
"Pah... serius banget!". Ucap Reza setelah sampai di dekat ayahnya yang sedang membaca buku.
Pak Susilo mengangkat kepala dan melihat wajah putra semata wayang dan menantu barunya.
"Sini duduk dulu di samping papa...!". panggil pak Susilo kepada Ayu yang hanya berdiri kaku di belakangnya Reza.
"Ayo duduk dulu sayang...!". Ucap Reza menarik tangan Ayu dengan lembut.
Setelah beberapa menit berbincang-bincang dengan Anak dan menantunya, Pak Susilo melirik Asisten rumah tangga yang datang menghampiri mereka.
"Apakah Ibu mau bergabung makan malam?". tanya pak Susilo kepada asisten rumah tangga itu.
"Anu pak... itu... kata ibu, bapak sama Mas Reza makan aja duluan, ibu lagi kurang enak badan jadi tidak bisa gabung, dan... ibu juga bilang, tidak selera makan...!". Jawab asisten rumah tangga Reza dengan takut-takut sambil terus menundukkan wajahnya.
Ayu yang duduk di samping Reza, terus memperhatikan perubahan raut wajah pak Susilo setelah ART Reza berbicara.
Pak Susilo sangat kesal, tapi Dia berusaha menahan amarahnya karena tidak ingin menantu yang baru saja datang di rumah nya merasa tidak nyaman.
"tidak apa-apa... nanti saya antar kan ibu makan malamnya ke kamar, kamu kembali saja ke dapur!". Ucap pak Susilo dengan suara berat, seperti sedang menahan sesuatu yang menyesakkan di dada.
Perlahan-lahan pak Susilo menghembuskan napasnya dengan kasar, Hal itu tidak luput dari pengamatan Reza dan Ayu.
Sebagai orang yang sudah sangat kenal dengan mamanya, Reza merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tingkah mamanya,
Hal itu juga yang dirasakan oleh Ayu, walaupun Ayu belum pernah melihat, apalagi kenalan dengan ibunya Reza, tapi Ayu sudah bisa merasakan aura ketidak nyamanan di dalam rumah utama Reza.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita makan dulu... pasti kalian capek!". Pak Susilo bangkit dari tempat duduknya Daan mengajak anak serta menantunya menuju meja makan.
Setelah sampai ruang makan, Reza menarik kursih untuk Ayu.
"Silahkan duduk sayang...!". Ucap Reza dengan suara sangat lembut.
Melihat Reza memperlakukan Ayu dengan penuh perhatian, sedikit menghilangkan rasa kesal di hati pak Susilo yang dari tadi jengkel dengan Istrinya.
Pak Susilo tiba-tiba teringat dengan kisah percintaan dirinya dengan ibu Reza, Dimana dulu Dia sangat tidak di restui bahkan ditentang oleh keluarga Darti untuk berpacaran, tapi karena Pak Susilo sangat mencintai dan menyayangi ibu Reza, pak Susilo nekat untuk tetap menjalin hubungan, bahkan nekat melamar Ibu Darti, walaupun strata sosial Pak Susilo jauh di bawah ibu Darti.
Darti berasal dari keluarga yang cukup berada di kampungnya, karena ke dua orang tuanya adalah pegawai negeri, sedangkan Pak Susilo hanya anak dari seorang petani cengkeh yang baru mulai merintis perkebunan, itu pun kebun yang kakek Reza beli dari hasil warisan yang di jual barulah dia mulai menanam cengkeh.
Setelah menikah dan selesai menempuh pendidikan di fakultas pertanian di Makassar, barulah pak Susilo kembali ke Palu untuk menerapkan ilmu yang dia dapatkan, dan akhirnya Pak Sisi sukses sampai sekarang.
Tapi yang membuat pak Susilo tidak faham, kenapa istrinya itu tidak merestui hubungan Reza dengan Ayu, bukankah dulu Ibu Reza sudah merasakan, bagaimana susahnya hidup berumah tangga Tampa restu dari orang tua?".
Yang pak Susilo tahu, sejak Reza bertemu dan menolong Ayu saat usianya masih Tiga Belas tahun, hanya Ayu yang Reza inginkan, bahkan ketika Reza kuliah di luar negeri, pak Susilo tidak pernah mendengar Putranya itu terlibat dengan seorang wanita. Hal itulah yang membuat Pak Susilo mendukung Reza untuk menikah dengan Ayu, walaupun terkesan hanya untuk memenuhi permintaan nenek Siti.
"Pak... eh... Papa mau makan apa?, biar Ayu yang ambilkan!". Dengan gugup Ayu berdiri dan ingin mengambil laut untuk pak Susilo.
Mendengar Ayu berbicara, Pak Susilo baru tersadar dari lamunan panjangnya.
"Oh... papa mau makan ikan bandeng bakar sama sayur itu nak?". Tunjuk pak Susilo ke rah mangkuk yang berisi sayur bening daun kelor kesukaannya.
Dengan perasaan yang masih gugup, Ayu mengambil lauk yang pak Susilo inginkan.
__ADS_1
Selesai makan malam, pak Susilo mengajak Reza dan Ayu berbincang-bincang di ruang keluarga. Pak Susilo bertanya banyak hal tentang rencana Reza kedepannya, karena sebagai seorang laki-laki yang sudah menikah harus punya pandangan yang lebih cerah ke depannya.
"Nak... sebagai kepala keluarga, kamu harus lebih bijak dalam mengambil tanggung jawab kedepannya... baru kapan kamu mau bekerja dengan serius di kantor?". Pak Susilo menasehati dan bertanya dengan serius, berharap, kali ini Reza ingin menjadi penanggung jawab atas perubahan dirinya yang ada di Jakarta, karena jujur pak Susilo tidak terlalu betah tinggal di ibu kota.
Apalagi melihat Ibu Reza, belum mau menerima Ayu sebagai menantunya. pak Susilo ingin segera membawa istrinya itu kembali ke Palu, hidup berdua di sana, biarlah Reza yang mengelola sepenuhnya perusahaan yang ada di Jakarta dan di ibu kota lainnya.
Pak Susilo sudah ingin pensiun, apalagi Reza sudah memiliki istri.
"Kan Reza sudah kerja di perusahaan Pah... hanya saja kalau Reza yang di beri kepercayaan untuk mengelola sepenuhnya dengan semua perusahaan papa yang ada di sini, sepertinya... Reza belum sanggup Pah... lagian papa ada-ada saja mau pensiun terlalu dini, kan Reza masih butuh bimbingan papa!". Reza sebelum siap untuk mengemban tanggung jawab yang begitu besar.
"Oh ya... bagaimana dengan apartemen yang kau jadikan mahar... apakah kalian mau tinggal di sana?". Pak Susilo tiba-tiba teringat dengan Mahar yang Reza berikan kepada Ayu, karena Apartemen itu sangat dekat dengan sekolah Ayu, dan Pak Susilo tidak mengijinkan Ayu untuk tinggal di asrama lagi mulai sekarang.
"Kalau masalah itu, nanti Reza bicarakan dulu dengan Ayu pah... lagian Ayu belum lihat apartemen nya itu!". Jawab Reza belum ingin membahas soal tempat tinggal mereka.
Yang ada di dalam pikiran Reza saat ini, kenapa Mamanya seolah-olah tidak ingin bertemu dengan istrinya?, padahal mamanya sama sekali belum pernah bertemu dengan Ayu.
"Pah... Aku dan Anandita ingin menemui mama dulu....!". Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan pak Susilo, Reza meminta ijin untuk bertemu ibu Darti.
"Oh boleh... Ayo kita naik ke atas, sekalian papa bawakan makanan buat mama dulu?". Ucap pak Susilo sebelum berjalan masuk ke dapur untuk meminta disiapkan Makanan.
Dengan gugup Ayu mengikuti Reza sampai masuk ke salah satu kamar.
*** BERSAMBUNG ***
See you All πππ
__ADS_1
Maaf jika telat update, maklum akhir-akhir ini author banyak kerjaan,
Jangan lupa, berikan terus dukungannyaπππ