
Karena Ayu tidak ingin makan di tempat, jadi Reza membeli makanan lalu membawanya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalan menuju rumah sakit, Ayu tidak banyak berbicara.
Sampai rumah sakit, Ayu dan Reza berjalan menyusuri lorong menuju ruang ICU, karena nenek Ayu masih berada di ruangan itu.
"Mas... bagaimana kabar ibu, apa kata dokter?". Tanya Reza setelah meletakkan makanan Yang dia beli dari warung.
"kata Dokter Ibu sudah lumayan baik, tapi masih harus di kontrol terus karena tekanan darah dan kolesterol nya masih tinggi!". jelas Ichal
Ayu yang mendengar, jika neneknya sudah membaik, perlahan-lahan hatinya sudah tidak seperti saat keluar dari hotel.
"Apa... Aku bisa menemui nenek ayah?".
Mendengar kondisi nenek sudah membaik, Ayu tiba-tiba sangat merindukan sosok yang telah merawat dirinya dari kecil.
"Nanti kita tanya Suster dulu ya sayang...!".
Reza yang tiba-tiba menjawab pertanyaan Ayu.
Mendengar Reza selalu memanggil anaknya dengan panggilan sayang, Dalam hati Ichal merasa sangat bahagia.
Sebagai orang tua yang tidak mampu mempertahankan rumah tangganya, Ichal berharap anaknya kelak tidak bernasib seperti dirinya.
"Iya Nak... nanti ayah tanyakan dulu sama suster yang berjaga di dalam!". jawab Ichal, setuju dengan ucapan Reza.
"Oh... ya Mas... Ayo... kita makan siang dulu, ini Aku dan Nur tadi mampir ke warung membeli makanan!".
Reza berinisiatif membuka makanan yang Dia bawah, karena waktu sudah hampir jam satu dan Reza yakin jika Ichal belum makan siang.
"Iya... ayo kita makan sama-sama, kebetulan saya sudah lapar!".
Ichal mengambil satu box makanan yang di bawah Reza.
"Sayang sini... makan sama-sama!". Panggil Reza karena melihat Ayu tidak mengambil makanan.
Mendengar Reza terus memanggil dia dengan panggilan sayang, Ayu melotot ke arah Reza.
"Tuh... orang tidak tau apa, kalau Aku lagi marah?". gumam Ayu dalam hati.
Dengan berat hati Ayu berjalan mengambil makanan yang ada di samping Reza.
"Anak pintar...!". puji Reza, setelah Ayu mengambil makanan
"Kalian dari jalan-jalan dimana?". Tanya Ichal setelah menyelesaikan makan siangnya.
Mendengar pertanyaan Ayahnya barusan, membuat Ayu melotot dan hilang napsu makan.
Bagaimana tidak?... Ayu tidak mungkin menjawab jika, Dia dan Reza dari hotel.
Ayu sangat takut ayahnya akan berpikir negatif tentang dirinya.
"Oh... kami dari jalan di sekitar rumah sakit Mas, lalu Aku ingat jika sebelum kesini tadi malam Aku membelikan Ayu oleh-oleh, jadi Aku ke hotel untuk mengambilkan oleh-oleh itu!".
__ADS_1
Jelas Reza dengan ekspresi santai, berbeda dengan Ayu, yang tiba-tiba menghentikan makannya karena pertanyaan ayahnya.
"Oh...
Ayu heran mendengar tanggapan ayahnya, hanya menjawab "OH". Padahal Ayu sudah gelagapan dan sangat takut jika ayahnya akan marah mendengar jawaban Reza.
Sebenarnya Reza tidak sepenuhnya berbohong, tapi kan... Ayu merasa, jika Reza tidak memberikan Dia oleh-oleh.
"Mana oleh-olehnya?, dasar tukang kibul!". gumam Ayu, merasa Reza tidak memberikan oleh-oleh.
Reza yang sedang berbicara dengan Ichal, melirik ke arah Ayu yang memanyunkan bibirnya.
"Awas kamu sayang... nanti Mas akan kasih hukuman!". kecam Reza dalam hati melihat ekspresi Ayu yang duduk pas di samping Ichal.
"Reza... kamu rencana berapa hari di Makassar?".
tanya Ichal penasarannya, Sebenarnya Ichal tidak bermaksud bertanya tentang waktu Reza di Makassar, yang mengganjal pikiran Ichal adalah, "Tumben-tumbennya seorang pengusaha seperti Reza punya waktu santai-santai seperti saat ini!".
"Kurang tau Mas... mungkin Aku tunggu ibu sembuh dan pulang ke rumah baru balik ke Jakarta lagi!".
"Oh... memang kamu ada kerjaan di sini?". Ichal belum puas dengan jawab Reza barusan.
"Kalau pekerjaan ada teruslah Mas... tapi... Aku mau santai-santai dulu lah Mas... lagian disini kan ada banyak karyawan!".
ucap Reza Enteng dengan wajah yang nampak sangat bahagia.
"Maaf Pak... Ibu Siti, menyuruh saya memanggil cucunya, Dia ingin bicara!". Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruangan ICU dan berbicara kepada Ichal.
"Aku suster... Aku cucunya ibu Siti!". Ayu merasa sangat senang mendengar Neneknya ingin berbicara dengan dirinya.
Ayu berjalan mengikuti suster masuk kedalam ruang ICU.
Sampai di dalam, Ayu kaget dan sangat sedih melihat banyak alat yang menempel pada anggota tubuh nenek.
Ayu menghampiri ranjang pesakitan nenek, dimana nenek berbaring. Walau dengan hati sedih, tapi Ayu tidak ingin nenek melihat dirinya bersedih, jadi Ayu berusaha tersenyum.
"Assalamualaikum Nek... !". Ucap Ayu setelah sampai di samping ranjang nenek dan melihat jika neneknya sedang memejamkan mata.
Mendengar suara sang cucu di sampingnya, nenek Ayu membuka matanya.
"Waalaikum salam sayang...!". jawab nenek walaupun dengan nada suara yang tidak jelas di telinga Ayu, karena ada alat oksigen yang menempel di mulut dan hidung nenek.
"Nenek... Ayu sangat merindukan nenek, nenek cepat sembuh ya nek!". Ucap Ayu berusia menahan air matanya yang hampir tumpah.
Nenek hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan cucu yang dia rawat sejak umur lima bulan.
"Reza... ada...!".
Ayu kaget mendengar neneknya menanyakan soal Reza.
"Apa ayah sudah memberitahukan nenek, soal Reza yang ada di sini?". gumam Reza dalam hati.
"Mas Reza?". tanya Ayu memastikan, apa benar nenek menanyakan Reza.
__ADS_1
Nenek mengangguk.
"Reza ada di luar nek, Dia sedang berbincang-bincang dengan Ayah, apa Nenek ingin menemui Mas Reza?". akhirnya Ayu bertanya.
Nenek ayu kembali menganggukkan kepalanya.
Dengan berat hati, Ayu bangkit dari duduknya, Ayu keluar dari ruangan ICU, menemui Reza.
"Ayah... Nenek meminta mas Reza masuk, sepertinya nenek ingin bicara dengan Mas Reza!". ucap Ayu mengatakan permintaan neneknya kepada Ichal.
Mendengar perkataan Ayu barusan, membuat hati Ichal sedikit takut,
Bagaimana jika Reza menolak keinginan Ibunya, Apakah ibu akan baik-baik saja?".
"Oh...
"Dengar kan Mas... ibu saja sangat merindukan Aku... kalau begitu Aku masuk dulu ya mas...!"..Ucap Reza berjalan meninggalkan Ichal dan Ayu dalam kebingungan.
Setelah makai pakaian khusus yang disiapkan di dalam ruang ICU, Reza berjalan mendekati ranjang nenek Ayu.
"Assalamualaikum Bu... apa ibu bisa mendengar Reza?"..Tanya Reza menyapa nenek Ayu, setelah duduk d kursi samping ranjang nenek.
Nenek Ayu membuka matanya dan berusaha melihat Reza.
"Nenek jangan terlalu banyak pikiran biar cepat sembuh... kasian Mas Ichal dan Ayu...!".
ucap Reza menyentuh tangan Nenek yang terlihat lebih kurus dari sebelum Reza berangkat ke Jakarta setelah mengantar Ayu pulang liburan kemarin.
"Nak... nenek punya permintaan sama kamu... !". ucap Nenek Ayu memegang tangan Reza dengan sebelah tangannya.
"Iya Nek... bilang saja, Reza pasti akan berusaha mengabulkan!".
mendengar jawaban Reza, entah kekuatan dari mana?, tapi nenek ayu merasa lebih baikan dari sebelumnya.
"Nak... Nenek mau... kamu menikahi cucu nenek secepatnya karena nenek tidak tau sampai kapan bisa bertahan!". Nenek Ayu berusaha mengungkapkan apa yang dia inginkan dengan nada memohon kepada Reza.
Mendengar permintaan nenek Ayu. Reza tidak tau apa yang dia rasakan?, antara kaget, senang dan sedih, karena nenek Ayu mengatakan itu semua, seolah-olah beliau sudah ingin segera kembali kepada sang pencipta Alam.
"Bagaimana nak... apa kamu bersedia mengabulkan permintaan nenek?, karena hanya kamu yang nenek percaya dapat membahagiakan cucuku Nur...!". tanya nenek ayu lagi, karena Reza tidak memberikan jawaban.
"Iya Nek... Aku bersedia menikahi Nur... nenek cepat sembuh ya, jangan banyak pikiran!". Reza menyetujui permintaan Nenek Ayu, walaupun dalam hati Reza tidak yakin seratus persen jika Dia mampu membahagiakan Ayu.
Tapi melihat kondisi nenek Ayu yang sangat lemah, Reza tidak tengah menolak atau banyak bertanya.
"Terimakasih banyak nak... nenek sudah merasa sangat bahagia... Jadi kapan kamu ingin memberi tahukan orang tua mu?".
"Nanti Aku akan telpon mereka nek... soalnya mereka berdua lagi ada di Singapura!". ucap Reza menjelaskan.
"Nenek Istrahat ya, jangan banyak pikiran, sebentar lagi Dokter akan datang memeriksa nenek!".
Ucap Reza sebelum pamit keluar dari ruangan ICU.
*** BERSAMBUNG ***
__ADS_1
See you All 👋👋👋