Pria Misterius Menggelisahkan

Pria Misterius Menggelisahkan
Ayu Ngambek


__ADS_3

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit waktu Indonesia Barat, tapi Ichal belum juga mendapatkan kabar dari dokter maupun suster mengenai kondisi ibunya.


Ichal sudah hampir satu jam setengah berdiri di depan pintu ICU, Sementara Ayu duduk di kursi berdampingan dengan Reza.


Ayu tidak tau harus berbuat apa?, dalam hati yang paling dalam, Ayu belum siap untuk kehilangan neneknya.


"Yang sabar ya sayang... kita tunggu hasil pemeriksaan dari dokter!". ucap Reza sambil merangkul pundak Ayu yang dari tadi terus menangis, walaupun tidak mengeluarkan suara.


Reza sangat kasihan melihat Ayu yang terus meneteskan air mata, tapi Reza juga bingung dan tidak tau harus berbuat apa, untuk menghibur.


"Bagaimana kondisi ibu saya Suster?". tanya Ichal ketika melihat tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Ibu anda sudah siuman pak... dari lima belas menit yang lalu, tapi kata dokter, belum bisa untuk ditemui malam ini, karena kondisi beliau masih sangat lemah!". ucap Suster yang bertugas malam ini.


Sebenarnya yang menyuruh Suster untuk keluar menyampaikan kabar tentang ibu Siti adalah dokter Mala, Dia kasihan melihat Ichal yang terus mondar mandir di depan pintu ruangan.


"Terimakasih kasih atas informasinya suster, jadi kapan saya bisa bertemu dengan ibu saya?". Ichal tidak merasa belum legah, jadi dia kembali bertanya kepada Suster.


"Kalau masalah itu, tunggu info dari dokter dulu ya pak!". jawab suster cantik itu sebelum masuk kembali ke dalam ruangan ICU.


Melihat Ichal sedang berbicara dengan suster yang merawat neneknya, Ayu dan Reza berjalan menghampiri Ichal.


"Apa kata Suster tadi Mas... bagaimana kondisi ibu?". tanya Reza tidak sabar ingin mengetahui kondisi nenek Ayu.


"Ibu sudah siuman, tapi belum boleh ditemui karena kondisi beliau masih sangat lemah!". Ichal menyampaikan informasi yang di dapat dari suster.


"Kalau Mau pulang ke hotel untuk istirahat... pulang aja dulu, biar Mas saja yang jaga nenek di sini!". ucap Ichal lagi.


Sebenarnya Ichal tidak ingin merepotkan Reza, karena bagaimanapun Reza, hanyalah orang luar dan tidak ada hubungannya kekeluargaan dengan dirinya.


Justru Ichal merasa bersalah karena telah menyeret sahabat nya dalam masalah dirinya.


"Sebaiknya Mas saja yang pergi istrahat dulu, biar Aku yang jaga disini dulu, Tuh... Mas kelihatan sangat lelah!". Reza menghampiri Ichal sambil menepuk pundaknya.


"Iya yah... Ayah Istrahat aja dulu...!". Ayu setuju dengan ucapan Reza.


Melihat Ayahnya yang lelah karena kurang tidur. Ayu takut jika Ichal ikut sakit.


"Kamu juga sayang... sebaiknya pergi istrahat dengan ayah kamu, biar Mas yang jaga di sini!". Reza menyuruh Ayu juga pergi istrahat.


"Kalau begitu titip Ibu ya Za...!". Ucap Ichal sebelum pergi meninggalkan Reza


"Ayo nak... kita istrahat dulu, sebentar baru gantian jaga nenek dengan Reza!". Ichal mengajak Ayu untuk istirahat di ruangan perawatan ibu nya sebelum di pindahkan ke ICU.


Ayu ahanua mengangguk dan berjalan mengikuti Ichal.


Setelah Ichal dan Ayu pergi, Reza kembali duduk dikursih sambil mengeluarkan handphone nya, untuk menghilangkan kebosanan Reza berusaha bekerja lewat handphone.

__ADS_1


Setelah merasa cukup lama menggunakan handphone, Reza kembali memasukkan handphone kedalam saku jaketnya dan memejamkan mata untuk istirahat sejenak.


Mungkin karena lelah hati, pikiran dan fisik, Ichal baru bangun setelah jarum jam menunjukkan angka 05.15 menit.


Ichal bangun karena kaget melihat jam di dinding ruangan.


"Aduh... kenapa bisa sampai ketiduran?". gumam Ichal bangun dari sofa tempat dia istrahat tadi malam.


Ichal berusaha mengembalikan kesadaran. Ichal melihat ke arah ranjang tempat perawatan pasien karena semalam Dia menyuruh Ayu untuk tidur di sana. Tapi Ichal tidak melihat Ayu, yang dia lihat hanya Tempat tidur kosong.


"Nur... Nur... kamu di mana Nak?". Ichal berusaha memanggil Ayu.


Ichal mengirah, jika Ayu sedang berada di dalam kamar mandi, tapi ternyata Ichal tidak menemukan sosok yang Dia cari.


Setelah selesai membersihkan diri, Ichal keluar dan berjalan menuju ruangan tempat ibunya di rawat saat ini.


Dari kejauhan, Ichal bisa melihat, jika Ayu sedang berbincang dengan Reza bersama seorang suster yang tadi malam merawat ibunya.


"Ada informasi apa pagi ini?". tanya Ichal tidak sabar setelah sampai di dekat Suster dan sahabatnya.


"Belum ada informasi apa-apa pak, tadi Saya hanya lewat dan Mas serta nona ini bertanya, jadi kami hanya berbincang sebentar!". Suster segera menjelaskan.


"Baru bagaimana kondisi ibu saya sekarang?". tanya Ichal lagi.


"Tenang pak... ibu anda masih terus dalam pemantauan kami dan Dokter Mala, kalau ada informasi, nanti kami sampaikan!". Ucap Suster itu sebelum masuk kembali.


"Kira-kira tiga puluh menit yang lalu yah... Maaf Nur tidak membangunkan ayah...!". Ucap Ayu menundukkan wajahnya.


"Tidak apa-apa nak... ayo kita kembali duduk di sana!". Ichal mengajak Ayu dan Reza untuk duduk di kursi.


"Reza...


"Iya Mas...


"Apakah kamu sudah menyampaikan kepada orang tuamu... mengenai permintaan ibu saya?". tanya Ichal dengan raut wajah yang sangat serius.


"Permintaan apa Ayah...?". Tanya Ayu bingung.


"Sudah Mas... Tapi...


"Tapi apa.... apakah mereka tidak menyetujui?,... sudah Aku duga, mana mungkin pak Susilo bisa menyetujui hal ini, kami kan hanya keluarga miskin yang bermimpi bisa mendapatkan pangeran...!". Tebak Ichal.


Tiba-tiba raut wajah sedih dan frustasi terlihat jelas di wajah Ichal. Ayu yang mendengar ayahnya berkata seperti itu, semakin bingung.


"Apa maksud ayah...?".


"Bukan begitu Mas....Mas salah faham, dengarkan dulu penjelasan Reza...!". Reza menarik Ichal untuk berbicara berdua dengannya.

__ADS_1


Ichal hanya ikut saja, dalam hati dia sudah siap dengan apa pun yang akan Reza sampaikan kepadanya. Ichal cukup tahu diri.


"Mas.... sebenarnya ayah sudah menyetujui hubungan aku dengan Anandita, hanya saja....Aku belum berani menyampaikan hal ini kepada ibu aku Mas... tapi ayah sudah berjanji akan menyampaikan ini kepada ibu!". Reza berusaha memberitahu Ichal.


"Tapi bagaimana jika ibu kamu tidak setuju Reza?". tanya Ichal ingin tahu pendapat Reza.


"Mas tenang saja... Aku pasti akan menepati janji Aku dengan nenek Ayu!". Reza berusaha menjawab dengan yakin


"Ayah... apa permintaan nenek sama Mas Reza?". tanya Ayu setelah Ichal dan Reza kembali duduk di sampingnya.


"Nanti juga kamu akan tau sayang...!". jawab Reza


"Is...!". Ayu tidak puas dengan jawaban Reza, tapi Ayu juga tidak tahu harus berbuat apa, jadi dia memilih untuk diam.


"Kalau ayah mau pulang ke rumah untuk Mandi dan ganti pakaian?, sebaiknya ayah berangkat sekarang saja, mumpung masih pagi!". Ayu tau jika ayahnya sudah dua hari tidak pulang ke rumah.


"Kamu tidak apa-apa tinggal di sini?". tanya Ichal.


"Kan ada Aku Mas... yang temani Anandita!". Jawab Reza serius


"Tidak... Mas juga pulang saja ke hotel... biar Ayu saja yang temani nenek di sini!". tolak Ayu dongkol karena pertanyaan tidak dijawab oleh Reza.


"Ngambek ya?". goda Reza


"Tidak...!".


Melihat Ayu dan Reza yang tidak Akur, membuat hati Ichal sedikit terhibur dengan tingkah ke kanak-kanakan Ayu.


"Kalu begitu ayah pamit pulang dulu... titip nenek ya, kalau ada apa-apa, hubungi ayah cepat, masih hafalkan nomor ayah...?". Ucap Ichal berpamitan dengan Ayu.


"Iya yah...


"Ada yang mau di titip tidak nak?". tanya ayahnya lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Ayu dan Reza.


"Nur... titip handuk aja yah... karena di dalam koper Nur tidak ada handuk!".


"Oke... kalau begitu ayah pergi dulu!". Reza berjalan meninggalkan Ayu dan Reza.


Setelah Ichal pergi, kini tinggallah Ayu dan Reza berdua.


"Mas... pulang juga sana...!". Usir Ayu


"marah ya?". goda Reza


"Sayang... kata orang tua, pagi-pagi tidak boleh marah-marah, nanti cepat tua?". Ucap Reza merasa lucu melihat Ayu yang tidak mau melihat wajahnya.


*** BERSAMBUNG ***

__ADS_1


__ADS_2