
Jakarta pukul 20.15, seorang pria yang berwibawa tinggi dan disegani oleh para karyawan di kantornya sedang uring-uringan di ruang kerja, bagaimana tidak, sudah hampir setengah jam dia melelpon nomor handphone seseorang tapi sampai sekarang belum ada jawaban dari seberang.
Yah... kini Reza sedang menatap handphone yang dia letakkan diatas meja kerjanya, dari tadi dia menelpon gadis pujaan hatinya, tapi sampai detik ini, gadis itu tidak menjawab telponnya padahal nomor yang di hubungi aktif.
"Ah... Anandita kamu ada di mana dan lagi buat apa sih sayang,... kenapa telponnya tidak di jawab?", gumam Reza dengan nada yang kesal.
Selang beberapa menit Reza keluar dari ruang kerja yang ada di rumahnya, kali ini dia lapar, mungkin pengaruh dari tadi siang dia tidak makan dengan lahap, pikirannya bercabang, hari ini pekerjaan di kantor banyak, mana besok dia sudah janji ingin menjemput gadis kecilnya di Bandara.
Rumah Nenek...
"Akhirnya selesai juga, saatnya istirahat sebentar sebelum sikat gigi," gumam Ayu sambil menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya, hari ini dia ingin menikmati malam panjangnya di kamar tempat Dia di besarkan.
"Kangen juga dengan suasana Asrama, kangen dengan senior-senior dan yang paling Aku kangenin, sahabat Aku Amanda, Ah... Manda lagi buat apa ya?, apa dia suda ada di Jakarta ya?," Ayu terus mermonolog dalam hati, sunggu dia sangat kangen dengan asrama dan merindukan saat-saat belajar bersama dengan teman-temannya.
Setelah Ayu merasa cukup rebahan diatas tempat tidurnya, Dia bangun hendak masuk kedapur untuk membersihkan muka dan sikat gigi sebelum tidur malam, tapi tiba-tiba dia melihat handphone Reza berkedip-kedip, jadi Dia mengambil dan melihat siapa yang menelpon?,
"CALON SUAMIKU", kata Ayu spontan mengeluarkan suara setelah melihat nama yang tertera di layar handphone.
Ayu menggeser tombol hijau dan mendekatkan di telinganya,
"Assalamualaikum...", Ayu mengawali pembicaraan dengan seseorang yang ada di sana,
__ADS_1
"Waalaikum salam, Sayang kamu dari mana?, kenapa baru angkat telepon Mas? kamu lagi buat apa?," tanya Reza bertubi-tubi dengan napas yang tidak putus.
"Eh... Mas Reza... maaf Mas, tadi Ayu tidak dengar kalau Mas Telpon, tapi tanyanya bisa satu-satukah?, Ayu bingung mau jawab yang mana duluan!," ucap Ayu dengan nada menyesal dan tidak hati,
"Emang kamu dari mana sayang?... dari tadi Mas telpon, tapi tidak ada jawaban, mungkin mas sudah telpon sepuluh kali, ini saja Mas sudah makan malam, nasi sudah habis satu piring baru kamu angkat telpon Mas!," Reza menjelaskan dengan nada yang sudah mulai melemah,
"oh... maaf Mas, Ayu benar-benar tidak dengar kalau ada yang telpon, Ayu tadi makan malam sama nenek, habis itu masuk kamar beres-beres pakaian yang mau di bawah ke Asrama, setelah itu Ayu rebahan sebentar di tempat tidur karena tadi siang Ayu tidak tidur, pas Ayu mau ke dapur bersih-bersih, Ayu lihat handphone berkedip-kedip, ternyata Mas yang telpon, sekali lagi maaf ya Mas, sudah buat Mas khawatir!," ucap Ayu menjelaskan, Dia merasa bersalah dan tidak enak hati karena dari tadi dia tidak menjawab telpon Reza.
"Begitu ya," jawab Reza singkat diiringi dengan suara tertawa,
"ih... Mas kenapa tertawa, emang Ayu lucu ya?," tanya Ayu manja dan merasa konyol karena ditertawakan padahal Dia berusaha menjelaskan dengan baik.
"Iya... kamu lucu sayang, rasanya mas mau cubit pipi kamu, Oh... ya ... sayang... besok pagi jam delapan, Pak Supri akan datang ke rumah nenek, Dia yang akan antar kamu ke bandara, dan Dia juga yang akan melaporkan tiket kamu, jadi kamu tinggal naik ke ruang tunggu, berangkat ke Jakarta jam sebelas siang, tapi ingat!, jangan lupa sarapan dulu sebelum ke Bandara, takut kamu mabuk perjalanan," Reza memberi aba-aba kepada gadis pujaannya seperti anak kecil,
"Tapi,... sayang... Mas minta maaf ya, sepertinya, besok Mas tidak bisa jemput di Bandara, karena Mas ada rapat mendadak dengan klien, dan ini tidak bisa diwakilkan!," Reza berusaha menjelaskan dan minta maaf karena sebelumnya Dia sudah janji, kalau dia akan jemput Ayu di bandara Soekarno-Hatta pas datang, tapi karena ada rapat dan ayahnya lagi keluar kota, maka dia yang harus menghadiri rapat itu.
"Iya Mas, tidak apa-apa, Ayu bisa ke Asrama naik taksi bandara ko, lagian waktu pertama kali datang ke Jakarta Ayu juga naik taksi sendiri ke Asrama, Mas tidak usah merasa bersalah sama Ayu, santai aja Mas!," ucap Ayu merasa tidak enak hati mendengar perminta maafkan Reza,
"Besok, tidak usah naik taksi ke Asrama, biar Mas kirimkan supir kantor jemput kamu sayang...!," Reza mencoba menawarkan bantuannya karena dia tidak bisa menjemput sendiri,
"tidak usah Mas... biar Ayu naik taksi bandara, lagian Ayu sudah besar ko mas, nanti malah merepotkan supir kantornya Mas, sampai ketemu di Jakarta kalau mas ada waktu, dan kalau ketemu Ayu, jangan panggil sayang ya Mas, please... !," Ucap Ayu dengan nada manja agar Reza tidak tersinggung karena menolak tawarannya,
__ADS_1
"memangnya kenapa kalau Mas panggil Sayang? kamu kan kesayangan mas Reza dari BALITA! atau kamu tidak suka dengan mas ya? jangan-jangan kamu sudah punya pacar Anandita?," Reza tidak nyaman dengan penolakan gadis kecilnya,
"Bukan begitu Mas... Ayu hanya merasa tidak nyaman dengan panggilan itu, mungkin karena baru Mas orang pertama yang memanggil Ayu dengan Panggilan SAYANG, Ayu belum punya pacar Mas, dan Ayu belum mau pacaran!," jawab Ayu dengan nada suara takut-takut.
"Oh... begitu, awas aja kalau Mas tahu kamu punya pacar, Aku ini calon suami kamu Anandita!, ingat itu!," Reza berbicara dengan suara penuh penekanan pada kata CALON SUAMI KAMU, dia merasa tidak nyaman dengan penolakan Ayu, padahal selama ini Reza banyak di incar sama gadis-gadis dan ibu-ibu sosialita teman mamanya, mulai sejak dia duduk di bangku sekolah menengah Atas sampai kuliah di luar negeri, tapi sayangnya Reza tidak pernah tertarik dengan semua wanita-wanita itu, hatinya sudah terpaut dengan gadis kecilnya, sejak pertama kali bertemu di rumah sakit, Reza juga tidak tahu kenapa bisa perasaannya seperti itu?,
Waktu kuliah di luar negeri kadang-kadang teman-temannya mengajak pergi ke tempat hiburan, tapi Reza tidak pernah ingin bermain dengan wanita-wanita yang ada di sana, Dia hanya ikut karena menghormati temannya, sampai teman-teman kuliah nya heran dengan sikapnya.
"Bro... kamu normalkan?, ayo sekali-kali icip-icip bule-bule seksi!," itulah kata-kata yang sering di lontarkan oleh teman-teman Reza ketika mereka sedang bersama-sama di tempat hiburan malam saat kuliah di luar negeri.
Bagi Reza, wanitanya hanya satu dan itu hanya AYU NUR ANANDITA, tidak ada yang lain, Reza ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama gadis kecilnya.
"Iya Mas, Maaf kan Ayu...!," ucap Ayu dengan penuh penyesalan, kali ini dia merasa tidak enak hati karena telah membuat Reza kesal,
"Iya tidak apa-apa, kamu istirahat ya, jangan lupa besok sarapan sebelum berangkat ke Bandara, titip salam buat nenek, dan Mas ada Titip uang sama Pak Supri, Kamu ambil ya, itu siang saku buat kamu di Jakarta, simpan baik-baik jangan sampai hilang di jalan, sudah dulu ya, mas juga mau istirahat, sampai ketemu di Jakarta, I LOBE YOU ANANDITA, hati di jalan, Assalamualaikum!," ucap Reza panjang lebar sebelum mengakhiri telponnya.
Sementara Ayu hanya mendengarkan dengan perasaan senang karena baru kali ini dirinya di perhatikan sedetail ini, sampai-sampai Ayu lupa mengucapkan terimakasih kepada Reza karena sudah peduli dan perhatian dengan dirinya.
TUT...TUT...TUT...
Suara handphone terputus dari seberang sana, sementara Ayu masih memegang handphone dengan wajah berseri-seri,
__ADS_1
"waalaikum salam wb... terimakasih banyak Mas, sudah mau peduli dengan Ayu...!," ucap Ayu terharu, Dia tidak sadar sudah meneteskan air mata terharu malam ini.