
Setelah Melihat putrinya datang bersama Reza, hati Ichal merasa lega.
"Ibu memang tidak salah memilih Reza sebagai calon suami buat Nur!". Gumam Ichal dalam hati.
Ichal senang melihat Reza yang begitu peduli dengan Ayu, sebagai ayah, Ichal selalu berharap agar anaknya kelak mendapatkan pendamping yang bisa membahagiakan putri nya.
"Ayah... Mas Reza....Ayo kita makan!". Ajak Ayu setelah puas berbincang dengan ayahnya.
Malam ini Ayu merasa sangat lapar, makanya Ayu berinisiatif untuk mengajak ayah dan Reza untuk makan malam lebih awal.
"Iya... Ayo kita makan...!". Ucap Reza yang tau jika Ayu tadi siang hanya makan sedikit.
Ichal juga mengambil satu box makan dan duduk bersama dalam satu kursih menikmati makan malam yang di beli oleh Reza.
Selesai makan, Reza bergegas membuang sampah bekas makanan mereka bertiga. Sementara Ayu berpamitan untuk ke kamar kecil mencuci tangan.
"Maaf pak... Ibu Siti ingin bertemu dengan bapak dan cucunya!". Ucap Suster menghampiri Ichal yang duduk sendirian karena Reza dan Ayu pergi sebentar.
"Iya Suster... tapi, apakah kami bisa masuk mengunjugi ibu saya berdua dengan anak saya?". Tanya Ichal memastikan.
"Sebenarnya tidak boleh pak secara aturan, karena ini ruangan ICU, tapi karena pasien yang meminta, jadi kami bisa mengijinkan, dengan syarat jangan membuat pasien terlalu lelah dan bapak jangan terlalu lama!". Suster berusaha menjelaskan
"Iya Suster, terimakasih banyak atas pengertiannya, saya tunggu anak saya dulu baru masuk!". Ucap Ichal
Ichal masuk kedalam ruang ICU menemui nenek Ayu. Setelah memakai pakaian khusus, Ichal dan Ayu berjalan menghampiri sang Ibu yang masih berbaring lemah dengan berbagai alat medis yang menempati di tubuhnya.
"Nenek... Apakah nenek sudah merasa baikan?". Tanya Ayu setelah sampai di samping neneknya.
Nenek Ayu hanya menganggukkan kepala, sebagai isyarat kepada cucunya.
Sebenarnya Nenek Ayu saat ini tidak baik-baik saja, Setelah Ichal keluar dari menemui nenek Ayu tadi sore, tiba-tiba kondisi Nenek Ayu zdrop karena kepalanya terasa sangat sakit.
Untung saja kesadaran nenek Ayu tidak hilang, jadi Dia meminta Dokter yang menangani dirinya, untuk tidak memberi tahukan kondisinya kepada orang lain.
Nenek Ayu juga tau, jika penyakit yang menimpah dirinya sudah sangat susah disembuhkan, tapi nenek Ayu meminta Dokter maupun suster untuk berjanji, jangan memberi tahukan kepada anak dan cucunya tentang kondisinya.
Hal itu yang membuat Dokter memberikan ijin agar suster menuruti keinginan ibu Siti. Dokter saat ini terus bertugas memantau kondisi nenek Ayu, Apalagi setelah kepala rumah sakit mendapatkan telpon dari pak Susilo, salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit tempat nenek Ayu di rawat.
Pak Susilo, memberi perintah agar memberikan pelayanan terbaik untuk Ibu Siti, pak Susilo juga mengaku, jika ibu Siti adalah keluarganya. Semua yang dilakukan oleh pak Susilo semata-mata untuk membahagiakan calon menantunya.
__ADS_1
Walaupun Dokter sudah menjelaskan secara detail tentang kondisi nenek Ayu kepada Pak Susilo, Tapi Ayah Reza itu tetap menyuruh dokter agar jangan putus asa, Pak Susilo berharap ada ke keajaiban walaupun itu sangat sedikit.
"Ibu... ibu baik-baik saja kan?". akhirnya Ichal juga bertanya kepada ibunya.
Ichal bingung dengan kondisi ibunya, karena belum juga sampai tiga jam setelah Ichal menemui Ibunya, Tapi saat ini, ibunya Terlihat sangat loyo, sang ibu hanya bisa mengangguk atau menggelengkan kepala.
"Ibu... Aku keluar dulu ya!". Ucap Ichal ingin bergegas pergi menemui Dokter yang berjaga malam ini.
Ichal berjalan memasuki ruang dokter, setelah memintanya ijin dengan suster.
"Selamat malam Dokter!". Sapa Ichal
"Malam Pak... silahkan duduk!". jawab Dokter wanita yang berjaga dengan ramah.
"Maaf dokter... saya anaknya Ibu Siti, Saya ingin bertanya, apa sebenarnya yang terjadi dengan ibu saya, kenapa kondisinya semakin lemah?". Tanya Ichal tidak sabar, dan suara Ichal terdengar sangat berat, bercampur antara sedih dan marah.
"Maaf pak... sebenarnya yang tahu banyak tentang kondisi ibu anda, adalah dokter Herman, karena beliau adalah dokter yang menangani ibu Siti, dan Aku hanyalah Dokter jaga malam ini!". jawab Dokter Mala merasa bersalah tidak bisa menjawab pertanyaan keluarga pasien.
Bukannya tidak tau menahu soal kondisi kesehatan ibu Siti, tapi karena sudah berjanji dengan pasien makanya Dokter Mala, merasa berat untuk menjawab pertanyaan Ichal.
"Dokter jangan coba-coba menutup-nutupi informasi tentang kondisi ibu saya, Jika sesuatu terjadi dengan ibu saya, maka saya akan menuntut dokter dan rumah Sakit!". Ichal merasa tidak sabar berbicara dengan dokter cantik yang duduk di depannya.
Karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari dokter yang bertugas malam ini, Ichal keluar dari ruangan dokter Mala dan kembali menemui ibunya.
Sementara Reza yang kembali dari dari kamar kecil untuk mencuci tangan setelah membuang sampah, merasa heran karena tidak menemukan Ayu dan Ichal di depan ruangan ICU.
Reza duduk sendiri, dan mendengar suara handphone nya berbunyi.
"Waalaikum salam pa...!". jawab Reza
"Apa pa...?, separah itu..., sebenarnya Reza juga ingin menelpon ayah lagi, tadi sore tapi Reza lupa Pa...!". Reza kaget mendengar perkataan ayahnya yang mengatakan jika, nenek Ayu mengalami penyakit yang serius dan susah untu di tangani mengingat usianya.
"Iya pa... tapi bagaimana dengan ibu pa...?". Reza sangat bingung, di satu sisi dia sangat ingin menuruti Ucapan ayahnya, tapi di sisi lain, Reza tidak mau durhaka dengan ibu yang sudah melahirkan dirinya.
Setelah Berbicara dengan ayahnya di telpon, Reza kembali duduk memikirkan ucapan ayahnya barusan.
"Permisi pak... apa bapak yang bernama Reza?". tanya Suster menghampiri Reza yang sedang duduk sendirian.
"Iya Suster saya!". jawab Reza bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Ibu Siti ingin bertemu anda di dalam!". ucap Suster sebelum berjalan meninggalkan Reza.
Reza berjalan memasuki ruangan ICU untuk menemui nenek Ayu. Reza tau jika nenek Ayu ingin menanyakan tentang permintaannya tadi siang.
Setelah memasuki bilik perawatan ibu Siti, Reza kaget melihat, ternyata di samping nenek Ayu ada Ichal dan Ayu yang sedang menangis.
"Nek... nenek jangan bicara begitu, nenek pasti sehat kembali!". Ucap Ayu tersedu-sedu sambil memegang tangan neneknya.
Reza masih berdiri agak jauh dari ibu Siti, Dia belum berani mendekat.
"Ibu... ibu... kenapa?". Ichal berusaha menggoyangkan lengan ibu Siti.
Mendengar Ucapan Ichal, Reza mendekat karena dari tadi Reza tidak pernah mendengar suara ibu Siti. Reza khawatir terjadi sesuatu kepada nenek Ayu.
"Suster... Suster... Dokter... tolong ibu saya!". teriak Ichal berlari mencari suster.
Reza melihat Nenek Ayu yang memejamkan mata, dan suara monitor di layar kecil di samping kepala ibu Siti berbunyi cukup jelas.
Reza melihat Ayu terus menggenggam tangan neneknya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Mohon maaf nona... Pak... bisa keluar sebentar, Dokter ingin memeriksa kondisi ibu Siti!". Ayu yang tersadar langsung mundur dan hampir terjatuh, untunglah Reza cepat menangkap tubuhnya.
"Nenek tidak apa-apa, Ayo kita keluar dulu, biarkan Dokter yang memeriksa nenek!". Reza berusaha menenangkan Ayu.
Setelah keluar dari ruang Nenek, Reza membawa Ayu duduk di kursih.
"Mas... Aku takut...!". Ucap Ayu dengan air mata yang bercucuran.
"Jangan takut... Aku dan ayah kamu ada di sini...!"..Reza berusaha menghibur Ayu.
Reza tahu, jika Ayu sangat takut kehilangan sosok nenek yang selama ini merawat dan menjaga dia dari bayi. Sosok yang Ayu anggap sebagai pengganti ibu kandungnya.
*** BERSAMBUNG ***
Malam ini Author UP 2 bab, doakan Author agar bisa terus UP setiap hari.
Jangan lupa dukun terus karya Author ya 🙏🙏🙏
See you All 👋🙏👋
__ADS_1