
Ditengah perjalanan menuju Rumah sakit, pak Supri berbincang-bincang ringan dengan Ayu, mengenai kondisi neneknya, sesekali pak Supri memberikan semangat untuk Ayu, supa Ayu tidak terlalu berlarut-larut menyalahkan dirinya.
Dari awal bertemu dengan Ayu, Pak Supri sudah merasa nyaman berbincang dengan Ayu. Karena Ayu anak gadis yang gampang dan mudah bergaul dengan siapa saja, walaupun itu orang tua seperti pak Supri, sangat berbeda-beda dengan anak gadis Pak Supri yang juga duduk di bangku sekolah menengah Atas, hanya suka berdandan dan bergaul hanya dengan teman sebayanya. anak gadis pak Supri tidak gampang bergaul dengan orang yang sudah tua.
kring... kring...kring ...
Suara nada dering handphone pak Supri tiba-tiba terdengar, menghentikan pembicaraan antara Dia dan Ayu.
"Iya... Assalamualaikum... pak!". ucap Pak Supri setelah menggeser tombol hijau di layar handphone nya.
"Waalaikum salam... Bapak sudah di mana?". tanya Ichal dengan suara yang agak serak.
Pak Supri yang mendengar suara Ichal yang serak dan seperti panik, Dia juga ikut-ikutan ikut panik.
Sementara Ayu yang duduk berada tepat di samping Pak Supri, yang sedang menerima telpon sambil mengemudi dengan kecepatan rendah, juga ikut panik karena melihat raut wajah Pak Supri.
Ayu tidak tau, kalau yang menelpon pak Supri adalah ayahnya.
"Masih di perjalanan menuju rumah sakit Pak...!". jawab pak Supri
"ada apa pak.... kenapa suara bapak seperti orang panik?, Ibu anda tidak apa-apa kan?". tanya pak Supri lagi, Dia penasaran dan ikut merasa panik mendengar nada suara Ichal.
"Cepatlah datang, nanti kita bicara di sini...!". ucap Ichal tidak tau mau bicara apa di telpon.
Ichal sangat panik karena tiba-tiba kondisi ibunya drop, tekanan darah Nenek Ayu tiba-tiba meningkatkan drastis, napas dan denyut nadinya tidak stabil, tidak lama setelah Ayu pulang dari rumah sakit.
Sekarang nenek Ayu di tangani secara intensif oleh dokter penyakit dalam di dalam ruangan ICU.
Ichal sangat panik ditambah Ayu belum juga sampai ke rumah sakit, makanya Ichal langsung menelpon Pak Supri.
Ichal terus mondar mandir di luar ruang penanganan Ibunya, sudah hampir dua menit ibunya di periksa oleh dokter, tapi Dokter belum juga keluar.
"Ada apa pak... kenapa bapak seperti panik menerima telpon tadi?". tanya Ayu setelah melihat pak Supri mengakhiri telpon
__ADS_1
"Itu Nona... ayah nona... bertanya kita sudah di mana?". jawab Pak Supri kebingungan karena dia merasa ada yang tidak beres di rumah sakit.
"Oh... tadi itu ayah Aku ya pak...?".
Pak Supri hanya menjawab dengan anggukan kepala. di dalam hati pak Supri, terbersit kekhawatiran mengenai kondisi nenek Ayu.
Setelah menerima telpon dari Ichal, pak Supri tidak banyak berbicara lagi dengan Ayu, Dia fokus menyetir, untuk segera sampai di rumah sakit.
Ayu turun dengan membawa rantang makanan yang tadi di isi makanan hasil karyanya siang ini.
"Biar bapak saja yang bawakan nona...!". ucap pak Supri mengambil rantang di tangan Ayu.
"Oh... iya Pak...!". ucap Ayu bingung karena tiba-tiba pak Supri mengambil rantang di tangannya lalu berjalan dengan seperti orang yang terburu-buru.
Ayu tidak banyak bertanya, dia berusaha mengejar pak Supri dengan berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan supir pribadi Reza.
Pak Supri menuju ruang di mana nenek Ayu di rawat, tapi sebelum sampai di ruang yang dia tujuh, Tiba-tiba pak Supri menghentikan langkahnya.
"Itu Non... sepertinya yang di sana itu ayah nona!". tunjuk Pak Supri ke arah lorong depan kamar ICU
Ayu melihat ke arah di mana telunjuk pak Supri, dan benar saja Ayu melihat itu Ichal yang berdiri di depan ruangan ICU.
Ayu berjalan cepat mendekati ayahnya yang berdiri di depan pintu ICU. pak Supri juga mengikuti di belakang Ayu dengan perasaan yang berdebar.
"Ayah... kenapa Ayah berdiri di sini, bukankah ruangan nenek ada di sana?". tanya Ayu bingung karena melihat Ichal berdiri dengan wajah yang sendu.
"Itu nak... nenek kamu...". ucapan Ichal terpotong karena tiba-tiba pintu ruang terbuka.
Ichal melihat seorang dokter laki-laki yang sudah setengah bayah keluar dari ruangan tempat nenek Ayu di tangani.
"Dokter... bagaimana kondisi ibu saya...?". tanya Ichal setelah melihat Dokter itu keluar
"Mohon maaf pak... Kondisi ibu anda saat ini belum stabil dan butuh penanganan khusus karena beliau masih belum sadarkan diri!". jelas Dokter membuka masker yang dikenakan setelah melihat Ichal
__ADS_1
"Ayah... nenek kenapa, kenapa nenek ada di ruangan itu?". tanya Ayu bingung
"Nenek... tiba-tiba jatuh dan pingsan tadi nak!". jawab Ichal
"Kok... bisa ayah...?". tanya Ayu dengan mata berkaca-kaca, Ayu tidak faham dengan kondisi neneknya.
Setahu Ayu, tadi sebelum pulang ke rumah neneknya, hanya tertidur di atas ranjang pesakitan di ruangan perawatan, tapi kenapa tiba-tiba neneknya berada di dalam ruangan ICU?.
"Nenek... tadi Bagun dari tidurnya, lalu meminta ayah untuk mengantarkan ke dalam kamar kecil, karena nenek bilang ingin buang air kecil, sebenarnya Ayah sudah melarang, bahkan menyuruh nenek untuk buang air di ranjang saja nak... tapi... nenek menolak, dia bersikukuh ingin ke toilet, jadi... ayah menuruti keinginan nenek, ayah mengantar nenek, tapi... setelah selesai, ayah membantu nenek kembali ke tempat tidur, tapi... nenek bilang... ingin duduk dulu, Nenek ingin menunggu kamu kembali... dan...dan tidak lama setelah nenek duduk di ranjang pasien... tiba-tiba...nenek kamu terjatuh nak...!". Ayah menceritakan kejadian yang menimpah nenek Ayu dengan air mata yang sudah terjatuh.
Ichal sebenarnya tidak sanggup mengingat kejadian yang terjadi dengan cepat di depan matanya. Ichal merasa sangat bersalah dengan ibunya.
Ichal merasa bersalah dan sangat menyesal karena selama ini belum bisa membahagiakan ditambah ibunya jatuh tepat di depan matanya dan tidak bisa menangkap nya karena posisinya yang baru saja keluar dari kamar kecil.
"Lalu kata Dokter apa ayah?". tanya Ayu penasaran.
"Nenek sebenarnya sakit apa, kenapa bisa nenek terjatuh, kenapa ayah tidak menangkapnya Yah...?". tanya Ayu merasa sangat bersalah karena sudah pulang ke rumah cukup lama, sementara neneknya jatuh di ruangannya.
"Maafkan ayah nak... ayah yang salah, tidak bisa menjaga nenek kamu dengan baik...!". jawab Ichal menyalahkan dirinya, karena tadi Ichal juga tiba-tiba ingin buang air kecil setelah mengantar ibunya keatas ranjang.
"lalu apa kata dokter ayah... nenek baik-baik saja kan?,".jawab Ayu dengan air mata yang sudah keluar dengan deras.
"maafkan ayah nak... kata dokter barusan, nenek biar di rawat di ruangan itu dulu, karena kondisi nenek belum stabil, tekanan darah nya sangat tinggi ditambah kolesterolnya juga ikut naik.!". jawab Ichal menunjuk ruangan tempat neneknya di rawat.
*** BERSAMBUNG ***
Author Mohon maaf karena kemarin tidak sempat UP.
Sampai jumpa pada bab-bab berikutnya, terus dukung Author sampai akhir 🌥️🌥️🌥️🙏🙏🙏
I LOVE YOU ALL 😘😘😘
"
__ADS_1