
Karena kondisi nenek Ayu yang tiba-tiba memburuk, jadi makanan dan sup ayam yang Ayu buat pun ikut terasa hambar, karena hari ini nenek tidak bisa menikmati nya.
Ichal duduk di kursi depan ruangan ICU tempat nenek Ayu di rawat sekarang. Ichal makan sup ayam buatan anaknya Ayu, tapi pikirannya, entah ada di mana?.
"Ayah... makan yang banyak, Ayah harus sehat...!", ucap Ayu mendekati Ichal, karena ayahnya itu hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya.
Ayu takut ayahnya ikut sakit juga.
"Iya nak ... ayah makan...!". jawab Ichal melihat Ayu yang sekarang sedang duduk di sampingnya.
"Pak Supri... kalau mau pulang, pulang aja Pak ... biar Ayu dan ayah di sini saja!". ucap Ayu melihat ke arah pak supir pribadi Reza.
Ayu melihat pak Supri hanya duduk di kursi, sesekali berdiri, jadi Ayu beranggapan kalau pak Supri sedang bosan di rumah sakit.
"Sebentar saja Non, biar bapak temani di sini dulu, siapa tau... nanti bapak di butuhkan!". ucap Pak Supri menolak perkataan Ayu.
Pak Supri sebenarnya sangat kasihan melihat kondisi keluarga Ayu, karena baru saja Ayu pulang untuk sekolah, tapi sekarang, Ayu harus berada di rumah sakit untuk menjaga neneknya, untung saja ada Ichal, ayah Ayu datang dari Papua menemani Ayu.
Sementara Om Ayu yang berada di Kalimantan, belum bisa pulang karena kontrak kerja yang Om Ayu tanda tangani, harus satu tahun masa kerja baru boleh ijin, jadi Dia belum bisa mengajukan ijin.
Ichal sudah berusaha menelpon adiknya untuk memberitahukan kondisi ibunya sekarang.
"Terimakasih banyak Pak... bapak sudah baik dengan saya dan keluarga saya...!". ucap Ayu bersyukur karena di sekitar dirinya masih banyak orang baik seperti pak Supri.
Pak Supri hanya mengangguk, sebagai jawaban dari ucapan Ayu.
Selesai makan ayah Ayu, meminta ijin untuk pergi ke kamar kecil.
Kini Ayu hanya berdua duduk di depan pintu ruangan perawatan neneknya.
"Keluarga nenek Siti...!". ucap seorang suster yang keluar dari ruangan ICU.
"Iya Suster, saya cucunya!". jawab Ayu mendekati suster itu.
"Nenek anda sudah sadar nona!". jelas Suster itu.
"Alhamdulillah... Saya bisa melihat beliau suster?". tanya Ayu antusias mendengar kalau neneknya sudah siuman.
"Boleh... tapi jangan terlalu lama dan jangan mengajak beliau berbicara terlalu banyak dulu ya!".
__ADS_1
"Oh ... ya, yang boleh masuk hanya satu orang ya!", kata dokter itu menjelaskan
"Hanya satu orang suster?". tanya Ayu bingung. sebenarnya Ayu mau masuk, tapi dia tiba-tiba memikirkan ayahnya.
jadi dia mengambil kepuasan, biar ayahnya saja yang masuk duluan.
Suster itu hanya menganggukkan kepala.
"Kalau begitu... biar ayah Saya saja yang menemui beliau duluan!". ucap Ayu sedih
Tidak lama setelah suster yang memberikan informasi, kalau nenek Ayu sudah siuman.
Ichal juga datang dengan wajah yang sedikit basah, sepertinya Ichal, baru selesai membersihkan wajahnya.
"Yah ... tadi suster yang merawat nenek keluar memberi tahukan, kalau nenek sudah sadar, ayah masuk temui nenek duluan, karena yang boleh berkunjung saat ini hanya satu orang!". ucap Ayu memberitahukan informasi tentang neneknya.
"Alhamdulillah... kali begitu ayah masuk dulu yah!". ucap Ichal sebelum berlalu.
"Ayah... kata suster... jangan terlalu banyak mengajak nenek berbicara, karena kondisi nenek masih lemah!". ucap Ayu lagi setelah melihat ayahnya ingin membuka pintu ruangan.
Ichal masuk dengan wajah sedikit merasa legah, karena mendengar kabar kalau ibunya sudah siuman dan sudah boleh di kunjungi.
hati Ichal sangat sedih melihat kondisi mamanya, tapi Dia harus terlihat kuat di depannya.
Nenek Ayu membuka matanya, setelah mendengar suara putra pertamanya.
"Ibu sudah lumayan baik nak...mana putrimu Nur?".
"Nur... ada di luar Mah..., di ruangan ini tidak boleh banyak yang masuk!". jelas Ichal kepada ibunya.
"Ibu istrahat yang banyak ya... biar ibu cepat pulih dan kita pulang ke rumah!". ucap Ichal sambil memegang tangan ibunya yang terpasang infus berwarna kuning.
"Nak... sepertinya... ibu sudah tidak kuat lagi, dan maaf kan ibu karena tidak memberi tahukan penyakit ibu!". ucap Nenek Ayu dengan terbata kerena merasa bersalah kepada anak dan cucunya.
"Ibu tidak sala apa-apa... ibu sekarang istrahat dan jangan banyak pikiran, Aku dan Nur akan menjaga ibu!".
"Tapi nak... ibu ingin... melihat Nur... memiliki suami sebelum ibu meninggal!". ucap Nenek lagi.
Dan kata-kata nenek Ayu barusan membuat Ichal sangat kaget, bagaimana caranya Ichal mengabulkan permintaan ibunya, sementara Ayu masih sekolah dan belum punya pacar?.
__ADS_1
"Jangan bilang begitu Bu... ibu harus kuat, dan tetap sehat sampai Ayu menikah kelak bersama orang yang mencintai dia Bu...!". ucap Ichal terus menggenggam tangan ibunya yang meneteskan air mata.
Nenek Ayu hanya menganggukkan kepala, Dia juga tidak tahu sampai kapan Dia bisa bertahan, tapi harapan terbesarnya saat ini adalah melihat cucu satu-satunya mendapatkan suami yang bisa menjaga dan melindungi nya.
Nenek Ayu tahu, kalau Ayu tidak akan kuat sendiri tanpa dirinya, karena Ayu hanya menganggap dirinya nenek sekaligus ibu dalam hidup nya.
Sejak kecil sampai di usia sekarang, Ayu tidak mengingat wajah ibunya, karena memang ibunya tidak pernah datang melihat Ayu setelah dia pergi, sementara semua fhoto-fhoto ibu Ayu, sudah di musnahkan oleh Ichal.
"Istrahat lah Bu, jangan banyak pikiran, biar ibu cepat pulih!". ucap Ichal sebelum pergi dari ruangan nenek Ayu.
"Berjanjilah sama ibu, dapatkan calon suami baut Nur nak...!". ucap nenek Ayu setelah melihat Ichal beranjak dari tempat duduknya.
Ichal tidak memberi jawaban apa-apa, Dia juga sangat bingung dengan permintaan Ibunya.
Ichal keluar dari ruang dengan perasaan dan pikiran tidak menentu.
Ichal tidak tahu bagaimana cara mewujudkan keinginan ibunya dengan cepat, Sementara Ichal tahu kalau kondisi ibunya saat ini tidak baik-baik saja. Dokter sudah memberi tahukan kemungkinan-kemungkinan yang terburuk.
"Ayah... nenek baik-baik saja kan?". tanya Ayu setelah melihat ayahnya keluar dan tidak mengucapkan apa-apa kepada dirinya.
"Iya nak... nenek kamu baik-baik saja, sekarang nenek sedang istirahat, mudah-mudahan besok nenek sudah bisa dipindahkan keruangan perawatan!". jawab Ayu dengan wajah yang sendu.
"Ayah keluar dulu, ingin cari sesuatu!". pamit Ichal kepada putrinya, Dia tidak bisa tinggal lama-lama berdekatan dengan Ayu, karena Ayu pasti akan bertanya banyak hal. dan Ichal tidak sanggup membohongi putri nya.
Setelah Ichal pergi, entah kemana, Ayu saling melirik dengan pak Supri yang juga mendekati Ichal setelah keluar dari ruangan nenek Ayu.
"Ayah Saya kenapa ya Pak?, saya merasa dia menyembunyikan sesuatu!". tanya Ayu kepada pak Supri yang masih setia menemani dirinya didepan ruangan ICU.
"tidak tahu juga nona, tapi jangan berpikir yang macam-macam dulu...!".
"Iya Pak... terimakasih banyak...!".
"Nona... kalau begitu, bapak pamit dulu ke depan ya, kamu istirahat di sini saja!". pak Supri ingin berbicara dengan Ichal karena Dia juga merasa ada sesuatu yang Ichal sembunyikan.
Ichal duduk di taman rumah sakit sendirian, sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana meyakinkan anaknya agar Ayu mau menikah, dan Ayu harus menikah sama siapa?. semua pemikiran itu membuat Ichal ingin berteriak dengan kencang.
*** BERSAMBUNG ***
TERUS DUKUN KARYA AUTHOR 🙏🙏🙏
__ADS_1