
Ichal keluar menemui keluarga dan para tetangga yang datang ke rumah ibu Siti, kebanyakan cerita mereka malam itu adalah mengenai Ibu Siti dan Ayu, karena para tetangga sangat mengenal dengan baik bagaimana keseharian ibu Siti, Dan tidak sedikit juga saudara yang menanyakan, tentang Ayu, karena Putri Ichal itu masih sekolah dan ternyata Tuhan begitu cepat mengambil Ibu Siti yang Ayu anggap sebagai orang tua perempuan satu-satunya di dunia ini, jadi keluarga sangat kasihan dengan Ayu di tambah Ichal juga belum menikah lagi sampai sekarang.
Para tetangga maupun keluarga, belum ada yang tau, jika Ayu sudah menjadi istri Reza sejak siang tadi, karena memang Ichal belum memberi tahukan mengenai pernikahan Ayu.
Dan Ichal juga, belum berniat untuk menyebarkan berita pernikahan Ayu, bukan saja karena Ayu yang menikah karena atas permintaan sang nenek, tapi lebih kepada menjaga nama baik putrinya, agar tidak di kira menikah karena darurat atau kecelakaan.
Ichal berniat menyebarkan berita mengenai putrinya yang sudah menikah, jika Ayu sudah siap.
Setelah jam Sepuluh malam lewat, semua tetangga dan sanak saudara yang tinggal di kampung sebelah meninggalkan rumah ibu Siti. Dan kini tertinggal keluarga inti Ichal, Zidan dan keluarga pak Supri yang tersisa.
Akhirnya Zidan masuk ke dalam rumah setelah para tamu yang bertakziah pulang semua.
"Maaf De' kami dari tadi tidak berkenalan sejak di rumah sakit... perkenalkan... saya Ayahnya Ayu Nur Anandita, dan... yang itu Om nya... adik kandung saya!". Ichal memperkenalkan dirinya dan adik kandungnya, setelah melihat Zidan duduk di sampingnya.
"Iya Pak... Salam kenal juga... Saya Zidan... kakak dari sahabat Ayu di asrama!". Zidan juga memperkenalkan dirinya.
"Oh... kamu kakaknya Amanda... Putri saya banyak cerita mengenai adik kamu itu, dan ternyata putri saya tidak salah, ternyata keluarga kamu memberi pendidikan kepada anaknya dengan baik... Terimakasih banyak sudah mau datang menemui anak saya, padahal situasinya seperti ini!". ucap Ichal panjang lebar, merasa akrab dengan Zidan yang bersifat ramah dan sopan.
"Maaf pak... Mas... malam ini saya boleh menginap di sini tidak?, Soalnya ini sudah malam dan Saya tidak tau soal kampung ini!". tanya Zidan jujur.
"Boleh banget Mas... silahkan!". jawab Ichal sambil menepuk pundak Zidan dengan lembut.
Sementara di dalam kamar, Reza baru saja terbangun karena merasakan ada sesuatu di atas dadanya. Reza berusaha membuka mata dan mengembalikan kesadarannya.
Dan Reza baru ingat, jika saat ini Dia sedang berada di rumah nenek Ayu.
Dengan gerakan yang sangat pelan, Reza mengangkat kedua kakinya yang bergelantungan di lantai karena posisi tidurnya yang melintang.
__ADS_1
Reza juga tidak ingat, kapan Dia mulai tertidur di dalam kamar Istrinya, yang Reza ingat, tadi Dia hanya menemani istrinya yang lagi tertidur, dan berniat akan keluar dari kamar itu, setelah memastikan Ayu tertidur dengan lelap.
Ternyata Reza malah ikut tertidur juga. Setelah Reza memperbaiki posisi kakinya yang terasa kesemutan di tambah dadanya yang di tindih oleh sang istri, Reza tidak bisa terlalu banyak bergerak, Jadi Reza hanya bisa mendengar pembicaraan orang-orang yang masih berada di ruang tamu sambil berbaring.
"Sayang... Kamu pasti sangat lelah hari ini!". Gumam Reza sambil mengusap lembut kepala Ayu yang tertidur pulas di atas dadanya.
Reza juga tidak tahu, kapan dan kenapa Ayu tidur sambil menjadikan dada Reza sebagai bantal kepala?, tapi yang Reza rasakan adalah perasaan bahagia, walaupun itu hanya melihat sang istri tertidur nyenyak diatas dadanya.
Melihat Ayu yang memejamkan mata, membuat Reza merasa gemes dan ingin mencubit hidung mungil istrinya itu, tapi Reza menahan diri karena tahu jika istrinya saat ini sangat membutuhkan istrahat, di tambah Ayu dari tadi hanya menangis, mulai sejak sebelum menikah dengan Reza. sampai Ayu tertidur, Reza masih bisa melihat dengan jelas, sisa-sisa air mata Ayu yang belum mengering di pipi sang istri. Hal itu yang membuat Reza tidak tegah membangunkan Ayu.
"Bang... Nur dan suaminya ke mana?, ko....dari tadi Aku tidak melihat Mereka berdua?". Tanya Om Ayu kepada Ichal.
"Oh... keponakan kamu lagi tertidur di kamarnya, mungkin Dia sangat lelah... dan Reza juga ada di dalam menemani Nur!". Jawab Ichal jujur.
Mendengar pembicaraan antara Ichal dan Om Ayu barusan, membuat hati Zidan yang duduk di samping Ichal, tiba-tiba merasa sangat sakit, Namun Zidan berusaha tetap tegar dan menahan perasaan sakit hatinya.
"Kasian sekali Nur Bang... apa rencana Abang selanjutnya... ?". Tanya Om Ayu merasa penasaran, kemana hubungan pernikahan Sang keponakan akan di bawah bersama dengan pria yang Ayu sendiri belum kenal dengan baik.
"Maksud saya Bang... Bagaimana hubungan Nur dan suaminya, apakah tetap akan dilanjutkan, bagaimana jika Nur sebenarnya tidak menginginkan dan tidak bahagia dengan pernikahan ini Bang...?". Om Ayu berusaha menjelaskan maksud arah pembicaraannya.
"Stop de'... Jangan bahas tentang itu dulu... Ayo kita fokus dengan urusan ibu dulu, besok kita tanya kepada tetangga, siapa tau ibu punya wasiat yang kami sebagai anaknya belum tau?". Ichal memotong perkataan adiknya, Dia tidak mau mendengarkan kata-kata yang mempertanyakan soal hubungan Ayu dengan Reza.
Untuk sementara, Ichal belum ingin membahas soal hubungan putrinya dan sahabatnya itu, menurut Ichal, Reza sudah dewasa, jadi sudah bisa bertanggung jawab dengan tindakan yang dia pilih, yaitu menikahi Ayu.
Waktu menunjukkan sudah hampir jam dua puluh tiga malam. Reza baru keluar dari kamar Ayu dengan penampilan sudah rapi, karena sebelum keluar Reza sempat merapikan rambutnya menggunakan sisir Ayu yang ada di dalam.
"Maaf... Saya ketiduran tadi!". ucap Reza setelah duduk di samping Om Ayu.
__ADS_1
"Santai saja Mas... kami tahu kalau Mas Reza pasti kecapean!". Jawab Pak Supri sambil tersenyum ke arah Reza.
Suasana tiba-tiba menjadi canggung setelah Reza bergabung bersama Ichal.
"Apakah kalian semua sudah makan malam?". Tanya Reza memecahkan suasana.
"Oh iya, kami sampai lupa kalau belum makan malam!". ucap Ichal baru sadar jika dirinya dan yang tinggal malam ini belum ada yang makan malam.
Tadi Ichal hanya membeli beberapa karton air mineral gelas untuk di minum orang-orang yang datang untuk takziah.
"Kalau begitu biar Aku pergi membeli makanan di ujung jalan sana!". Ucap Reza ingin beranjak dari tempat duduknya.
"Biar Aku saja Mas...!". Ahmad yang berdiri dan berjalan keluar rumah.
"Aku bisa ikut Mas...?". tiba-tiba Zidan bersuara setelah sekian lama terdiam dan hanya menjadi pendengar setia.
"Boleh Bang...!". Jawab Ahmad yang sudah berada di teras rumah.
"Makanannya di samain semua ya... tidak menerima komplain!". Ucap Ahmad lagi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan orang-orang yang ada di di dalam rumah.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit akhirnya Ahmad dan Zidan datang membawah nasi goreng.
Mereka semua makan dengan lahap karena memang mereka dari tadi siang tidak makan dengan benar karena mengurus pernikahan di rumah sakit, sesuai permintaan ibu Siti.
"Za... kamu tidak bangunkan Istri kamu makan?". Tanya Ichal melirik ke arah Reza.
"Nanti saja Mas baru Anandita makan kalau sudah bangun, kasian kalau di bangunkan, sepertinya Dia sangat kelelahan karena menangis terus setengah hari ini!". Jawab Reza jujur kepada ayah mertuanya.
__ADS_1
"Panggil ayah dong... kenapa masih panggil Mas!". goda Om Ayu kepada Reza.
*** BERSAMBUNG ***