
Tidak lama setelah setelah perbincangan nenek dan Ayu, Reza masuk dengan menenteng kantong plastik di tangannya,
"Assalamualaikum Nek, Aku datang," ucap Reza canggung karena melihat nenek dan Ayu masih dalam posisi berpelukan, di pelupuk mata nenek masih terlihat ada setitik air mata
"Waalaikum salam wb," jawab nenek bersamaan dengan Ayu, mereka berdua memperbaiki posisi duduknya,
"Eh... nak Reza sudah datang, kalau begitu nenek ambil piring dulu ya!," ucap nenek, ingin berdiri, tapi Ayu segera berdiri duluan,
"Biar Ayu aja Nek yang ambil piring, nenek duduk aja disini," ucap Ayu dan berjalan masuk ke dapur
Reza meletakkan makanan yang dia bawah diatas meja, tidak lama kemudian Ayu datang membawa piring dan mangkuk yang berisi air untuk mencuci tangan,
Ayu dengan hati-hati memindahkan makanan yang di bawah Reza kedalam piring.
Ayu mengambilkan Nenek nasi di piring,
"Nek, ini nasi dan lauknya," ucap Ayu menyerahkan piring yang berisi makanan kepada nenek,
Nenek mengambil piringnya dengan wajah yang tersenyum, Reza melihat semua itu dengan perasaan yang sangat bahagia,
"Mas... ini nasinya, silahkan makan!," Ayu menyodorkan piring berisi nasi kepada Reza,
Ayu adalah gadis yang tahu tata Krama, karena nenek mengajarkannya sejak Dia masih kecil,
"Terimakasih kasih sayang," ucap Reza spontan,
Ayu yang mendengar kata-kata SAYANG yang selalu di ucapkan Reza, merasa malu sendiri, bagaimana tidak? Reza adalah orang pertama yang selalu memanggilnya dengan Sayang,
__ADS_1
Sementara nenek yang duduk disamping Ayu pura-pura tidak mendengarkan apa yang dikatakan pemuda di depannya, menurut nenek yang penting Reza tidak melampaui batas, nenek tidak merasa keberatan, dan nenek melihat Reza adalah sosok pria dewasa yang penuh dengan sopan santun dan menjunjung tinggi nilai sebuah hubungan.
***
Selesai makan, Reza ingin berpamitan, dia ingin berpamitan untuk pulang ke Jakarta besok karena tiba-tiba, tadi diperjalanan sebelum membeli makanan Ayahnya menelpon, memberitahu kalau besok dia harus memimpin rapat karena ayahnya masih berada di luar negeri menangani urusan yang tak kalah penting,
"Nek... Reza sekalian mau pamit ya, besok pagi-pagi sekali, Aku harus ke Bandara," ucap Reza memegang tangan nenek, Dia merasa berat meninggalkan nenek dan Ayu setelah sekian belas tahun baru bertemu lagi, tapi demi menaati perintah Ayah dan kelancaran bisnisnya Dia harus berpamitan,
"Kenapa cepat sekali nak, kamu kan baru beberapa hari di sini?," tanya nenek heran,
"iya Nek, maafkan Aku, sebenarnya Reza masih ingin lama-lama disini bersama nenek dan Ayu, tapi Ayahku baru saja menelpon dan menyuruh Aku menangani kerjaan," jawab Reza masih menggenggam tangan nenek,
"Oh,.. begitu ya nak, Salam buat ayah kamu, sampai kan ucapan terimakasih nenek karena sudah berbaik hati mengijinkan nak Reza waktu itu mendonorkan darahnya untuk Anandita, kalau tidak nenek tidak tahu apa yang akan terjadi dengan cucu nenek," ucap nenek mengenang kejadian beberapa belas tahun silam, kalah Ayu mengalami kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah, sementara Rumah sakit kehabisan stok dan diantara keluarga tidak ada yang sama golongan darah dengan dirinya. Ayu memiliki golongan darah AB sama seperti ibunya.
"Iya Nek, nanti Reza sampaikan salam nenek sama Ayah, dan ini ada sedikit titipan buat Ayu dan nenek dari Ayah, mohon diterima ya Nek!," ucap Reza sambil menyerahkan sebuah amplop coklat kepada nenek,
" ini apa nak?, nenek tidak mau merepotkan kalian, selama ini kalian sudah baik dengan kami, terimakasih banyak ya Nak," ucap nenek merasa tidak enak,
"Aku pamit ya Nek, mau siap-siap, dan mau hubungi Pak supir untuk mengantarkan Reza ke Bandara," ucap Reza sambil berdiri dan menyalami nenek, lalu dia mendekati Ayu, yang masih duduk di kursi samping nenek,
"Ayu... Mas pamit ya!, jaga diri baik-baik, satu Minggu lagi kamu balik ke Sekolah, Mas usahakan jemput di Bandara," Ucap Reza berpamitan dengan gadis kecilnya yang sudah remaja, sebenarnya Reza sudah berjanji ingin menemani Ayu sampai pulang ke Jakarta, tapi karena ada urusan yang sangat penting di kantor jadi dia harus pulang duluan,
"Eh... iya Mas, hati-hati ya, sampai ketemu lagi," Ucap Ayu menundukkan kepala, sebenarnya Dia sedih, tapi Dia tidak ingin menunjukkannya kepada nenek dan Reza,
"sebelum Mas pulang, kamu pegang handphone Mas ya, ini kamu pake hubungi Mas, di dalamnya ada kontak Ayah kamu dan Mas," Reza memberikan handphone yang ada di saku jaketnya kepada Ayu agar Dia mudah menghubunginya,
"Tapi... inikan handphone Mas Reza, kenapa diberikan kepada Ayu?, Ayu juga tidak terlalu membutuhkannya Mas, lagian kalau ayah ingin menghubungi Ayu, ayah bisa hubungi Ayu lewat pembina Asrama, Mas ambil aja handphone nya, nanti Mas ada yang hubungi, tapi Handphone Mas ada sama Aku bagaimana?," tanya Ayu bingung dan tidak enak hati dengan pemberian barang pribadi Reza,
__ADS_1
"tenang aja Anandita, sebentar sampai penginapan, Pak Supri, keponakan pak Supir yang antar kami kemarin dari bandara akan membawakan Mas Handphone, tadi Mas sudah hubungi suruh belikan Handphone, karena kebetulan dia lagi ke kota tadi sore, lagian SIM card di handphone itu adalah nomor pribadi Mas, dan tidak ada yang tahu, selain ayah kamu dan Ayah Mas, jadi kamu tenang aja ya, kamu pakai dengan baik, sampai asrama kamu bisa menyimpannya sama pembina Asrama kamu, kalau begitu Mas pamit ya, sampai ketemu di Jakarta!,"
Nek... Reza pamit ya, jaga kesehatan nenek, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi Reza Nek!", ucap Reza berbalik dan memeluk nenek dengan erat, Reza juga menyayangi nenek Ayu seperti neneknya sendiri karena seumur hidup Reza,
Dia tidak sempat melihat wajah nenek dan kakeknya, kata Ayah dan ibunya
"Nenek dan kakek Reza sudah meninggal waktu Reza masih dalam kandungan ibunya, sementara nenek dan kakek dari ayahnya juga sudah meninggal sebelum Ayah Reza menikah dengan ibunya," jadi Reza tidak mengenal kedua nenek dan kakeknya.
Nenek mengantar Reza sampai kedepan pintu, sementara Ayu di suruh nenek mengantar Reza sampai ke mobil,
"Ayu... Sayang... Mas, pamit ya, kalau ada apa-apa hubungi Mas, satu Minggu lagi kita ketemu di Bandara, nomor handphone Mas ada di Handphone yang mas kasih tadi," ucap Reza setelah sampai di samping mobilnya, sementara Ayu hanya menunduk, sebenarnya dia berat melepaskan Reza, tapi Ayu tidak tahu dengan apa yang dia rasakan,
"Ayu... kamu tidak ingin melihat Mas?, ko dari tadi mas perhatikan kamu menunduk terus! tanya Reza bingung dengan gerak-gerik Ayu yang tidak seceria sejak pertama kali ketemu,
"i.. iya... Mas, Aku tidak apa-apa, hanya...",
"Hanya kenapa Yu, kamu sedih yah karena Mas harus pulang cepat?," tanya Reza sambil tersenyum menghadap ke arah Ayu,
"Ih... Mas Reza, apa-apaan sih, malu tahu...," ucap Ayu cemberut, kini Dia sudah tidak menundukkan wajahnya,
"Tapi... Mas benar besok pagi-pagi harus pulang?, tidak seru dong Mas... katanya Mas, mau ajakin Ayu ke Pantai?," tanya Ayu masih meminta jawaban dari Reza
"Iya... sayang, mas Reza harus pulang karena ada kerjaan yang sangat penting, lain kali kalau Ayu libur, Mas akan usahakan mengajak Ayu jalan-jalan ke pantai di Jakarta,"
"janji ya Mas, sekalian ajak sahabat Aku juga ya, nanti Aku kenalkan!," kata Ayu senang karena di janji akan diajak ke pantai dengan Reza,
"iya janji, tapi sahabat kamu cewek atau cowok? atau jangan-jangan Pria yang bernama Abuts itu ya?," tanya Reza, Dia penasaran dengan sahabat gadis kecilnya,
__ADS_1
"cewek Mas!, kalau Kak Abuts itu belum jadi sahabat Aku, cuma senior aja," ucap Ayu menjelaskan,
"kalau cewek bolehlah sayang, nanti Mas ajak liburan ya, kalau begitu Mas pamit ya," ucap Reza menghampiri Ayu yang berdiri di depannya.