
Ichal berbincang-bincang mengenai kondisi nenek Ayu bersama pak Supri, supir pribadi keluarga Reza yang ada di Makassar.
Reza memang punya supir pribadi, bahkan salah satu cabang kantor dan rumahnya ada di kota Daeng itu, makanya tidak heran jika Reza punya supir pribadi yang dapat diandalkan setiap kali Reza membutuhkan sesuatu di kota Daeng, seperti saat ini, dimana calon istrinya sedang dalam kesusahan, sementara dirinya masih berada di luar negeri.
Tapi Ichal saja sebagai sahabat, dari belasan tahun lalu tidak mengetahui jika Reza punya rumah di Makassar, karena Ichal tidak pernah banyak bertanya tentang aset keluarga Reza.
Walaupun Reza sangat perhatian dengan anaknya Ayu, mulai awal mereka bertemu lima belas tahun lalu sampai sekarang, tapi Ichal selalu menganggap bahwa Reza hanya bercanda dengan dirinya.
Terkadang Reza memanggil Ichal, dengan panggilan ayah mertua, tapi Ichal menganggap itu hanya gurauan anak muda.
Sampai liburan kenaikan kelas baru-baru ini, Ichal minta tolong kepada Reza, untuk mengantar Ayu pulang kampung, jika Reza tidak sibuk karena Ichal tidak bisa pulang saat itu. Dan ternyata Reza bersedia karena memang Reza lagi ada urusan kerja di kota Daeng ini.
Ichal tidak pernah menganggap serius setiap ucapan sahabatnya itu. sampai saat Ichal bingung bagaimana membalas kebaikan Reza yang telah banyak membantu dirinya dan putrinya Ayu.
Berkat bantuan Reza, Ayu bisa pulang ke kampung dengan cepat, walaupun belum satu Minggu di sekolah nya. di tambah, karena dengan bantuan Reza pula, ibunya bisa di rawat di ruangan VIP, padahal asuransi kesehatan nenek Ayu hanya ruangan kelas Dua.
"Kalau begitu... jadi apa yang membuat pak Ichal bingung dan sedih seperti sekarang ini, bukankah seharusnya sudah beres semua?". tanya pak Supri lagi, karena Ichal sepertinya menyembunyikan sesuatu, hal itu tampak sekali dari raih wajah Ichal.
"Sebenarnya... Aku bingung Pak...
"Bingung bagaimana pak?, kalau Bapak tidak keberatan... bapak bisa bercerita dengan saya, siapa tau setelah bapak berbagi cerita dengan saya, pak Ichal akan merasa sedikit lega!". Potong pak Supri, Dia berharap kali ini Ichal ingin mengucapkan apa yang mengganjal di hati dan pikirannya.
"Entahlah pak... Aku bingung mau mulai bicara dari mana, karena ini masal keluarga saya!". Ucap Ichal gusar
"cerita saja pak Ichal, siapa tau saya bisa bantu dengan kemampuan yang saya punya!". desak Pak Supri merasa tidak sabaran dengan sahabat bosnya ini.
"Itu pak... Ibu saya meminta, agar Nur, putri saya segera menikah sebelum Beliau kembali menghadap ilahi!". Ucap Ichal menundukkan wajahnya. Ichal malu dan sedih sekali dengan kata-katanya.
Ichal merasa, seperti ayah yang sedang mengemis jodoh buat putrinya, padahal Ayu belum juga berumur Delapan belas tahun, tapi sudah di desak untuk menikah.
Pak Supri yang menjadi teman dan pendengar setia Ichal hari, hkanya bisa tersenyum simpul mendengar cerita dan ke putus asa an Ichal yang duduk disampingnya.
"Kenapa bapak bingung?, bukankah bos saya, Pak Reza, naksir dengan putri pak Ichal, mungkin bapak bisa berbicara dengan Dia?". tanya Pak Supri panjang lebar.
Pak Supri tidak faham dengan pemikiran ayah Ayu, padahal jelas-jelas, Reza sangat menyukai Ayu, tapi Ichal masih tidak bisa memahami hal itu.
__ADS_1
"Aku malu pak,... Reza sudah banyak membantu saya dan keluarga, dan Aku juga tidak yakin kalau Reza serius dengan Nur putri saya!". ucap Ichal mengeluarkan unek-unek yang dia pikirkan hari ini.
"Kenapa pak Ichal bisa berpikir seperti itu?, padahal Pak Ichal belum mencoba untuk berbicara dengan Pak Reza!". Pak Supri gemes sekali dengan Ichal.
Dalam pikiran Pak Supri saat ini "Mungkin karena ayah Ayu, terlalu lama menduda, jadi hal-hal semacam ini, sudah tidak peka lagi".
"Yah sudahlah pak... nanti Saya coba berbicara lagi dengan ibu saya mengenai hal ini, mudah-mudahan Beliau mengerti kondisi saya saat ini!". ucap Ichal berharap ibunya akan mengerti.
"Iya pak... saya selalu mendoakan yang terbaik buat keluarga bapak, terutama non Ayu... eh... maksud saya Nur!".
Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Pak Supri, Ichal kembali menemui putrinya Ayu.
"Ayah dari mana?". tanya Ayu setelah melihat Ichal berjalan ke arahnya
"Ayah dari jalan-jalan sebentar nak... cari angin segar!". jawab Ichal apa adanya.
Ichal belum berani menyampaikan kepada Ayu, soal permintaan Neneknya. Selain belum berani Ichal juga bingung harus bicara apa dengan Ayu.
"Ayah... kalau ada masalah, ayah bisa cerita dengan Aku Yah....!". harap Ayu, karena melihat wajah Ichal yang murung seperti banyak pikiran.
"Aku di sini aja Yah... lagian Aku sudah balik ke rumah tadi. bagaimana kalau ayah saja yang pulang ke rumah istrahat?, ayah kan belum istrahat dengan baik dari kemarin!". usul Ayu karena mengira ayahnya sedang kecapean menunggu nenek.
Tiba-tiba suara handphone Ichal berbunyi.
"Ayah... ada telpon tu...!". ucap Ayu karena ayahnya belum mengangkat telponnya.
"Oh... iya nak!". Jawab Ichal sambil mengeluarkan Handphone dari saku celananya.
Ichal melihat di layar handphone, sebelum menggeser tombol hijau di layar.
"Reza ...!". gumam Ichal
Ayu yang duduk pas di samping Ayahnya, mendengar gumaman Ichal.
"Ayah angkat telpon dulu ya nak!". pamit Ichal ingin jauh sedikit dari anaknya sebelum mengangkat telpon.
__ADS_1
"Iya yah...!". jawab Ayu sebelum Ichal beranjak dari tempat duduknya
"Assalamualaikum Mas...!". ucap Reza
"Waalaikum salam... Bagaimana Bro, apa sudah balik ke Indonesia?". Tanya Ichal basa-basi.
"Ini baru rencana mau balik sebentar, karena pak Susilo datang dengan istrinya, katanya biar dia saja yang menyelesaikan semua urusan bisnis disini!". Jawab Reza menyebut ayah dan ibunya.
"awal lho kuawalat dengan Ibu dan ayah lho, panggil nama segala!". ucap Ichal sedikit terhibur dengan gurauan Reza.
"Bagaimana kabar ibu, apa dia sudah baikan?". tanya Reza.
Sebenarnya Reza tahu semua informasi mengenai kondisi Keluarga Ayu saat ini, melalui beberapa informasi, selain pak Supri, di rumah sakit tempat nenek Ayu dirawat ada juga temannya yang bertugas sebagai dokter di rumah sakit itu. hanya saja Dia ingin bertanya langsung dengan Ichal.
"Ibu sudah siuman tadi... hanya saja...!". Ucapan Ichal terpotong.
Ichal hampir saja mengatakan sesuatu yang menurut nya tidak pantas di dengarkan oleh orang lain.
"Hanya saja kenapa Mas?, jangan sembunyikan sesuatu dari saya, Kitakan sudah janji akan saling membantu satu sa lain!". tanya Reza dengan serius.
"itu... lupakan saja, tidak penting!".
"Kalau ada apa-apa, tolong beri tahu Saya Mas, Aku akan membantu sebisa saya, apalagi kalau ini menyangkut Anandita!". harap Reza.
Reza menelpon Ichal, karena barusan Pak Supri menelpon dan memberi tahukan, kalau Ichal sedang dalam masalah, soal permintaan nenek Ayu, dan Ichal tidak yakin soal Reza yang benar-benar menyayangi Ayu.
"Iya pasti Bro... thanks ya, atas perhatiannya kepada keluarga saya!". ucap Ichal, bersyukur karena Reza tetap baik kepadanya walaupun selama ini dia sudah jarang bertemu langsung dengan sahabatnya itu.
"Santai Bro, seperti Aku orang lain saja...!". jawab Reza diiringi gurauan ringan.
"salam buat calon istriku...!". ucap Reza lagi sebelum mengakhiri telponnya.
Setelah Ichal selesai menerima telpon, Dia kembali mendekati Ayu.
*** BERSAMBUNG ***
__ADS_1
See you All 😘😘😘