Pria Misterius Menggelisahkan

Pria Misterius Menggelisahkan
Nenek Menutup Mata Sebelum Akad Nikahku


__ADS_3

Melihat Ibu Siti menganggukkan kepala, membuat hati Zidan semakin tidak karuan.


"Bu... maaf... boleh tidak jika Saya yang menggantikan pria itu menikahi cucu ibu?". Tanya Zidan tiba-tiba.


Entah keberanian dari mana yang membuat Zidan nekat untuk mempermalukan dirinya.


Ibu Siti hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Zidan, yang menurut nenek Ayu, Zidan adalah pria yang cukup pemberani dan jujur dengan isi hatinya, dan ibu Siti sangat salut dengan pria seperti Zidan.


Tapi sayang sekali, Ibu Siti tidak siap memberikan cucunya kepada pria yang belum Dia kenal seluk beluk keluarga nya. makanya Nenek Ayu hanya bisa menanggapi dengan senyuman yang tulus.


"Maaf kan nenek nak...!". ucap Ibu Siti tiba-tiba, lalu memejamkan matanya.


"WAHAI ANANDA Reza Afrizal SUSILO BIN SUSILO Rahardja, WALI TELAH MEWAKILKAN KEPADA SAYA, UNTUK MENIKAHKAN PUTRINYA YANG BERNAMA AYU NUR ANANDITA ICHAL BINTI ICHAL KEPADA ENGKAU!". Ucap pak penghulu dengan suara yang cukup jelas di telinga semua orang yang ikut menyaksikan.


"YA...!". jawab Reza yakin.


Ichal yang duduk bersebelahan dengan pak penghulu tidak sanggup menahan air mata haru melihat putrinya menikah di depannya.


Setelah pak penghulu meminta Reza mengucapkan istighfar dan dua kalimat syahadat, pak penghulu melanjutkan ucapannya.


"SAYA NIKAHKAN AYU NUR ANANDITA ICHAL BINTI ICHAL KEPADA ENGKAU REZA Afrizal SUSILO BIN SUSILO Rahardja DENGAN MAS KAWIN BERUPA EMAS SATU STEEL SEBERAT DUA PULUH TUJUH GRAM DAN SATU UNIT APARTEMEN KARENA ALLAH!".


"SAYA TERIMAH NIKAH DAN KAWINNYA AYU NUR ANANDITA ICHAL BINTI ICHAL, DENGAN EMAS KAWIN TERSEBUT, IKHLAS KARENA ALLAH SUBHANALLAH!". Ucap Reza dengan penuh hikmat.


Ayu yang duduk tepat di samping Reza, hanya diam dan terus meneteskan air mata. Ayu merasa semua yang terjadi hari ini, seperti mimpi buat Dia.


Sementara Zidan yang duduk di kursi tepat di samping nenek Ayu yang sedang terbaring di atas ranjang pesakitan, juga ikut meneteskan air mata. Antara percaya dan tidak percaya, bahwa gadis yang sudah lebih dari satu bulan Zidan taksir, ternyata menikah dengan pria lain, dan itu tepat dihadapan dirinya sendiri.


Sungguh miris hati Zidan, setelah sekian tahun lamanya hidup menjomblo, dan kini Zidan harus kembali merasakan patah Hati, sebelum memulai sebuah hubungan.


"SAH...


Teriak orang yang ada di dalam ruangan, yang membuat Zidan kembali tersadar dari lamunannya.


Reza menarik tangan kanan Ayu yang kini berstatus sebagai istri sahnya, lalu di pasangkan sebuah cincin.


"Terimakasih banyak Mas...!". Hanya itu kata-kata yang bisa Ayu ucapkan untuk Reza.

__ADS_1


Ayu juga tidak tahu banyak hal mengenai hidup Reza, karena memang Ayu baru mengenal Reza hampir dua bulan ini. Bertemu ke dua orang tua Reza saja Ayu belum pernah.


"Sama-sama sayang...!". Jawab Reza setelah mengecup kening Ayu.


"Ibu... ibu... ibu kenapa?". Ichal memegang tangan ibunya yang terasa dingin.


Ya... setelah Ichal menyaksikan pernikahan anaknya sampai akhir, Ichal menghampiri ibu Siti yang terlihat memejamkan mata dari tadi, setelah menganggukkan kepala saat pak penghulu bertanya padanya.


Mendengar Ichal yang panik, Zidan yang duduk di samping ranjang pesakitan ibu Siti juga berdiri dan melihat ke arah nenek Ayu.


"Permisi dulu pak ... Biar saya periksa ibu Siti!". Dokter yang bertugas mendekat bersama dengan dokter kepala rumah sakit.


Zidan dan Ichal mundur ke belakang untuk memberi ruang kepada ke dua Dokter.


"Ya Tuhan... Apa yang sebenarnya yang Engkau rencanakan buat Aku dan keluarga aku?". Tanya Ayu dalam hati masih terus meneteskan air mata Tampa mengeluarkan suara.


Melihat Ayu yang terus menangis tanpa bersuara, Reza merangkul pundak Ayu, Reza faham jika Ayu saat ini sedang memendam sesuatu di dalam hatinya.


Reza sangat kasihan dengan gadis kecilnya, yang kini sudah berstatus sebagai istri nya.


"Mas... apa yang terjadi dengan nenek?". Tanya Ayu dengan terisak.


Sementara Zidan yang kini duduk sendiri di kursih depan IGD hanya bisa memandang Ayu yang terus di rangkul dengan suaminya di depan pintu ruangan IGD.


Dalam hati Zidan sangat cemburu, tapi Zidan sadar, jika saat ini gadis yang sudah mengisi relung hatinya yang kesepian, sudah sah menjadi istri orang lain.


Zidan hanya bisa berdoa agar sang gadis pujaan hati, bisa bahagia selamanya.


Sebenarnya Zidan sudah berniat ingin meninggalkan rumah sakit tempat nenek Ayu di rawat, setelah pernikahan Ayu selesai, tapi melihat situasi dan kondisi saat ini, Zidan mengurungkan niatnya untuk pergi sampai semuanya kembali normal seperti sebelum Zidan datang berkunjung.


Selang beberapa menit akhirnya dokter yang merupakan kepala rumah Sakit keluar.


"Dokter naga kondisi ibu saya?". Tanya Ichal setelah melihat Dokter keluar dari ruangan IGD.


Dokter Satria tidak langsung menjawab, Dia membuang nafas sampai dua kali, baru kemudian berkata "Mohon maaf pak... kami sebagai dokter dan para tim medis sudah berusaha dengan keras dan memberikan yang terbaik buat ibu Siti, Tapi...


"Tapi apa Dokter...?". spontan Ichal memotong ucapan Dokter Satria dan hampir meninju wajahnya.

__ADS_1


"Sabar Mas...!". Reza Manahan tangan Ichal agar tidak sampai meninju wajah dokter Satria.


Pak Supri juga maju dan menahan Ichal.


"Bawah ayah mertua saya ke sana Pak... Aku minta tolong sama bapak!". Reza menunjuk ke arah di mana Sidan tadi duduk sendiri.


Reza takut, Ichal tidak bisa menahan emosi dan melampiaskan kepada dokter Satria.


"Maaf Dokter... tolong maafkan ayah mertua saya!". Ucap Reza tidak enak hati kepada sahabat ayahnyanitu.


"Iya Mas Reza tidak apa-apa... Aku faham dengan kondisi pak Ichal!". jawab Dokter Satria ramah.


"Ada apa dengan ibu Siti Dokter?". Reza kembali bertanya dan berharap dokter tidak mengatakan sesuatu yang sudah terbersit di dalam hati Reza sejak tadi sebelum mereka di suruh untuk keluar dari ruangan.


"Maaf Mas Reza... dengan sangat menyesal, Saya hari menyampaikan bahwa, Ibu Siti sudah tidak ada...!". Ucap Dokter Satria menundukkan wajahnya di hadapan anak sahabatnya.


Mendengar ucapan Dokter Satria, Ayu yang tadinya hanya berdiri di samping dinding karena insiden ayahnya yang ingin meninju wajah Dokter Satria, kini menjatuhkan tubuhnya tanpa mengeluarkan suara.


Zidan yang dari tadi memperhatikan Ayu dari kejauhan, berlari dengan cepat untuk menangkap tubuh Ayu yang terkulai lemas di lantai, Tapi sayang Zidan terlambat, dan kini Ayu sudah terjatuh dan pingsan.


"Yu... Ayu... sadar, kamu harus kuat... ini takdir yang harus kamu lalui!". Zidan bersimpuh dan mengangkat kepala Ayu untuk di baringkan di pahanya.


Reza yang tadinya serius berbicara dengan dokter Satria, menoleh ke belakang dan melihat istrinya sudah tidak sadarkan diri di pangkuan Zidan.


"Suster... Dokter... tolong istri saya...!". Teriak Reza karena panik, dari tadi Reza tidak memperhatikan Ayu karena Ichal ingin melayangkan tinju di wajah dokter Satria.


Ayu di bawah masuk ke dalam ruangan IGD, setelah di berikan minyak angin dan istrahat sebentar, kini Ayu sudah sadar.


"Mana nenek saya...?". Tanya Ayu sambil turun dari ranjang IGD.


"Tenang dulu Nona... ibu Siti ada di sana...!". Tunjuk Suster ke arah mayat ibu Siti.


"Nek...Nenek... kenapa nenek tinggalkan Ayu dengan Ayah sendiri di sini... Nenek Bagun... Ayu sudah melakukan permintaan nenek... Ayu sudah menikah dengan mas Reza, tapi kenapa nenek tidak menepati janji?". Ayu terus berbicara sambil memeluk mayat ibu Siti yang memejamkan mata seperti, sedang tertidur sambil tersenyum manis.


Melihat Ayu yang terus berbicara dengan neneknya, suster yang menjaga Ayu ketika pingsan Tampa sadar ikut meneteskan air mata.


"Nek... Nenek... Nur mohon bangun nek... Nur tidak tau harus berbuat apa tampa nenek!". Ayu meluapkan semua kesedihan dirinya, karena selama ini, apa pun yang Ayu ingin lakukan selalu meminta ijin dan petunjuk kepada ibu Siti.

__ADS_1


Hanya ibu Siti, yang Ayu anggap sebagai sosok pengganti ibu sejak dulu, bahkan waktu masih duduk bangku sekolah Dasar, Ayu memanggil ibu Siti dengan panggilan MAMA, karena Ayu mengira ibu Siti adalah ibu kandungnya, nanti setelah Ayu mulai faham jika ibu Siti bukan nenek baru dia mulai belajar untuk memanggil nenek, itupun nanti setelah Ayu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


__ADS_2