
Pagi ini Zidan pulang ke Jakarta diantar oleh pak Supri. Sebenarnya Zidan menolak untuk diantar karena tidak ingin merepotkan keluarga Ayu.
"Hati-hati ya Kak... Dan tolong ingat yang tadi Ayu bilang!". Ayu menghampiri Zidan yang sudah mau memasuki mobil Reza.
"Iya Yu... Kakak janji, ini hanya rahasia kita!". Jawab Zidan berhenti sejenak sambil membentuk jari telunjuk dan jempolnya seperti huruf O.
***
Setelah sarapan tadi pagi, Ayu menyempatkan diri untuk berbicara serius dengan Zidan saat Reza mandi.
Bukan berbicara mengenai hal apa, Ayu hanya meminta Zidan, agar tidak mengatakan kepada siapapun mengenai dirinya yang sudah menikah dengan Reza, termasuk jangan mengatakan kepada sahabatnya Manda.
Ayu ingin dirinya sendiri yang mengatakan kepada sahabatnya itu, jika suatu hari nanti Ayu sudah siap. Bukan Ayu bermaksud untuk menyembunyikan soal pernikahan dirinya dengan Reza, hanya saja, Ayu masih berstatus pelajar dan usianya juga belum cukup Tujuh belas tahun.
Di samping itu, Ayu juga takut menjadi bahan bully di sekolahnya, karena hanya Zidan satu-satunya orang yang tau mengenai pernikahan dirinya, makanya Ayu meminta Zidan agar merahasiakan mengenai pernikahan dirinya dengan Reza.
***
"Ehm....
Reza berdehem menghentikan pembicaraan Ayu dan Zidan.
"Kakak berangkat dulu ya Yu, Pak, Om, Mas Reza titip Ayu, jaga Dia baik-baik...!". Ucap Zidan berpamitan dan menitipkan Ayu kepada suaminya, seperti orang tua yang akan pergi jauh.
"Iya Kak... hati-hati, Salam buat keluarga dan Amanda!". Ucap Ayu sambil melambaikan tangan.
Ayu merasa ada yang hilang di dalam hatinya, ketika melihat mobil yang di tumpangi Zidan pergi jauh, Tiba-tiba hatinya kembali sedih setelah kembali masuk ke dalam rumah Ibu Siti.
"Kamu kenapa sayang...?". tanya Reza setelah melihat Ayu masuk ke dalam rumah dengan raut wajah sedih.
"Oh... Aku tidak apa-apa Mas...
"Mas... kapan Mas kembali ke Jakarta?". Tanya Ayu tiba-tiba, Bukannya Ayu ingin mengusir Suaminya, tapi Ayu tidak ingin membuat Reza terlalu lama meninggalkan pekerjaannya demi dirinya.
__ADS_1
"Kamu tidak senang sayang... kalau Mas ada di sini lama-lama...?".
Ucapan Reza terdengar begitu berat karena sedang menahan sesuatu yang bergemuruh di hatinya.
"Oh... bukan... bukan begitu Mas, maksud Ayu...maaf!". Jawab Ayu terbata-bata dan takut melihat ke wajah Reza.
Sementara Om Ayu yang berada di dapur, sekilas mendengar pembicaraan Ayu dan Reza, jadi Om Ayu buruh-buruh keluar dan menemui keponakannya.
"Ehm... ada apa ini?, sepertinya kalian sedang berbicara serius!". Om Ayu duduk di samping keponakannya, dan bertanya seolah-olah dia tidak mendengarkan sesuatu.
"Eh... Om Abdu... tidak ada apa-apa Om, kami hanya bicara tentang...
"Anandita bertanya kapan Aku pulang Mas?". Potong Reza dengan raut wajah sedikit emosi.
"Oh... kayanya kamu harus tunggu sampai hari ke Tujuh nenek selesai dulu Nur, baru kembali ke Jakarta, dan jika Reza tidak keberatan dan tidak ada sesuatu yang penting untuk di kerjakan, sebaiknya Reza tunggu kamu, baru kalian pulang berdua, masa... pengantin baru, sudah mau berpisah...!". Ucap Om Ayu menjelaskan tradisi yang ada di kampungnya.
"Tuh ... dengarin apa kata Om Abdu, Kita pulang sama-sama ke Jakarta!".
"Em... tapi bagaimana dengan pekerjaan Mas...?". Tanya Ayu dengan suara lirih sambil menundukkan wajahnya. Ayu takut jika tiba-tiba Reza marah lagi.
"Enak ya jadi Bos...!". Ucap Ayu dengan Suara pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Reza dan Om Abdu.
"Om ke sana dulu ya, mau lihat Ayah kamu lagi buat apa?". Om Ayu berpamitan dan meninggalkan Ayu bersama Reza untuk berbicara berdua.
***
Setelah Tujuh hari kematian nenek Ayu, kini Reza, Ayu dan keluarga dekat Ibu Siti datang ke Makam.
Ayu bersama Reza akan kembali ke Jakarta siang nanti, sementara Om Abdu akan kembali ke Kalimantan karena ijin dari perusahaan tempat Dia kerja hanya memberikan ijin Tujuh hari, sementara Om Abdu sudah Delapan hari di kampung. Makanya setelah pulang dari makan Sang ibunda tercinta untuk berpamitan, Dia akan langsung menuju bandara.
"Jaga keponakan saya Za... mohon tuntun Dia agar menjadi lebih dewasa, karena ibu Aku sudah percaya dengan kamu, dan Aku yakin ibu Aku tidak mungkin salah dalam memilihkan suami buat cucu tersayangnya!". Ucap Om Abdu sebelum berjalan menuju mobil Yang akan di tumpangi ke Bandara pagi ini.
"Iya Om mudah... Aku pasti menjaga istri Aku dengan baik, jangan terlalu khawatir!". Jawab Reza sambil tersenyum berbalik ke arah Ayu.
__ADS_1
"Mas... Aku kembali ke tempat kerja dulu... jangan terlalu menyalahkan diri Mas, atas kepergian ibu... Mas harus ikhlas karena ini sudah takdir, dan Aku berharap Mas bisa melalui semua ini seperti harapan ibu!". Om Abdu berbalik ke arah Ichal, sambil memeluk sang kakak.
Reza masih bisa melihat dengan jelas, jika Ichal masih belum ikhlas atas kepergian ibu Siti secara tiba-tiba.
"Iya Kamu hati-hati di sana Du... janga kesehatan dan jika kamu ketemu gadis Dayak atau Banjar, kamu bisa menikah segera, jangan terlalu menghawatirkan Mas...!". Ichal berbicara sambil bercanda dengan Abdu.
"Iya Mas... kalau begitu Aku berangkat duluan Ya... sampai ketemu lagi... Nur... Om berangkat ya, menurut dengan suami kamu...!". Abdu menghampiri dan memeluk keponakan satu-satunya.
Dalam hati ada rasa belum ikhlas melepaskan sang keponakan yang masih bersekolah untuk menikah begitu cepat, lagian Abdu sangat tahu, watak dan sifat Ayu, yang yang terlihat tegar di luar, tapi di dalam hati Ayu sangatlah rapuh. Tapi bagaimana pun, Sang Ibu sudah mempercayakan Ayu kepada Reza, jadi sebagai Om, Abdu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat keponakannya itu.
"Hati-hati Om...!". Hanya kata-kata itu yang mampu Ayu ucapkan, sangat berat rasanya harus berpisah begitu cepat dengan keluarga, apalagi Ayu harus berpisah jauh dengan Omnya, dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi.
Ayu meneteskan air mata, karena tidak mampu berkata-kata.
"Gadis nakal... jangan nangis, kalau ada apa-apa, hubungi Om!". Abdu berusaha menahan air mata yang hampir tumpah melihat keponakannya meneteskan air mata.
Setelah Om Ayu berangkat, Ichal mengajak sang putri untuk masuk ke dalam rumah.
"Nak... sebelum Nenek kamu pergi, nenek punya sesuatu buat kamu, ini...!". Ichal menyerahkan sebuah kotak kayu.
Ayu menerima dengan perasaan haru, dulu Ayu pernah sekali melihat kotak itu di dalam lemari pakaian nenek, tapi Ayu tidak pernah tau, apa yang ada di dalam kotak itu.
"apa ini Yah...?". Tanya Ayu setelah menerima barang yang Ichal serahkan padanya.
"Bukalah nak... itu buat kamu, dan tolong di jaga dengan baik!". Ucap Ichal sebelum meninggalkan Ayu sendirian di ruang tamu.
Dengan hati-hati, Ayu membuka kotak pemberian neneknya yang di titipkan kepada sang ayah.
Ayu mengambil kertas yang ada di dalam terlebih dahulu, lalu dia membaca dengan dengan mata yang berkaca-kaca.
*** BERSAMBUNG ***
Author ucapkan, banyak terimakasih... karena masih setia mendukung dan menunggu kelanjutan novel iniπππ
__ADS_1
Jangan lupa, berikan dukungan dan komentar yang bersifat membangun ya....
SEE you All πππ