
Reza mengurus semua administrasi kepulangan nenek mertuanya, mulai dari memulangkan ke rumah duka samping selesai di makamkan.
Zidan juga ikut andil membantu walaupun hanya sekedar bantu-bantu, Zidan memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta hari ini.
Walaupun Zidan tidak berhasil dengan misinya datang ke Kampung Ayu, tapi Zidan tidak tega meninggalkan gadis yang telah tinggal di hatinya lebih dari sebulan ini. Apalagi Sahabat adiknya itu sedang berduka.
Dalam perjalan pulang ke rumah nenek Ayu, Zidan mengetikkan pesan kepada ayahnya. Zidan memberi tahukan ayahnya jika Dia sedang berada di Makassar karena salah satu temannya di timpa musibah.
Tampa menunggu balasan dari ayahnya, Zidan memasukkan handphone ke dalam saku jaketnya.
Saat ini Zidan berada di atas mobil ambulance bersama Ichal dan mayat ibu Siti. Sedangkan Reza dan Ayu berada di mobil Reza yang dikendarai oleh pak Supri.
Sampai rumah nenek Ayu, sebagian besar tetangga sudah berada di halaman rumah duka, yang membuat Zidan mengingat kampung halaman ayahnya di Palu, suasana pedesaan masih sangat kental.
Sementara Ayu yang dari tadi hanya meneteskan air mata tampa suara, terus berada di dekat sang nenek.
Sampai Ibu Siti selesai di Mandikan dan di kapan, barulah Ayu sadar, jika neneknya di naikkan di tandu dan akan di bawah ke masjid dekat rumah ibu Siti untuk di shalat kan.
Ayu juga Ikut setelah memakai kembali mukena yang dipakai saat ijab qobul di rumah sakit. Walaupun keseharian Ayu belum memakai hijab, tapi Ayu sudah faham mengenai ilmu agama sejak kecil, Karena ibu Siti yang mengajarkan. Sang Nenek sangat sabar mengajari Ayu, mulai membaca Alquran sampai kepada bacaan sholat.
Sampai di mesjid, Ayu ikut shalat jenazah bersama semua jamaah. Ayu sangat bersyukur karena begitu banyak warga yang ikut men shalat i, jenazah neneknya.
Ibu Siti di makamkan di pekuburan umum yang ada di kampung.
Setelah ibu Siti selesai di makamkan, semua tetangga, teman, dan saudara jauh pulang ke rumah masing-masing, kini di kuburan hanya tinggal Ayu, Ichal, Reza, Zidan, pak Supri dan Om Ayu yang baru tiba dari Kalimantan karena Di telpon oleh Ichal, dan memberikan kabar bahwa Ibu Siti sudah berpulang ke Rahmatullah.
Bersyukur Om Ayu di berikan ke kesempatan untuk melihat dan memegang mayat ibu Siti sebelum di mandikan.
"Sayang... Ayo kita pulang, sebentar lagi mau masuk waktu shalat magrib!". Reza dengan sabar mengajak Ayu.
__ADS_1
Namun Ayu tidak menggubris, Dia terus berjongkok di samping pusara sang nenek.
"Nur... Ayo kita pulang... sebentar lagi akan gelap, nenek sudah tenang di sana, kita hanya harus mendoakan nenek agar diampuni semua dosa-dosanya dan dilapangkan kuburnya... Ayo Nur!". Om Ayu dengan sabar menggandeng tangan Ayu sampai memasuki mobil Reza.
Karena di kampung Ayu masih kental dengan tradisi, jadi sampai di rumah, Ayu dan semua orang yang ada di dalam mobil turun dan melihat sudah banyak para tetangga yang datang untuk bertakziah.
Reza yang tumbuh besar di kota besar, baru kali ini dia melirik acara seperti itu. sementara Zidan, bertingkah biasa saja karena, hal seperti ini, sudah sering Zidan saksikan ketika dulu Dia tinggal di palu, tepatnya di kampung Ayahnya.
Ichal masuk ke dalam rumah, setelah Ayu dan omnya masuk terlebih dahulu.
"Nur... kamu di sini dulu, Om mau masuk ke dalam kamar nenek!". Ucap Om Ayu setelah mengantar keponakannya.
Om Ayu hanya ingin mengangkat koper yang masih terletak di teras rumah, karena tadi tidak sempat membawa masuk ke dalam rumah.
mendengar ucapan Om nya, Ayu hanya menganggukkan kepala.
"Sayang... Ayo masuk istrahat dulu, kamu pasti sangat lelah hari ini!". Ucap Reza setelah duduk di samping Ayu.
Ayu mengangguk dan berjalan memasuki kamar yang sangat sederhana, tapi memiliki banyak kenangan, kamar yang Ayu tempati mulai dari bayi bersama sang nenek dan Om nya.
Reza juga ikut duduk di tempat tidur Ayu yang berukuran Seratus Empat puluh kali Dua ratus. Reza sudah tidak terlalu heran ketika memasuki kamar Ayu, karena hari ini adalah kali ke dua bagi Reza memasuki kamar istri kecilnya itu.
"Sayang... kmu istirahat saja di sini, tenangkan pikiran kamu, setelah merasa lebih tenang, baru kmu keluar untuk bertemu para tetangga nenek!". Reza dengan sabar terus berbicara dengan Ayu, yang hanya diam dari tadi, mulai sejak meninggalkan rumah sakit sampai sekarang Ayu belum pernah berbicara.
Hal itu membuat Reza, sebagai suami, merasa takut ada sesuatu yang menimpah istrinya.
Reza dengan sabar terus mengajak Ayu berbicara, walaupun sang istri dari tadi tidak menjawab dengan ucapan, setidaknya Reza tau jika Ayu mendengarkan dengan baik apa yang Dia katakan, melalu anggukan kepala dan kepatuhan Ayu.
Hampir dua puluh menit Reza duduk berdua dengan istrinya, sampai akhirnya Ayu merebahkan tubuhnya dan meringkuk di atas tempat tidur. Reza berpikir, mungkin Ayu kelelahan karena terus menangis hampir seharian ini.
__ADS_1
Dengan hati-hati, Reza memperbaiki posisi tidur Ayu dan menyelimuti kaki sampai perut.
"Sayang... jangan terlalu bersedih... Mas janji akan selalu bersama sampai ajak menjemput!". Gumam Reza dengan suara pelan.
Reza dapat merasakan kesedihan yang di alami oleh istri kecilnya, tapi Reza belum menemukan cara untuk mengembalikannya Ayu pada suasana hati yang lebih baik, jadi Reza memutuskan membiarkan istri kecilnya itu melewatinya.
Reza berharap, setelah kejadian yang menimpah Ayu hari ini, tidak ada lagi kesedihan di masa yang akan datang.
Karena sudah malam, tapi Reza dan Ayu belum keluar juga dari kamar, Ichal memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
"Nak... Ayo keluar dulu Ini ada om dan tante ingin bertemu dengan kamu!". ucap Ichal sambil mengetuk pintu kamar putrinya.
Namun hampir Lima menit, Ichal berdiri dan mengetuk pintu, namun tidak ada juga sahutan dari dalam kamar Ayu.
Sampai akhirnya Ichal memberanikan diri untuk membuka pintu kamar putrinya..
"Pantesan... tidak ada yang menyahut... ternyata kalian tertidur!".
Ichal berbicara sendiri setelah masuk kedalam kamar Ayu. Ichal melihat Ayu yang tertidur di atas ranjang, sementara Reza, sang menantu sekaligus sahabat Ichal hanya separuh tubuhnya yang diatas ranjang, kedua kaki Reza bergelantungan di pinggir tempat tidur.
Tiba-tiba dalam hati, Ichal merasa bersalah dengan sahabatnya itu, bagaimana pun, Ichal tahu, jika Reza sejak lahir tidak pernah merasakan yang namanya hidup menderita, tapi karena dirinya, sang sahabat sampai menderita seperti saat ini.
"Maafkan Mas Ichal Za...!". Ichal meminta maaf sebelum berbalik dan meninggalkan Ayu dan suaminya tidur dulu.
*** BERSAMBUNG ***
Author Ucapkan.... Terimakasih banyak, sudah meluangkan waktu untuk membaca novel ini.
Mohon tinggalkan jejak dan komentar yang bersifat membangun 🙏🙏🙏
__ADS_1