
Sampai rumah sakit tempat nenek Ayu di rawat. Pak supir memarkirkan mobilnya.
Pak Supri mengantar Ayu sampai masuk ke dalam ruangan tempat neneknya di rawat.
Ayu masuk dengan wajah yang sudah terlihat sendu.
"Assalamualaikum...!," ucap Ayu dengan pak Supri
"Waalaikum salam...!," jawab Pria yang duduk sambil memegang tangan nenek Ayu.
Pria itu berbalik karena mendengar pintu terbuka dan suara orang memberi salam.
"Ayah ...!," ucap Ayu berteriak senang, karena melihat pria yang menemani neneknya di dalam ruangan adalah ayahnya.
Ayu berjalan menghampiri dan memeluk Ayahnya.
"Iya nak, ini ayah..., kamu bagaimana kabar nak?," tanya Ayah Ayu sambil memeluk anaknya. Ichal meneteskan air mata di dalam pelukan Ayu.
Di dalam hati Ichal merasa banyak salah dengan anak dan juga orang tuanya. sebagai anak pertama dan seorang ayah, Dia belum bisa memberikan kebahagiaan buat orang-orang yang dicintai.
Sekarang ibunya sudah tua dan sakit-sakit an, tapi Ichal belum bisa mengabulkan permintaan ibunya.
Nenek Ayu sering meminta anaknya Ichal untuk segera mencari pendamping dan ibu buat Ayu, mulai sejak ayu masih berusia dua tahun, tapi sampai sekarang ayah Ayu belum juga menikah lagi.
Kalau di tanya, kenapa Ayah Ayu belum menikah?, Jawaban yang selalu di lontarkan hanya satu, " tunggu Nur bisa mandiri, setidaknya sampai Anaknya itu lulus Sekolah menengah Awal".
Kini penyesalan di pada diri Ichal semakin besar setelah melihat Ibunya terbaring lemah.
"Aku baik ayah...!," jawab Ayu masih terus memeluk ayahnya. Ayu meluapkan semua rasa rindu yang dia pendam selama Tiga tahun tidak bertemu ayahnya.
Pak Supri yang melihat Ayu yang berpelukan dengan ayahnya juga ikut terharu, karena sedikit banyak pak Supri tahu soal keluarga Ayu.
"kapan Ayah datang...?," tanya Ayu setelah melepaskan pelukannya.
"baru tadi pagi nak... ayah naik pesawat penerbangan pertama!," jawab Ichal, sambil memperhatikan wajah anaknya, yang semakin besar lebih banyak mirip dengan wajah mantan istrinya, ibu Ayu.
Ichal kembali memeluk Ayu lagi, Dia sangat merindukan anaknya.
"Maafkan Ayah ya nak...!," ucap Ayah Ayu merasa sangat bersalah telah meninggalkan Ayu kepada neneknya.
__ADS_1
Melihat anaknya yang tumbuh besar Tampa pengasuhan dirinya, membuat Ichal semakin merasa bersalah dengan ibu dan Anaknya.
"Ayah tidak salah apa-apa... Aku yang minta maaf saya Ayah...!," ucap Ayu menangis di dalam pelukan Ayahnya.
Ayu merasa, karena dirinyalah sampai ayahnya di tinggal pergi oleh ibunya. Ayu selalu beranggapan karena kelahiran dirinya juga, ibu kandungnya pergi bersama pria lain. Dan karena dirinya juga... Ayahnya belum menikah, hal itu pernah di dengar Ayu, ketika Ayu masih duduk di bangku sekolah dasar ketika ayahnya di tanya sama nenek " kenapa Dia belum mau menikah?, Alasannya tunggu Ayu sampai besar!". Hal itu yang membuat Ayu merasa sangat bersalah dengan ayahnya sampai sekarang.
"Kamu juga tidak salah Nak... jangan membuat dirimu terbebani, dan kamu harus janji pada Ayah, belajar yang rajin dan jaga diri baik-baik, karena ayah tidak selalu ada di samping kamu...!". Ucap Ichal melepas pelukannya dan memegang kedua pundak anaknya.
Ichal melihat wajah anaknya dalam-dalam dengan perasaan bersalah, karena dulu dirinya tidak sekolah dengan benar, yang Ichal inginkan waktu masih mudah adalah, pergi merantau sua cepat dapat uang. sampai akhirnya sekarang, dia susah mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Jadi sekarang Ichal bertekad untuk menyekolahkan Ayu, setidaknya sampai Anaknya itu Sarjana.
"Pak... Nona... Aku pulang dulu ya, nanti kalau nona mau pulang ke rumah, nona bisa telpon saya!," ucap pak Supri mendekati Ichal dan Ayu.
Ayu baru teringat tentang handphone yang diberikan oleh Reza beberapa hari yang lalu, sebelum Reza kembali ke Jakarta.
"Aduh... maaf pak, Handphone Mas Reza kelupaan di pembina Asrama, tadi Ayu buru-buru berangkat ke Bandara...!," jawab Ayu merasa bersalah karena telah melupakan handphone pemberian Reza.
"nomor telepon bapak kasih masuk di handphone Aku saja!," ucap Ichal memberikan handphone nya.
Pak Supri mengambil handphone Ichal lalu memasukkan nomornya. Setelah itu Pak Supri keluar dari rumah sakit menuju mobil Reza yang dipakai untuk menjemput Ayu di Bandara.
Pak Supri berhenti sebentar karena mendengar suara handphone nya berbunyi.
"Pak Reza...!," gumam Pak Supri setelah melihat siapa yang sedang meneleponnya.
"Waalaikum salam... bapak ada di mana sekarang?," tanya Reza
"Aku masih ada di depan rumah sakit tempat nenek Ayu di rawat pak...!," jawab Pak Supri
"Baru Anandita ada di mana sekarang, apa dia ada di rumah sakit?,"
"Iya pak, Dia ada di dalam ruangan nenek bersama ayahnya!,"
"Oh... Ichal sudah datang dari Papua?," tanya Reza lagi
"Iya pak...!," jawab pak Supri
Selesai menerima telpon dari Bosnya, Pak Supri masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumahnya.
***
__ADS_1
Di Singapura...
Setelah memastikan gadis kecilnya bertemu dengan nenek dan keadaannya baik-baik saja. Reza merasa sangat lega lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Reza ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan di Singapura. Andaikan bisa hari ini juga Reza ingin pulang ke Indonesia dan menemui gadis kecilnya yang sudah lama dia rindukan. Tapi mau bagaimana lagi, ini tanggung jawab Reza dan tidak ada yang bisa mewakilinya kecuali Ayahnya.
Sementara sang Ayah, entah kenapa akhir-akhir ini, pak Susilo sangat sibuk jalan-jalan bersama istrinya.
Sejak pagi ingatan Reza sudah tertuju kepada Ayu. Reza takut kondisi Ayu akan drop setelah mendengar kalau nenek nya sedang sakit di kampung dan Dia harus pulang. Untunglah Ayah Reza menelpon Dia terlebih dahulu.
Jadi Reza langsung mencarikan tiket dan menghubungi salah satu supir kepercayaannya di kantor, untuk mengantar dan mengurus Semua administrasi Ayu, sampai gadis kecilnya itu masuk keruang tunggu.
"Sayang Mas merindukan dirimu...!," gumam Ayu sambil senyum-senyum melihat fhoto Ayu di wallpaper handphone nya.
Reza mengambil fhoto Ayu diam-diam, ketika gadis kecilnya itu tidur di penginapan Reza sewaktu pulang dari makan siang.
***
Ayu mendekati neneknya setelah melepas kangen dengan Ichal. Ayu juga merindukan neneknya sejak dia mendapatkan mimpi di malam itu.
Mimpi itu membuat Ayu tidak tenang dan selalu kepikiran neneknya. Sampai mau Belajar saja, wajah nenek selalu terbayang di di dalam ingatannya.
kini terjawab sudah, kenapa Ayu sangat merindukan neneknya.
"Nek... nenek Ayu minta maaf ya, nenek harus sehat...!," ucap Ayu sambil terus memegang tangan neneknya.
Ayu melihat wajah nenek yang teduh dan di tangannya terpasang selang infus.
Ayu tidak tegah melihat neneknya sakit seperti sekarang ini, andaikan bisa, Ayu ingin menggantikan nenek nya berbaring di ranjang pesakitan.
Ayu terus memegang tangan dan memandang wajah neneknya yang masih betah memejamkan mata.
"Nak... ayah pergi beli makan dulu ya, Kamu mau makan apa?," tanya Ichal menghampiri putrinya yang duduk di samping tempat tidur ibunya.
Ichal paham dengan perasaan anaknya sekarang. Ayu pasti sangat sedih dan khawatir karena baru kali ini dia melihat neneknya di rawat di rumah sakit, karena dari dulu nenek tidak pernah memberi tahukan tentang penyakit yang sedang ibunya itu derita.
Sekarang saja, andaikan bukan tetangga ibunya Rida yang telpon malam dimana nenek Ayu di temukan sedang pingsan di ruang tamu, mungkin Ichal tidak tau kalau nenek Ayu sedang sakit.
*** BERSAMBUNG ***
__ADS_1
Mohon maaf Author ucapkan kepada para pembaca!!!
Dukun terus Karya Author sampai akhir 🙏🙏🙏