Pria Misterius Menggelisahkan

Pria Misterius Menggelisahkan
Satu Anggukan Dari Nenek


__ADS_3

Mereka semua memasuki Ruangan IGD yang di komando oleh Dokter yang juga merupakan kepala rumah Sakit.


Dengan hati yang berdebar, Ayu hanya bisa mengikuti dari belakang, sampai Ayu melihat sosok yang sangat dia rindukan. Nenek yang selama ini merawat Ayu mulai dari bayi sampai sebesar ini.


Ayu sangat sedih sampai air matanya menetes di pipi chubby nya, Ayu melihat ada selang yang menempel di hidung dan selang infus ditangan neneknya. Sementara Ibu Siti masih belum membuka mata, Ayu tidak tau apakah neneknya sedang tidur ataukah memang neneknya belum sadar?.


Melihat ayahnya mendekati ibu Siti, Ayu juga maju sampai dia tidak sadar jika sudah menyenggol bapak penghulu yang akan menikahkan dirinya.


"Bu... Ibu... buka mata ibu, kami sudah datang Bu, katanya ibu ingin melihat Cucu ibu menikah... Ichal mohon Bu...!". Ichal terus berbicara di dekat telinga ibu Siti.


Ayu yang melihat ayahnya seperti itu tidak sanggup untuk menahan air mata. Ayu mendekat dan memegang tangan neneknya.


"Nek... Nenek ini Nur... nenek harus sembuh ya... Ayu mohon!". Ayu terisak-isak di samping nenek dan ayahnya.


Dokter yang berdiri di samping Reza ikut merasa heran, jadi Dokter memutuskan untuk mendekat dan memetik ibu Siti.


Namun yang mengejutkan, denyut jantung ibu Siti sangat melemah,


"Suster... suster...


Dokter memanggil suster yang berjaga di IGD.


"Bapak-bapak dan mas-mas... tolong keluar dulu... karena dokter ingin memeriksa ibu Siti!". Suster itu menyuruh mereka keluar.


Setelah hampir Tiga puluh menit, akhirnya Dokter yang merupakan kepala rumah Sakit keluar dari ruangan dan menemui Reza dan Ichal.


"Bagaimana kondisinya ibu saya Dokter... apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu saya?". Ichal tidak sabar ingin mendengar kondisi ibu Siti.


"Tadi ibu Siti pingsan Pak... kemungkinan besar akibat darah yang membeku di kepalanya!". Jelas Dokter.


"Baru bagaimana kondisi ibu Siti sekarang dokter, apa kami bisa masuk sekarang?". Reza bertanya dengan wajah serius.


"Ibu Siti sudah sadar Mas... Tapi kondisi beliau masih sangat lemah, jadi saran saya jangan terlalu membuat mereka berfikir berat!". Dokter menjemput dengan serius.


Dokter memberikan ijin kepada Ichal dan yang lainnya untuk masuk dan meneruskan hajat mereka, karena Dokter itu tau jika ibu Siti sudah tidak memungkinkan untuk bertahan lama. Bukan karena Dokter itu Tuhan, Tapi dokter memvonis karena ibu Siti tidak bisa dioperasi sementara di kepalanya ada darah yang membeku dan semakin membesar.


Setelah sampai di samping ibu Siti, Ichal kembali menyapa ibunya.


"Bu... bagaimana perasaan ibu...?".


Ibu Siti tidak menjawab, Dia hanya membuka mata lalu memaksakan diri untuk tersenyum ke arah anak sulungnya dan semua orang yang ada di sekitarnya.


"Bu... ibu jangan terlalu banyak berfikir... dan asal ibu tau, Aku akan menikahi Nur sekarang Bu... ini ada pak Penghulu yang di bawah oleh pak Supri!". Reza mendekati ibu Siti dan berbicara dengan lembut.

__ADS_1


Mendengar perkataan Reza, Ibu Siti kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Dokter kenapa ibu saya tidak berbicara?". Tanya Reza penasaran.


"Ibu anda tidak apa-apa Pak... Mungkin Ibu Siti hanya lemah karena baru siuman!". Jelas Dokter.


Di Dalam ruang IGD, atau tepat di samping ranjang pesakitan ibu Siti, ada dua Dokter dan dua orang Suster. Dokter yang satunya adalah Dokter yang memang bertugas di ruang IGD, sementara Dokter yang satunya adalah kepala Rumah sakit sekaligus sahabat ayah Reza.


"Bu... Dokter... apa acara pernikahan sudah boleh di mulai?". Tanya pak penghulu dengan sopan karena sekitar jam Empat Belas Menit, Pak penghulu akan menikahkan orang lain lagi yang ada di kampung Pak Supri.


Ibu Siti hanya bisa menganggukkan kepala tanda bahwa Dia setuju.


Melihat anggukkan Kepala ibu Siti, Semua yang ada di ruangan IGD merasa terharu, kecuali Ayu. saat ini hati dan jiwanya belum siap untuk menikah. Mau mengelak juga tidak mungkin, karena melihat kondisi neneknya yang semakin melemah.


"Ayo... calon pengantin pria dan wanita duduk di sini...!". Ucap Pak penghulu setelah duduk di kursih yang telah disiapkan oleh Suster sesuai perintah dari atasannya.


"Ayo sayang...!". Reza menarik Ayu dengan lembut


"Ah... apa Mas...?". tanya Ayu kaget, karena tadi dia hanya melamun, jadi tidak mendengarkan perkataan orang yang ada di sekitarnya.


"Ayo sini duduk... kita akan segera di nikahkan!". Sekali lagi Reza menjelaskan dengan lembut kepada Ayu.


Reza tau dan faham, jika Ayu sebenarnya belum siap untuk memulai hidup berumah tangga, tapi ini Semua adalah permintaan nenek Ayu sendiri, dan mau tidak mau Ayu harus melakukannya.


Walaupun Ayu belum Seratus persen, siap untuk menikah, tapi Ayu ingin pernikahannya di laksanakan dengan sakral, karena Ayu sudah menanamkan dalam diri dan jiwanya, jika Dia hanya ingin menikah satu kali dalam seumur hidupnya.


Ayu tidak ingin seperti ibu kandungnya, yang teguh pergi meninggalkan ayahnya demi menikah dengan pria lain.


"Iya... boleh sayang... dan...


"Ini Mas... pesanannya...!". Pak Supri memberikan paper bag yang dari tadi Dia bawa-bawa sebelum Reza menyelesaikan ucapannya.


"Ini sayang... silahkan di pakai... ini hadiah dari mas buat kamu...!". Reza memberikan paper bag itu kepada Ayu.


Ayu membuka dengan hati-hati, dan ternyata, isi paper bag nya adalah mukena putih yang sangat lembut.


Ayu memakai mukena pemberian dari Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Ayu berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya.


Reza yang sudah duduk di samping Ayu, terus memperhatikan mimik wajah gadis pujaan hatinya.


"Silahkan pak... di mulai...!". Tiba-tiba suara ibu Ayu terdengar, walaupun dengan nada yang serak.


Spontan semua orang yang ada di sekitar nenek termasuk dokter menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Kenapa... semua diam... Ayo di lanjutkan....!". Ucap Ibu Siti terbata-bata.


***


Sementara di luar ruangan IGD Tempat nenek Ayu di rawat, ada sosok pria gagah yang dari tadi memperhatikan dan menyimak, apa yang sedang terjadi di dalam ruangan karena entah di segaja atau tidak pintu ruangan tidak tertutup rapat.


Dengan Sedih, Zidan masih tetap setia berdiri walaupun sudah hampir dua puluh menit. Dengan susah payah, akhirnya Zidan dapat menemukan alamat sahabat adiknya itu. Dan dengan nekat Zidan terbang dari Jakarta ke Makassar tadi pagi.


Tapi apa yang Zidan saksikan saat ini, jauh dari ekspektasinya.


***


Karena ucapan yang berisi pertanyaan sekaligus perintah yang keluar dari bibir nenek, membuat Ayu menolehkan kepalanya ke belakang, dan secara mengejutkan, Ayu melihat Zidan berdiri tepat di pintu.


"Kak Zidan...!". Dengan tidak sadar Ayu berlari menghampiri Zidan.


Dan benar saja, yang Ayu lihat benar-benar nyata, karena ayu sampai menyentuh lengan Zidan. yang awalnya, Ayu hanya mengirah, jika Dia hanya berhalusinasi.


"Kak Zidan... ini kamu kan?". Tanya Ayu, Tampa sadar bergelayut di lengan kokoh Zidan sambil menangis seperti sedang bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan.


"Iya Yu... Ini Aku... Kak Zidan!". Jawab Zidan menundukkan kepala melihat gadis telah menempati sebagian besar hatinya meneteskan air mata.


Ayu tiba-tiba merasa sangat emosional melihat Zidan benar-benar ada di hadapannya. sampai Ayu melupakan jika ada banyak pasang mata memandang ke arah dirinya dan Zidan.


"Sayang... Ayo kita teruskan... kasian nenek kamu...!". Reza mendekati Ayu yang masih menangis dan bergelayut di lengan Zidan.


"Oh... Maaf Mas... Ayu lupa...!". Ayu baru sadar jika tadi dia ingin memulai acara pernikahannya dengan Reza.


"Mari Mas... ikut gabung dengan kami... karena Aku lihat, kamu juga sangat dekat dengan calon istri Aku...!". Reza mengajak Zidan dengan nada yang Zidan tau, itu adalah suara orang yang sedang cemburu.


Dengan berat hati Zidan ikut bergabung, dan menarik kursih untuk duduk tepat di samping ranjang pesakitan nenek Ayu.


"Maafkan nenek ya Nak...!". Bisik ibu Siti kepada Zidan dengan suara sangat pelan, namun Zidan bisa mendengarkan.


Zidan menoleh ke arah ibu Siti sambil tersenyum menyembunyikan kesedihan yang ada di dalam hatinya.


"Apa Sudah bisa di mulai Bu...?". tanya Pak penghulu melihat ke arah ibu Siti.


*** BERSAMBUNG ***


Sedih Enggak Thu dengan nasib Zidan???


Ayo... berikan komentar kalian para pembaca setia novel Author 🙏🙏🙏

__ADS_1


Sampai jumpa👋👋👋


__ADS_2