
Ayu terus memandang wajah nenek nya yang masih betah memejamkan mata, sebelah tangan nenek terpasang selang infus.
Setelah hampir tiga puluh menit Ichal keluar untuk mencari makan, akhirnya Dia kembali keruangan ibunya.
Ayu yang mendengar ada yang membuka pintu ruang rawat nenek nya, langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Ayah...!," ucap Ayu setelah melihat, kalau yang datang adalah Ichal ayahnya.
"Iya nak, ini ayah... ayo sini kita makan sama-sama!," Ajak Ichal kepada putrinya, karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga belas lewat empat puluh lima menit.
Ichal tahu kalau Ayu pasti belum makan, karena kebiasaan Ayu kalau ingin pergi ke suatu tempat, Putri nya itu, tidak selera makan, apalagi hari ini, Ayu pasti sok karena mendapatkan kabarkan kalau neneknya sedang sakit.
Ayu berjalan mendekati ayahnya yang membuka makanan yang di bawah barusan di atas meja.
Ayu duduk di samping Ayahnya untuk menikmati makan siang bersama. Sudah lama rasanya Ayu tidak menikmati makan siang bersama Ayahnya.
Selesai makan, Ayu membersihkan bekas makanan, Ayu membuang Semua sampah makanan dirinya dan Ayahnya.
Lalu Ayu duduk kembali di samping Ayahnya, sambil melihat neneknya yang masih belum bangun, Ayu berpikir, mungkin neneknya belum bangun karena pengaruh obat.
"Ayah... nenek sakit apa sih?, ko tiba-tiba di bawah ke rumah sakit". Ayu bertanya kepada Ayahnya, karena mengira ayahnya sudah tahu.
"Ayah juga tidak tahu nak... kita tunggu Dokter aja, baru kita tanyakan, kata suster yang... yang datang memeriksa infus nenek, sore ini baru hasil diagnosa nenek keluar!," jawab Ichal
"Tapi nenek tidak apa-apa kan yah?, Ayu takut, melihat nenek sakit seperti ini!," tanya Ayu lagi karena melihat ayahnya terdiam setelah menjawab pertanyaannya barusan.
"Iya nak... kita doakan, mudah-mudahan, nenek cepat sembuh!". jawab Ichal dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Tiba-tiba penyesalan dalam dirinya muncul dengan sendirinya ketika melihat Ibunya terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Ayu yang melihat ayahnya memalingkan wajah, tahu kalau ayahnya sedih seperti dirinya, karena seingat Ayu baru kali ini nenek di rawat di rumah sakit.
Dulu nenek pernah sakit, tapi tidak sampai di rawat seperti saat ini.
"Kalau ayah mau istrahat, ayah pulang aja ke rumah, biar Ayu yang temani nenek di sini!". ucap Ayu kepada Ayah nya.
Ayu tahu kalau ayahnya capek dan sangat sedih melihat kondisi nenek, makanya Dia menyuruh ayahnya untuk pulang ke rumah menenangkan diri.
"Tidak usah nak... ayah di sini saja dulu, kita tunggu Dokter datang, biar kita tahu, nenek sakit apa sebenarnya!," tolak Ichal
"Kalau begitu... ayah baring-baring aja di sofa ini, Ayu mau ke kamar kecil sebentar!". Ayu meninggalkan ayahnya di sofa, Dia masuk ke dalam kamar kecil untuk membasuh wajahnya yang sedikit lelah.
"Kenapa supir kantor Mas Reza tadi yang datang menjemput Ayu di Asrama ya?, bahkan dia juga mengatur semua hal tentang keberangkatan Aku pulang ke kampung!," Ayu tiba-tiba teringat hal-hal yang dia alami tadi pagi di asrama.
Setau Ayu, Reza pernah bilang waktu mengantar dirinya, " Kalau Dia akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnis!",
"Nanti Aku tanyakan sama Ayah...!," Gumam Ayu, di dalam kamar mandi.
"Mas Reza... jujur... Ayu merindukan Mas Reza!". ucap Ayu dalam hati sambil melihat wajahnya di cermin yang ada di dalam kamar mandi.
Ayu mengira, kalau Dia merindukan Reza karena Reza sudah banyak membantu dirinya dan keluarganya.
Selama ini Ayu menganggap kalau perjodohan dirinya dan Reza seperti yang nenek dan Reza pernah katakan pada dirinya, hanya candaan semata, dan Reza tidaklah serius.
Hal itu bukan karena ayu tidak punya alasan, Ayu sadar diri, mana mungkin Reza serius dengan ucapannya waktu itu. bukankah Reza, pria dewasa?... mana mungkin Reza tidak punya kekasih di luar sana?, sementara dirinya hanyalah gadis yang baru berusia Tujuh belas tahun, belum cukup delapan belas tahun.
__ADS_1
Kalau ditanya apakah Ayu merasa nyaman di dekat Reza, Jawabannya, Ayu sangat nyaman bahkan dirinya ingin selalu berada dekat dengan Reza. tapi Ayu tidak tahu apakah ini yang dinamakan jatuh Cinta?, Ayu belum tahu, karena dia belum pernah berpacaran sebelum nya. Bahkan dekat dengan laki-laki, Ayu selalu menjaga jarak, sejak penyakit anehnya muncul.
Ayu takut tidak bisa mengontrol penyakit yang tiba-tiba datang saat dia dekat dengan lawan jenis atau saat menstruasi datang, penyakit anehnya itu sering datang, dan Ayu sangat tersiksa dengan keanehan yang dia alami.
Setelah merasa cukup dengan lamunannya di dalam kamar mandi, Ayu keluar dan melihat ayahnya sudah memejamkan mata di atas sofa.
Ayu berjalan mendekati nenek nya yang masih belum membuka mata.
Ayu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur neneknya, Ayu terus memandang wajah nenek.
Dalam hati terbersit ketakutan, takut jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada neneknya.
Kalau hal itu sampai terjadi, Ayu tidak tahu harus tinggal dan bersama siapa?, tidak mungkin dia berhenti sekolah dan ikut dengan ayahnya pergi ke Papua.
"Ah... Ayu... kamu sedang berpikir apa sih?," Ayu memukul kepalanya berkali-kali.
*** BERSAMBUNG ***
Author Ucapkan terimakasih kepada para pembaca yang telah menyempatkan waktu untuk mampir di karya Author.
jangan lupa dukun terus karya Author sampai selesai!!!
Sampai jumpa pada bab-bab berikutnya.
Akan banyak kejutan yang author tuliskan di novel ini!!!
See you All 😘😘😘
__ADS_1