
Reza kembali duduk di samping Ayu, setelah selesai telponan dengan Reza.
Sementara Pak Supri sudah pulang karena Ayu dan Ichal sudah tidak ingin kemana-mana lagi.
"Siapa yang telpon ayah barusan?". tanya Ayu setelah ayahnya kembali duduk disampingnya.
Sebenarnya, Ayu tahu kalau yang menelpon tadi adalah Reza, tapi Dia mencoba berbasa-basi, untuk mengurangi kecanggungan antara dirinya dan Ayahnya.
"Oh... itu tadi yang telpon... Sahabat ayah!". jawab Ichal sengaja tidak menyebutkan nama Reza.
Ichal belum tahu sampai mana hubungan Ayu dengan Reza, karena yang Ichal tahu sampai saat ini, Putrinya itu sangat susah untuk dekat dengan lawan jenis.
Hal itu Ichal tau karena Ayu belum pernah di kabarkan dekat dengan seseorang, mulai sejak sekolah Menengah pertama bahkan sampai sekarang usia Ayu sudah hampir delapan belas tahun.
Dulu pernah Ichal, iseng bertanya kepada sahabat sekaligus tetangga yang juga satu kelas dengan Ayu sewaktu duduk di bangku Sekolah menengah pertama.
"Apakah Ayu punya teman dekat, seperti pacar di sekolah?". tapi sahabat Ayu yang bernama Adrin bilang, "Kalau Ayu tidak punya teman pria yang terlalu dekat dengan Ayu, apalagi pacar!".
Hal-hal Seperti ini, kadang menimbulkan perasaan sendiri di benak Ichal, " Apa iya Ayu tidak pernah naksir dengan lawan jenis, ataukan putrinya itu tidak normal?".
Karena anak Seusia Ayu, biasanya sudah mulai dekat dengan pria, atau setidaknya, adalah gebetan di sekolah yang membuat kita semakin bersemangat berangkat ke sekolah.
Karena Ichal juga pernah merasakan mudah, dan manisnya sebuah kehidupan masa-masa sekolah. tapi sangat berbeda dengan Ayu, putrinya itu hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan tinggal di dalam kamar, jika tidak ada kegiatan sekolah Ayu tidak akan pergi ke mana-mana.
"Mas Reza... !". Ucap Ayu, setelah melihat Ichal terdiam.
Ayu tidak suka melihat ayahnya sering melamun seperti memikirkan banyak hal. Ayu sangat takut jika ayahnya sakit.
"Kenapa kamu tahu nak?, kamu dengar ya... pembicaraan ayah barusan?". tanya Ichal heran, karena Ichal merasa tadi Dia menerima telpon agak jauh dari tempat duduk Ayu.
__ADS_1
"Tidak dengar Yah... kan ayah sendiri yang bilang dari Sahabat Ayah, bukankah... hanya Mas Reza yang Nur tahu sebagai sahabat Ayah?, walaupun... Nur baru tahu, tidak lama ini sih...!". Ucap Ayu Senyum-senyum menjelaskan kepada Ichal, dan semua itu tidak luput dari penglihatan Ichal.
"Iya Nak... yang barusan telpon Reza, sahabat Ayah sekaligus penolong ayah waktu ayah tidak tau harus kemana, Tuhan mengirimkan Reza kepada Ayah, mungkin kamu sudah dengar dari nenek dan Reza tentang cerita kami dulu?". jawab Ichal dengan sedikit nada sendu jika mengingat kejadian di masa lalu Ichal.
"Iya Yah... Nur sudah dengar semua dari nenek dan Mas Reza!". ucap Ayu sedikit merasa senang karena Reza masih perhatian dengan keluarga nya, walaupun Reza sedang berada di luar negeri, tapi dia masih mau menelpon ayahnya.
"Ayah... malam ini kita tidur disini?". tanya Ayu mengalihkan pembicaraan setelah melihat, waktu malam semakin dekat.
"Iya nak... nanti ayah tidur di sini saja, kamu kembali saja ke ruang perawatan nenek, mudah-mudahan... besok nenek kamu sudah bisa di kembalikan ke ruang perawatan!". Jawab Ichal kepada Ayu, dengan lembut dia memperhatikan wajah lelah putrinya.
"Beneran ayah mau tidur disini?, disini kan dingin ayah?, bagaimana kalau kita tidur ke ruang perawatan nenek aja yah, di sana kan juga tidak ada Pasien?". tanya Ayu memastikan keputusan ayahnya.
"iya Nak... biar ayah tidur disini, siapa tau suster atau nenek membutuhkan ayah!". jelas Ichal kepada putrinya.
Ichal menyuruh Ayu tidur di ruang perawatan neneknya, karena Ichal kasihan melihat Ayu jika harus ikut tidur di depan ruang ICU.
Sementara ditempatkan lain, tepatnya di Singapura, Reza menghubungi supir pribadi nya untuk menjemput Dia di bandara Sultan Hasanuddin. karena Dia akan tiba di Makassar kira-kira pukul Empat dini hari.
Pak Supri yang mendapat telepon dari bos nya, merasa sangat senang dan berharap ini jalan yang terbaik buat keluarga Ayu.
"Bapak habis Terima telpon dari siapa, ko... raut wajah nya, seperti senang sekali?". tanya Istri pak Supri bingung melihat suaminya yang senang tidak seperti dua hari ini.
"Oh... itu mah... bapak barusan dapat telpon dari Mas Reza, Dia bilang mau datang ke sini dan mau di jemput sebentar subuh di Bandara!". jelas pak Supri kepada istrinya.
"Aku ikut ke Bandara yah Pa... ?". Suara putri bungsu pak Supri yang seumuran dengan Ayu, tiba-tiba terdengar dari dalam dapur.
"Is... is...is... ngapain mau ikut segala ke bandara, Bapak itu mau kerja, jemput Bosnya, bukan mau pergi jalan-jalan!". Ucap Putra pak Supri lagi, yang juga datang bergabung dengan ayah dan ibunya di ruang tamu.
"Iya... benar tu kata kakak kamu Sum...!". terang istri pak Supri kepada putri bungsunya.
__ADS_1
Keluarga Pak Supri sudah mengenal baik keluarga Reza dari dulu, bahkan Reza juga sering datang ke rumah pak Supri jika Dia sedang berada di kota Daeng itu.
Reza sudah menganggap keluarga pak Supri seperti keluarga nya sendiri, makanya keluarga Reza mempercayakan Pak Supri yang menghandle sebahagian usahanya di Makassar.
"Kalau begitu... Ayo kita makan dulu, karena ayah harus istirahat, sebelum berangkat ke Bandara!". ucap Istri pak Supri kepada anak-anaknya
***
Di rumah Sakit Ayu tidur sendiri di ruangan tempat neneknya di rawat sebelum kembali drop tadi siang.
Ayu merasa sangat sepi sendiri, tapi dia harus berani karena ayahnya yang meminta dan tidak mungkin dia pulang sendiri ke rumah nenek.
"Manda apa kamu sudah sehat dan kembali ke Asrama?". gumam Ayu, tiba-tiba teringat dengan Amanda sahabatnya di Asrama dan di sekolah.
Di Asrama jika Ayu atau Amanda tidak bisa tidur, mereka sering cerita berdua sampai tertidur dalam satu tempat tidur yang sempit.
Tapi saat ini, Ayu tidak tau harus berbuat apa, mau tidur, tapi matanya belum ingin diajak tidur. mau membaca buku, Ayu juga tidak membawa buku ke rumah sakit karena tadi siang dia buru-buru setelah memasak.
Ayu hanya berbaring diatas karpet yang ayahnya bawa dari rumah nenek sambil sesekali membolak-balikkan badan, karena susah untuk tidur.
Ayu tidak tidur di ranjang pasien karena takut kalau suster mengirah dirinya pasien.
"Keluarga nenek Siti...!". panggil Suster, keluar dari ruangan ICU.
"Iya Suster, Saya anaknya!". jawab Ichal bangkit dari kursih tempat dia duduk setelah mendengar suara menyebut nama ibunya.
*** BERSAMBUNG ***
Dukung terus karya Author ya, mohon berikan komen, like dan vote sebanyak-banyaknya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Sampai ketemu lagi, pada Bab-bab berikut nya👋👋👋
I LOVE YOU ALL 😘😘😘