
Karena kaget sekaligus bahagia melihat Ayu, sang putri satu-satunya ternyata dekat dengan sahabatnya, Ichal hampir keceplosan tentang permintaan ibunya kepada Ayu dan Reza.
"Permintaan apa Ayah...?". tanya Ayu heran karena ayahnya tidak meneruskan ucapannya.
"Oh... itu lupakan saja... ayo kita makan, kebetulan ayah sudah sangat lapar...!". Ichal mengibaskan tangan.di depan wajahnya untuk mengalihkan pembicaraan pagi hari ini.
Dalam hati Ichal sudah sedikit lega karena ternyata Ayu sudah lumayan dekat dengan Reza. Sebenarnya dari dulu Ichal tahu jika Reza selalu mengatakan serius dengan Ayu dan kelak akan menjadikan Ayu istrinya, tapi Ichal selalu menganggap itu hanya gurauan saja dari sang sahabat.
Ichal sungguh tidak percaya dengan apa yang Dia lihat pagi ini, walaupun Ayu tampak kurang nyaman dengan perlakuan Reza kepadanya, tapi Ichal yakin kalau Reza bisa membuat Ayu menurut.
Mendengar perkataan Ayahnya, yang mengatakan kalau dia sangat lapar, Ayu baru tersadar jika ayahnya hanya makan kemarin siang, itupun hanya makan sedikit karena tiba-tiba nenek Ayu drop lagi.
"Iya... ayah, maaf... !". ucap Ayu minta maaf dan membuka Kanton makanan yang tadi Reza letakkan di atas kursih samping Ichal.
"Ayah mau makan yang mana?". tanya Ayu lagi karena tadi Reza membeli salad buah dan nasi kuning.
"Ayah makan nasi kuning aja karena sepertinya ayah benar-benar lapar sekarang!". jawab Ichal sambil mengambil kotak nasi kuning yang sudah Ayu buka.
Ichal makan dengan lahap, begitu juga dengan Reza, sedangkan Ayu, Dia tidak makan karena tidak terbiasa sarapan salad buah, dan boleh di kata ini pertama kalinya Ayu, melihat orang sarapan dengan salad buah.
"Kamu tidak makan sayang...?". Tanya Reza heran karena Ayu hanya minum dan tidak menyentuh sarapan yang ada di depannya.
"Is...
"Aku tidak lapar Mas... Mas aja yang makan sama Ayah!". jawab Ayu dengan sedikit memaksa senyum.
Ayu tidak nyaman dengan panggilan Reza yang selalu memanggil dirinya dengan panggilan SAYANG, apalagi ini ada Ichal di depannya.
Ayu takut ayahnya akan marah, tapi melihat Ichal yang tidak memperdulikan dengan apa yang dikatakan Reza, Ayu juga sedikit lega. setidaknya Ichal tidak marah dengan Ayu.
"Mau makan apa coba... dasar laki-laki, tidak peka banget!". Ayu mengomel dalam hati, karena jelas-jelas tadi Ayu sudah bilang jika dirinya tidak biasa makan makanan orang kaya.
Menurut Ayu, salad buah itu adalah makanan orang kaya, karena Ayu hanya pernah melihat di film-film orang makan salad buah.
Mendengar ucapan Ayu, yang mengatakan kalau dirinya tidak lapar...
Reza heran karena tadi di depan ruangan ICU jelas-jelas jika Reza mendengar suara perut Ayu berbunyi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Ya... Aku mau ke sana dulu...!". Ucap Reza tiba-tiba berdiri dan berlalu meninggalkan Ayu dan Ichal.
"Eh... Kamu mau kemana?". tanya Ichal heran
"Aku ke sana dulu Mas, ada yang kelupaan!". jawab Reza menoleh sebentar, sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Ichal dan Ayu.
"Dasar... anak itu... tidak berubah-berubah sifatnya...!". Ichal mengingat kebiasaan Reza yang selalu meninggalkan makanan jika ada sesuatu yang menurut dia yang harus dilakukan.
Walau Sering di tegur dan dinasehati dengan papa dan mamanya,
"Yang selalu mengatakan Jika sedang makan, harus selesaikan dulu, baru pergi!".
Tapi dasar Reza, yang tidak percaya dengan mitos.
Setelah kepergian Reza, yang tidak tahu pergi ke mana, Tinggallah Ayu dan Ichal yang duduk berhadapan di bangku tepi kolam ikan.
"Kamu benar tidak lapar nak?". tanya Ichal setelah selesai menyantap nasi kuningnya.
"Iya Ayah...!". jawab Ayu singkat
Ayu sangat takut dengan situasi seperti saat ini, dimana hanya ada dia dan ayahnya saja berdua. Ayu takut jika, ayahnya akan menanyakan hubungan dirinya dengan Reza setelah melihat kedekatan mereka barusan.
Ichal khawatir jika Ayu sakit karena kurang Istirahat.
Ayu selalu menemani Ichal di rumah sakit, mulai sejak baru datang dari Jakarta. Ayu pulang ke rumah jika ada sesuatu yang ingin Dia ambil.
"Iya Ayah... Nur baik-baik saja!". ucap Ayu sambil mengangkat wajah sebentar untuk melihat ayahnya.
"Calon istri dan calon Ayah mertua... sedang mengobrol apa ini?, Aku perhatikan dari jauh serius sekali!". Tanya Reza tiba-tiba muncul dengan membawa kantong plastik di tangannya.
"Is... Mas Reza apa-apaan sih?, malu tau!".
"Ngapain malu sayang... kan ayah kamu sudah tahu, kalau kamu itu calon istri Aku, dari... sejak umur kamu... kalau tidak salah...masih tiga tahun!". ucap Reza panjang lebar sambil sesekali memegang kepalanya seperti orang sedang berfikir.
"Iya kan Mas...?, Aku ini sudah melamar Nur sejak dia umur tiga tahun?". Reza balik bertanya kepada Ichal yang nampak seperti mengangguk faham.
"Is... dasar cowok tengil... tidak malu apa di dengar orang!". ucap Ichal mencetak kepala Reza yang sudah duduk pas di hadapannya.
__ADS_1
"Aduh... sakit Mas...!". kata Reza sambil mengusap-usap kepala yang baru di ketok oleh Ichal.
Mendengar dan melihat interaksi antar Ichal dan Reza yang duduk disampingnya, Ayu hanya senyum-senyum simpul.
"Ini makan sayang... mas tadi keluar belikan buah pisang, apel, dan yang ini... spesial buat kita hari ini!". Reza membuka dan mengeluarkan satu persatu isi kantong hitam yang baru saja dia bawah, salah satu isinya ada nasi kuning ayam krispi kesukaan Ayu.
"Terimakasih... Mas sudah repot-repot pergi membelikan kami, padahal Ayu tidak lapar Mas...!" ucap Ayu, dalam hati Ayu sangat bersyukur karena ternyata Reza adalah salah satu pria yang cukup peka dengan situasi dan kondisi. walaupun kadang-kadang, Reza juga pandai memanfaatkan situasi.
"lapar atau tidak lapar... kamu harus makan sayang... karena Mas sudah pergi membelikan untuk kami semua, jadi ini kamu harus makan dan harus habis...!". Reza berkata dengan penuh penekanan setelah mengeluarkan satu kotak nasi kuning yang sengaja Dia belikan untuk gadis kecilnya.
Sebenarnya tadi Reza lupa jika Ayu yang meminta untuk beli nasi kuning di kantin, tapi Ichal yang makan. Reza baru sadar, ketika Ayu berkata "Dirinya tidak lapar!"
itulah sebabnya Reza buru-buru pergi dan meninggalkan makanannya.
Melihat perhatian Reza kepada putrinya, Ichal terharu sekaligus senang, karena Reza benar-benar menyayangi Ayu.
"Kalau begitu ayah kembali duluan ya... siapa tau Dokter sudah datang untuk memeriksa nenek kamu...
"Titip putri aku ya cowok tengil... ingat di jaga...!". ucap Ichal dengan nada bercanda kepada Reza, sebelum pergi meninggalkan Reza dan Ayu berdua di taman.
"Siap ayah mertua...!". jawab Reza dengan suara lantang, menirukan seorang tentara yang sedang menerima perintah dari komandannya.
"Mas... apa-apaan sih, malu tau di dengar oleh orang-orang!". tegur Ayu karena Reza seperti orang berteriak, padahal di taman ada banyak pengunjung.
"Kenapa mesti malu sayang...!". ucap Reza sambil mengacak-acak rambut ayu dengan gemas.
"Andai saja tidak banyak orang di taman... ingin rasanya Aku memelu dan mencium kamu sayang!". Gumam Reza dengan suara pelan.
"Mas Reza bilang apa?, Ayu tidak dengar!". tanya Ayu penasaran, karena Ayu cuma mendengar jika Reza mengucapkan sesuatu tapi tidak terlalu jelas.
"Oh... itu... lupakan saja, bukan apa-apa!". jawab Reza malu karena tiba-tiba terlintas pikiran mesum di kepalanya.
"Mas... terimakasih ya, sudah sangat perhatian dengan Ayu dan keluarga Ayu, padahal Kitakan belum satu bulan kenalnya...!". Ayu benar-benar tulus mengucapkan perkataan itu, sampai-sampai matanya berkaca-kaca.
*** BERSAMBUNG ***
JIKA INGIN MENDAPATKAN SESUATU YANG BESAR, TIDAK APALAH BERKORBAN SEDIKIT!!!
__ADS_1
seperti Reza dalam kisah di novel ini.
Reza telah mengorbankan waktu dan bisnisnya hanya untuk menemani Ayu, sang gadis kecil.