posisi duduknya, Dia ingin memperhatikan wajah ayahnya. Ayu penasaran kenapa suara ayahnya terdengar sangat sedih.


Ichal mendekati Ayu dan duduk diatas karpet bersama anaknya.


"Apa ayah ingin mengatakan sesuatu kepada Nur?". tanya Ayu penasaran


"Maafkan Ayah nak... ayah belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu!". ucap Ichal dengan penuh penyesalan.


Ichal melihat wajah putrinya dalam, dalam hati Ichal sebagai ayah, Dia sadar betul kalau dirinya belum bisa menjadi ayah yang di impikan oleh anak perempuan.


Ichal sebagai ayah hanya bisa meninggalkan anaknya dalam pengasuhan ibunya. Ichal gagal menjadi ayah, suami dan anak.


"Ayah tidak salah apa-apa, dan asal ayah tau... Nur sangat bangga memiliki ayah, seperti ayah!". Ucap Ayu memeluk lengan Ichal yang duduk di tepat disampingnya.


Ayu tak kuasa menahan air matanya. Ayu tahu ayah pasti menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang menimpah neneknya saat ini.


"Tapi nak... gara-gara... kondisi ayah, kamu tidak mengenal ibu kandung kamu!". ucap Ichal terbata karena dadanya terasa sangat sesak.

__ADS_1


"Itu bukan salah ayah... ini semua mungkin sudah takdir Nur ayah... dan asal ayah tau, Nur tidak pernah menyalahkan ayah atas kondisi kita saat ini!". Ayu berbicara dengan serius agar ayahnya berhenti menyalahkan dirinya.


"Nur... barusan Suster memberi tahukan ayah... kalau kondisi nenek kamu kembali drop lagi!". ucap Ichal berusaha memberi tahu Ayu tentang kondisi neneknya.


"Ko bisa ayah... bukankah nenek sudah baik-baik saja tadi sore?". tanya Ayu tidak percaya dengan apa yang Ayahnya sampaikan.


"Ayah juga tidak tau nak... karena suster masih melarang ayah untuk melihat nenek!".


Mendengar Ayahnya menyampaikan kabar buruk tentang kondisi neneknya, Ayu bangkit dari duduknya. Ayu keluar dari ruangan tempat dia tidur.


Ichal yang melihat anaknya membuka pintu, Dia juga keluar untuk memastikan, apa yang akan putrinya lakukan.


Dari belakang Ichal terus mengikuti Ayu yang berjalan di lorong rumah sakit dengan bahu bergetar. Ichal tahu kalau anaknya sedang menangis, tapi dia membiarkan Ayu meluapkan semua emosinya melalui air mata.


Ichal berharap, mudah-mudahan setelah Ayu menangis, perasaan nya akan segera membaik.


Ayu berjalan menuju ruang ICU tempat nenek nya di rawat. Ayu ingin memastikan sendiri kondisi ibunya.


Sementara Ichal yang melihat Ayu yang mondar-mandir di depan pintu ruangan neneknya, sedikit merasa lega karena Ayu tidak pergi kemana-mana.


Bagaimana pun, waktu Makassar sekarang sudah menunjukkan pukul dua lewat lima puluh lima menit, sudah hampir subuh.


"Ayo kita duduk dulu di kursi... tunggu sampai Dokter selesai memeriksa nenek, baru kamu masuk melihat nak...!". ajak Ichal kepada putrinya.


Saat sedang duduk bersama Ichal di kursi depan ICU, tiba-tiba Ayu merasa sangat mengantuk, karena memang dari tadi Dia tidak bisa tidur di dalam ruangan perawatan neneknya sendiri.


Ichal yang melihat putrinya sedang mengantuk, masih tetap menyandarkan kepala Ayu di pundaknya sambil sesekali tangannya menepuk-nepuk pundak putrinya.


Ayu yang merasakan nyaman dan aman dengan perlakuan ayahnya, langsung memejamkan mata.


"Mudah-mudahan setelah Aku bangun, semuanya akan membaik!". Ayu berdoa dalam hatinya, setelah memejamkan kedua matanya.


Ayu sangat berharap, kenyaman yang Dia rasakan saat ini, tidak cepat berlalu. Sudah sangat lama rasanya Ayu tidak merasakan tidur dalam dekapan ayahnya.


Bahkan Ayu sudah lupa kapan terakhir ayahnya mengelus-elus bahunya, seperti saat ini.


***


Pak Supri sudah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin untuk menjemput Bosnya.


Syukur nya jalanan ibu kota sangat lenggang jika dini hari, jadi Pak Supri sampai dengan tepat waktu tanpa menghadapi yang namanya kemacetan.


Reza keluar dari Bandara dan melihat pak Supri datang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Selamat datang kembali Mas...!". Ucap Pak Supri basa-basi kepada Reza.


"Iya pak... terimakasih kasih sudah datang menjemput saya!". jawab Reza sambil berjalan bersama Pak Supri dengan menenteng sebuah koper kecil.


Sebenarnya tadi Pak Supri ingin membawakan koper Reza, akan tetapi Reza menolak, dengan alasan tidak berat.


Reza masuk ke dalam mobil setelah menyimpan kopernya di dalam mobil.


"Mas Reza mau langsung ke rumah sakit atau mau kemana dulu ini?". tanya Pak Supri, karena dari naik mobil Reza tidak berbicara apapun kepada dirinya.


"Kita langsung ke rumah sakit saja Pak...!". jawab Reza dengan nada sedikit penekanan.


Pak Supri yang mendengar, hanya menganggukkan kepala. pak Supri tidak tau kalau saat ini kondisi Nenek Ayu kembali drop, karena setahu Dia, tadi sore sebelum pak supri pulang ke rumah, nenek Ayu sudah lebih baik dan rencana akan di pindahkan pagi ini ke ruangan perawatan.


Setelah hampir dua jam perjalanan dari Bandara, kini sampai lah mobil yang membawa Reza di depan rumah sakit.


"Pak... koper saya... taroh saja di mobil, Ayo kita masuk lihat keadaan mas Ichal sama Ayu dulu!". Ucap Reza setelah turun dari mobil dan melihat pak Supri ingin mengeluarkan kopernya.


Reza ingin masuk memastikan keadaan Ayu, karena setelah Reza mendapatkan kabar dari salah satu dokter di rumah Sakit tempat nenek Ayu di rawat, yang memberi tahukan, kalau nenek Ayu tiba-tiba drop, pikiran Reza tidak tenang.


Reza berjalan bersama pak Supri memasuki rumah sakit menuju ruang ICU tempat nenek Ayu di rawat.


Pak Supri yang berjalan di belakang Reza, dalam hati merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati,


"Kenapa Bosnya itu, tau kalau Nenek Ayu masih di rawat di ruangan ICU, dan kenapa bisa Reza tau seluk beluk rumah sakit?".


Dari jauh Reza sudah bisa melihat Ichal yang sedang duduk di kursih sambil terus merangkul seorang wanita, yang Reza tebak itu pasti gadis kecilnya.


Setelah Reza sampai di samping bangku panjang tempat Ichal dan Ayu tertidur sambil duduk, Reza melihat jika Ichal dan putrinya sama tertidur.


Reza tersenyum bahagia, melihat pemandangan di depannya, walau saat ini Ayu sedih karena neneknya sedang sakit, tapi setidaknya Ayu juga bahagia karena ayahnya ada di sampingnya.


Pak Supri yang melihat Reza tersenyum bahagia, juga ikut senang.


"apakah Mas hanya mau berdiri dan melihat mereka terus?". bisik pak Supri yang berdiri tepat di samping bosnya.


"ussss.....


Reza menempelkan jari telunjuk nya dibibir, mengisyaratkan agar pak Supri tidak berisik.


Pak Supri yang paham hanya menganggukkan kepala dan berjalan ke arah kersih yang kosong.


*** BERSAMBUNG ***

__ADS_1


SEE YOU ALL 👋👋👋


__ADS_2