
Di Asrama...
Ayu bersiap pergi ke sekolah. sudah dua hari ini Ayu tidak bersama sahabatnya Amanda ke sekolah, itu karena Amanda sakit, jadi kakaknya datang menjemputnya
Ayu keluar dari kamarnya seorang diri karena kedua kakak seniornya sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.
Sudah tiga hari ini, Ayu terus kepikiran neneknya, bagaimana tidak?, Ayu sudah dua kali memimpikan neneknya sedang tersenyum hangat dengan dirinya.
"Hai... Ayu... kenapa melamun? ayo jalan sama-sama!," Ajak teman Ayu yang lewat di depan Asramanya.
Ayu melihat teman yang memanggil dirinya, jadi Ayu bangkit dari kursi tempat dia duduk untuk memakai sepatu. Ayu berjalan bersama teman-temannya menuju kelasnya masing-masing.
Di Asrama, Ayu terkenal gadis periang dan ceria, tapi sudah beberapa hari ini, Ayu tidak seceria hari-hari sebelumnya, dan teman-teman satu kelasnya mengira kalau Ayu bertingkah seperti itu karena sahabatnya Amanda sedang sakit dan tidak ada bersamanya setiap hari.
"Ayu nur Anandita Ichal...!," suara pak Arman memanggil nama lengkap Ayu, karena sudah dua kali Pak Arman menyebut namanya, tepatnya mengabsen di kelas, tapi Ayu seolah-olah sedang tidak mendengarkan dirinya.
Benar saja, Ayu kaget setelah mendengar suara pak Arman yang meneriaki namanya.
"I... I... iya Pak...!," jawab Ayu terbata-bata dan berdiri dari duduknya karena kaget.
Sebagian teman Ayu ada yang senyum-senyum melihat ekspresi wajah Ayu kaget, dan sebagiannya lagi, merasa takut karena tiba-tiba raut wajah pak Arman berubah, seperti orang yang sedang marah.
"Maaf pak...!," ucap Ayu menyesal karena tidak melihat gurunya, yang dari tadi sudah ada di dalam kelas.
"Maju sini...!," Pak Arman memanggil Ayu untuk maju ke depan kelas.
Ayu maju menuruti perintah wali kelasnya.
"Kamu berdiri di situ... sampai pak guru selesai mengabsen teman-teman satu kelas mu!," Pak Arman menghukum Ayu, karena telah mengabaikan dirinya.
Ayu tidak menjawab, Dia menuruti perintah wali kelasnya untuk berdiri di depan kelas.
"Ayu kenapa ya, kok... bisa-bisanya Dia melamun di dalam kelas?," ucap Hasan teman sekelas Ayu. Hasan berbisik kepada teman yang duduk di sampingnya.
"Hus... lho mau di hukum juga sama Pak Arman?," Tegur Rani, teman satu kelas Ayu yang duduk tepat di belakang Hasan.
"Amanda Putri Ahmad Prawira...!," ucap pak Arman mengabsen dan menyebutkan nama Amanda.
__ADS_1
"Sakit pak...!," ucap semua teman satu kelas Ayu.
Pak Arman baru teringat kalau beberapa hari yang lalu, Dia bertemu Ayu di rumah pak Supriadi yang ingin meminjam telpon untuk menelpon orang tua temannya karena sedang sakit di asrama.
Pak Arman mengira, kalau Ayu melamun pagi-pagi di kelasnya, karena sahabatnya sedang sakit dan belum masuk sekolah.
Selesai mengabsen semua siswa-siswi di kelas, pak Arman mempersilahkan Ayu untuk duduk di tempatnya.
"Anak-anak... hari ini kita akan belajar pelajaran bahasa Inggris, dan sekarang yang mengajar bahasa Inggris adalah pak guru, jadi pak guru harap Sama kalian semua, jangan suka melamun dalam kelas, apalagi kalau ada guru di depan!," ucap Pak Arman sambil melirik ke arah Ayu yang duduk dengan raut wajah yang terlihat masih sedih.
Pak Arman menjelaskan pelajaran di depan kelas, sesekali Dia melihat Ayu yang sedang tidak konsentrasi dengan pelajarannya hari ini.
Selesai menjelaskan, Pak Arman memberikan tugas kepada semua murid-muridnya.
Ayu hanya diam, tidak merespon apa pun perkataan guru maupun teman-temannya yang kadang-kadang bersenda gurau dengan pak Arman saat proses pembelajaran.
"Ayu... kamu kenapa, sudah beberapa hari ini, Aku lihat kamu tidak bersemangat di dalam kelas?," tanya Rani mendekati tempat duduk Ayu, setelah pak Arman keluar dari kelasnya. Rani penasaran dengan Ayu, yang bertingkah tidak seperti biasanya.
"Aku tidak apa-apa Rani...!," jawab Ayu berdiri dari tempat duduknya.
"Nah,... lho mau kemana Yu?," tanya Rani heran, karena tiba-tiba Ayu berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.
Ayu keluar dari kelas, Dia berniat ingin ke kamar kecil untuk mencuci wajahnya, agar merasa lebih segar.
"Ayu Nur Anandita Ichal, kelas sebelas A Satu, agar ke ruangan kepala sekolah sekarang, penting...!," tiba-tiba suara dari mikrofon terdengar di seluruh ruangan kelas.
Ayu yang mendengar namanya di sebut oleh bagian informasi, tiba-tiba menghentikan langkahnya untuk mendengarkan, apa benar itu dirinya yang di panggil.
"Sekali lagi... kami panggil kepada siswi yang bernama Ayu Nur Anandita Ichal kelas Sebelas A satu, agar segera ke ruangan kepala sekolah!," terdengar suara mikrofon menyebutkan nama lengkap Ayu.
Ayu yang mendengar namanya sekali lagi di panggil, langsung menuju ruangan kepala sekolah.
"Assalamualaikum, pak...!," ucap Ayu sebelum memasuki ruang kepala sekolahnya.
Ayu melihat di dalam ruangan kepala sekolah sudah ada pak Supriadi dan pak Arman. Tapi karena penasaran, kenap dirinya di panggil menghadap kepala sekolah.
Dengan berbagai macam pertanyaan dalam otak dan hati Ayu dia berjalan mendekati Pembina dan wali kelasnya yang sudah terlebih dahulu ada di ruangan kepala sekolah.
__ADS_1
"Ayu Nur Anandita... silahkan duduk...!," ucap pak kepala sekolah setelah melihat Ayu mendekat ke arah mereka.
"Iya pak... terimakasih...!," ucap Ayu, sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa yang ada di ruangan kepala sekolah.
"Maaf pak... kenapa saya di panggil ke sini ya?," tanya Ayu sudah tidak sabar ingin tahu kenapa dirinya tiba-tiba dipanggil ke ruangan kepala sekolah. padahal sebelumnya, Ayu belum pernah di panggil lewat mikrofon oleh bagian informasi.
Ayu mengira kalau dirinya di panggil, karena tadi sempat melamun dan tidak mendengarkan pak Arman di dalam kelas. ditambah di sampingnya saat ini, ada pak Arman sedang duduk juga di dalam ruangan kepala sekolah.
"Itu, Ayu... barusan saja, ayah kamu telpon, dari Papua... katanya...!," ucapan pak kepala sekolah terpotong karena, tiba-tiba dia melihat Ayu meneteskan air mata Tampa mengeluarkan suara, dan itu membuat kepala sekolah menghentikan ucapannya.
"Ayu... kamu kenapa nak?," ucap pak Supriadi sambil menyodorkan tissue yang ada di atas meja.
Kedua guru yang ada di dalam kantor kepala sekolah bingung melihat Ayu yang terus menerus meneteskan air mata tampa mengeluarkan suara. Ayu sendiri juga tidak faham, ada apa dengan perasaannya akhir-akhir ini?, Dia gampang meneteskan air mata, seperti saat ini.
"Ayu kamu baik-baik saja kan?," tanya pak Arman, wali kelas Ayu, Dia heran melihat Ayu yang tiba-tiba meneteskan air mata.
Ayu mengambil tissue yang disodorkan oleh pak Supriadi, Dia mengelap air matanya, dan berusaha menguatkan hatinya agar tidak mengeluarkan air mata lagi.
"I...I... iya pak... Ayu tidak apa-apa!," jawab Ayu dengan suara parau.
"Ini nak... barusan Ayah kamu telpon, katanya " kamu di suruh pulang karena nenek kamu sedang sakit...!," ucap Pak kepala sekolah berusaha menyampaikan informasi yang dia terima dari pak Supriadi. tapi lagi-lagi, ucapan kepala sekolah terputus karena kasihan melihat Ayu yang kembali menegaskan air matanya.
Pak Arman yang tidak tengah melihat Ayu yang terlihat sangat sedih, mendekati Ayu dan sesekali menepuk pundaknya.
"Kamu tidak apa-apa kan Ayu?, bapak kepala sekolah masih ingin menyampaikan pesan dari ayah kamu!," ucap pak Arman sudah merangkul pundak Ayu yang terus menangis tapi tidak mengeluarkan suara, hanya air matanya yang bercucuran terus membasahi pipi chubby Ayu.
Ayu berusaha sekuat tenaga untuk tegar dan tidak mengeluarkan air mata, tapi tetap saja, ayu tidak bisa membendung air matanya, apalagi sudah beberapa hari ini, Ayu sangat merindukan neneknya,.nenek yang merawat dirinya dengan penuh kasih sayang setelah ibunya meninggalkan dirinya, dan lebih memilih pergi entah kemana?,"
Pak Arman tidak memperdulikan lirikan kepala sekolah dan pak Supriadi yang melihat dirinya merangkul anak walinya yang sedang menangis tersedu-sedu.
*** BERSAMBUNG ***
Sampai jumpa di Bab-bab berikutnya 👋👋👋
PENASARAN DENGAN KONDISI NENEK AYU???
Ayo ikuti terus kisahnya dan jangan lupa berikan dukungan, like, vote dan kritik serta saran yang membangun buat Author 🙏🙏🙏
__ADS_1
I LOVE YOU ALL 😘😘😘