Pria Misterius Menggelisahkan

Pria Misterius Menggelisahkan
Kembali ke Hotel Berdua


__ADS_3

Ayu merasa sangat senang mendengar kabar dari Suster, yang memberi tahukan, jika Nenek Ayu ingin bertemu dengannya.


Ayu memasuki ruangan ICU setelah berbalik sebentar melihat Reza yang yang ikut berdiri dengannya saat suster tadi keluar memanggilnya Ayu.


"Assalamualaikum Nek... apa nenek sudah merasa lebih baik sekarang?". Tanya Ayu setelah sampai di samping neneknya.


Ayu merasa kasihan melihat neneknya, yang terbaring lebah, di tangan nenek Ayu masih terpasang jarum infus, begitu juga di jari tangannya masih ada alat medis yang melekat.


Nenek Ayu membuka matanya dengan perlahan, setelah mendengarkan suara Ayu, kemudian menganggukkan kepala.


"Nenek cepat sembuh ya....!". Ayu sangat berharap agar neneknya dapat segenap pulih.


Ayu tidak tega melihat kondisi nenek semakin melempar. Andaikan Ayu bisa bertukar posisi dengan neneknya, Ingin rasanya, Ayu saja yang berbaring di ranjang pesakitan itu.


Mendengar ucapan Ayu, Ibu Siti, hanya menganggukkan kepala.


"Nek....apakah nenek ingin mengatakan sesuatu kepada Ayu?". tanya Ayu heran, karena sudah hampir Lima Belas Menit Ayu di dalam ruangan nenek, tapi nenek tidak bersuara, hanya anggukan kepala yang Ayu dapatkan.


Nenek Ayu hanya menunjuk ke arah lemari kecil yang ada di.dekat kepala nya Tampa bersuara. Ayu yang berdiri dan berjalan untuk mengambil apa yang nenek maksud.


"Ini apa Nek... dan nenek menulis apa ini?". tanya Ayu setelah melihat-lihat ada secarik kertas yang terlipat Dua. ..


Nenek Ayu kembali mengangguk. Ayu sungguhan merasa tidak puas dengan anggukan dari neneknya.


"Nek... Nur baca ya ...!". Ayu meminta ijin untuk membaca tulisan Nenek nya.


Setelah membuka dan melihat, benar saja itu tulisan tangan Nenek, dan betapa terkejutnya Ayu, setelah membaca tulisan neneknya.


"Nenek yakin dengan dengan itu nek...?". tanya Ayu memastikan setelah kembali duduk tepat di samping ibu Siti sambil menggenggam tangannya.


Sekali lagi nenek menganggukkan kepalanya, dan Ayu faham jika, apa yang di tulis oleh neneknya adalah serius keinginan neneknya.


"Tapi bagaimana dengan Mas Reza nek... Apakah dia bersedia?". Ayu semakin bingung dengan permintaan neneknya.


"Bagaimana ini ya Tuhan...?". tanya Reza dalam hati.


Ayu sangat takut tidak bisa memenuhi keinginan neneknya. padahal Ayu sudah berjanji, Akan melakukan semua yang neneknya inginkan, asalkan sang nenek bahagia.


Ibu Siti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ayu.


"Baiklah Nek... !". kata Ayu sebelum keluar dari ruang nenek, Ayu meninggalkan neneknya untuk istirahat.


Dalam hati Ayu merasa sangat takut kehilangan neneknya. melirik kondisi nenek Ayu yang semakin lemah di tambah tulisan tangan dari neneknya, membuat Ayu semakin khawatir.


"Sayang bagaimana kondisi nenek... apa yang nenek bicarakan?". Reza tidak sabar ingin mengambil kondisi Ibu Siti.

__ADS_1


Melihat Ayu keluar dari ruangan nenek nya dengan wajah sedih, membuat Reza tidak sabar ingin mengetahui kondisi Nenek Ayu.


"Oh... Iya....!". Ayu tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa sayang...?". tanya Reza heran, karena melihat Ayu tidak fokus.


Ayu tidak menjawab, Dia hanya memberikan secarik kertas yang ditulis oleh neneknya kepada Ayu.


"Nak... Cucuku Nur... maafkan nenek jika permintaan nenek terlalu berat buat buatmu, tapi percayalah nak, Reza adalah pria yang baik...


Jadi nenek berharap kamu mau menikah dengannya, sebelum nenek istrahat dengan tenang...


"Jangan khawatir sayang... Mas janji akan menjaga dan menyayangi kamu...!". ucap Reza mendekati Ayu setelah membaca tulisan nenek Ayu.


Ayu yang mendengar ucapan Reza, kaget dan tidak percaya.


"Ko... Mas Reza tidak kaget... Malah ekspresi wajah nya biasa saja?". gumam Ayu dalam hati mengangkat kepala untuk melihat mimik muka Reza.


"Kamu tidak percaya dengan Aku sayang...?". Reza bertanya setelah melihat Ayu mengerutkan alisnya.


Reza mendekati Ayu, kemudian menarik tangannya dengan lembut.


"Ayo kita duduk dulu, nanti kita bicarakan ini dengan baik, tunggu Ayah kamu datang...!". Ucap Reza dengan tenang membawa Ayu duduk di kursih yang di sediakan di depan ruangan ICU.


"Tidak terlalu banyak berpikir sayang... kita fokus saja dengan kebahagiaan nenek...!". Reza memotong ucapan Ayu, karena Reza tau jika Ayu masih belum siap dengan semua permintaan neneknya, dan Reza juga sangat tau jika Ayu takut memulai sebuah hubungan karena terbayang-bayang dengan masalah ibu kandungnya yang pergi meninggalkan Ichal dan dirinya, yang malah pergi bersama pria lain.


Reza sangat faham dengan kekhawatiran Ayu.


"Terimakasih Mas... Mas Reza sudah sangat peduli dengan keluarga Ayu... !". Ayu melihat Reza dengan mata sendu.


"Ini tidak gratis sayang... !". Ucap Reza mencubit hidung mungil Ayu.


"Ih... Mas Reza... apa-apaan sih... Ayu serius tau...!". Ayu menepis tangan Reza yang tiba-tiba mencubit hidungnya.


"Kamu lucu sayang jika bertingkah seperti itu... dan Mas suka jika kamu tidak sedih...!". Ucap Reza sambil membawa Ayu ke dalam pelukannya.


Entah mengapa, pagi ini Reza sangat terhibur dengan tingkah Ayu, Mulai dari Ayu yang tiba-tiba meninggalkan Reza sendirian di kantin rumah sakit, kemudian mengusir Reza untuk pulang ke hotel, sampai sekarang Ayu bertingkah sangat imut di depan Reza.


"Mas Reza... lepas, nanti ada yang lihat... malu tau!". Ayu berusaha mendorong Reza yang memeluknya dengan erat.


Ayu dapat mencium wangi parfum Reza yang sangat familiar di hidungnya karena Reza menenggelamkan kepala Ayu tepat di dadanya. bau yang beberapa hari ini menemani dirinya, baik suka maupun ketika Ayu sedih, Bau yang kadang-kadang Ayu rindukan Tampa sadar.


"Kamu tau malu juga sayang...?". Goda Reza melepaskan pelukannya.


"Ih... Mas Reza apa-apaan sih... lebih baik Mas Reza pulang mandi dan istrahat di hotel, kasian... Mas Reza dari semalam tidak tidur dengan nyenyak kan?". Ucap Ayu dengan wajah yang serius setelah melepaskan pelukan Reza.

__ADS_1


"Oh... ada mulai perhatian dengan Mas... kirain tadi mengusir.... Terimakasih sayang...!". Reza sangat senang mendengar ucapan Ayu, ditambah wajah Ayu sangat imut ketika berusaha berkata lembut, makanya Reza tidak berhenti menggoda Ayu.


"Ayu serius tau Mas...!".


"Tapi Mas... mau pulang bareng kamu sayang...!".


"Mas saja yang pulang duluan, Ayu mau tunggu Ayah disini, kasian nenek jika Ayu tinggal!". Tolak Ayu mencari alasan


"Kan ada suster dan dokter sayang di dalam... Ayo kita pulang ke hotel, kamu mandi disana, dan temani Mas istrahat sebentar...!". Ucap Reza menarik tangan Ayu.


"Tapi Mas... Nanti ayah mencari Ayu?".


"Tenang sayang... nanti Mas hubungi ayah kamu!". Ucap Reza mengeluarkan handphone nya.


Selesai menghubungi Ichal, Reza berjalan memasuki ruangan ICU, untuk menitipkan nenek Ayu kepada suster yang khusus menjaga Ibu Siti.


"Beres sayang Ayo kita jalan... kamu juga sepertinya sangat kelelahan...!". Reza menarik tangan Ayu dan berjalan bersama meninggalkan rumah sakit.


Karena letak hotel yang di tempati Reza untuk beristirahat pas di samping bangunan rumah sakit, jadi mereka hanya berjalan kaki sebentar.


Reza membuka pintu kamar dan masuk kedalam bersama Ayu.


"Mas... lepas tangan Ayu, Kitakan sudah sampai!". Ayu menarik tangannya.


"Oh... maaf sayang, mas ke enakan...?". Ucap Reza malah menarik Ayu untuk duduk di samping tempat tidur.


"Sayang bagaimana... kalau kita tidur aja dulu, nanti baru kita mandi...!".


"Mas... saja yang tidur, Ayu tidak mengantuk Mas, lagian tadi malam Ayu tidur nyenyak ko...!". ucap Ayu menolak ajakan Reza yang terdengar ambigu di telinganya.


"Maksud Mas... temani dulu disini, sampai Mas tertidur sayang...!". Reza menepuk tempat tidur disampingnya.


"Oh...


"Emang kamu pikir apa sayang... jangan-jangan kamu berpikir yang aneh-aneh ya?". Goda Reza mendekatkan wajahnya di muka Ayu.


Melihat Reza yang terlalu dekat dengan Ayu, membuat Ayu spontan memundurkan badannya.


*** BERSAMBUNG ***


SEE YOU ALL 👋👋 👋


Sampai ketemu pada Bab-bab berikutnya, dan jangan lupa tinggalkan komentar yang bersifat membangun untuk karya Author 🙏🙏🙏


Thanks for reading's...

__ADS_1


__ADS_2