
Setelah hampir dua puluh menit berbincang-bincang dengan Zidan kakaknya Manda, Ayu berpamitan untuk masuk ke dalam Asrama.
"Kak... Ayu masuk duluan ya, sepertinya tadi Ayu mau buat sesuatu, tapi lupa Ayu kerjakan!," Ucap Ayu berpamitan ingin masuk ke dalam asrama terlebih dahulu.
Ayu tiba-tiba teringat jika tadi dia disuruh sama Reza untuk ganti seprei dan sarung bantal, tapi dia belum mengerjakan.
"Kamu mau buat apa Ayu... biar Aku yang bantu?," Zidan menawarkan bantuan.
"Terimakasih Kak... tapi kayaknya... tidak perlu deh kak...!," Ayu menolak tawaran Ayu dengan sopan.
"kenapa...?, kamu malu ya?," tanya Zidan heran karena baru kali ini ada gadis yang menolak tawarannya, biasa juga gadis-gadis yang selalu cari perhatian dirinya.
"Tidak Kak... lagian, yang Ayu mau lakukan, tidak susah ko... hanya mau ganti seprei dan sarung bantal...!," jawab Ayu malu-malu
Ayu berjalan memasuki kamarnya, Dia melihat Amanda berbincang-bincang dengan ayahnya di atas tempat tidur Amanda. Ayu juga masih melihat suasana kamar yang masih ramai karena keluarga Rina dan Rusmini belum pada pulang, mereka masih sementara bersiap-siap untuk pulang karena jam di dinding kamar Ayu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam.
Ayu berjalan menuju lemari tempat pakaiannya, Dia mengeluarkan seprei dan sarung bantal. Setelah itu dia mengganti seprei tempat tidurnya.
Malam ini adalah malam pertama dia tidur di kamar asramanya setelah dua pekan liburan di kampung neneknya.
"Nenek lagi buat apa ya?," gumam Ayu dalam hati, tiba-tiba merindukan neneknya.
Sekarang nenek tinggal sendiri di rumah karena Ayu sudah kembali ke Asrama, sedangkan pamannya pergi bekerja di Kalimantan. untung tetangga nenek di kampung baik kepada nenek, jika nenek tidak enak badan, para tetangga akan datang menemani nenek di rumah.
"hai nona... kenapa melamun?," Zidan tiba-tiba berdiri di belakang Ayu.
"Ah... kak Zidan... maaf... Ayu tidak lihat..." jawab Ayu spontan menggeser tubuhnya karena kaget.
"Aku bisa numpang kamar mandi kan?," Zidan minta persetujuan Ayu, karena ranjang Ayu yang paling dekat dengan pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
"yah... bisalah Kak...!," jawab Ayu tersenyum, Dia merasa lucu dengan pertanyaan Zidan barusan.
Setelah meminta izin, Zidan berjalan memasuki kamar mandi.
Ayu duduk di atas ranjangnya, setelah mengganti seprei nya. Hari ini sangat melelahkan buat Ayu. untung saja tadi sore Ayu masih sempat tertidur di dalam mobil Reza. kalau tidak mungkin saja dari tadi dia sudah mimpi indah diatas ranjangnya.
__ADS_1
Ayu yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, spontan menoleh ke arah sumber suara. betul saja Zidan keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut agak sedikit basah. Jujur Ayu yang melihat Zidan dengan rambut yang agak sedikit basah, mengagumi ketampanan wajah kakak sahabatnya itu.
"Pantas... kak Rina tergila-gila dengan Kak Zidan, ternyata Dia ganteng banget!," gumam Ayu dalam hati mengagumi salah satu ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya itu.
"hai... kenapa melihat Aku segitunya amat...?, awas naksir lho!," ucap Zidan berbisik ketika lewat di dekat ranjang Ayu.
Ayu tidak menjawab kata-kata Zidan, Dia malu karena sudah berani mengagumi wajah Zidan.
"Pa... Ayo pulang... ini sudah hampir jam sepuluh!," ajak Zidan kepada ayahnya setelah sampai di tempat tidur adiknya.
"Iya... Ayo... papa juga sepertinya sudah mengantuk!," Ayah Amanda berdiri dari tempat tidur Manda.
"papa pamit ya Nak... kamu baik-baik di sini, belajar yang benar!," ucap Ayah Manda kepada anaknya.
"tuh... dengar... belajar yang benar, jangan cuma taunya minta uang doang!," lanjut Zidan kepada adiknya.
Amanda memang gadis yang kuat belanja, Tak jarang, Manda belanja buat di bagi-bagikan kepada teman-teman satu asrama, kadang-kadang Manda mentraktir makan teman-teman satu kelas di kantin.
makanya Manda terkenal dengan julukan GADIS LOYAL oleh satu sekolah.
Ayu yang mendengar Ayah dan kakak Manda berpamitan, Dia pergi menghampiri Manda dan Ayahnya.
"Om sudah mau pulang?," tanya Ayu basa-basi
"Iya Nak... Om pulang ya, kamu baik-baik di sini sama Anak Om!," jawab ayah Manda sambil melihat ke arah Sahabat anaknya.
"Ayo pa, Manda antar sampai mobil!," ucap Amanda bergelayut manja di lengan ayahnya, sambil melirik kakaknya Zidan.
"Manda Aku ikut antar ke depan ya?," tawar Ayu ingin ikut mengantar keluarga sahabatnya.
Ayu tidak nyaman di dalam Asrama, karena dari awal masuk kamar, Adik Rusmini terus memandang dirinya, tapi Ayu bersikap biasa saja dari tadi, tapi lama-lama dia merasa risih di lihat-lihat terus, mana ranjang Ayu berdekatan dengan ranjang Rusmini.
"Boleh... Ayo...!," Amanda menarik tangan Ayu agar sejajar dengan dirinya.
"kamu jalan duluan aja Manda!," tolak Ayu sopan, Dia tidak ingin mengganggu waktu Manda dengan ayahnya.
__ADS_1
Amanda melepaskan tangan Ayu, sesuai permintaan sahabatnya itu. Amanda berjalan di depan bersama ayahnya, sedangkan Ayu di belakang bersama kakak Manda.
"kenapa kamu mau ikut keluar mengantar kami, padahal kamu kan barusan masuk tadi?," Zidan heran dengan Ayu yang tiba-tiba ingin ikut mengantar Dia dan ayahnya.
"Yah... tidak apa-apa Kak!, memangnya tidak boleh ya?," Ayu bertanya balik, sambil berjalan cepat mengejar Manda yang sudah duluan berjalan menuju mobil warnah putih yang terparkir dekat pos penjagaan.
"Eh... nona tunggu dulu... itu bukan alasan yang tepat!," ucap Zidan memanggil Ayu yang berjalan meninggalkan dirinya di belakang.
Sebenarnya Zidan senang karena punya waktu agak lama berbincang-bincang dengan sahabat adiknya. Sejak awal melihat Ayu, Dia sudah merasa kalau sahabat adiknya itu berbeda dengan wanita-wanita yang ada di luar sana, yang sering mencari perhatian kepada Zidan.
Menurut Zidan, Ayu tipe gadis yang apa adanya, Dia belu pintar memanfaatkan situasi, dan yang paling penting Ayu adalah gadis yang masih sangat polos.
Sejak pertemuan pertama, waktu mengantar Ayu ke Bandara, Zidan sudah mulai memikirkan Ayu, terkadang dia mencari informasi tentang Ayu kepada Manda.
Zidan semakin penasaran dengan kehidupan Ayu, yang jarang terbuka soal keluarga nya, ditambah Ayu yang tidak punya nomor kontak, karena tidak memiliki handphone. hal-hal inilah yang membuat Zidan semakin penasaran dengan Ayu.
"Kenapa kamu jalan cepat-cepat?, seperti takut Aku makan saja!," ucap Zidan setelah mensejajarkan langkahnya dengan Ayu.
"Tidak apa-apa Kak, kakaknya aja yang jalannya kaya siput!," jawab Ayu sambil tersenyum menggoda Kakak Manda.
Ayu heran, hari Zidan cerewet, tidak seperti awal pertemuan mereka, dimana Zidan hanya berbicara seperlunya aja.
"Ini orang salah minum obat kali ya?," gumam Ayu dengan suara pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Zidan yang berjalan tepat di sampingnya.
"Hem... kamu jangan sembarang bicara soal. Aku ya!," Zidan tiba-tiba berbicara
Ayu hanya menanggapi ucapan Zidan dengan tersenyum, Ayu tidak tau harus menjawab apa, karena ternyata Zidan dengan, tentang apa yang sedang dia ucapkan barusan.
Sampai di dekat mobil Zidan masuk kedalam mobil dan membukakan pintu untu ayahnya.
"Sayang Papa pulang dulu ya, kamu baik-baik disini!," Ucap Ayah Zidan sambil memeluk anak gadisnya.
"Iya pa!... papa hati-hati di jalan, kak pelan-pelan ya nyetirnya.
"Iya Adikku yang cerewet!," jawab Zidan
__ADS_1
*** BERSAMBUNG ***