Pria Misterius Menggelisahkan

Pria Misterius Menggelisahkan
Ayu Bersedih


__ADS_3

Ayu merasa sangat bahagia dengan perhatian Reza, karena menurut Ayu, Reza hanya merupakan orang asing, tapi dia sangat perhatian dengan dirinya seperti seorang kakak terhadap adik kandungnya, sementara ibunya yang jelas-jelas merupakan orang terdekatnya, sampai detik ini tidak ada kabar, bahkan usianya, dua bulan lagi memasuki tujuh belas tahun tapi ibunya tidak pernah ada kabar,


"Mungkin Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya", gumam Ayu meneteskan air mata.


Ayu rebahan diatas tempat tidur setelah membersihkan muka dan sikat gigi, Ayu mengingat kembali nasehat dan perhatian Reza dan Tampa sadar dia teringat dengan ibu kandungnya yang sampai detik ini belum pernah bertemu dengan dirinya.


"Ah... Ayu benci dengan perasaan ini, Ayu sudah bahagia dengan nenek dan ayah!," Ayu terus menasehati dirinya agar tidak larut dalam kesedihan jika mengingat ibu kandungnya.


Ayu tertidur dalam kesedihan, bagaimana pun Ayu hanya seorang anak gadis Remaja yang menginjak usia dewasa, Dia tetaplah sosok anak yang merindukan kehadiran ibu kandungnya.


***


Malam berlalu pagi pun data menyapa, di kediaman Nenek, Ayu masih tertidur dengan pulas, setelah bangun shalat subuh Ayu melanjutkan tidurnya karena jam delapan baru berangkat ke Bandara.


Kali ini nenek terus mondar mandir di depan kamar cucunya setelah menyiapkan sarapan,


"Nak... bangun... Ayu... bangun sudah pagi!," nenek menggedor-gedor pintu kamar Ayu karena belum ada sahutan dari dalam kamar.


"Nak... bangun, nanti terlambat ke Bandara,! ucap nenek lagi.


Sementara orang yang dibangunkan masih tertidur lelap karena tadi malam dia tidur larut malam, Dia susah tidur setiap kali teringat dengan ibu kandungnya, tapi apa daya, Ayu tidak bisa menghilangkan perasaan kangen dalam hati dan pikirannya.


sekitar jam 06.23 Ayu terbangun karena mendengar suara memanggil namanya, Dia mengira dirinya sedang mimpi di panggil sama neneknya, ternyata benar ada suara dari luar kamar.


"Iya Nek... Ayu sudah bangun!," jawab Ayu sambil memperbaiki perasaannya sebelum beranjak dari tempat tidur karena nenek terus menggedor pintu kamarnya.


"Bangun Nak... ini sudah setengah tujuh, ingat hari ini kamu harus ke bandara, sebentar lagi Pak Supri datang jemput," ucap nenek mengingatkan dari luar.


"Iya Nek, Ayu keluar," jawab Ayu membuka pintu kamar,


"nenek tau dari mana kalau yang mau antar Ayu ke Bandara adalah pak Supri?,' tanya Ayu heran,


"Oh... itu, Nak Reza kasih tau nenek sebelum berangkat kemarin, katanya Minggu depan Pak Supri yang antar kamu ke bandara.


"Oh... kalau begitu, Ayu mandi dulu ya nek!," ucap Ayu hendak hendak berlalu keluar rumah menuju kamar mandi,


"kamu mau kemana Nak? ayo makan dulu sebelum mandi", cegah nenek

__ADS_1


"Ayo Nek, kebetulan Ayu sudah lapar!," ucap Ayu mengiyakan ajakan nenek, Dia masuk ke dapur sambil bergelayut manja di lengan neneknya, sebenarnya Ayu masih kangen ingin lama-lama dengan neneknya, tapi dia harus kembali ke Asrama karena waktu libur sudah mau habis, besok dia harus sekolah.


Selesai menyantap sarapan dengan nenek, Ayu pergi mandi dan siap-siap sebelum Pak Supri datang menjemput.


"Assalamualaikum Nek!," ucap Pak Supri dari luar rumah


"Waalaikum salam, Masuk nak, duduk dulu, nenek panggil Ayu dulu ya!," jawab nenek mempersilahkan pak Supri untuk duduk


"Nak... ini Pak Supri sudah datang!," nenek mengetuk pintu kamar Ayu,


"Iya Nek, tunggu sebentar!," jawab Ayu


Ayu keluar kamar dengan menarik koper kecil dan sebuah ransel di pundaknya,


"Nek ... Ayu pamit ya, jaga kesehatan nenek, jangan lupa minum obat, Doakan Ayu, biar Ayu cepat sukses dan bisa membahagiakan nenek," ucap Ayu memeluk neneknya, sebenarnya Ayu benci dengan keadaan ini, di mana dia harus berpisah jauh dengan neneknya, tapi mau bagaimana lagi Ayu harus pergi menuntut ilmu,


"Iya Nak, nenek selalu mendoakan kamu, jaga diri baik dan belajar yang benar ya!," nenek membalas pelukan Ayu dengan meneteskan air mata, tapi cepat-cepat dia hapus karena tidak ingin di lihat oleh cucunya.


"Ayu pergi dulu Nek ... Assalamualaikum!," Ayu berpamitan sebelum masuk kedalam mobil, sekali lagi dia memeluk neneknya, hatinya sangat berat meninggalkan neneknya sendiri di rumah,


"Iya Bude, Aku mau berangkat sekolah karena besok sudah mulai sekolah, titip nenek ya bude, sering-sering datang ke rumah ya bude!," ucap Ayu dengan nada memohon,


"Iya Nak... bude akan sering jenguk nenek kamu, kamu belajar yang benar, jangan terlalu khawatir dengan nenek disini, ada bude dan Pakde sama tetangga yang lain, kami semua akan jaga nenek kamu," ucap Bude Rida, tetangga terdekat nenek, sepertinya dia baru pulang dari kebunnya untuk melepas sapi peliharaan suaminya.


"Aku jalan ya nek... bude titip nenek Aku ya!, Assalamualaikum!," Ayu pamit dan masuk ke dalam mobil.


"Iya Nak hati-hati, belajar yang rajin," ucap nenek bersamaan dengan bude Rida.


***


Mobil yang di Kendarai oleh pak Supri melaju membelah jalanan ibu kota.


Sudah satu jam Ayu berada didalam mobil, tapi pikirannya masih tertuju kepada nenek yang ada di rumah, dia kepikiran dengan neneknya yang tinggal sendiri.


Diusia tua nenek, seharusnya ada yang menemani agar tidak merasa kesepian, tapi dia bersekolah jauh di ibu kota, pamannya pergi kerja di Kalimantan, sedangkan ayahnya belum mau pulang kampung sebelum Ayu selesai sekolah.


"Nona... tidak mau mampir beli sesuatu?, sebentar lagi kita sampai bandara?," tanya pak supir,

__ADS_1


"tidak Pak, kita langsung masuk Bandara saja!," jawab Ayu, sambil menghapus sisa air matanya, entah kenapa kali ini dia sedih meninggalkan neneknya sendiri di rumah,


"Baik nona...!," jawab pak supir singkat.


Setelah menurunkan barang-barang Ayu, Pak Supri memarkirkan mobilnya dan menemani Ayu melapor tiket.


"ini Nona, tiket dan Kartu Identitasnya, nona langsung masuk ke ruang tunggu," kata Pak Supri menyerahkan Boarding pass dan Kartu indentitas Ayu,


"Iya Pak, terimakasih banyak!,' jawab Ayu hendak berdiri dari tempat duduknya,


"Nona maaf... bisa lihat handphone nya?," kata Pak Supri tidak enak hati,


"Oh... iya Pak, ada apa dengan handphone Saya ya?, " tanya Ayu heran, kenapa Pak Supri tau kalau dia punya handphone padahal dari tadi dia tidak memegang handphonenya,


"Itu Nona, tadi,... Pak Reza telpon katanya, dia menelpon Nona, tapi nona tidak menjawab," Pak Supri mencoba menjelaskan agar gadis bosnya tidak tersinggung karena sudah lancang ingin melihat handphone nya.


"masa sih Pak? Aku tidak dengar!," ucap Ayu malu-malu, karena ketahuan ada hubungan dengan Mas Reza


"Aku lihat dulu handphone nya, boleh nona???," tanya Pak Supri karena Ayu belum mengeluarkan handphone nya,


"Oh.. iya Pak, ini handphone nya," ucap Ayu sambil mengambil handphone yang ada di saku dalam tas ranselnya,


Pak Supri melihat handphone yang diserahkan oleh Ayu, Dia melihat lima panggilan tak terjawab dari layar handphone Ayu.


Setelah membuka pengaturan dan mengaktifkan nada dering dan notifikasi, Pak Supri mengembalikan handphone Ayu, sambil senyum-senyum.


"ini Nona, handphone nya, sepertinya tadi nona mendapatkan panggilan dari seseorang," kata pak Supri sambil menyerahkan handphone nona muda Bosnya,


"Masa sih Pak? Ayu tidak dengar!," tanya Ayu malu-malu,


"Iya non, tadi nada panggilannya di non aktifkan, tapi sekarang sudah aktif nona," ucap Pak Supri masih dengan wajah senyum-senyum.


"Terimakasih banyak Pak, Ayu masuk dulu ya!," ucap Ayu tidak enak hati,


"Iya, nona hati-hati ya, Salam buat Pak Bos, eh,... masuk Saya, Mas Reza!," jawab pak Supri,


"iya Pak, nanti Aku sampaikan saat ketemu Mas Reza, Assalamualaikum," Ayu berjalan menuju ruang tunggu dengan hati yang masih sedikit sedih, Dia masih teringat dengan neneknya di rumah.

__ADS_1


__ADS_2